Arsip Bulanan: Juni 2014

Qahqahah (tertawa terbahak-bahak) Dalam Sholat Apakah Membatalkan Wudhu

Oleh : Faizal Reza Amaradja

Pada kesempatan kali ini penulis hendak menjabarkan tentang tertawa terbahak-bahak, tertawa dan tersenyum dalam sholat apakah membatalkan sholat atau tidak ?. Dalam bahasa arab tertawa terbahak-bahak dinamakan dengan Qahqahah, sedangkan tertawa dinamakan dengan dhahiq dan tersenyum dinamakan dengan tabassum.

Qahqahah menurut etimologi (tata bahasa) adalah :

الْقَهْقَهَةُ مَصْدَرُ قَهْقَهَ إِذَا مَدَّ وَرَجَّعَ فِي ضَحِكِهِ ، وَقِيلَ : هُوَ اشْتِدَادُ الضَّحِكِ

Artinya : qahqahah adalah masdar dari kalimat qahqahah yaitu tertawa yg di panjangkan dan di ulang-ulang adapun pendapat lain yaitu tertawa yang berlebihan ( terbahak-bahak) .[1]

Adapun menurut istilah :

الضَّحِكُ الْمَسْمُوعُ لَهُ وَلِجِيرَانِهِ

Artinya : tertawa yang di dengar olehnya dan oleh orang di sampingnya.[2]

Adapun dhahikun (tertawa) menurut etimologi (tata bahasa) adalah :

مَصْدَرُ ضَحِكَ يَضْحَكُ ضِحْكًا وَضَحِكًا : انْفَرَجَتْ شَفَتَاهُ وَبَدَتْ أَسْنَانُهُ مِنَ السُّرُورِ

Artinya : Dhahik adalah masdar dari dhahika yadhhaku dhahkan wa dhahikan. Yang berarti membuka lebar 2 bibir dan terlihat giginya karena rasa gembira.[3]

Adapun menurut istilah :

هُوَ مَا يَكُونُ مَسْمُوعًا لَهُ دُونَ جِيرَانِهِ

Artinya : Dhahik adalah tertawa yg hanya di dengar olehnya saja.[4]

Adapun tabassum (senyum) menurut lughoh (tata bahasa) adalah :

التَّبَسُّمُ مَصْدَرُ تَبَسَّمَ ، وَالثُّلاثِيُّ بَسَمَ ، يُقَالُ : بَسَمَ يَبْسِمُ بَسْمًا : انْفَرَجَتْ شَفَتَاهُ عَنْ ثَنَايَاهُ ضَاحِكًا بِدُونِ صَوْتٍ ، وَهُوَ أَخَفُّ مِنَ الضَّحِكِ

Artinya : Tabassum adalah masdar dari tabassama adapun fiil tsulasi nya basama yabsimu basman. Yang berarti membuka lebar dua bibirnya serta Nampak dua gigi depannya dalam keadaan tertawa tanpa suara. Dan dia lebih ringan dari dhahik.[5]

Al Jurjani (w 816 H) juga mendefinisikan tentang tabassum :

مَا لا يَكُونُ مَسْمُوعًا لَهُ وَلِجِيرَانِهِ

Sesuatu yang tak di dengar olehnya ( orang yang tersenyum) dan tak didengar juga oleh orang yang di sampingnya.[6] Adapun afiliasi atau hubungan antara qahqahah dan tabassum adalah tabaasum itu awal mulanya qahqahah.

Setelah kita mengetahui tentang definisi ini maka kita akan meneruskan pembahasan tentang hukum-hukumnya. para Ulama baik itu dari kalangan Malikiyah[7], Syafiiyah[8] dan Hanabilah[9] sepakat bahwa qahqahah dan dhahik membatalkan sholat jika terdengar suara tawaannya itu 2 huruf ataupun lebih dan satu huruf yang dapat di pahami. adapun kalangan Hanafiyah menyatakan bahwa qahqahah membatalkan sholat dan wudhu. Kalangan hanafiyah membedakan antara dhahik dan qahqahah dimana perbedaannya antara terdengar dan tidak terdengarnya suara tawa oleh orang yang berada di sampingnya. [10] adapun tabasum tidak membatalkan wudhu.

Ikhtilaf ataupun perbedaan pendapat antara jumhur (mayoritas) ulama dan kalangan hanafiyah bersumber pada hadits yang di pegang oleh masing-masing ulama. Jumhur ulama memakai hadits yang berbunyi :

قهقهة تنقض الصلاة ولا تنقض الوضوء . رواه الدار القطني

Artinya : tertawa terbahak-bahak membatalkan sholat dan dan tidak membatalkan wudhu. H.R. Imam darul Quthni (w 385 H). [11]

Begitu pula dengan hadits yang di riwayatkan oleh Imam Baihaqi (w 458 H) :

وفيمن ضحك في الصلاة أعاد الصلاة ولم يعد وضوءه

Artinya : barang siapa yang tertawa di dalam sholat maka di haruskan mengulangi sholat tanpa mengulangi wudhunya.[12]

Jumhur ulama berpendapat jika tertawa terbahak-bahak membatalkan wudhu maka akan berdampak pada batalnya wudhu di luar sholat sebagaimana jika berhadats. Namun jika hal itu tidak di wajibkan untuk berwudhu di luar sholat maka tidak pula di wajibkan di dalam sholat sebagaimana berbicara. [13]

Adapun kalangan hanafiyah memakai hadits berikut ini :

أن أعمى تردى في بئر ، فضحك ناس خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم فأمر رسول الله صلى الله عليه وسلم من ضحك أن يعيد الوضوء والصلاة

Artinya : bahwasannya ada seorang buta yang terjatuh di dalam sumur, lantas tertawalah orang-orang yang sholat di belakang Rasulullah SAW, maka Rasulullah SAW menyuruh siapa saja yang tertawa agar mengulangi sholat dan wudhu.[14]

Dan juga hadits ini :

عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ فِي عَيْنَيْهِ سَوْءٌ فَوَقَعَ فِي بِئْرٍ عَلَيْهَا خُصْفَةٌ فَضَحِكَ بَعْضُ مَنْ خَلْفِهِ فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الصَّلاةَ قَالَ مَنْ قَهْقَهَ مِنْكُمْ فَلْيُعِدْ الْوُضُوءَ , وَالصَّلاةَ , وَمِنْ تَبَسَّمَ , فَلا شَيْءَ عَلَيْهِ

Artinya : ketika Rasulullah SAW sholat datanglah seorang badui arab yang matanya mengalami kerusakan dan terjatuhlah dia ke lubang sumur , maka tertawalah sebagian orang yang sholat di belakang Rasulullah SAW. Dan setelah selesai sholat Rasulullah SAW berkata : barangsiapa yang tertawa terbahak-bahak dari kalian maka ulangilah wudhu dan sholat, adapun yang tersenyum maka tidak perlu melakukan hal itu.

Kalangan para Imam dari mazhab syafi’i mengkritik hadits ini dengan menyatakan kedhoifannya, hal tersebut di karenakan 2 sebab yaitu dengan menyatakan bahwa masjid Rasulullah SAW di dalamnya tidak ada sumur dan bagaimana mungkin para Shahabat tertawa di belakang Rasulullah SAW di saat sholat ?

Imam Al Kasani (w 587 H) dari kalangan hanafiyah menjawab tuduhan itu dengan menyatakan bahwa tuduhan itu tdk benar karena telah di riwayatkan bahwasannya di masjid Rasulullah SAW ada sebuah lubang tempat di mana tertampungnya air di saat hujan dan biasa di namakan sumur. Begitu juga riwayat-riwayat yang menjelaskan bahwa para Khulafau rasyidin, 10 shahabat yang di jamin masuk surga, kaum muhajir, para ahli fiqih dari kalangan shahabatpun tertawa bahkan di beberapa kejadian mereka pun tertawa. [15]

Wallahu a’lam bishshowaab.

Footnote

[1].Tajul A’rus karya murtadho Az Zabidi 36/481. Kitabul a’in Khalil bin Ahmad Al Farahidi 3/341. Lisanul arab, Ibnu Manzhur 11/ 335

[2] At ta’rifat lil Jurjani hal. 230, Al bahrur Raa.iq, An Nasafi 1/42, Fathul Qadir A’la al hidayah, As Siwasi 1/35. Fiqhul Islam wa adillatuhu Dr. Wahbah Zuhaili 2/18

[3]. Mufradatul Quran lil Ar Raghib hal 293

[4].  Fathul Qadir a’la al hidayah 1/35, Hasyiyah Ibnu Abdin 1/98, Mufradatul Quran lil Ar Raghib hal 293

[5]. Hasyiyah Ibnu Abdin 1/98.

[6]. At Ta’rifat Lil Jurjani hal 72, bada’I Shona’I, Imam Al Kasaani 1/32, hasyiyah Thohthowi 1/83

[7]. Bidayatul mujtahid, Imam Ibnu Rusyd hal 152, Al Mudawwanah Al kubra, 190

[8]. Minhaju Ath Thalibiin 107. Raudhatu Ath Thalibin, Imam nawawi 1/394, Al Majmu Syarhul Muhadzdzab 1/60-61

[9]. Majmu’ Fatawa, Ibnu Taymiyah 22/356. Al Kafi, Imam Ibnu Qudamah 1/369

[10] Fiqhul Islam wa adillatuhu Dr. Wahbah Zuhaili 2/18. Al bahrur Raa.iq, An Nasafi 1/42, Fathul Qadir A’la al hidayah, As Siwasi 1/35.

[11]. Sunan Darul Quthni 1/173

[12]. Sunanul Kubra 1/145.

[13] , Al Majmu Syarhul Muhadzdzab 1/60-61, Al Mughni, Imam Ibnu Qudamah 1/131. Syarhu Az Zarqoni A’la Mukhtashor Al Kholil 1/248-249.

[14]. Sunan Darul Quthni 1/172

[15]. Lebih jelasnya lihat , bada’I Shona’I, Imam Al Kasaani 1/32

Iklan

Apakah Wajib Seorang Muadzin Mengiqomahkan Sholat

Oleh : Faizal Reza Amaradja

Beberapa hari lalu saya mendapat bbm dari teman saya. Dia menanyakan perihal harusnya orang yang adzan untuk mengiqomah sholat. Lalu saya berinisiatif untuk menuangkan jawaban nya dalam tulisan yang sederhana ini.

Masalah ini adalah termasuk salah satu masalah yang para ulama berbeda pendapat mengenai boleh dan tidaknya. Menurut Imam Ibnu Rusyd (w 595 H) dalam kitabnya Bidayatul mujtahid : adapun perbedaan ulama tentang 2 orang lelaki, salah satu dari keduanya mengumandangkan adzan dan yang lainnya mengumandangkan iqomah sholat. Kebanyakan ulama-ulama dunia membolehkan hal itu adapun sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu tidak boleh di lakukan. [1]

Berikut ini akan saya paparkan pendapat dari Ulama yang membolehkannya dan yang tidak membolehkannya.

Pendapat Yang Membolehkannya.

Mazhab hanafi

Imam Sarkhosi (w 483) dalam kitabnya Al mabsuth mengatakan : tidak mengapa jika yang seseorang yang mengumandangkan adzan dan mengiqomah sholat adalah orang selainnya.[2] Adapun imam Imam kassani (w 587) menyebutkan dalam kitabnya bada’I Ash shona’I memasukkan perkara ini ke dalam sunah nya adzan dalam artian orang yang mengumandangkan adzan di sunahkan dialah yang mengiqomah sholat., seraya mengomentari bahwa jikalau orang lain yang mengiqomah sholat itu mengganggu orang yang mengumandangkan adzan maka di makruhkan, kemakruhannya karena tidak di boleh mengganggu orang muslim, adapun jika tidak mengganggu maka tidak makruh. [3]

Mazhab Maliki

Imam Ibnu Abdil Bar (463 H) berpendapat bolehnya seorang yang adzan dan yang lainnya mengiqomahkan sholat.[4] Begitu juga pendapat Syekh Muhammad Al U’laisy (w 1299 H) namun beliau menambahkan bahwa lebih afdhol orang yang mengumandangkan adzan dialah yang mengiqomahkan sholat.[5]

Mazhab Syafii

Imam Syafii (w 204 H) dalam kitabnya Al Um mengatakan : Saya lebih menyukai jika seorang mengumandangkan adzan dialah yang sebaiknya mengiqomah sholat di karenakan adanya riwayat (anjuran) tentang hal tersebut.[6] Dalam kitab muhadzdzab Imam Syirozi (w 440 H) juga menyatakan hal tersebut adalah sunnah.[7]

 Mazhab hambali

Imam Al Buhuty (w 1051 H) dan Imam Ibnu Qudamah (w 620 H) mensunahkan seorang yang adzan dialah yang mengiqomahkan sholat. Dan juga membolehkan orang selain muadzin yang mengiqomahkan sholat. [8]

Pendapat Yang Tidak Membolehkan

Sepanjang pencarian saya pendapat yang melarang orang selain muadzin mengiqomahkan sholat hanyalah pendapat dari kalangan hadawiyah.[9]

Penyebab Ikhtilaf Ulama

Penyebab terjadinya perbedaan pendapat ini di karenakan 2 hadits yang taa’rudh (kontradiksi). Diantaranya adalah Sabda Nabi SAW tentang pelarangan hal tersebut :

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ أُؤَذِّنَ فِي صَلاةِ الْفَجْرِ فَأَذَّنْتُ فَأَرَادَ بِلالٌ أَنْ يُقِيمَ , فَقَالَ : إنَّ أَخَا صُدَاءَ  قَدْ أَذَّنَ وَمَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يُقِيمُ …..رواه التِّرْمِذِيُّ

Rasululllah SAW telah menyuruhku untuk mengumandangkan adzan sholat shubuh, maka aku kumandangkan adzan, dan setelah itu Bilal ingin mengiqomahkan sholat, maka bersabda lah Beliau SAW : sesungguhnya saudara suda’I dialah yang telah mengumandangkan adzan, barangsiapa yang adzan maka dialah yang mengiqomahkan sholat.H. R. Imam Tirmidzi (w 279 H) [10]

Ada juga redaksi hadits yang hampir sama di Dalam musnad Imam Ahmad (w 241 H)

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : أَذِّنْ يَا أَخَا صُدَاءٍ قَالَ : فَأَذَّنْتُ ، وَذَلِكَ حِينَ أَضَاءَ الْفَجْرُ، قَالَ : فَلَمَّا تَوَضَّأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ ، فَأَرَادَ بِلاَلٌ أَنْ يُقِيمَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : يُقِيمُ أَخُو صُدَاءٍ، فَإِنَّ مَنْ أَذَّنَ، فَهُوَيُقِيمُ . رواه أحمد

Bersabda Rasulullah SAW : Kumandangkankanlah adzan wahai saudara shuda’I ( Ziyad Bin harits). maka aku kumandangkan adzan pada saat terpancarnya cahaya fajar, ketika Rasulullah SAW selesai berwudhu dan hendak melaksanakan sholat, maka Bilal ingin mengiqomah, berkata Rasulullah SAW : yang mengiqomah adalah saudara shuda’I, seungguhnya siapa yang adzan dialah yang mengiqomah sholat. H.R. Imam Ahmad [11]

Adapun hadits yang membolehkannya adalah :

أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأَذَانِ أَشْيَاءَ لَمْ يَصْنَعْ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ فَأُرِيَ عَبْدُاللَّهِ بْنُ زَيْدٍ الْأَذَانَ فِي الْمَنَامِ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ أَلْقِهِ عَلَى بِلَالٍ فَأَلْقَاهُ عَلَيْهِ فَأَذَّنَ بِلَالٌ فَقَالَ عَبْدُاللَّهِ أَنَا رَأَيْتُهُ وَأَنَا كُنْتُ أُرِيدُهُ قَالَ : فَأَقِمْ أَنْتَ

Nabi SAW menginginkan agar ada cara adzan yang belum pernah ada sebelumnya, maka bermimpilah Abdullah Bin Zaid tentang cara adzan tersebut. Dan mendatangi Nabi SAW seraya mengabarkannya tentang mimpi itu, Bersabda Nabi SAW ajarkanlah Bilal, dan bilalpun mengumandangkan adzan. Abdullah berkata : aku bermimpi seperti itu dan akupun ingin melakukan itu, maka Nabi SAW Bersabda : bangunlah dan iqomahkanlah sholat.[12]

Para ulama yang berpandangan tidak sahnya orang selain muadzin yang mengiqomahkan sholat mengatakan bahwa hadits Abdullah Bin Zaid telah di nasikh oleh hadits ash shudai Karena hadits Abdullah Bin Zaid itu terdahulu di bandingkan hadits shudai.

Adapun para Ulama yang membolehkan orang selain muadzin mengiqomahkan sholat berpendapat bahwa hadits Abdullah Bin Zaid Lebih kuat daripada hadits Ash Shudai, mereka mentarjihkannya di karenakan hadits Abdullah bin shudai itu terdapat seorang Rawi yang menyendiri yaitu abdurahman bin ziyad Al ifriqi. [13] bahkan hadits ash shudai di dhoifkan oleh Imam Ibnu Hibban (w 354 H ) Dan Imam Abu Hatim (w 327 H). [14]

Wallahu A’lam.

Footnote : 

[1] . Bidayatul mujtahid, Ibnu Rusyd hal 93.

[2]. Al Mabsuth, Imam Sarkhosi 1/132,

[3]. bada’I Ash shona’I Imam Al Kassani, 1/151

[4]. Al Kafii fii fiqhil ahlil madinah, Ibnu Abdil Bar hal 38

[5]. Syarhu manhul jalil a’la mukhtashor sayyidi kholil Muhammad Al U’laisy 1/122

[6]. Al Um, Muhammad Bin Idris Asy Syafii 2/189

[7]. Al Muhadzdzab, Asy Syirozi 1/66

[8]. Syarhu Muntahal Iradat, Al Buhuty 1/128. Al Kafii, Ibnu Qudamah 1/228

[9]. Subulas Salam, Ash Shona’ni hal 214. Nailul Awthor,Asy Syaukani 2/64

[10]. Sunan At Tirmidzi Hal 59.

[11]. Musnad Ahmad Juz 4 hadits nomer 17678

[12]. Sunan Abi Daud, 1/122

[13] Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd hal 94. Nailul Awthor ASy Syaukani 2/63-64

[14]. Subulas Salam, Ash Shona’ni hal 214

PENTINGKAH ADANYA IMAMAH (PEMERINTAHAN) ISLAM ? ( bagian 1)

Oleh : Faizal Reza Amaradja

Kita telah mengetahui bahwa dalam Islam ada ajaran-ajaran yang biasa disebut dengan hukum Islam. Keberadaan hukum-hukum Islam tidaklah cukup untuk mereformasi dan merubah masyarakat. Untuk memastikan bahwa hukum-hukum itu dapat mendukung reformasi dan mewujudkan kebahagian manusia, maka karena hal tersebut di haruskan adanya sebuah kekuasaan eksekutif yang di jalankan oleh seorang eksekutor (pengambil keputusan atas suatu masalah). Eksekutif itu yang biasa kita sebut sebagai Imamah atau dalam bahasa indonesianya di sebut pemerintahan.

Dalam tulisan sederhana ini penulis ingin memberikan sedikit gambaran mengenai seberapa pentingkah sebuah pemerintahan Islam itu? Bagaimana tanggapan para Ulama tentang masalah ini? Dan bagaimana konsep amar ma’ruf nahi munkar (hisbah)? bisakah di tegakkan konsep itu tanpa adanya pemerintahan Islam? Sebelum kita memasuki konsep dari pembahasan ini, maka tidak ada salahnya kita membahas dulu tentang definisi Imamah menurut para ulama.

Definisi Imamah

Menurut bahasa Imamah (الإِمَامَةُ) adalah masdar dari kata أَمَّ يَؤُمُّ yang makna asalnya adalah tujuan dan terkadang juga bermakna mendahului atau mengepalai.[1] Mengepalai atau memimpin suatu kaum baik itu di dalam kebaikan dan jalan yang lurus, sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut ini :

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا

Artinya : Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi perunjuk      dengan perintah kami.[2]

Ataupun di dalam jalan kesesatan sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut ini :

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لا يُنْصَرُونَ

Artinya : Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang mengajak (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan di tolong.[3]

Para fuqaha membagi istilah Imamah menjadi dua bagian, yang pertama adalah Imamah shughro dan Imamah kubro. Adapun makna imamah shugro adalah Imam dalam sholat. Sedangkan makna imamah kubro adalah dia yang mempunyai wewenang untuk mengatur manusia pada umumnya, dalam artian kepemimpinan. Secara umum dalam agama dan dunia. Sebagai pengganti kepemimpinan Nabi.[4] Adapun orang yang menduduki tampuk keimamahan atau kekhilafahan disebut Imam dan khalifah namun sebagian kalangan Ulama kontemporer menyebutnya dengan sebutan Sultan. [5]

Kaum muslimin berbeda pendapat tentang penamaannya dengan Khalifatullah. Sebagian kaum muslimin membolehkannya dengan memakai dalil keumuman nash dari Al Quran dimana nash tersebut berlaku untuk seluruh umat manusia. Hal ini sebagaimana Firman Allah Ta’ala.

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Artinya : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.[6]

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ الأرْضِ

Artinya : Dan Dialah yang menjadikan engkau penguasa-penguasa di bumi.[7]

Sedangkan menurut jumhur (mayoritas) Ulama menolaknya. Sebab pengertian ayat tersebut tidaklah demikian. Sayyiduna Abu Bakr Shiddiq R.A. menolak di panggil dengan sebutan itu seraya berkata : Aku bukanlah khalifah Allah, melainkan khalifah Rasulullah.

Persoalan Imamah ini adalah persoalan yang paling banyak perselisihan diantara umat Islam. Hal ini sebagaimana yang paparkan oleh Imam Syahrastani (w 548 H) dalam kitabnya al-milal wa an-nihal : tidak ada factor pertikaian di antara umat Islam yang lebih besar daripada masalah keimamahan.[8] Dr. Dhiyauddin Rais menyebutkan masalah imamah ini dengan sebutan musykilah al kubro (permasalahan yang besar atau pelik).[9] Permasalahan ini sampai sekarang masih terus di bahas diantara kalangan umat Islam saat ini terutama 2 kelompok yang masih eksis di zaman sekarang yaitu kalangan suni dan syiah.

Menurut kalangan sunni, penentuan imamah dilakukan dengan ijtihad para shahabat dan bukan dengan ketentuan Allah sebagai mana yang di yakini oleh kalangan syiah. Penentuan itu di lakukan oleh musyawarah ahlu halli wal a’qdi atau yang biasa di sebut dengan parlemen ataupun penentuan oleh khalifah sebelumnya. [10]

Adapun kalangan syiah menganggap bahwa pengakuan terhadap keimamahan Imam Ali R.A adalah bagian dari pokok-pokok ajaran Islam sebagaimana mengimani para Nabi. Dan juga menganggap Imamah adalah suatu posisi Ilahiah, seperti halnya Nubuwwah. Sama halnya Allah memilih siapa saja yang Ia kehendaki untuk misi Nubuwwah dan Risalah, begitu pula dengan penentuan Imamah, Ia memilih siapa saja yang Ia kehendaki.[11] Penentuan itu berasal dari hadits peristiwa ghadir qum dan juga hadits tsaqalain.[12]

Pandangan Ulama Mazhab Tentang Pentingnya Imamah

Imam Al Mawardi (w 450 H) dalam Kitabnya Al-ahkam Al Sulthoniyah berpendapat : kepemimpinan (Imamah) sebagai pengganti kenabian dalam memelihara agama dan mengatur dunia serta menetapkannya di tengah-tengah umat wajib hukumnya menurut ijma.[13]

Imam al-Juwayni (w. 478 H) berpendapat bahwa Imamah adalah kepemimpinan yang bersifat menyeluruh (riyasah taammah) sebagai kepemimpinan yang berkaitan dengan urusan khusus dan urusan umum dalam kepentingan-kepentingan agama dan dunia. Mengangkat Imam ketika memungkinkan adalah sebuah kewajiban.[14]

Abu Muhammad Bin Hazm Al Andalusia (w 456 H) dalam kitabnya Al Fishal Fii Al Milal berkata : Para ulama telah sepakat baik itu dari kalangan Ahli Sunnah , Murjiah, Syi’ah, dan Khawarij perihal wajibnya kepemimpinan (imamah). Umat wajib menetapkan Imam yang adil untuk menegakkan hukum-hukum Allah dan memimpin mereka dengan hukum syariat yang di bawa oleh Rasulullah SAW, kecuali kelompok Najdat dari golongan khawarij.

Mereka berkata : Tidak wajib bagi manusia menegakkan kepemimpinan, yang wajib adalah saling memberi hak di antara mereka. Dari kelompok ini tidak tersisa seorangpun. Kelompok ini di nisbatkan kepada Najdah Bin Umair Al Hanafi yang tinggal di yamamah.

Abu Muhammad berkata : Pandangan kelompok ini gugur dengan sendirinya. Cukuplah menolaknya dan membatalkannya dengan (menggunakan) Ijma semua mazhab yang kami sebutkan tadi. Al Quran dan Al Sunnah mewajibkan adanya Imam. Di antaranya firman Allah Ta’ala : Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya serta Ulil Amri di antara kalian.[15] Di tambah dengan hadits-hadits shahih yang banyak untuk menaati imam dan wajibnya menegakkan kepemimpinan.[16]

Ibnu Khaldun (w 808 H) dalam Muqaddimah berkata : Menetapkan pemimpin itu wajib. Tentang wajibnya telah di tetapkan oleh ijma para shahabat dan tabi’in. Para shahabat ketika Rasulullah SAW wafat, segera melakukan baiat kepada Abu Bakr R.A dan menyerahkan urusan mereka kepadanya. Begitu pula pada setiap zaman. Pada setiap zaman tidak pernah masyarakat tidak mempunyai Imam. Dengan demikian kuatlah keterangan wajibnya mempunyai Imam.[17]

Al Muhaqqiq Al Karki dari kalangan ulama syiah di dalam kitabnya yang berjudul Al Jawahir menyatakan : Sudah sepakat shahabat-shahabat kami bahwa seorang faqih yang adil, yang terpercaya, memenuhi syarat-syarat sebagai mujtahid dalam hukum-hukum syariat menjadi wakil para Imam dan pembawa petunjuk ketika Imam dalam keadaan ghaib.

Ayatullah Al Burujurdy (w 1961 M) dalam kitabnya Al Badr Al Zahir berkata : Sudah sepakat baik ‘ammah maupun khashshah bahwa wajib dalam Islam mempunyai pemimpin atau penguasa yang mengatur urusan kaum muslimin. Kepemimpinan termasuk hal yang vital dalam ajaran Islam, walaupun berbagai perbedaan dalam menetapkan syarat-syaratnya atau menentukan pemimpin itu di tunjuk oleh Rasulullah SAW atau dipilih secara langsung.

Ayatullah Khomeiny (w 1989 H) dalam kitab Al Bay’ berkata : Sesungguhnya hukum-hukum Allah baik hukum yang berkaitan dengan kekayaan, politik maupun hak-hak tidak dihapuskan, akan tetapi berlaku sampai hari kiamat. Kekalnya hukum-hukum itu memerlukan pemerintahan (hukumah) dan kepemimpinan (wilayah) yang menjamin terpeliharanya undang-undang Ilahi dan pelaksanaannya. Karena memelihara sistem termasuk kewajiban yang penting dan merusak urusan kaum muslimin termasuk hal yang tercela, maka semua itu tidak bisa tegak atau diatasi melainkan dengan adanya pemimpin atau pemerintahan.[18]

HISBAH (PENGAWASAN)

Hisbah diartikan Oleh Imam Mawardi sebagai pelaksanaan Amar ma’ruf nahi munkar dalam artian menyeru kepada kebaikan jika kebaikan tersebut telah ditinggalkan dan mencegah kejahatan jika kejahatan itu telah dilakukan. [19] Hal ini didasari oleh firman Allah Ta’ala :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar. Mereka adalah orang-orang yang beruntung. [20]

Pengawasan termasuk dalam tugas keagamaan dan hukumya wajib bagi orang yang mendapatkan kepercayaan untuk mengendalikan dan mengurus kepentingan Umat Islam. Dan penetapan tentang pengawasan ini di lakukan oleh pemerintah Islam. Sebagaimana yang Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam mempraktekkannya di Negara Islam Madinah. Hal ini dapat kita lihat pada peristiwa ketika Beliau shallallahu Alaihi wasallam melewati Shubrah[21], kemudian beliau memasukkan tangannya pada tumpukan itu hingga jari jemarinya basah. Lalu beliau bertanya : Wahai pemilik makanan ! apakah ini ? pemilik makanan itu menjawab : Makanan tersebut terkena hujan wahai Rasulullah. Kemudian beliau bersabda : Kenapa engkau tidak meletakkan ini (yang basah dan rusak) di atas makanan yang lain sehingga orang-orang dapat melihatnya ? barangsiapa melakukan penipuan maka ia tidak termasuk golonganku.[22]

Setelah pemerintahan Islam pertama mulai terbentuk dan mandiri, maka Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam mengangkat pengawas pertama dalam Islam, dimana beliau menunjuk Sa’id bin Sa’id bin Al-Ash setelah Fathu Makkah untuk mengawasi aktifitas pasar Makkah.[23] hal ini membuktikan bahwa tugas ini sangatlah penting sejak kemunculan Islam pertama kali di jazirah arab dan penunjukkannya di lakukan langsung oleh kepala pemerintah Islam dalam hal ini adalah Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam. Dalam kitab yang sama juga Ibnu Abdil Bar (w 463 H) menceritakan bahwa Samurah Binti Nahik Al Asadi hidup sezaman dengan Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam dan Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam mengangkatnya sebagai pengawas pasar. Ia sering melewati pasar-pasar untuk memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran serta memukul warga dengan cemetinya.[24] Bahkan posisinya tetap di pertahankan oleh Amirul Mukminin Umar Bin Khattab R.A ketika beliau menjadi khalifah. Ibnul Jauzi (w 597 H) menguatkan hal ini dengan pernyataannya : Apabila Umar memasuki pasar maka ia menemuinya. Dalam artian bukan di rumahnya melainkan di tempat kerjanya. [25]

Di zaman pemerintah Amirul Mukminin Umar Bin Khathab R.A., ia sendiri pun turun tangan untuk melakukan tugas pengawasan ini secara langsung. Ia memerintahkan kepada yang baik dan mencegah tersebarnya kemungkaran, mengarahkan masyarakat untuk tetap berada dalam kebenaran dan berjalan di atas jalan yang lurus, serta mencegah terjadinya penipuan dan memperingatinya. Ia terbiasa melewati pasar-pasar dengan membawa Ad Dhirrah[26] (tongkat atau cemeti) untuk mencegah orang-orang yang meninggikan harga dan para penipu.[27]

Penegakkan amar ma’ruf nahi munkar akan terkena fitnah dan salah arah jika tidak dibentuk oleh pemerintahan Islam. Seringkali kita melihat beberapa ormas yang menisbatkan dirinya kepada Islam serta meneriakkan penegakkan amar ma’ruf nahi munkar namun di satu sisi dia tidak menyadari bahwa apa yang dia lakukan bertentangan dengan hukum positif sebuah negara tempat dia berdiam diri. Maka jadilah gambaran dalam pandangan masyarakat awam bahwa Islam itu sebagai agama yang mengajarkan kebrutalan, pemberontakan dan kekejian. Sehingga orang-orang akan ilfeel, benci dan takut bila mendengar tentang penegakan syariat Islam. Bagi mereka hal itu merupakan teror terhadap kebebasan dan hak-hak asasi mereka.

Maka dari itu kita sebagai umat Islam haruslah mampu menjawab keraguan mereka dan memberikan gambaran yang sebenarnya tentang Islam itu sendiri, Islam yang rahmatan lil a’alamin. tentunya dengan memakai cara-cara dan akhlak dari junjungan dan pemimpin kita yaitu Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam.

Semoga tulisan yang singkat ini dapat memberikan kita gambaran bahwa keberadaan pemerintahan Islam sangatlah penting di tengah-tengah Umat Islam. Karena dengan adanya pemerintahan Islam maka hukum-hukum Islam tidak akan menjadi sebuah dongeng yang hanya di bacakan di majlis-majlis ilmu tanpa ada pengaplikasian dan pengeksekusian dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu A’lam.

Footnote

[1]. Tajul A’rus. Murtadho Az Zabidi. maaddah amma.

[2]. Q. S. Al Anbiya : 73

[3]. Q. S. Al Qoshosh : 41

[4]. Hasyiyah Ibnu Abdin atau yang biasa di sebut Raddul Muhtar A’la Ad Durrir Mukhtar 1/368 cet. Ihya Turats, lihat juga kitab Al A’qaid An Nasafiyah hal 179 cet Syarikah Shihafah U’tsmaniyah, tahun 1326 H. lihat juga kitab Al Mawaqif Karya Qadhi Al Ijii hal 395 cet Allamul Kutub Beirut.

[5]. Muqoddimah Ibnu Khaldun 1/366

[6]. Q. S. Al Baqarah ayat: 30

[7]. Q. S. Al An’am ayat: 165

[8]. Al-Milal Wa An-Nihal 1/20 cet Al Azhar

[9]. An-Nadzariyat As Siyasah Al Islamiyah hal 89 cet ke 7 maktabah Dar At-Turats Mesir

[10]. Untuk lebih jelasnya lihat buku Sistem Politik Islam oleh Al Maududi hal 245 cet Mizan tahun 1990. kitab Al Ahkamu As Sulthoniyah oleh Imam Al Mawardi hal 7 cet Darul Kutub Ilmiyah 2011. Al Ahkamu As Sulthoniyah karya Abu Ya’la hal 23 cet Darul Kutub Ilmiah. Kitab Asna Al Matholib karya Syekh Zakariya Al Anshori 4/109 cet Darul Kitab Al Islami. kitab Hasyiyah Al Qalyubii karya Imam Al Qalyubii 4/173 Al Babii Halbii

[11]. Asy Syi’ah Wa Ushuluha hal 58 cet Muassasat Al Alami beirut

[12]. Imamah dan Khilafah, Ayatullah Murtadha Mutahhari hal 62-63 cet. CV Firdaus Jakarta yahun 1991

[13]. Al Ahkamu Al Sulthoniyah, Imam Al Mawardi hal 5 cet Darul Kutub Ilmiyah tahun 2011.

[14]. Ghiyatsul Umam, Imam Haramain hal 15 cet Dar Ad Da’wah

[15]. Q. S. An Nisa sebagain ayat 59

[16]. Al Fishol Fii Al Milal 4/87 cet. Darul Ma’rifah Beirut tahun 1298 H.

[17]. Mukaddimah Ibnu Khaldun 1/366 yang di tahqiq oleh Abdullah Muhammad Ad Darwisy, cet Maktabah Al Hidayah Damasyqi Tahun 1425 H/ 2004 M.

[18]. penulis belum mempunyai buku-buku nya. Semua pendapat itu penulis kutib dari tulisan Jalaluddin Rahmat di pengantar buku muratadha muthahhari yang berjudul Kepemimpinan Islam hal vi-viii cet penerbit Gua Hira tahun 1991.

[19]. Al-Ahkamu Al-Sholthoniyah hal. 229

[20]. Q. S. Ali Imran Ayat 104

[21]. Ash Shubroh adalah tumpukan dari beberapa makanan. Untuk lebih jelasnya silahkan merujuk ke kitab Al Minhaj Fii Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi 2/109 cet Dar Ihya At Turats, Beirut tahun 1394 H.

[22]. HR. Muslim dalam Shohih Muslim, kitab Al Imam Bab : Qaul An Nabi Man Ghisyna falaisa minna 102, Abu dawud 3452, At Tirmidzi 1315, Ibnu Majah 2224 dan Ahmad 7290

[23]. Al-Isti’ab Fii Ma’rifati Al-Ashab, Ibnu Abdul Bar 1/185 cet Dar Al Kitab Al Arabi Beirut.

[24]. Ibid. 4/1863

[25]. Sirah Umar Bin Khattab, Ibnu Jauzi hal 41

[26]. Tongkat atau cemeti yang di gunakan untuk memukul. Lihat kitab Al Mu’jam Al Washith hal 278

[27]. Tarikh Al Umam Wa Al Muluk, Imam Thabari, 2/578