Apakah Wajib Seorang Muadzin Mengiqomahkan Sholat

Oleh : Faizal Reza Amaradja

Beberapa hari lalu saya mendapat bbm dari teman saya. Dia menanyakan perihal harusnya orang yang adzan untuk mengiqomah sholat. Lalu saya berinisiatif untuk menuangkan jawaban nya dalam tulisan yang sederhana ini.

Masalah ini adalah termasuk salah satu masalah yang para ulama berbeda pendapat mengenai boleh dan tidaknya. Menurut Imam Ibnu Rusyd (w 595 H) dalam kitabnya Bidayatul mujtahid : adapun perbedaan ulama tentang 2 orang lelaki, salah satu dari keduanya mengumandangkan adzan dan yang lainnya mengumandangkan iqomah sholat. Kebanyakan ulama-ulama dunia membolehkan hal itu adapun sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu tidak boleh di lakukan. [1]

Berikut ini akan saya paparkan pendapat dari Ulama yang membolehkannya dan yang tidak membolehkannya.

Pendapat Yang Membolehkannya.

Mazhab hanafi

Imam Sarkhosi (w 483) dalam kitabnya Al mabsuth mengatakan : tidak mengapa jika yang seseorang yang mengumandangkan adzan dan mengiqomah sholat adalah orang selainnya.[2] Adapun imam Imam kassani (w 587) menyebutkan dalam kitabnya bada’I Ash shona’I memasukkan perkara ini ke dalam sunah nya adzan dalam artian orang yang mengumandangkan adzan di sunahkan dialah yang mengiqomah sholat., seraya mengomentari bahwa jikalau orang lain yang mengiqomah sholat itu mengganggu orang yang mengumandangkan adzan maka di makruhkan, kemakruhannya karena tidak di boleh mengganggu orang muslim, adapun jika tidak mengganggu maka tidak makruh. [3]

Mazhab Maliki

Imam Ibnu Abdil Bar (463 H) berpendapat bolehnya seorang yang adzan dan yang lainnya mengiqomahkan sholat.[4] Begitu juga pendapat Syekh Muhammad Al U’laisy (w 1299 H) namun beliau menambahkan bahwa lebih afdhol orang yang mengumandangkan adzan dialah yang mengiqomahkan sholat.[5]

Mazhab Syafii

Imam Syafii (w 204 H) dalam kitabnya Al Um mengatakan : Saya lebih menyukai jika seorang mengumandangkan adzan dialah yang sebaiknya mengiqomah sholat di karenakan adanya riwayat (anjuran) tentang hal tersebut.[6] Dalam kitab muhadzdzab Imam Syirozi (w 440 H) juga menyatakan hal tersebut adalah sunnah.[7]

 Mazhab hambali

Imam Al Buhuty (w 1051 H) dan Imam Ibnu Qudamah (w 620 H) mensunahkan seorang yang adzan dialah yang mengiqomahkan sholat. Dan juga membolehkan orang selain muadzin yang mengiqomahkan sholat. [8]

Pendapat Yang Tidak Membolehkan

Sepanjang pencarian saya pendapat yang melarang orang selain muadzin mengiqomahkan sholat hanyalah pendapat dari kalangan hadawiyah.[9]

Penyebab Ikhtilaf Ulama

Penyebab terjadinya perbedaan pendapat ini di karenakan 2 hadits yang taa’rudh (kontradiksi). Diantaranya adalah Sabda Nabi SAW tentang pelarangan hal tersebut :

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ أُؤَذِّنَ فِي صَلاةِ الْفَجْرِ فَأَذَّنْتُ فَأَرَادَ بِلالٌ أَنْ يُقِيمَ , فَقَالَ : إنَّ أَخَا صُدَاءَ  قَدْ أَذَّنَ وَمَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يُقِيمُ …..رواه التِّرْمِذِيُّ

Rasululllah SAW telah menyuruhku untuk mengumandangkan adzan sholat shubuh, maka aku kumandangkan adzan, dan setelah itu Bilal ingin mengiqomahkan sholat, maka bersabda lah Beliau SAW : sesungguhnya saudara suda’I dialah yang telah mengumandangkan adzan, barangsiapa yang adzan maka dialah yang mengiqomahkan sholat.H. R. Imam Tirmidzi (w 279 H) [10]

Ada juga redaksi hadits yang hampir sama di Dalam musnad Imam Ahmad (w 241 H)

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : أَذِّنْ يَا أَخَا صُدَاءٍ قَالَ : فَأَذَّنْتُ ، وَذَلِكَ حِينَ أَضَاءَ الْفَجْرُ، قَالَ : فَلَمَّا تَوَضَّأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ ، فَأَرَادَ بِلاَلٌ أَنْ يُقِيمَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : يُقِيمُ أَخُو صُدَاءٍ، فَإِنَّ مَنْ أَذَّنَ، فَهُوَيُقِيمُ . رواه أحمد

Bersabda Rasulullah SAW : Kumandangkankanlah adzan wahai saudara shuda’I ( Ziyad Bin harits). maka aku kumandangkan adzan pada saat terpancarnya cahaya fajar, ketika Rasulullah SAW selesai berwudhu dan hendak melaksanakan sholat, maka Bilal ingin mengiqomah, berkata Rasulullah SAW : yang mengiqomah adalah saudara shuda’I, seungguhnya siapa yang adzan dialah yang mengiqomah sholat. H.R. Imam Ahmad [11]

Adapun hadits yang membolehkannya adalah :

أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأَذَانِ أَشْيَاءَ لَمْ يَصْنَعْ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ فَأُرِيَ عَبْدُاللَّهِ بْنُ زَيْدٍ الْأَذَانَ فِي الْمَنَامِ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ أَلْقِهِ عَلَى بِلَالٍ فَأَلْقَاهُ عَلَيْهِ فَأَذَّنَ بِلَالٌ فَقَالَ عَبْدُاللَّهِ أَنَا رَأَيْتُهُ وَأَنَا كُنْتُ أُرِيدُهُ قَالَ : فَأَقِمْ أَنْتَ

Nabi SAW menginginkan agar ada cara adzan yang belum pernah ada sebelumnya, maka bermimpilah Abdullah Bin Zaid tentang cara adzan tersebut. Dan mendatangi Nabi SAW seraya mengabarkannya tentang mimpi itu, Bersabda Nabi SAW ajarkanlah Bilal, dan bilalpun mengumandangkan adzan. Abdullah berkata : aku bermimpi seperti itu dan akupun ingin melakukan itu, maka Nabi SAW Bersabda : bangunlah dan iqomahkanlah sholat.[12]

Para ulama yang berpandangan tidak sahnya orang selain muadzin yang mengiqomahkan sholat mengatakan bahwa hadits Abdullah Bin Zaid telah di nasikh oleh hadits ash shudai Karena hadits Abdullah Bin Zaid itu terdahulu di bandingkan hadits shudai.

Adapun para Ulama yang membolehkan orang selain muadzin mengiqomahkan sholat berpendapat bahwa hadits Abdullah Bin Zaid Lebih kuat daripada hadits Ash Shudai, mereka mentarjihkannya di karenakan hadits Abdullah bin shudai itu terdapat seorang Rawi yang menyendiri yaitu abdurahman bin ziyad Al ifriqi. [13] bahkan hadits ash shudai di dhoifkan oleh Imam Ibnu Hibban (w 354 H ) Dan Imam Abu Hatim (w 327 H). [14]

Wallahu A’lam.

Footnote : 

[1] . Bidayatul mujtahid, Ibnu Rusyd hal 93.

[2]. Al Mabsuth, Imam Sarkhosi 1/132,

[3]. bada’I Ash shona’I Imam Al Kassani, 1/151

[4]. Al Kafii fii fiqhil ahlil madinah, Ibnu Abdil Bar hal 38

[5]. Syarhu manhul jalil a’la mukhtashor sayyidi kholil Muhammad Al U’laisy 1/122

[6]. Al Um, Muhammad Bin Idris Asy Syafii 2/189

[7]. Al Muhadzdzab, Asy Syirozi 1/66

[8]. Syarhu Muntahal Iradat, Al Buhuty 1/128. Al Kafii, Ibnu Qudamah 1/228

[9]. Subulas Salam, Ash Shona’ni hal 214. Nailul Awthor,Asy Syaukani 2/64

[10]. Sunan At Tirmidzi Hal 59.

[11]. Musnad Ahmad Juz 4 hadits nomer 17678

[12]. Sunan Abi Daud, 1/122

[13] Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd hal 94. Nailul Awthor ASy Syaukani 2/63-64

[14]. Subulas Salam, Ash Shona’ni hal 214

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s