PENTINGKAH ADANYA IMAMAH (PEMERINTAHAN) ISLAM ? ( bagian 1)

Oleh : Faizal Reza Amaradja

Kita telah mengetahui bahwa dalam Islam ada ajaran-ajaran yang biasa disebut dengan hukum Islam. Keberadaan hukum-hukum Islam tidaklah cukup untuk mereformasi dan merubah masyarakat. Untuk memastikan bahwa hukum-hukum itu dapat mendukung reformasi dan mewujudkan kebahagian manusia, maka karena hal tersebut di haruskan adanya sebuah kekuasaan eksekutif yang di jalankan oleh seorang eksekutor (pengambil keputusan atas suatu masalah). Eksekutif itu yang biasa kita sebut sebagai Imamah atau dalam bahasa indonesianya di sebut pemerintahan.

Dalam tulisan sederhana ini penulis ingin memberikan sedikit gambaran mengenai seberapa pentingkah sebuah pemerintahan Islam itu? Bagaimana tanggapan para Ulama tentang masalah ini? Dan bagaimana konsep amar ma’ruf nahi munkar (hisbah)? bisakah di tegakkan konsep itu tanpa adanya pemerintahan Islam? Sebelum kita memasuki konsep dari pembahasan ini, maka tidak ada salahnya kita membahas dulu tentang definisi Imamah menurut para ulama.

Definisi Imamah

Menurut bahasa Imamah (الإِمَامَةُ) adalah masdar dari kata أَمَّ يَؤُمُّ yang makna asalnya adalah tujuan dan terkadang juga bermakna mendahului atau mengepalai.[1] Mengepalai atau memimpin suatu kaum baik itu di dalam kebaikan dan jalan yang lurus, sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut ini :

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا

Artinya : Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi perunjuk      dengan perintah kami.[2]

Ataupun di dalam jalan kesesatan sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut ini :

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لا يُنْصَرُونَ

Artinya : Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang mengajak (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan di tolong.[3]

Para fuqaha membagi istilah Imamah menjadi dua bagian, yang pertama adalah Imamah shughro dan Imamah kubro. Adapun makna imamah shugro adalah Imam dalam sholat. Sedangkan makna imamah kubro adalah dia yang mempunyai wewenang untuk mengatur manusia pada umumnya, dalam artian kepemimpinan. Secara umum dalam agama dan dunia. Sebagai pengganti kepemimpinan Nabi.[4] Adapun orang yang menduduki tampuk keimamahan atau kekhilafahan disebut Imam dan khalifah namun sebagian kalangan Ulama kontemporer menyebutnya dengan sebutan Sultan. [5]

Kaum muslimin berbeda pendapat tentang penamaannya dengan Khalifatullah. Sebagian kaum muslimin membolehkannya dengan memakai dalil keumuman nash dari Al Quran dimana nash tersebut berlaku untuk seluruh umat manusia. Hal ini sebagaimana Firman Allah Ta’ala.

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Artinya : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.[6]

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ الأرْضِ

Artinya : Dan Dialah yang menjadikan engkau penguasa-penguasa di bumi.[7]

Sedangkan menurut jumhur (mayoritas) Ulama menolaknya. Sebab pengertian ayat tersebut tidaklah demikian. Sayyiduna Abu Bakr Shiddiq R.A. menolak di panggil dengan sebutan itu seraya berkata : Aku bukanlah khalifah Allah, melainkan khalifah Rasulullah.

Persoalan Imamah ini adalah persoalan yang paling banyak perselisihan diantara umat Islam. Hal ini sebagaimana yang paparkan oleh Imam Syahrastani (w 548 H) dalam kitabnya al-milal wa an-nihal : tidak ada factor pertikaian di antara umat Islam yang lebih besar daripada masalah keimamahan.[8] Dr. Dhiyauddin Rais menyebutkan masalah imamah ini dengan sebutan musykilah al kubro (permasalahan yang besar atau pelik).[9] Permasalahan ini sampai sekarang masih terus di bahas diantara kalangan umat Islam saat ini terutama 2 kelompok yang masih eksis di zaman sekarang yaitu kalangan suni dan syiah.

Menurut kalangan sunni, penentuan imamah dilakukan dengan ijtihad para shahabat dan bukan dengan ketentuan Allah sebagai mana yang di yakini oleh kalangan syiah. Penentuan itu di lakukan oleh musyawarah ahlu halli wal a’qdi atau yang biasa di sebut dengan parlemen ataupun penentuan oleh khalifah sebelumnya. [10]

Adapun kalangan syiah menganggap bahwa pengakuan terhadap keimamahan Imam Ali R.A adalah bagian dari pokok-pokok ajaran Islam sebagaimana mengimani para Nabi. Dan juga menganggap Imamah adalah suatu posisi Ilahiah, seperti halnya Nubuwwah. Sama halnya Allah memilih siapa saja yang Ia kehendaki untuk misi Nubuwwah dan Risalah, begitu pula dengan penentuan Imamah, Ia memilih siapa saja yang Ia kehendaki.[11] Penentuan itu berasal dari hadits peristiwa ghadir qum dan juga hadits tsaqalain.[12]

Pandangan Ulama Mazhab Tentang Pentingnya Imamah

Imam Al Mawardi (w 450 H) dalam Kitabnya Al-ahkam Al Sulthoniyah berpendapat : kepemimpinan (Imamah) sebagai pengganti kenabian dalam memelihara agama dan mengatur dunia serta menetapkannya di tengah-tengah umat wajib hukumnya menurut ijma.[13]

Imam al-Juwayni (w. 478 H) berpendapat bahwa Imamah adalah kepemimpinan yang bersifat menyeluruh (riyasah taammah) sebagai kepemimpinan yang berkaitan dengan urusan khusus dan urusan umum dalam kepentingan-kepentingan agama dan dunia. Mengangkat Imam ketika memungkinkan adalah sebuah kewajiban.[14]

Abu Muhammad Bin Hazm Al Andalusia (w 456 H) dalam kitabnya Al Fishal Fii Al Milal berkata : Para ulama telah sepakat baik itu dari kalangan Ahli Sunnah , Murjiah, Syi’ah, dan Khawarij perihal wajibnya kepemimpinan (imamah). Umat wajib menetapkan Imam yang adil untuk menegakkan hukum-hukum Allah dan memimpin mereka dengan hukum syariat yang di bawa oleh Rasulullah SAW, kecuali kelompok Najdat dari golongan khawarij.

Mereka berkata : Tidak wajib bagi manusia menegakkan kepemimpinan, yang wajib adalah saling memberi hak di antara mereka. Dari kelompok ini tidak tersisa seorangpun. Kelompok ini di nisbatkan kepada Najdah Bin Umair Al Hanafi yang tinggal di yamamah.

Abu Muhammad berkata : Pandangan kelompok ini gugur dengan sendirinya. Cukuplah menolaknya dan membatalkannya dengan (menggunakan) Ijma semua mazhab yang kami sebutkan tadi. Al Quran dan Al Sunnah mewajibkan adanya Imam. Di antaranya firman Allah Ta’ala : Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya serta Ulil Amri di antara kalian.[15] Di tambah dengan hadits-hadits shahih yang banyak untuk menaati imam dan wajibnya menegakkan kepemimpinan.[16]

Ibnu Khaldun (w 808 H) dalam Muqaddimah berkata : Menetapkan pemimpin itu wajib. Tentang wajibnya telah di tetapkan oleh ijma para shahabat dan tabi’in. Para shahabat ketika Rasulullah SAW wafat, segera melakukan baiat kepada Abu Bakr R.A dan menyerahkan urusan mereka kepadanya. Begitu pula pada setiap zaman. Pada setiap zaman tidak pernah masyarakat tidak mempunyai Imam. Dengan demikian kuatlah keterangan wajibnya mempunyai Imam.[17]

Al Muhaqqiq Al Karki dari kalangan ulama syiah di dalam kitabnya yang berjudul Al Jawahir menyatakan : Sudah sepakat shahabat-shahabat kami bahwa seorang faqih yang adil, yang terpercaya, memenuhi syarat-syarat sebagai mujtahid dalam hukum-hukum syariat menjadi wakil para Imam dan pembawa petunjuk ketika Imam dalam keadaan ghaib.

Ayatullah Al Burujurdy (w 1961 M) dalam kitabnya Al Badr Al Zahir berkata : Sudah sepakat baik ‘ammah maupun khashshah bahwa wajib dalam Islam mempunyai pemimpin atau penguasa yang mengatur urusan kaum muslimin. Kepemimpinan termasuk hal yang vital dalam ajaran Islam, walaupun berbagai perbedaan dalam menetapkan syarat-syaratnya atau menentukan pemimpin itu di tunjuk oleh Rasulullah SAW atau dipilih secara langsung.

Ayatullah Khomeiny (w 1989 H) dalam kitab Al Bay’ berkata : Sesungguhnya hukum-hukum Allah baik hukum yang berkaitan dengan kekayaan, politik maupun hak-hak tidak dihapuskan, akan tetapi berlaku sampai hari kiamat. Kekalnya hukum-hukum itu memerlukan pemerintahan (hukumah) dan kepemimpinan (wilayah) yang menjamin terpeliharanya undang-undang Ilahi dan pelaksanaannya. Karena memelihara sistem termasuk kewajiban yang penting dan merusak urusan kaum muslimin termasuk hal yang tercela, maka semua itu tidak bisa tegak atau diatasi melainkan dengan adanya pemimpin atau pemerintahan.[18]

HISBAH (PENGAWASAN)

Hisbah diartikan Oleh Imam Mawardi sebagai pelaksanaan Amar ma’ruf nahi munkar dalam artian menyeru kepada kebaikan jika kebaikan tersebut telah ditinggalkan dan mencegah kejahatan jika kejahatan itu telah dilakukan. [19] Hal ini didasari oleh firman Allah Ta’ala :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar. Mereka adalah orang-orang yang beruntung. [20]

Pengawasan termasuk dalam tugas keagamaan dan hukumya wajib bagi orang yang mendapatkan kepercayaan untuk mengendalikan dan mengurus kepentingan Umat Islam. Dan penetapan tentang pengawasan ini di lakukan oleh pemerintah Islam. Sebagaimana yang Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam mempraktekkannya di Negara Islam Madinah. Hal ini dapat kita lihat pada peristiwa ketika Beliau shallallahu Alaihi wasallam melewati Shubrah[21], kemudian beliau memasukkan tangannya pada tumpukan itu hingga jari jemarinya basah. Lalu beliau bertanya : Wahai pemilik makanan ! apakah ini ? pemilik makanan itu menjawab : Makanan tersebut terkena hujan wahai Rasulullah. Kemudian beliau bersabda : Kenapa engkau tidak meletakkan ini (yang basah dan rusak) di atas makanan yang lain sehingga orang-orang dapat melihatnya ? barangsiapa melakukan penipuan maka ia tidak termasuk golonganku.[22]

Setelah pemerintahan Islam pertama mulai terbentuk dan mandiri, maka Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam mengangkat pengawas pertama dalam Islam, dimana beliau menunjuk Sa’id bin Sa’id bin Al-Ash setelah Fathu Makkah untuk mengawasi aktifitas pasar Makkah.[23] hal ini membuktikan bahwa tugas ini sangatlah penting sejak kemunculan Islam pertama kali di jazirah arab dan penunjukkannya di lakukan langsung oleh kepala pemerintah Islam dalam hal ini adalah Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam. Dalam kitab yang sama juga Ibnu Abdil Bar (w 463 H) menceritakan bahwa Samurah Binti Nahik Al Asadi hidup sezaman dengan Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam dan Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam mengangkatnya sebagai pengawas pasar. Ia sering melewati pasar-pasar untuk memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran serta memukul warga dengan cemetinya.[24] Bahkan posisinya tetap di pertahankan oleh Amirul Mukminin Umar Bin Khattab R.A ketika beliau menjadi khalifah. Ibnul Jauzi (w 597 H) menguatkan hal ini dengan pernyataannya : Apabila Umar memasuki pasar maka ia menemuinya. Dalam artian bukan di rumahnya melainkan di tempat kerjanya. [25]

Di zaman pemerintah Amirul Mukminin Umar Bin Khathab R.A., ia sendiri pun turun tangan untuk melakukan tugas pengawasan ini secara langsung. Ia memerintahkan kepada yang baik dan mencegah tersebarnya kemungkaran, mengarahkan masyarakat untuk tetap berada dalam kebenaran dan berjalan di atas jalan yang lurus, serta mencegah terjadinya penipuan dan memperingatinya. Ia terbiasa melewati pasar-pasar dengan membawa Ad Dhirrah[26] (tongkat atau cemeti) untuk mencegah orang-orang yang meninggikan harga dan para penipu.[27]

Penegakkan amar ma’ruf nahi munkar akan terkena fitnah dan salah arah jika tidak dibentuk oleh pemerintahan Islam. Seringkali kita melihat beberapa ormas yang menisbatkan dirinya kepada Islam serta meneriakkan penegakkan amar ma’ruf nahi munkar namun di satu sisi dia tidak menyadari bahwa apa yang dia lakukan bertentangan dengan hukum positif sebuah negara tempat dia berdiam diri. Maka jadilah gambaran dalam pandangan masyarakat awam bahwa Islam itu sebagai agama yang mengajarkan kebrutalan, pemberontakan dan kekejian. Sehingga orang-orang akan ilfeel, benci dan takut bila mendengar tentang penegakan syariat Islam. Bagi mereka hal itu merupakan teror terhadap kebebasan dan hak-hak asasi mereka.

Maka dari itu kita sebagai umat Islam haruslah mampu menjawab keraguan mereka dan memberikan gambaran yang sebenarnya tentang Islam itu sendiri, Islam yang rahmatan lil a’alamin. tentunya dengan memakai cara-cara dan akhlak dari junjungan dan pemimpin kita yaitu Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam.

Semoga tulisan yang singkat ini dapat memberikan kita gambaran bahwa keberadaan pemerintahan Islam sangatlah penting di tengah-tengah Umat Islam. Karena dengan adanya pemerintahan Islam maka hukum-hukum Islam tidak akan menjadi sebuah dongeng yang hanya di bacakan di majlis-majlis ilmu tanpa ada pengaplikasian dan pengeksekusian dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu A’lam.

Footnote

[1]. Tajul A’rus. Murtadho Az Zabidi. maaddah amma.

[2]. Q. S. Al Anbiya : 73

[3]. Q. S. Al Qoshosh : 41

[4]. Hasyiyah Ibnu Abdin atau yang biasa di sebut Raddul Muhtar A’la Ad Durrir Mukhtar 1/368 cet. Ihya Turats, lihat juga kitab Al A’qaid An Nasafiyah hal 179 cet Syarikah Shihafah U’tsmaniyah, tahun 1326 H. lihat juga kitab Al Mawaqif Karya Qadhi Al Ijii hal 395 cet Allamul Kutub Beirut.

[5]. Muqoddimah Ibnu Khaldun 1/366

[6]. Q. S. Al Baqarah ayat: 30

[7]. Q. S. Al An’am ayat: 165

[8]. Al-Milal Wa An-Nihal 1/20 cet Al Azhar

[9]. An-Nadzariyat As Siyasah Al Islamiyah hal 89 cet ke 7 maktabah Dar At-Turats Mesir

[10]. Untuk lebih jelasnya lihat buku Sistem Politik Islam oleh Al Maududi hal 245 cet Mizan tahun 1990. kitab Al Ahkamu As Sulthoniyah oleh Imam Al Mawardi hal 7 cet Darul Kutub Ilmiyah 2011. Al Ahkamu As Sulthoniyah karya Abu Ya’la hal 23 cet Darul Kutub Ilmiah. Kitab Asna Al Matholib karya Syekh Zakariya Al Anshori 4/109 cet Darul Kitab Al Islami. kitab Hasyiyah Al Qalyubii karya Imam Al Qalyubii 4/173 Al Babii Halbii

[11]. Asy Syi’ah Wa Ushuluha hal 58 cet Muassasat Al Alami beirut

[12]. Imamah dan Khilafah, Ayatullah Murtadha Mutahhari hal 62-63 cet. CV Firdaus Jakarta yahun 1991

[13]. Al Ahkamu Al Sulthoniyah, Imam Al Mawardi hal 5 cet Darul Kutub Ilmiyah tahun 2011.

[14]. Ghiyatsul Umam, Imam Haramain hal 15 cet Dar Ad Da’wah

[15]. Q. S. An Nisa sebagain ayat 59

[16]. Al Fishol Fii Al Milal 4/87 cet. Darul Ma’rifah Beirut tahun 1298 H.

[17]. Mukaddimah Ibnu Khaldun 1/366 yang di tahqiq oleh Abdullah Muhammad Ad Darwisy, cet Maktabah Al Hidayah Damasyqi Tahun 1425 H/ 2004 M.

[18]. penulis belum mempunyai buku-buku nya. Semua pendapat itu penulis kutib dari tulisan Jalaluddin Rahmat di pengantar buku muratadha muthahhari yang berjudul Kepemimpinan Islam hal vi-viii cet penerbit Gua Hira tahun 1991.

[19]. Al-Ahkamu Al-Sholthoniyah hal. 229

[20]. Q. S. Ali Imran Ayat 104

[21]. Ash Shubroh adalah tumpukan dari beberapa makanan. Untuk lebih jelasnya silahkan merujuk ke kitab Al Minhaj Fii Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi 2/109 cet Dar Ihya At Turats, Beirut tahun 1394 H.

[22]. HR. Muslim dalam Shohih Muslim, kitab Al Imam Bab : Qaul An Nabi Man Ghisyna falaisa minna 102, Abu dawud 3452, At Tirmidzi 1315, Ibnu Majah 2224 dan Ahmad 7290

[23]. Al-Isti’ab Fii Ma’rifati Al-Ashab, Ibnu Abdul Bar 1/185 cet Dar Al Kitab Al Arabi Beirut.

[24]. Ibid. 4/1863

[25]. Sirah Umar Bin Khattab, Ibnu Jauzi hal 41

[26]. Tongkat atau cemeti yang di gunakan untuk memukul. Lihat kitab Al Mu’jam Al Washith hal 278

[27]. Tarikh Al Umam Wa Al Muluk, Imam Thabari, 2/578

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s