Qahqahah (tertawa terbahak-bahak) Dalam Sholat Apakah Membatalkan Wudhu

Oleh : Faizal Reza Amaradja

Pada kesempatan kali ini penulis hendak menjabarkan tentang tertawa terbahak-bahak, tertawa dan tersenyum dalam sholat apakah membatalkan sholat atau tidak ?. Dalam bahasa arab tertawa terbahak-bahak dinamakan dengan Qahqahah, sedangkan tertawa dinamakan dengan dhahiq dan tersenyum dinamakan dengan tabassum.

Qahqahah menurut etimologi (tata bahasa) adalah :

الْقَهْقَهَةُ مَصْدَرُ قَهْقَهَ إِذَا مَدَّ وَرَجَّعَ فِي ضَحِكِهِ ، وَقِيلَ : هُوَ اشْتِدَادُ الضَّحِكِ

Artinya : qahqahah adalah masdar dari kalimat qahqahah yaitu tertawa yg di panjangkan dan di ulang-ulang adapun pendapat lain yaitu tertawa yang berlebihan ( terbahak-bahak) .[1]

Adapun menurut istilah :

الضَّحِكُ الْمَسْمُوعُ لَهُ وَلِجِيرَانِهِ

Artinya : tertawa yang di dengar olehnya dan oleh orang di sampingnya.[2]

Adapun dhahikun (tertawa) menurut etimologi (tata bahasa) adalah :

مَصْدَرُ ضَحِكَ يَضْحَكُ ضِحْكًا وَضَحِكًا : انْفَرَجَتْ شَفَتَاهُ وَبَدَتْ أَسْنَانُهُ مِنَ السُّرُورِ

Artinya : Dhahik adalah masdar dari dhahika yadhhaku dhahkan wa dhahikan. Yang berarti membuka lebar 2 bibir dan terlihat giginya karena rasa gembira.[3]

Adapun menurut istilah :

هُوَ مَا يَكُونُ مَسْمُوعًا لَهُ دُونَ جِيرَانِهِ

Artinya : Dhahik adalah tertawa yg hanya di dengar olehnya saja.[4]

Adapun tabassum (senyum) menurut lughoh (tata bahasa) adalah :

التَّبَسُّمُ مَصْدَرُ تَبَسَّمَ ، وَالثُّلاثِيُّ بَسَمَ ، يُقَالُ : بَسَمَ يَبْسِمُ بَسْمًا : انْفَرَجَتْ شَفَتَاهُ عَنْ ثَنَايَاهُ ضَاحِكًا بِدُونِ صَوْتٍ ، وَهُوَ أَخَفُّ مِنَ الضَّحِكِ

Artinya : Tabassum adalah masdar dari tabassama adapun fiil tsulasi nya basama yabsimu basman. Yang berarti membuka lebar dua bibirnya serta Nampak dua gigi depannya dalam keadaan tertawa tanpa suara. Dan dia lebih ringan dari dhahik.[5]

Al Jurjani (w 816 H) juga mendefinisikan tentang tabassum :

مَا لا يَكُونُ مَسْمُوعًا لَهُ وَلِجِيرَانِهِ

Sesuatu yang tak di dengar olehnya ( orang yang tersenyum) dan tak didengar juga oleh orang yang di sampingnya.[6] Adapun afiliasi atau hubungan antara qahqahah dan tabassum adalah tabaasum itu awal mulanya qahqahah.

Setelah kita mengetahui tentang definisi ini maka kita akan meneruskan pembahasan tentang hukum-hukumnya. para Ulama baik itu dari kalangan Malikiyah[7], Syafiiyah[8] dan Hanabilah[9] sepakat bahwa qahqahah dan dhahik membatalkan sholat jika terdengar suara tawaannya itu 2 huruf ataupun lebih dan satu huruf yang dapat di pahami. adapun kalangan Hanafiyah menyatakan bahwa qahqahah membatalkan sholat dan wudhu. Kalangan hanafiyah membedakan antara dhahik dan qahqahah dimana perbedaannya antara terdengar dan tidak terdengarnya suara tawa oleh orang yang berada di sampingnya. [10] adapun tabasum tidak membatalkan wudhu.

Ikhtilaf ataupun perbedaan pendapat antara jumhur (mayoritas) ulama dan kalangan hanafiyah bersumber pada hadits yang di pegang oleh masing-masing ulama. Jumhur ulama memakai hadits yang berbunyi :

قهقهة تنقض الصلاة ولا تنقض الوضوء . رواه الدار القطني

Artinya : tertawa terbahak-bahak membatalkan sholat dan dan tidak membatalkan wudhu. H.R. Imam darul Quthni (w 385 H). [11]

Begitu pula dengan hadits yang di riwayatkan oleh Imam Baihaqi (w 458 H) :

وفيمن ضحك في الصلاة أعاد الصلاة ولم يعد وضوءه

Artinya : barang siapa yang tertawa di dalam sholat maka di haruskan mengulangi sholat tanpa mengulangi wudhunya.[12]

Jumhur ulama berpendapat jika tertawa terbahak-bahak membatalkan wudhu maka akan berdampak pada batalnya wudhu di luar sholat sebagaimana jika berhadats. Namun jika hal itu tidak di wajibkan untuk berwudhu di luar sholat maka tidak pula di wajibkan di dalam sholat sebagaimana berbicara. [13]

Adapun kalangan hanafiyah memakai hadits berikut ini :

أن أعمى تردى في بئر ، فضحك ناس خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم فأمر رسول الله صلى الله عليه وسلم من ضحك أن يعيد الوضوء والصلاة

Artinya : bahwasannya ada seorang buta yang terjatuh di dalam sumur, lantas tertawalah orang-orang yang sholat di belakang Rasulullah SAW, maka Rasulullah SAW menyuruh siapa saja yang tertawa agar mengulangi sholat dan wudhu.[14]

Dan juga hadits ini :

عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ فِي عَيْنَيْهِ سَوْءٌ فَوَقَعَ فِي بِئْرٍ عَلَيْهَا خُصْفَةٌ فَضَحِكَ بَعْضُ مَنْ خَلْفِهِ فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الصَّلاةَ قَالَ مَنْ قَهْقَهَ مِنْكُمْ فَلْيُعِدْ الْوُضُوءَ , وَالصَّلاةَ , وَمِنْ تَبَسَّمَ , فَلا شَيْءَ عَلَيْهِ

Artinya : ketika Rasulullah SAW sholat datanglah seorang badui arab yang matanya mengalami kerusakan dan terjatuhlah dia ke lubang sumur , maka tertawalah sebagian orang yang sholat di belakang Rasulullah SAW. Dan setelah selesai sholat Rasulullah SAW berkata : barangsiapa yang tertawa terbahak-bahak dari kalian maka ulangilah wudhu dan sholat, adapun yang tersenyum maka tidak perlu melakukan hal itu.

Kalangan para Imam dari mazhab syafi’i mengkritik hadits ini dengan menyatakan kedhoifannya, hal tersebut di karenakan 2 sebab yaitu dengan menyatakan bahwa masjid Rasulullah SAW di dalamnya tidak ada sumur dan bagaimana mungkin para Shahabat tertawa di belakang Rasulullah SAW di saat sholat ?

Imam Al Kasani (w 587 H) dari kalangan hanafiyah menjawab tuduhan itu dengan menyatakan bahwa tuduhan itu tdk benar karena telah di riwayatkan bahwasannya di masjid Rasulullah SAW ada sebuah lubang tempat di mana tertampungnya air di saat hujan dan biasa di namakan sumur. Begitu juga riwayat-riwayat yang menjelaskan bahwa para Khulafau rasyidin, 10 shahabat yang di jamin masuk surga, kaum muhajir, para ahli fiqih dari kalangan shahabatpun tertawa bahkan di beberapa kejadian mereka pun tertawa. [15]

Wallahu a’lam bishshowaab.

Footnote

[1].Tajul A’rus karya murtadho Az Zabidi 36/481. Kitabul a’in Khalil bin Ahmad Al Farahidi 3/341. Lisanul arab, Ibnu Manzhur 11/ 335

[2] At ta’rifat lil Jurjani hal. 230, Al bahrur Raa.iq, An Nasafi 1/42, Fathul Qadir A’la al hidayah, As Siwasi 1/35. Fiqhul Islam wa adillatuhu Dr. Wahbah Zuhaili 2/18

[3]. Mufradatul Quran lil Ar Raghib hal 293

[4].  Fathul Qadir a’la al hidayah 1/35, Hasyiyah Ibnu Abdin 1/98, Mufradatul Quran lil Ar Raghib hal 293

[5]. Hasyiyah Ibnu Abdin 1/98.

[6]. At Ta’rifat Lil Jurjani hal 72, bada’I Shona’I, Imam Al Kasaani 1/32, hasyiyah Thohthowi 1/83

[7]. Bidayatul mujtahid, Imam Ibnu Rusyd hal 152, Al Mudawwanah Al kubra, 190

[8]. Minhaju Ath Thalibiin 107. Raudhatu Ath Thalibin, Imam nawawi 1/394, Al Majmu Syarhul Muhadzdzab 1/60-61

[9]. Majmu’ Fatawa, Ibnu Taymiyah 22/356. Al Kafi, Imam Ibnu Qudamah 1/369

[10] Fiqhul Islam wa adillatuhu Dr. Wahbah Zuhaili 2/18. Al bahrur Raa.iq, An Nasafi 1/42, Fathul Qadir A’la al hidayah, As Siwasi 1/35.

[11]. Sunan Darul Quthni 1/173

[12]. Sunanul Kubra 1/145.

[13] , Al Majmu Syarhul Muhadzdzab 1/60-61, Al Mughni, Imam Ibnu Qudamah 1/131. Syarhu Az Zarqoni A’la Mukhtashor Al Kholil 1/248-249.

[14]. Sunan Darul Quthni 1/172

[15]. Lebih jelasnya lihat , bada’I Shona’I, Imam Al Kasaani 1/32

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s