Arsip Bulanan: Juli 2014

Wajib Mukhayyar

bagi mahasiswa yang bergelut di bidang syariah tentu sudah akrab dengan istilah ini. istilah ini bisa kita dapati di kitab-kitab ushul fiqih, kebetulan saat ini saya sedang mempelajari sebuah kitab klasik Karya Imam Ibnu Qudamah (w 620 H) yaitu kitab Raudhatu An-Nadzir Wa Jannatu Al-Munadzir. kitab yang bagi saya pribadi sebagai pemula merupakan kitab yang sangat sulit dipahami.

di dalam kitab tersebut Imam Ibnu Qudamah menyatakan bahwa wajib itu di bagi menjadi 2 yaitu wajib mua’yyan (wajib yang di tentukan) dan wajib mukhayyar (wajib yang boleh memilih di antara pilihan yang ada) seperti pilihan2 yang ada dalam hukum kafarat al yamin (penebus sumpah) .

kaum mu’tazilah mengingkari hal ini dengn menyatakan bahwa : mana mungkin ada sebuah kewajiban di sertai dengan memilah milih ?
Imam Ibnu Qudamah membntahnya dengan menyatakan bahwa : wajib mukhayyar itu di bolehkan secara akal dan syariat.

beliau memberi penjelasan bahwa aqal bisa menerima hal ini dengan mencontohkan seorang tuan yang memerintahkan budaknya dengan berkata : aku wajibkan bagimu untuk menjahit pakaian atau membangun dinding ini pada hari ini, terserah kau mau mengerjakan yang kau inginkan maka sudah cukup bagiku pekerjaanmu. namun jika kau tinggalkan semuanya maka akan aku hukum dirimu. Aku tidak mewajibkan kesemuanya untuk kau kerjakan secara bersamaan, namun aku hanya mewajibkanmu untuk mengerjakan salah satu di antara keduanya dan tidak ada penentuan kepada pekerjaan yang kau ingin kerjakan…

perkataan di atas sangat masuk akal bukan ? karena tidak mungkin kita dapat mengklaim bahwasannya kewajiban yang di bebani adalah semuanya karena sudah jelas pembatalan perintahnya adalah mengerjakan salah satu pekerjaan yang di perintahkan. dan hukuman atau sangsi akan di berikan jika budak itu meninggalkan atau mengabaikan semua perintahnya. maka jelas dalam perkara ini
bolehnya memilih diantara kewajiban-kewajiban yang di sodorkan.

adapun menurut syariat Imam Ibnu Qudamah mencontohkan tentang pilihan kafarah yamin baik itu dengan cara memberi makan sepuluh orang miskin, atau memberi pakaian atau membebaskan budak, begitu juga ketika hendak menikahkan seorg muslimah kepada 2 orang pelamar yang sekufu (setara) begitu pula dengan mengokohkan dan mengangkat salah satu di antara 2 orang lelaki yang sholeh sebagai pemimpin (negara), tidak ada jalan untuk menggugurkan kewajiban melainkan dengan memilih salah satu di anatra ke duanya….

wallahu a’lam.

Iklan