Arsip Bulanan: Juni 2015

Sahkah Sholat Di Belakang Imam Yang Fasik ?

Dahulu saya pernah melihat salah seorang guru saya yang seringkali shalat lima waktu secara munfarid (sendiri) dan tidak berjamaah di masjid. Saya pernah bertanya kepadanya tentang mengapa beliau tidak shalat berjamaah di masjid ? Lalu beliau katakan bahwa : saya tidak akan bermakmum kepada seorang yang fasik. Dalam benak saya yang waktu itu masih sangat awam berkata : benarkah ada ajaran Islam yang seperti itu? Setahu saya guru-guru saya yang lain pun tidak mempraktekkan hal itu.

Namun akhirnya setelah berjalannya waktu saya temukan juga jawabannya, Kenapa beliau bersikap seperti itu. Dalam tulisan sederhana ini saya akan sedikit mengupas tentang hukum seorang yang fasik menjadi imam dalam shalat, apakah sah bermakmum kepada nya?. untuk lebih jelasnya mari sejenak kita berselancar ke kitab-kitab para ulama.

Definisi Fasik

Fasik berasal dari kata fasaqa yafsiqu/ yafsuqu fisqan yang berarti keluar dari ketaatan, kebenaran, agama dan dari keistiqamahan. Fasik pada asalnya diartikan sebagai keluarnya sesuatu dari sesuatu yang lainnya dan hal itu akan mengakibatkan kerusakan. Seperti kita berkata : rusaknya kurma jika dia terlepas dari cangkang atau kulitnya.[1]

Adapun fasik dalam istilah definisikan sebagai seorang yang melakukan dosa besar ataupun seringkali melakukan dosa-dosa kecil. [2] Syekh Ibnu Taymiyah (w 728 H) menyatakan bahwa kefasikan itu terkadang disebabkan oleh seringnya meninggalkan shalat-shalat fardhu dan terkadang dikarenakan melakukan perbuatan yang Allah Ta’ala haramkan. [3] Imam Ibnu Hajar al-A’sqolani (w 852 H) menyatakan bahwa : sebagian dari para Imam berkata : dosa besar yang disebabkan oleh hati lebih besar dibandingkan dosa besar yang dilakukan oleh anggota badan dikarenakan dosa tersebutlah penyebab kefasikan itu menjadi nyata dan nampak (dalam diri manusia). [4]

Sedangkan Imam asy-Syaukani (w 1250 H) menukilkan perkataan Imam al-Qurthubi (w 671 H) : adapun kefasikan yang umumnya digunakan dalam syariat yaitu : (perbuatan yang telah menyebabkan seseorang) keluar dari zona ketaatan kepada Allah Ta’ala. Terkadang perbuatan tersebut bisa menyebabkan kekafiran dan bisa juga dianggap sebagai kemaksiatan. [5] Sebagaimanahadits berikut ini :

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

mencela seorang muslim adalah kefasikan sedangkan membunuhnya adalah kekafiran. [6]

Orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah Ta’ala juga dinyatakan sebagai orang fasik, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan barangsiapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. [7]

Ada juga kefasikan didapati dari penakwilan sebagaimana seorang meminum nabidz [8] dari madu atau gandum, jika ditakwilkan kepada mazhab selain mazhab hanafiyah maka hal tersebut termasuk perbuatan yang diharamkan dikarenakan mereka menganggap nabidz madu dan gandum sebagai khamr Dan orang yang meminumnya dianggap sebagai seorang fasik. Namun jika ditakwilkan kepada mazhab Hanafiyah maka hal tersebut bukanlah perbuatan yang menjadikan pelaku sebagai seorang fasik, dikarenakan mazhab hanafiyah tidak beranggapan bahwa nabidz madu dan gandum termasuk jenis khamr. [9]

Pendapat Ulama Tentang Bermakmum Kepada Imam Yang Fasik

Bermakmum kepada seorang yang fasik adalah permasalahan yang ulama sendiri berbeda pendapat tentangnya. Dalam kitab Bidayatul Mujtahid Imam Ibnu Rusyd (w 595 H) menyebutkan : para ulama berbeda pendapat tentang (bolehnya) seorang yang fasik menjadi imam dalam shalat. Sebagian ulama menolaknya (tidak membolehkannya) secara mutlak, sebagian yang yang lainnya membolehkannya secara mutlak, adapun sekelompok ulama memisahkan dengan melihat kefasikannya baik secara pasti ataupun secara tidak pasti (prasangka) dan juga ada sekelompok ulama yang membedakan kefasikannya dengan menggunakan penakwilan dalam mazhab ataupun tanpa penakwilan.[10]

Pendapat Yang Membolehkan

1. Mazhab Hanafi

Dalam mazhab hanafi bermakmum kepada seorang yang fasik dibolehkan jika dilihat kepada keumuman dalam pengertian setiap orang yang berakal, bahkan dibolehkan juga seorang budak, orang a’rabi (badui), orang buta dan anak hasil perzinahan menjadi imam sholat walaupun disertai dengan kemakruhan. Mereka mengatakan bahwa tidak seyogyanya bermakmum kepada seorang yang fasik kecuali pada sholat jumat, dikarenakan selain sholat jumat ada kesempatan untuk memilih bermakmun dengan selainnya. Namun makruh jika di dalam satu kota ada banyak masjid yang melangsungkan sholat jumat karena dia punya kesempatan untuk memilih bermakmum dengan yang lainnya. [11]

dalam pandangan hanafiyah sholat dibelakang orang fasik lebih utama daripada sholat sendirian serta bermakmum kepadanya akan mendapatkan keutamaan sholat berjamaah walaupun menurut mereka lebih utama sholat dibelakang orang yang bertakwa, sebagaimana hadits Nabi S.A.W :

من صلى خلف عالم تقي ، فكأنما صلى خلف نبي

barangsiapa yang sholat dibelakang orang alim yang bertakwa maka seolah-olah dia sedang bermakmum kepada Nabi. [12]

2. Mazhab Maliki

Dalam mazhab maliki dibolehkan dan sah jika bermakmum kepada seorang yang fasik dimana kefasikannya berkaitan dengan kemaksiatan anggota tubuh (seperti berzina, minum khamr) walaupun pembolehannya tersebut disertai dengan kemakruhan sebagaimana sahnya bermakmun kepada pelaku bid’ah yang pengkafiran terhadapnya terdapat perbedaan pendapat antara para ulama, seperti kelompok qadariyah. Adapun jika kefasikannya berkaitan erat dengan rusaknya shalat, seperti niat dan tujuannnya yang ingin menyombongkan diri dengan menjadi imam sholat ataupun sengaja membaca al-Quran dengan memakai qira’ah (bacaan) yang syadz, yang bacaan tersebut bertentangan dengan al quran versi mushaf utsmani serta merusak shalat dengan tidak melaksanakan syarat ataupun rukun-rukunnya secara sengaja. Maka bermakmun kepadanya menjadi tidak sah. [13]

3. Mazhab Syafi’i

Mazhab syafi’i membolehkan seorang untuk shalat di belakang imam yang fasik namun disertai kemakruhan. Kemakruhannya tersebut hanya berlaku jika makmumnya bukanlah seorang yang fasik adapun jika kefasikannya sama antara imam dan makmum maka tidak dimakruhkan selama kefasikan imam tersebut tidak lebih parah dibandingkan makmumnya. [14]

4. Mazhab Zhahiri

Mazhab Zhahiri menganggap bermakmum kepada imam yang fasik hukumnya sah dengan melihat kepada keumuman hadits :

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله

Artinya : Yang layak menjadi Imam suatu kaum adalah seorang yang paling fasih bacaan Al Qurannya.[15]

Menurut mereka hadits tersebut tidak ada pengecualian antara imam yang fasik ataupun selainnya. [16] maka dari itu boleh saja jika seorang fasik yang mampu membaca al quran dengan fasih menjadi imam shalat.

Pendapat Yang Tidak Membolehkan

1. Mazhab Maliki

Dalam mazhab maliki ada pendapat yang menyatakan batalnya shalat di belakang imam yang fasik. Namun pendapat ini bukanlah pendapat yang mu’tamad dalam mazhab maliki. [17]

2. Mazhab Hambali

Mazhab hambali berpendapat bahwa tidak sah bermakmum kepada imam yang fasik secara mutlak. Baik itu kefasikannya berkaitan dengan i’tiqod (keyakinan) ataupun berkaitan dengan perbuatan-perbuatan yang Allah Ta’ala haramkan. Begitu pula jika kefasikannya dia tampakkan ataupun disembunyikannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لا يَسْتَوُونَ

Artinya : Apakah orang yang beriman itu sama dengan orang yang fasik ? mereka tidaklah sama. [18]

Dan juga Sabda Nabi S.A.W :

لا تؤمن امرأة رجلا، ولا يؤم أعرابي مهاجرا، ولا فاجر مؤمنا إلا أن يقهره بسلطان يخاف سيفه وسوطه

Seorang perempuan tidak boleh mengimami seorang lelaki, begitu pula seorang a’rabi (badui) mengimami seorang muhajir dan seorang yang fajir (fasik) mengimami seorang mukmin. Kecuali (seorang mukmin) dipaksa dengan kekuasaan (yang dimiliki oleh si fasik), dimana seorang mukmin tersebut takut akan ditebas oleh pedangnya dan dicambuk. [19]

Namun jika seorang mukmin bermakmum kepada imam yang fasik maka di haruskan untuk mengulang shalatnya Kecuali shalat jumat dikarenakan darurat ataupun udzur, dalam artian tidak ada lagi kesempatan untuk mencari imam selain si fasik tersebut. [20]

Penyebab perbedaan pandangan para ulama

Masalah ini adalah masalah ijtihadi dimana syariat tidak menjelaskannya secara gamblang dan pasti sehingga akhirnya para ulama berijtihad dengan menggunakan qiyas (analogi). Pengqiyasan yang mereka gunakan pun juga sangat kontradiktif (saling bertentangan antara satu dengan lainnya) dimana kelompok ulama yang menyatakan sahnya shalat dibelakang seorang yang yang fasik berhujjah bahwa yang dibutuhkan seorang makmum dari seorang imam hanyalah hal-hal yang berkaitan dengan sahnya shalat. Sedangkan kelompok ulama yang menyatakan batalnya shalat dibelakang imam yang fasik berargumen dengan menggunakan qiyas. Mereka mengqiyaskan imamah dalam shalat dengan persaksian di depan hakim. Mereka menuduh bahwa seorang yang fasik sangat memungkinkan untuk merusak sholatnya sebagaimana mereka berbohong ketika bersaksi dipengadilan. [21]

Wallahu A’lam Bishowab.

**footnote

[1] lisanul arab maddah fasaqa. Tafsir Ar rozi 2/147. Al faruq fil lughoh karya Abi Hilal Al Askary hal 257 cet. Darul Kutub Al Ilmiyah.

[2] Raddul Muhtar A’la Durril Mukhtar2/298 yang ditahqiq oleh Syekh A’dil Ahmad dan Ali Ahmad Mua’awad cet Daru A’lim Al Kutub Riyadh, hasyiyah Al Qalyubi Wa U’mairah a’la syarhi Al Mahalli 3/227 cet. Isa Halbi, Kasyful Qonna’ 1/475 Darul Fikr.

[3] majmu’ fatawa 7/637

[4] al jawazir a’n iqtiraaf al kabaair 1/52 cet darul ma’rifah

[5] Tafsir Fathul qadir 1/583 cet 1 darul ifham An nasyir ad duwali

[6] Fathul Bari 10/464 . Shohih Muslim 1/81

[7] Q.S. Al Maidah ayat 47

[8] minuman-minuman yang dibuat dari kurma, gandum, anggur dan lainnya yang diletakkan di bejana yang berisi air lihat lisanul arab 3/512.

[9] Badai’ Ash Shonai’ 6/2946 cet Al A’shimah. Al fatawa Al Hindiyah 5/413 cet. Darul fikr. Raddul Muhtar A’la Durril Mukhtar 10/34 yang ditahqiq oleh Syekh A’dil Ahmad dan Ali Ahmad Mua’awad cet Daru A’lim Al Kutub Riyadh. Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid hal 123, cet kedua. Dar Ibnu Hazm tahun 2006.

[10] Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid hal 123, cet kedua. Dar Ibnu Hazm tahun 2006

[11] Raddul muhtar ala durril mukhtar 2/298 yang ditahqiq oleh Syekh A’dil Ahmad dan Ali Ahmad Mua’awad cet Daru A’lim Al Kutub Riyadh

[12] Raddul muhtar ala durril mukhtar 2/301 cet Daru A’lim Al Kutub Riyadh

[13] Jawahir Al Iklil syarhu mukhtashor Kholil 1/78 cet darul fikr. Fawakih ad dawani 1/239 cet. Mushtofa halbi.

[14] Hasyiyah Al Bujairimi Ala Al Khotib 2/120 cet. Mushthofa al halbi

[15] Shohih Muslim 1/465 cet. Al Halbi

[16] Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid hal 123, cet kedua. Dar Ibnu Hazm tahun 2006

[17] Jawahir Al Iklil syarhu mukhtashor Kholil 1/78 cet darul fikr. Fawakih ad dawani 1/239 cet. Mushtofa halbi.

[18] Q.S. As Sajadah ayat 18

[19] Sunan Ibnu Majah 1/343 dari hadits Jabir Bin Abdullah. Hadits ini dhoif lihat kitab Misbahu Az Zujajah Fii Zawaid Ibni Majah 1/203 cet. Darul Jinan

[20] Syarhu Mumtahal Iradat 1/257 cet. Darul Fikr. Kasyful Qona’ 1/474 cet. Darul Fikr

[21] Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid hal 123, cet kedua. Dar Ibnu Hazm tahun 2006

Isis dan Isu Teroris Di Indonesia

Ada seorang lelaki dewasa bernama rembo memegang senjata ak 47 berteriak2 dengan ekspresi ketakutan karena ancaman yang diklaimnya akan menghancurkan rumah tempat dia menetap. Para penghuni rumah kebanyakan adalah tuna netra. Lelaki dewasa itu meneriakkan ketakutannya terhadap seorang bayi yang baru belajar merangkak.

Bayi itu dia beri nama bejo, nama yang sama dengan seorang penjahat terkenal. Bagi penghuni rumah yang buta tentu saja akan mempercayai perkataan si rembo yang merupakan pemimpin mereka dan juga karena mereka tidak dapat melihat si bejo dalam bentuk anak bayi yang mungil. Dalam benak mereka si bejo pastilah orang yang mengerikan dan kejam sesuai dengan apa yang di tanamkan dan digambarkan oleh si rembo.

Hal yang berbeda akan di dapati oleh penghuni rumah yang penglihatannya masih berfungsi, mereka akan menemukan keganjilan dalam teriakan si rembo. Menurut mereka bagaimana mungkin seorang bayi dapat membahayakan seorang dewasa yang di tangannnya memegang senjata ak 47? Bagaimana mungkin seorang bayi dapat menghancurkan rumah yang besar? Jika memang si bejo sangat berbahaya tentu saja dalam sekejap si rembo dapat menghabisi si bejo yang mungil itu tanpa bersusah payah. Mereka pun berfikir apa sebenarnya yang si rembo inginkan dengan situasi yang menegangkan buah dari teriakan ketakutannya?

Dalam situasi yang lain si bejo dibiarkan oleh si rembo bermain-main di dalam rumahnya seraya di berikan granat dan bola tenis sebagai mainannya. Si bayi mungil itu tidak dapat membedakan mana yang granat dan mana yang bola tenis, baginya kedua barang tersebut merupakan mainan yang mengasyikkan.

Suatu saat si bejo melemparkan granat yang di kiranya adalah mainan tersebut ke kamar penghuni rumah sehingga matilah mereka akibat dari ledakan granat. Si rembo pun dengan gagah berani berpidato dalam rumahnya dan menguatkan bahwa apa yang dia teriakkan sebelumnya adalah sebuah kebenaran (si bejo sangatlah berbahanya). Sehingga akhirnya para penghuni rumah bertambah yakin akan kelayakan rembo sebagai pemimpin mereka. Mereka berterima kasih kepadanya karena telah menyelamatkan mereka dari bahaya si bejo. Padahal hakikatnya yang paling berbahaya adalah si rembo. Karena dialah yang menciptakan teror dan memberikan granat kepada si bejo.

Cerita di atas saya sajikan sebagai ilustrasi dan analogi dari isu yang akhir2 ini menghebohkan Indonesia. Isu itu berjudul isis dan terorisme di indonesia. Masyarakat ramai membicarakan seputar isis dan bahaya nya. bahkan seorang sekaliber presiden, menteri dan panglima angkatan bersenjata RI pun turut angkat bicara.

aneh tapi nyata anggota isis yang hanya segelintir di Indonesia begitu di takuti oleh sebuah negara yang mempunyai kekuatan militer dan badan intelejen yang cukup di segani. bahkan Seorang presiden dan pemimpin tertinggi militer hanya dapat berkata2 dengan seruan dan kecaman yang normative padahal dia punya kekuasaaan untuk mencegahnya dan membumihanguskannya dalam sekejap.

Badan intelejen negara seperti sengaja dibiarkan tidak berfungsi sebagaimana mestinya dalam mendeteksi sedini mungkin terhadap gerakan dari organisasi tersebut, sehingga pendukung isis dapat dengan mudahnya mengibarkan benderanya di bundaran HI, bekasi, solo dan di dalam lapas tempat abu bakar basyir berada. ada apakah gerangan? benarkah isis adalah sebuah organisasi yang merupakan saingan dari negara super power di dunia? Sehingga sebuah negara dan pemerintahan Indonesia terlihat lemah untuk membumi hanguskannya. ataukah memang isu ini oleh para elit bangsa indonesia sengaja dibiarkan liar dalam rangka meneror rakyat dan guna menghancurkan ide2 dan cita2 negara Islam? Ataukah mungkinkah ada agenda lainnya? Dimana kelak isis lah yang akan menjadi kambing hitam atas teror dan bencana yang akan terjadi diesok hari.

Rakyat yang awam ikut2an meneriakkan bahaya laten isis sebagaimana pemimpinnya tanpa mau meneliti lebih jeli Siapakah yang sebenarnya paling berbahaya. Siapakah yang sebenarnya teroris itu? Dalam buku maling teriak maling amerika sang teroris noam Chomsky menceritakan tentang kisah penuturan St. Augustinus tentang seorang bajak laut yang tertangkap oleh Alexander Agung. Ditanya tentang latar belakang si bajak laut mengacau lautan oleh Alexander Agung, dengan cerdas dia balik bertanya : Mengapa kamu berani mengacau seluruh dunia? Karena aku melakukannya hanya dengan sebuah perahu kecil, aku disebut maling. kalian, karena melakukannya dengan kapal besar, kalian disebut kaisar. Kisah tersebut merupakan sebuah sindiran tajam kepada para penguasa. Bahwa teroris yang sesunguhnya adalah penguasa yang di panggil kaisar.

Saya sangat tidak setuju dengan cara dan konsep perjuang isis namun isu yang terlalu melebih-lebihkan tentang bahayanya di negara ini adalah perkara yang perlu diteliti lagi. Karena banyaknya kerancuan dan keanehan dalam penggiringan isu tersebut.

Saya lebih melihat Isu isis dan terorisme adalah salah satu cara yang digunakan untuk menyudutkan Islam dan juga cita2 negara Islam. Isu tersebut sudah sering terjadi namun dengan bungkus dan nama yang berbeda. Seperti di zaman orde baru. NII KW 9 yang di pimpin oleh abu toto alias panji gumilang.

Gerakan intelejen yang di prakarsai oleh ali murtopo yang di beri nama opsus (operasi khusus) guna membusukkan cita2 negara Islam. Orang2 yang tergabung di dalamnya di ajarkan untuk merampok, mengkafirkan umat Islam yang bukan golongannya dan berbagai perbuatan keji lainnya. Perbuatan-perbuatan tersebut di blow up media dan agen2 pemerintah orba sehingga rakyatpun menjadi ilfeel, benci serta ketakutan mendengar tentang cita2 negara Islam. Dalam benak mereka perwujudan dari cita2 tersebut akan mendzalimi dan mengekang hak asasi mereka. Sehingga akhirnya mereka berpuas diri dengan negara pancasila.

Sangat aneh jika kita katakan bahwa NII KW 9 sangat berbahaya bagi NKRI dimasa orba. Bahkan bisa dibilang Karena jasa NII KW 9 lah pancasila masih bercokol sebagai ideologi resmi NKRI. Kedekatan soeharto sebagai penguasa NKRI dengan abu toto membuat membuat kita bertanya-tanya benarkah NII KW 9 adalah musuh NKRI? Benarkah NII KW 9 sangat berbahaya bagi NKRI? Jika kedua pemimpin tersebut adalah teman akrab lantas bagaimanakah dengan teror yang diciptakan oleh NII KW 9? Berasal dari manakah teror itu?

Menghina Rasulullah, Kafirkah ?

Beberapa hari lalu ada teman mengirimi pesan di group whatsapp. Pesan itu berisikan kalimat yang menunjukkan kebahagiannnya atas terjadinya tragedi serangan yang menewaskan 12 orang terhadap majalah satir di Paris, Prancis, Charlie Hebdo, pada Rabu (7/1) lalu. Para pelaku pembunuhan digadang – gadang layaknya para pahlawan. Hal senada juga dapat kita lihat di beberapa situs-situs pemberitaan yang menisbatkan dirinya sebagai media Islam. mereka memakai pendalilan bahwa menghina Rasulullah shollallahu a’laihi wa sallam adalah penghinaan terhadap Allah Ta’ala. Dan hukuman bagi para penghina Rasulullah S.A.W adalah hukuman mati. Saya di buatnya penasaran dengan statement ini. Sehingga membuat saya membuka buku-buku untuk mencari-cari Bagaimanakah sikap dan pendapat para Ulama tentang orang yang menghina Rasulullah S.A.W ? dalam tulisan sederhana ini saya akan menuangkan sedikit informasi yang saya dapati tentang hukum bagi para penghina Rasulullah S.A.W. dalam perspektif Islam.

Dalam masalah ini para ulama membagi hukum tentang seorang yang menghina Nabi S.A.W berdasarkan statusnya dalam beragama dan situasi serta kondisinya ketika mengucapkan penghinaan tersebut. Baik pelaku sebagai seorang muslim, kafir dzimmi ataupun dalam keadaan mabuk dan dipaksa dengan ancaman. Penghinaan pun juga di bagi menjadi 2 yaitu penghinaan secara shorih atau jelas dan penghinaan dengan sindiran.

Sabban atau syatman adalah bahasa arab yang berarti penghinaan. Ulama mendefinisikan apa yang di maksud dengan sabban yaitu perkataan atau ucapan yang bermaksud untuk meremehkan dan merendahkan martabatnya, serta akal manusia memahami ucapan tersebut sebagai penghinaan walaupun aqidah atau keyakinan mereka berbeda-beda mengenai ucapan tersebut seperti pelaknatan dan pencemoohan.[1] Dalam artian bahwa terkadang orang-orang mengumpat dan menjelek-jelekkan Tuhan atau ajaran-ajaran yang berbeda dengan ajarannnya dan meyakini bahwa ucapan dia adalah sebuah kebenaran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.[2]

Hal-hal yang dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap Rasulullah S.A.W adalah semua hal yang di tujukan kepada Rasulullah S.A.W baik berupa aib atau kekurangan yang terdapat dalam dirinya, nasabnya, agamanya, perangainya, kehormatannya, ataupun melaknat Rasulullah S.A.W, mencemooh, mencari-cari kesalahannya, menuduh dan menfitnah kepadanya.[3]

Hukum seorang Muslim menghina Nabi

Para ulama berpendapat bahwa seorang muslim yang menghina Rasulullah S.A.W dihukumi telah murtad dan menjadi kafir.[4] Bahkan syekh Ibnu Taymiyah (w 728 H) menguatkan pendapat ini dengan mengatakan bahwa para ulama sepakat jika yang menghina itu adalah orang muslim maka dia menjadi kafir dan dibunuh tanpa ada khilaf (perbedaan).[5] Adapun para ulama berbeda pendapat tentang meminta dan menyuruh orang yang menghina Rasulullah S.A.W untuk bertaubat dan begitu pula tentang taubatnya di terima atau tidak dan apakah taubatnya tersebut menggugurkan sanksi dan hukuman terhadapnya.

Kalangan mazhab hanafiyah[6] dan hanabilah[7] berpendapat bahwa orang yang menghina Nabi S.A.W dinyatakan telah murtad dan diminta untuk bertobat. Jika dia bertaubat maka taubatnya di terima. Berbeda dengan keduanya mazhab syafiiyah sebagaimana yang dinukilkan oleh Imam As Subki (w 771 H) berpendapat bahwa orang yang menghina Nabi S.A.W di hukumi sebagai seorang yang murtad dan bahkan lebih dari pada itu. mereka berhujjah bahwasannya penghina tersebut telah menjadi kafir dan kemudian menjadi murtad serta telah terkumpul 2 alasan yang mewajibkan untuk membunuhnya yang pertama adalah kekafiran dan yang ke dua ada adalah kemurtadan atau keluar dari Islam.[8] Adapun kalangan malikiyah berpendapat bahwa orang yang menghina nabi dinyatakan kafir dan tidak diminta untuk bertaubat kecuali dia seorang yang sebelumnya adalah seorang kafir dan bertaubat dengan memeluk agama Islam.[9]

Adapun letak dan asal perbedaan para ulama dalam menyikapi hal tersebut sebagaimana di sebutkan oleh Al Qadhi I’yad (w 544 H) adalah perbedaan tentang di terimanya atau tidak taubatnya seorang yang murtad serta gugurnya sanksi terhadapnya. Kelompok ulama yang berpendapat bahwa pelaku tidak diminta untuk bertaubat dan langsung di eksekusi mati berpendapat bahwa penghinaan terhadap Nabi S.A.W berkaitan dengan hak adami (manusia) dan sanksi bagi penghinanya adalah sesuatu yang tidak gugur dikarenakan pertaubatannya sebagaimana sanksi terhadap kejahatan zina, mencuri, membunuh dan lain sebagainya. Kelompok ulama ini lebih menitik beratkan penghinaan tersebut kepada hal-hal yang dianggap sebagai perbuatan kriminal atau kejahatan dan bukan kepada kekafirannya. Sedangkan kelompok ulama yang lainnya berpendapat bahwa kemurtadannya sama sebagaimana kemurtadan yang lain dan karena itu taubatnya di terima dan gugur sanksinya.[10]

Hukum Seorang Kafir Dzimmi Menghina Nabi

Dalam pembahasan ini terdapat beragam pendapat dari para ulama mengenai hukum seorang kafir dzimmi ketika menghina Nabi S.A.W. kalangan hanafiyah berpendapat bahwa seorang kafir dzimmi yang menghina Nabi S.A.W tidaklah mencabut perjanjian antara dia dan kaum muslimin. Dan si kafir dzimmi tersebut tidaklah mendapat sanksi eksekusi mati. Namun tetap diberi peringatan dan diajarkan agar menjadi orang yang beradab. Bagi kalangan hanafiyah kesyirikannya lebih besar daripada penghinaannya terhadap Nabi S.A.W dan tercabutnya perjanjian dengannya hanya berkisar kepada mau dan tidaknya dia menerima dirinya dikenai zijyah (pajak untuk keamanannya) dan bukan kepada penghinaan terhadap Nabi ataupun dengan tidak nya dai menunaikan jizyah. [11]Mereka memakai dalil dari hadits Nabi S.A.W sebagai berikut :

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ رَهْطًا مِنْ الْيَهُودِ دَخَلُوا عَلَيْهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالُوا : السَّامُ عَلَيْكَ , فَقَالَ وَعَلَيْكُمْ , قَالَتْ : فَفَهِمْتُهَا وَقُلْت : عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ , فَقَالَ صلى الله عليه وسلم مَهْلا : يَا عَائِشَةُ فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ , قَالَتْ : فَقُلْت يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا ؟ قَالَ صلى الله عليه وسلم : قَدْ قُلْت وَعَلَيْكُمْ

Artinya : Dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu a’nha bahwasanya sekelompok yahudi mendatangi Rasulullah S.A.W seraya berkata : kebinasaan teruntuk dirimu. Maka Rasulullah S.A.W pun membalasnya dengan mengatakan : begitupula kepada kalian. Lalu Sayyidah Aisyah R.A. berkata : Aku memahami apa yang mereka katakan, Lalu aku (Aisyah) katakan : senantiasa kematian (kehancuran) dan laknat teruntuk kalian. Namun Rasulullah S.A.W pun bersabda : berlemah lembutlah wahai aisyah, sesungguhnya Allah menyukai perangai lemah lembut disetiap perkara. Maka sayyidah aisyahpun berkata : apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan? Maka Rasulullah S.A.W bersabda : aku telah katakan : begitupula atas kalian (kematian).[12]

Dari hadits ini kita dapat memahami bahwa kata-kata tersebut adalah bentuk penghinaan kepada Rasulullah S.A.W. karena itulah dengan kecerdasan Sayyidah Aisyah R.A. langsung mengingkari ucapan mereka dengan membalas ucapannya berikut melaknat mereka. Namun Rasulullah S.A.W malah menyuruhnya untuk berlemah lembut dan Bukan malah membalasnya dengan laknatan ataupun hal-hal yang semisalnya.

Kalangan malikiyah berpendapat bahwa seorang dzimmi menghina Nabi S.A.W baik itu secara terang-terangan atau sindiran dan mensifati Nabi S.A.W dari aspek yang bukan berada dalam zona kekafiran mereka, maka tidak ada perbedaan dalam mengeksekusi mati kecuali jika dia memeluk Islam maka batal hukuman dan sanksi kepadanya. Mereka mengambil dalil dari Firman Allah Ta’ala

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ

Artinya: Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti. [13]

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِين

Artinya : Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.[14]

Pembunuhan terhadap terhadap kaab bin asyrof oleh Muhammad bin Maslamah pun turut dijadikan dalil oleh kalangan malikiyah. [15]

Adapun kalangan syafiiyah berpendapat : jika di dalam persyaratan perjanjian kafir dzimmi tersebut ada pasal tentang larangan menghina Nabi S.A.W maka perjanjian tersebut gugur dan diserahkan kepada Imam (pemimpin) agar memilih sanksi dan hukuman yang pantas baginya, baik itu dieksekusi mati, dijadikan budak dan hartanya dijadikan fai (harta rampasan tanpa adanya pertempuran), memberikan pengampunan atau dengan meminta tebusan atas pelanggarannya jika dia tidak meminta untuk memperbaharui perjanjiannya.[16]

Imam Ahmad Bin Hanbal (w 241) memberikan pernyataan bahwa setiap orang yang menghina nabi baik itu muslim ataupun kafir maka wajib dibunuh dan tidak diminta untuk bertaubat.[17]

Hukum Menghina Nabi Dengan Sindiran

Para ahli fiqih dari kalangan hanafiyah, malikiyah, syafiiyah dan salah satu pendapat dari kalangan hanabilah menyatakan bahwa Menghina Nabi S.A.W dengan sindiran sama dengan menghina Nabi S.A.W secara terang-terangan.[18] Namun ada juga pendapat yang bertentangan dengan jumhur ulama yang menyatakan bahwa sindiran tidak sama dengan penghinaan secara terang-terangan.[19]

[1] . ash shorim al maslul a’la syatmi ar rasul hal 556

[2] . Al An’am ayat 108

[3] . as saif al maslul hal 79. Asy syamil 2/171

[4] . al fatawa al bazaziyah 6/321-322 cet darul fikr . Al Jamal a’lal minhaj 5/130 cet darul fikr. Tuhfatul muhtaj bii syarhil minhaj 9/87 cet ihya at turats. Al mughni lil Ibni Qudamah 9/28 cet maktabah al qohirah. Raddul muhtar a’la durri al mukhtar 4/232 cet darul fikr. as-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa hal 567 cet. Darul fikr yang ditahqiq oleh Dr. Abdus salam al bukari. Fatawa As Subki 2/573

[5] . ash shorim al maslul a’la syatmi ar rasul hal 3 cet Al Harasu al Wathoni As Su’udi

[6] . Raddul muhtar a’la durri al mukhtar 4/233 cet darul fikr

[7] . al hidayah lil kaludzani hal 202. ash shorim al maslul a’la syatmi ar rasul hal 53

[8] . as saif al maslul hal 2. Manar al sabiil 2/409

[9] . hasyiyah ad dasuki 4/309 cet darul fikr

[10] . as-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa hal 567-560 cet. Darul fikr yang ditahqiq oleh Dr. Abdus salam al bukari. al fatawa al bazaziyah 6/321-322 cet darul fikr.

[11] . Syarhu Fathu Al Qadir A’la Al Hidayah 4/381 cet. Al Amiriyah. as-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa hal 572 cet. Darul fikr yang ditahqiq oleh Dr. Abdus salam al bukari. Raddul muhtar a’la durri al mukhtar 4/233 cet darul fikr

[12] . Shohih Muslim hadits nomer 5784 cet darul jail beirut

[13] . Q.S At Taubah Ayat 12

[14] . Q.S Al Anfal Ayat 38

[15] . as-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa hal 572 cet. Darul fikr yang ditahqiq oleh Dr. Abdus salam al bukari. `syarhu Az Zarqoni A’la Mukhtashor Kholil 3/147 cet. Darul Fikr. Syarhu Mukhtashor Kholil Lil Khorosyi 3/149 cet. Dar Shodir. HR. Al-Bukhari no. 4037. Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 1801

[16] . Hasyiyah Jamal a’la syarhi Al Minhaj 5/227 cet. Darul Fikr . Asna Al Matholib Syarhu Radhi At Tholib 4/223 cet. Darul Kitab Al Islami.

[17] . ash shorim al maslul a’la syatmi ar-rasul hal 527 cet. Dar Ibnu Hazm

[18] . Syarhu Al Mawahib Al Laduniyah 5/315. Syarhu Manhu Al Jalil A’la Mukhtashor Kholil 4/476-478 cet. Dar Shorim. Asna Al Matholib Syarhu Radhi At Tholib 4/122 cet. Darul Kitab Al Islami . syarhu muntahal iradat 3/386. Cet. Darul fikr. Al Inshof Lil Mardawi 10/333 cet. Ihya At Turats. Ia’natu At Tholibin 4/139 cet. Mushtofa Al Halbi. Hasyiyah Ad Dasuki A’la Syarhi Al Kabir 4/309 cet. Darul Fikr

[19] . Tabshirotul Ahkam li Ibni Farhun 2/286 cet. Darul Ma’rifah

Hukum Membaca Basmalah Disaat Berwudhu

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mewajibkannya, mensunahkannya, ada juga yang menyatakannya sebagai perbuatan yang mustahab dan bahkan ada yang mengatakannya sebagai perbuatan yang makruh. Para ulama Hanabilah mewajibkan membaca basmalah. Para ulama Hanafiyah, Syafi’iyah, Zhahiriyah dan Imam Ahmad dalam satu riwayat mensunahkannya sedangkan Pendapat yang masyhur di kalangan Malikiyah adalah hal ini termasuk perbuatan yang mustahab namun ada juga pendapat dalam mazhab ini yang memakruhkannya. Berikut ini akan saya nukil pendapat para ulama langsung dari kitab-kitab yang mu’tamad dalam mazhabnya masing-masing.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Imam Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menuliskan sebagai berikut :

ومنها التسمية وقال مالك إنها فرض

Dan termasuk perkara-perkara yang disunahkan adalah membaca bismillah.[1]

Ibnu Abdin (w. 1252 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar menuliskan sebagai berikut :

والبداءة ( بالتسمية ) قولا …( قوله : قولا ) أشار به إلى أنه لا تنافي بين سنية الابتداء بها وبالنية وبغسل اليدين…

قال في الفتح : لفظها المنقول عن السلف , وقيل عن النبِي صلى الله عليه وسلم { بسم اللّه العظيم , والحمد للَه على الإسلام } قيل : الأفضل ” بسم اللّه الرحمن الرحيم بعد التعوذ

(termasuk perkara sunah) memulai (berwudhu) dengan membaca bismillah… Adapun arti dari kata qaulan disini adalah sebuah isyarat yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan dalam sunahnya memulai dengan bismillah dan niat (berwudhu) ketika membasuh kedua tangan.. Dikatakan di dalam kitab Al Fath : lafadz basmalah dinukilkan dari para salaf, namun ada juga yang mengatakan bahwa lafadz tersebut dinukilkan dari Nabi Shallahu ‘Alaihi Wassalam. Lafadznya adalah. بسْمِ اللَّهِ الْعَظِيمِ , وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى الإِسْلامِ Ada yang mengatakan : yang afdhal adalah membaca

بِسْمِ اللَّه الرَّحْمَن الرَّحِيم  setelah membaca ta’awudz. [2]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Imam Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan sebagai berikut :

باب الوضوء على كماله

يبدأ المتوضئ فيغسل يديه مرتين أو ثلاثا قبل أن يدخلهما في الإناء ويقدم التسمية قبل ذلك أو مع ذلك يقول بسم الله الرحمن الرحيم

Bab Wudhu Yang sempurna

seorang yang berwudhu memulai dengan membasuh kedua tangannya sebanyak 2 atau 3 kali. Namun sebelum dia hendak memasukkan kedua tangan di dalam tempat air, hendaknya dia membaca basmalah sebelum melakukan hal tersebut atau juga bisa dilakukan secara bersamaan dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim.[3]

Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut :

الفصل الثالث في فضائله وهي سبعة الفضيلة الأولى التسمية

Ada 7 perkara yang mendatangkan keutamaan di dalam berwudhu : yang pertama adalah mengucap basmalah.[4]

Ad-Dasuki (w. 1230 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Hasyiyah Ad-Dasuki menuliskan sebagai berikut :

قوله : وتسمية جعلها من فضائل الوضوء هو المشهور من المذهب خلافا لمن قال بعدم مشروعيتها فيه وأَنها تكره

Kalimat “ dan mengucapkan basmalah” berarti menjadikannya termasuk bagian dari keutamaan-keutamaan dalam berwudhu dan ini adalah pendapat yang masyhur dalam mazhab malikiyah. Pendapat ini berbeda dengan pendapat yang menyatakan bahwa membaca basmalah tidak disyariatkan dan hukumnya makruh.[5]

3. Mazhab Asy-Syafi’i

Imam An-Nawawi (w. 676 H) rahimahullah salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnya Raudhatu At-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiyyin menuliskan sebagai berikut :

والثانية أن يقول في ابتداء وضوئه بسم الله فلو نسيها في الابتداء أتى بها متى ذكرها قبل الفراغ كما في الطعام

Perkara ke 2 dari sunah-sunah wudhu adalah mengucapkan di awal permulaan wudhu dengan bacaan bismillah. Namun jika dia lupa mengucapkan di awal wudhu maka boleh mendatangkannya kapanpun dia ingat sebelum selesai berwudhu sebagaimana ketika makan.[6]

Syihabuddin Ar-Ramli (w. 1087 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitab Nihayatu Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

و من سننه ( التسمية أوله ) أي الوضوء ولو بماء مغصوب وأقلها بسم الله , وأكملها بسم الله الرحمن الرحيم ثم الحمد لله على الإسلام ونعمته الحمد لله الذي جعل الماء طهورا , زاد الغزالي : رب أعوذ بك من همزات الشياطين وأعوذ بك رب أن يحضرون

Dan dari sunah-sunahnya berwudhu yaitu : membaca basmalah di awal wudhu walaupun dengan air yang dighasab (rampas). Paling sedikitnya membaca basmalah adalah بسم الله dan paling sempurnanya adalah mengucapkan :

بسم الله الرحمن الرحيم ثم الحمد لله على الإسلام ونعمته الحمد لله الذي جعل الماء طهورا

Imam Ghazali Rahimahullah (w 505 H) menambahkannya dengan bacaan :[7]

رب أعوذ بك من همزات الشياطين وأعوذ بك رب أن يحضرون

4. Mazhab Al-Hanabilah

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Kafii menuliskan sebagai berikut :

ثم يقول : بسم الله . وفيها روايتان : إحداهما: أنها واجبة في طهارات الأحدث كلها والثانية : أنها سنة اختارها الخرقي

Kemudian mengucapkan bismillahi. Ada 2 riwayat tentang hal ini, salah satunya berpendapat bahwa wajib mengucapkannya setiap kali bersuci dari hadats. Pendapat yang kedua menyatakan bahwa (membaca basmallah) hukumnya sunah. Dan pendapat ini yang dipilih oleh al khiraqi.[8]

Al-Buhuty (w. 1051 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Kasysyafu Al-Qina’ menuliskan sebagai berikut :

وهي أي التسمية ( واجبة في وضوء ) لحديث أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم { قال لا صلاة لمن لا وضوء له ولا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه } رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه ولأَحمد وابن ماجه

(فإن تركها ) أي التسمية ( عمدا ) لم تصح طهارته ; لما تقدم ( أو ) تركها عمدا ( حتى غسل بعض أعضائه ) المفروضة أو حتى مسحها بالتراب في التيممِ ولم ( يستأْنف ) ما فعله قبل التسمية ( لم تصح طهارته( لأنه لم يذكر اسم الله على طهارته , بل على بعضها (والأخرس يشير بها ) وكذا المعتقل لسانه

Membaca basmalah itu wajib dalam berwudhu dikarenakan hadits yang diriwayatkan oleh Abu hurairah R.A. dari Nabi Shallallahu A’laihi Wasallam. Beliau Bersabda : tidak sah shalat bagi seorang yang tidak berwudhu dan tidak sah juga wudhunya jika tidak mengucapkan basmalah. H.R Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah.

Jika sengaja tidak membaca basmalah maka tidak sah bersucinya. Begitupula ketika dia meninggalkannya dengan sengaja dan telah membasuh sebagian anggota wajib wudhu atau telah mengusapnya dengan debu disaat bertayammun maka tidak sah semua yang dia lakukan dalam bersuci dikarenakan ia belum membaca basmalah. Orang yang bisu cukup membaca basmalah dengan menggunakan isyarat begitu pula dengan orang yang lisannya disekap. [9]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar menuliskan sebagai berikut :

وتستحب تسمية الله على الوضوء, و إن لم يفعل فوضوءه تام

Disunahkan mengucapkan basmalah disaat berwudhu. Namun jika tidak dilakukan maka wudhunya sempurna (sah).[10]

Wallahu’alam.

[1] Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 1 hal 20 cet Daar Al-Kutub Al ‘Ilmiyah.

[2] Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 1 hal 74 cet Ihya At-Turats

[3] Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah, hal 20 cet Daar Al-Kutub Al-‘ilmiyah Beirut

[4] Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1 hal 284 Daar Al-Gharb Al-Islami

[5] Ad-Dasuki, Hasyiyah Ad-dasuki ‘Ala Syarhi Al-Kabir, jilid 1 hal 103 cet Daar Al-Fikr

[6] An-Nawawi, Raudhatu At-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiyyin, jilid 1 hal 168 cet Daar ‘Alam Al-Kutub.

[7]. Nihayatu Al-Muhtaj jilid 1 hal 168 cet Musthofa Al Halbi.

[8] Ibnu Qudamah, Al-Kafii jilid 1 hal 53-54 cet. Daar Al-Hijr.

[9] Al-Buhuty, Kasysyafu Al-Qina, jilid 1 hal. 91 cet. Daar Al-Fikr.

[10] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 2 hal. 49

Batasan Mengusap Kepala Dalam Berwudhu (bagian 2)

Mengusap ¼ kepala

1.     Mazhab Hanafi

Syekh Ahmad bin Muhammad Al-Qaduri (w 428 H) dalam kitabnya Mukhtashar Al-Qaduri memberikan pernyataan sebagai berikut : [23]

والمفروض في مسح الرأس مقدار الناصية وهو الربع الرأس لما روي عن مغيرة بن شعبة : أن النبي صلى الله عليه وسلم أتى سباطة قوم فبال وتوضأ ومسح على ناصيته وخفيه

Kadar atau batasan kepala yang wajib diusap dalam berwudhu hanya sebatas mengusap ubun-ubun kepala, dalam artian ¼ bagian kepala. Sebagaimana yang diriwayatkan dari mughiroh bin syu’bah : bahwasannya Nabi shallallhu a’laihi wasallam pernah mendatangi tempat pembuangan sampah suatu kaum lalu beliau membuang hajat kecil, setelah itu berwudhu dan mengusap ubun-ubunnya serta kedua khufnya (sejenis sepatu zaman dahulu). (H.R Muslim. An Nasai dan Ahmad).

Imam Abu Bakar Bin Mas’ud Al-Kasani (w 587 H) menyatakan dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ :

مسح الرأس مرة واحدة لقوله تعالى وامسحوا برؤسكم والأمر المطلق بالفعل لا يوجب التكرار. واختلف في المقدار المفروض مسحه ذكره في الاصل وقدره بثلاث أصابع اليد وروى الحسن عن أبى حنيفة أنه قدره بالربع وهو قول زفر وذكر الكرخي والطحاوى عن أصحابنا مقدار الناصية

ولنا ان الامر بالمسح يقتضى آلة إذا المسح لا يكون الا بآلة وآلة المسح هي اصابع اليد عادة وثلاث أصابع اليدأ كثر الاصابع وللاكثر حكم الكل فصار كأنه نص على الثلاث وقال وامسحوا برؤسكم بثلاث اصابع أيديكم.

wajibnya mengusap kepala hanya sekali saja dikarenakan firman Allah Ta’ala “dan usaplah kepala kalian” adalah bentuk perintah yang mutlak untuk dikerjakan dan tidak wajib untuk mengulangnya. Para ulama berbeda pendapat dalam menentapkan kadar batasan mengusap kepala. Dalam Al-Ashlu (merujuk kepada kitab Al-Mabsuth karya Muhammad bin Hassan Asy-Syaibani) disebutkan bahwa batasan mengusap adalah mengusap dengan 3 jari tangan. Imam kasani (w 587 H) mengomentari pendapat ini dengan mengatakan bahwa : bagi kami perintah mengusap kepala membutuhkan alat, oleh karena itu mengusap tidak mungkin jika tanpa alat. Dan biasanya alat mengusap kepala adalah tangan (dalam satu tangan ada lima jari) dan menggunakan tiga jari tangan sudah dianggap banyak maka hukum mayoritas sudah dapat dianggap sebagai hukum keseluruhan. Dan dengan pendapat ini, kadar mengusap kepala sebagaimana perintah dari Al Quran adalah mengusap dengan 3 jari tangan.

Imam Al-Kasani (w 587 H) juga menyebutkan pendapat Imam Abu hanifah (w 150 H) yang menyatakan bahwa batasan mengusap kepala adalah 1/4 usapan di kepala. Pendapat ini senada dengan pendapat Zufar (w 158 H), Al Karkhi (w 340 H) dan At Thohawi (w 321 H). Namun ada juga pendapat yang lain dari kalangan hanafiyah yang menyatakan bahwa batasan wajib mengusap hanya sebatas mengusap ubun-ubun saja.[24]

Imam Muhammad Amin atau yang masyhur dengan sebutan Ibnu Abdin (w 1252 H) dalam kitabnya Raddu Al-Muhtar ‘Ala Durri Al-Mukhtar menyatakan hal yang senada dengan Imam Al-Kasani (w 587 H) dengan menyebutkan tiga pendapat dalam kalangan hanafiyah tentang batasan wajibnya mengusap kepala. Diantaranya mengusap ¼ kepala, 3 jari dan ubun-ubun serta menyatakan bahwa mengusap ¼ kepala adalah pendapat yang mu’tamad (kuat) di kalangan hanafiyah. [25] Di bawah ini saya sajikan teks bahasa arabnya.

قوله : (ومسح ربع الرأس) . المَسح لغة إمرار اليد على الشيء . وعرفا إصابة المَاء العضو . واعلم أن في مقدار فرض المَسح روايات أشهرها ما في المَتن . الثانية مقدار الناصية , واختارها القدوري . وفي الهداية وهي الربع . والتحقيق أنها أقل منه . الثالثة مقدار ثلاثة أصابع رواها هشام عن الإمام , وقيل هي ظاهر الرواية . وفي البدائع أنها رواية الأصول , وصححها في التحفة وغيرها . وفي الظهيرية وعليها الفتوى . وفِي المعراج أَنَّهَا ظَاهِرُ الْمَذْهَبِ وَاخْتِيَارُ عَامَّةِ الْمُحَقِّقِينَ , لكن نسبها في الخلاصة إلى محمد , فيحمل ما في المعراج من أنها ظاهر المَذهب على أنها ظاهر الرواية عن محمد توفيقا وتمامه في النهر والبحر . والحاصل أن المُعتمد رواية الربع , وعليها مشى المُتأخرون كابن الهمام وتلميذه ابن أمير الحج وصاحب النهر والبحر والمَقدسي والمُصنف والشرنبلالي وغيرهم.

Sebab-Sebab Terjadinya Perbedaan Pendapat

 Penyebab perbedaan pendapat dalam masalah ini terdapat pada perbedaan persepsi dan pemahaman para ulama mengenai huruf Ba dalam ayat 6 surah Al Maidah dan juga dalam memahami hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagian ulama memahami bahwa huruf ba tersebut memiliki makna tabi’dh (sebagian) dan bukan bermakna ilshaq ataupun ta’kid (penguatan). Dan sebagian lainnya memahami hal yang sebaliknya dan karena itulah mereka mewajibkan untuk mengusap kepala seluruhnya. Berikut ini akan penulis paparkan hujjah atau argumentasi dari para ulama. Dan mengapa mereka begitu kokoh dalam memegang pendapat mereka.

Argumentasi Kelompok yang Mewajibkan Mengusap Seluruh Bagian Kepala

1.     Mazhab Maliki

Imam Al Qarafi (w 684 H) dalam kitabnya Adz-Dzakhirah membeberkan argumentasinya tentang wajibnya mengusap seluruh kepala dan membaginya menjadi 3 aspek yang didapati dari Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Maidah Ayat 6. berikut ini akan saya sebutkan satu persatu :

  1. Adapun firman Allah Ta’ala : وامسحوا برؤوسكم . Di dalam kalimat ini terdapat Susunan atau bentuk kalimat yang berfaedah menta’kidkan (menguatkan) terhadap apa-apa yang dikehendaki oleh keumuman lafadz. Maka wajiblah mengambil pendapat tentang keumumannya. Sebagaimana yang mereka katakan : usaplah seluruh kepalamu. Adapun ta’kid merupakan penguat terhadap sesuatu yang pada asalnya kokoh.
  2. Bentuk kalimat tersebut juga bisa saja kemasukan istitsna (pengecualian). Seperti seorang berkata : usaplah kepalamu kecuali sebagian atau 1/3. Jika tidak ada pengecualian maka yang dikecualikan akan tetap berada dibawah hukumnya (tidak akan berubah). Sah saja sebuah bagian ada pengecualiannya jika ditilik dari bentuk kalimat tersebut. Namun jika tidak ada pengecualiannya maka wajiblah memasukkan seluruh bagian-bagian tersebut (kepala) dalam wajibnya mengusap dan pendapat inilah yang tepat.
  3. Allah Ta’ala tidak menggabungkan dalam penyebutannya (mengusap kepala) dan memberikan ruang tersendiri dalam susunan kalimat. Jika saja yang dimaksud adalah mengusap sebagian dari kepala, maka cukuplah dengan menyebutkan wajah saja, dikarenakan dalam mengusap muka diharuskan mengenai sebagian dari kepala.

Adapun argumentasi yang dibangun dari hadits sebagaimana yang diriwayatkan dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bahwasannya beliau mengusap ubun-ubunnya serta imamahnya. Jika saja boleh mengusap sebagian kepala, maka kenapa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan kedua secara bersamaan (mengusap ubun-ubun dan imamah)?.

Sedangkan argumentasi yang dibangun dari qiyas adalah mengusap seluruh kepala diqiyaskan dengan mengusap wajah saat bertayammun. Dimana saat itu diharuskan mengusap keseluruhan wajah, maka begitupula dengan mengusap kepala dalam berwudhu.[26] Di bawah ini saya sajikan teks arabnya.

حجة المشهور الكتاب والسنة والقياس أما الكتاب فقوله تعالى ! ( وامسحوا برؤوسكم ) ! وجه التمسك به من وجوه أحدها أن هذه الصيغة تؤكد بما يقتضي العموم فوجب القول بالعموم لقولهم امسح برأسك كله والتأكيد تقوية لما كان ثابتا في الأصل وثانيهما أنها صيغة يدخلها الاستثناء فيقال امسح برأسك إلا نصفه أو إلا ثلثه والاستثناء عبارة عما لولاه لاندرج المستثنى تحت الحكم وما من جزء إلا يصح استثناؤه من هذه الصيغة فوجب اندراج جملة الأجزاء تحت وجوب المسح وهو المطلوب وثالثها أن الله تعالى أفرده بذكره ولو كان المراد أقل جزء من الرأس لاكتفى بذكر الوجه لأنه لا بد معه من ملامسة جزء من الرأس وأما السنة فما روي عنه عليه السلام أنه مسح بناصيته وعمامته ولو كان الاقتصار على مسح بعض الرأس جائزا لما جمع بينهما لحصول المقصود بالناصية

وأما القياس فنقول عضو شرع المسح فيه بالماء فوجب أن يعمه حكمه قياسا على الوجه في التيمم أو نقول لو لم يجب الكل لوجب البعض ولو وجب البعض لوجب البعض الآخر قياسا عليه وهذا قياس يتعذر معه الفارق لعدم تعين المقيس عليه

2.     Mazhab Hanbali

Menurut Imam Ibnu Qudamah (w 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni huruf ba dalam ayat : وامسحوا برؤوسكم mempunyai makna ilshoq yang berarti mengharuskan mengusap seluruh kepala sebagaimana ayat tentang tayammum : فامسحوا بوجوهكم. Yang mewajibkan mengusap seluruh wajah. Beliau juga mengkritik kalangan yang berpendapat bahwa ba dalam ayat tersebut mempunyai makna tab’idh (sebagian), karena makna tersebut tidak dikenali oleh para ahli bahasa. [27] Di bawah ini saya sajikan teks arabnya.

وزعم بعض من ينصر ذلك أن الباء للتبعيض فكأنه قال : وامسحوا بعض رؤوسكم ولنا قول الله تعالى : { وامسحوا برؤوسكم } والباء للالصاق فكأنه قال : وامسحوا رؤوسكم فيتناول الجميع كما قال في التيمم : وامسحوا بوجوهكم وقولهم : الباء للتبعيض غير صحيح ولا يعرف أهل العربية ذلك قال ابن برهان : من زعم أن الباء تفيد التبعيض فقد جاء أهل اللغة بما لا يعرفونه وحديث المغيرة يدل على جواز المسح على العمامة ونحن نقول به ولأن النبي صلى الله عليه و سلم لما توضأ مسح رأسه كله وهذا يصلح أن يكون مبينا للمسح المأمور وما ذكروه من اللفظ مجاز لا يعدل إليه عن الحقيقة إلا بدليل

Argumentasi Kelompok yang Mewajibkan Mengusap Sebagian Kepala

1.     Mazhab Syafi’i

Dalam kitab Al-Majmu’ Imam Nawawi Rahimahullah (w 676 H) memaparkan tentang hujjah dari pemuka-pemuka mazhab syafi’iyah yang menyatakan bahwa wajibnya mengusap kepala akan gugur dengan hanya mengusap saja, baik itu kadarnya banyak ataupun sedikit. Hal ini di karenakan adanya riwayat yang menyatakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap ubun-ubunnya. Dan dari riwayat ini maka pendapat-pendapat yang lain menjadi tertolak dikarenakan kadar usapan di ubun-ubun lebih sedikit daripada ¼ kepala.

Imam Nawawi Rahimahullah (w 676 H) juga menukilkan bantahan dari pemuka-pemuka syafi’iyah terhadap pendapat yang menyatakan bahwa huruf ba dalam ayat وامسحوا برؤوسكم bermakna Ilshoq. Menurut mereka huruf ba tersebut bermakna tab’idh dikarenakan sebagian para pakar bahasa menyatakan bahwa : jika huruf ba masuk (digabungkan) ke dalam fi’il muta’addi maka maknanya menjadi tab’idh seperti firman Allah Ta’ala : وامسحوا برؤوسكم. Namun jika huruf ba masuk ke fi’il yang bukan muta’addi maka dia bermakna ilshoq sebagaimana firman Allah Ta’ala : وليطوفوا بالبيت. Maka sudah bisa disimpulkan bahwa pendapat ini (mengusap sebagian kepala) adalah pendapat yang memakai metode menjamak (mengumpulkan) dalil-dalil dari Al Quran dan Al Hadits, Dimana Nabi Shalllallahu ‘alaihi wasallam lebih sering mengusap keseluruhan kepala sebagai penjelasan tentang keutamaannya. Begitupula beliau shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang mengusap sebagian kepalanya sebagai penjelasan atas kebolehannya.

Imam Nawawi (w 676 H) juga memberikan bantahan terhadap pendapat yang mengqiyaskan mengusap kepala dengan mengusap wajah dalam bertayammum. Menurutnya dalam As Sunah sudah ditetapkan bahwa yang diperintahkan mengusap dalam bertayammum adalah meratakan usapan disetiap bagian wajah dikarenakan mengusap wajah adalah pengganti mengusap wajah. dan hukumnya sama diantara pengganti dengan apa yang digantikannya. sedangkan dalam mengusap kepala As Sunnah menetapkan hukum asalnya adalah mengusap sebagian begitu pula jika dilihat dari hukum lafadznya.[28] Di bawah ini saya sajikan teks arabnya.

واحتج أصحابنا بان المسح يقع على القليل والكثير وثبت في الصحيح ان النبي صلى الله عليه وسلم مسح بناصيته فهذا يمنع وجوب الاستيعاب ويمنع التقدير بالربع والثلث والنصف فان الناصية دون الربع فتعين ان الواجب ما يقع عليه الاسم

* والذى اعتمده امام الحرمين في كتابه الا ساليب في الخلاف ان المسح إذا اطلق في المفهوم منه المسح من غير اشتراط للاستعاب وانظم إليه أن النبي صلى الله عليه وسلم مسح الناصية وحدها ولم يخص أحد الناصية ومنع جواز قدرها من موضع آخر فدل على جواز مطلق المسح

واما قولهم الباء للالصاق فقال اصحابنا لا نسلم انها هنا للالصاق بل هي للتبعيض ونقلوا ذلك عن بعض اهل العربية وقال جماعة منهم إذا دخلت الباء على فعل يتعدى بنفسه كانت للتبعيض كقوله (وامسحوا برؤوسكم) وان لم يتعد فللالصاق كقوله تعالى (وليطوفا بالبيت) قال أصحابنا وعلى هذا يحصل الجمع بين الآية والاحاديث فيكون النبي صلى الله عليه وسلم مسح كل الرأس في معظم الاوقات بيانا لفضيلته واقتصر على البعض في وقت بيانا للجواز: وأما قياسهم على التيمم فجوابه من وجهين أحدهما ان السنة بينت ان المطلوب بالمسح في التيمم الاستيعاب وفي الرأس البعض

* الثاني فرق الشافعي في مختصر المزني بينهما فقال مسح الرأس أصل فاعتبر فيه حكم لفظه والتيمم بدل عن غسل الوجه فاعتبر فيه حكم مبدله

Argumentasi Kelompok yang Mewajibkan Mengusap ¼ Kepala

1.     Mazhab Hanafi

Dalam kitab Badai’ Ash Shanai’ Imam Al Kasani (w 587 H) memaparkan hujjah kalangan hanafiyah dalam batasan yang wajib diusap yaitu ¼ kepala. mereka melihat bahwa batasan ¼ terdapat dalam banyak hukum-hukum fiqih sebagaimana yang terdapat dalam alhalq (memotong rambut) disaat berhaji. Al-halq tidak akan sah jika tidak memotong ¼ rambut. Begitu pula tidak boleh sholat jika auratnya tersingkap seluas ¼ bagian.[29] Di bawah ini saya sajikan teks arabnya.

وجه التقدير بالربع : أنه قد ظهر اعتبار الربع في كثير من الأحكام كما في حلق ربع الرأس أنه يحل به المحرم و لا يحل بدونه و يجب الدم إذا فعله في إحرامه و لا يجب بدونه و كما في انكشاف الربع من العورة في باب الصلاة إنه يمنع جواز الصلاة و ما دونه لا يمنع كذا ههنا

[23]. Mukhtashar Al-Qaduri Fii Al-Fiqhi Al-Hanafi hal 11 cet pertama tahun 1997 M. Penerbit Daar Al Kutub Al I’lmiyah. Yang ditahqiq oleh Syekh Kamil Muhammad U’waidhoh.

[24]. Badai’ Ash-Shanai’ Fii Tartibi Asy Syarai’ jilid 1 hal 102-103 cet ke dua tahun 2003 M. Penerbit Daar Al Kutub Al ‘Ilmiyah Beirut. Yang ditahqiq oleh Syaikh Ali Muhammad Mu’awwad dan Syaikh ‘Adil Ahmad Abdul Maujud

[25]. Raddul Muhtar ‘ala Durri Al-Mukhtar jilid 1 hal 67-68 penerbit Ihya At Turats.

[26]. Adz-Dzakhirah jilid 1 hal 259-260 cet. Pertama. penerbit Darul Gharb Al Islami tahun 1994 M. Ditahqiq oleh Dr. Muhammad Hujji

[27]. Al-Mughni Jilid 1 Hal 176 cet ke tahun 1997 M. Penerbit Dar A’lam Al Kutub Riyadh. Yang ditahqiq oleh Dr. Abdullah Bin Abdul Muhsin At-Turki dan Dr. Abdul Fatah Muhammad Al Hulwu.

[28]. Al-Majmu’ Syarhu Al-Muhadzdzab jilid 1 hal 431-432. cet Maktabah Al Irsyad Jeddah tanpa tahun. Yang ditahqiq oleh Muhammad Najib Al Muthi’i.

[29]. Badai’ Ash-Shanai’ Fii Tartibi Asy-Syarai’ jilid 1 hal 107 cet ke dua tahun 2003 M. Penerbit Daar Al Kutub Al ‘Ilmiyah Beirut. Yang ditahqiq oleh Syaikh Ali Muhammad Mu’awwad dan Syaikh ‘Adil Ahmad Abdul Maujud.

 

Batasan Mengusap Kepala Dalam Berwudhu (bagian 1)

Definisi Al Mashu (mengusap)

Al-mashu (mengusap) secara etimologi (bahasa) berasal dari kata masaha – yamsahu – mashan, mempunyai arti yang beragam, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :

مسح الشيء المُلطخ أو الْمبتل مسحا : أمر يده عليه لإذهاب ما عليه من أثر ماء ونحوه

Mengusap sesuatu yang kotor ataupun basah. dalam artian bahwa melewatkan (menggerakkan) tangan di atas sesuatu untuk menghilangkan sesuatu yang ada di atasnya baik itu berupa bekas air ataupun sejenisnya.

ومسح على الشيء بالمَاء أو الدهن : أمر يده عليه به

Mengusap sesuatu dengan air atau minyak dalam artian melewatkan (menggerakkan) tangan dengan menggunakan air di atas sesuatu tersebut.

ومسح الله العلة عن العليل : شفاه

Allah telah sembuhkan penyakit orang yang sakit. Al-Mashu disini bermakna menyembuhkan.[1] 

إِمرار اليد الْمبتلة بالمَاء على الرأس بلا تسييل

Melewatkan tangan yang dibasahi dengan air di atas kepala tanpa mengairinya.[2]

Adapun pengertian menurut istilah tidak keluar dari makna secara bahasanya yaitu menyampaikan air ke anggota tubuh.[3]

Pandangan Ulama Tentang Mengusap kepala

Mengusap kepala saat berwudhu dihukumi sebagai bagian dari fardhu wudhu oleh para ulama dan bahkan telah mencapai derajat ijma (konsensus). Sebagaimana yang termaktub di kitab Bidayatu Al-Mujtahid karya Al-Qadhi Ibnu Rusyd (w 595 H) :

اتفق العلماء على أن مسح الرأس من فروض الوضوء، واختلفوا في القدر المجزئ منه

para ulama telah bersepakat, bahwasannya mengusap kepala saat berwudhu dikategorikan sebagai bagian dari fardhu wudhu. Namun para ulama berbeda pendapat mengenai batasan atau kadar yang dianggap sah dalam mengusap kepala.[4]

Dalil yang menjadi landasan para ulama dalam menghukumi wajibnya mengusap kepala adalah firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan sholat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan usaplah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata kakimu.[5]

Begitu juga dengan hadits yang diriwayatkan oleh Utsman Bin Affan Radhiyallahu A’nhu. ketika beliau mensifati dan mempraktekkan cara wudhu Nabi Shallallahu A’laihi Wasallam dimana di dalamnya terdapat kalimat :

ثم مسح برأسه

Kemudian Nabi mengusap Kepalanya. (H.R. Bukhori dan Muslim)

Yang dimaksud ar-ra’su (kepala) oleh para ulama adalah tempurung kepala baik itu bagian kulit dan rambutnya. Adapun rambut yang dianggap bagian dari kepala adalah rambut yang tumbuh di bagian depan kepala sampai pada bagian belakang kepala atau punggung. [6]

Batasan dan Kadar Mengusap Kepala

Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat para ulama dalam menentukan kadar dan batasan mengusap kepala. Ada yang membatasinya dengan menyatakan bahwa wajib mengusap semua kepala. Adapula yang berpendapat bahwa yang wajib hanyalah mengusap setengah kepala, sepertiga, dua pertiga, dan seperempat bagian kepala. Dibawah ini saya akan memaparkan para ulama dari mazhab mana saja yang berpendapat demikian dan apa sebab-sebab terjadinya perbedaan pendapat diantara mereka.

Mengusap Kepala Seluruhnya

1.             Mazhab Maliki

Imam Ibnu Abd Al-Bar (w 463 H) dalam kitabnya Al-Kafi menyatakan bahwa tidak sah mengusap sebagian kepala dan inilah pendapat Imam Malik (w 179 H) yang masyhur di kalangan malikiyah.

واختلف أصحاب مالك وسائر أهل المدينة في عموم مسح الرأس. فمنهم من قال : لا يجزئ مسح بعض الرأس, وهو قول مالك المشهور

Para ulama dari kalangan malikiyah dan semua ahli madinah berbeda pendapat tentang keumuman mengusap kepala. diantara mereka ada yang berpendapat bahwa tidak sah mengusap sebagian kepala dan ini juga adalah pendapat Imam Malik (w 179 H) yang masyhur.[7]

Al-Qadhi Ibnu Rusyd (w 595 H) berkata dalam kitabnya Bidayatu Al-Mujtahid : Imam Malik (w 179 H) berpendapat bahwasannya mengusap seluruh kepala merupakan kewajiban (dalam berwudhu).

وذهب مالك إلى أن الواجب مسحه كله

Imam Malik berpendapat bahwa yang wajib dalam mengusap kepala adalah keseluruhannya.[8]

Syihabuddin Ahmad Bin Idris Al-Qarafi (w 684 H) dalam kitabnya Adz-Dzakhira juga menyatakan hal yang serupa, serta menguatkan bahwa kewajiban tersebut untuk lelaki dan perempuan.

الفرض الخامس مسح جميع الرأس في الكتاب يمسح الرجل والمرأة على الرأس كله

Fardhu wudhu yang ke 5 adalah mengusap seluruh kepala Dan wajib bagi lelaki dan perempuan untuk mengusap seluruh kepalanya.[9]

2.             Mazhab Hanbali

Imam Abdullah Bin Ahmad Ibnu Qudamah (w 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni berkata :

لا خلاف في وجوب مسح الرأس وقد نص الله تعالى عليه بقوله : (وامسحوا برؤسكم). واختلف في قدر الواجب. فروي عن أحمد وجوب مسح جميعه في حق كل أحد. وهو ظاهر القول الخراقي, ومذهب مالك

Tidak ada khilaf dalam pendapat mengenai wajibnya mengusap kepala, sebagaimana yang telah dinashkan dalam Firman Allah Ta’ala : Dan Usaplah kepala kamu sekalian. namun terdapat perbedaan pendapat dalam batasan atau kadar yang wajib diusap. Diriwayatkan dari Imam Ahmad tentang wajibnya mengusap semua bagian kepala dan pendapat ini sesuai dengan dhohirnya pendapat Al-Khiraqi dan mazhab Maliki.[10]

Imam Ali Bin Sulaiman Al-Mardawi )w 885 H) dalam kitabnya Al-Inshaf berkata :

وقوله (ويجب مسح جميعه) هذا المذهب بلا ريب. وعليه جماهير الأصحاب. متقدمهم ومتأخرهم.

Kalimat yang berbunyi : “wajib mengusap seluruh kepala” adalah pendapat yang shohih dan tidak diragukan lagi dalam mazhab hanbali. Pendapat ini juga mendapat apresiasi dan dukungan dari para ulama mazhab hanbali baik itu dari kalangan pendahulu ataupun kalangan kontemporer.[11]

Imam Manshur Bin Yunus Al-Buhuty (w 1051 H) dalam kitabnya Kasysyafu Al-Qina’ menyatakan :

(ثم يمسح جميع ظاهر رأسه) من منابت الشعر المعتاد غالبا على ماتقدم في الوجه إلى القفا. لأن الله تعالى أمر بمسح الرأس وبمسح الوجه في التيمم. وهو يجب الاستيعاب فيه. فكذا هنا إذ لا فرق. ولأنه صلى الله عليه وسلم مسح جميعه وفعله وقع بيانا للأية.

Kemudian mengusap seluruh bagian yang nampak dari kepala, baik itu dari rambut yang tumbuh dan nampak di depan wajah ataupun yang tumbuh sampai di pundak. Hal ini sebagaimana perintah Allah ta’ala tentang mengusap kepala dalam berwudhu dan mengusap wajah dalam bertayammum. Dimana saat bertayammum wajib meratakan debu di semua bagian wajah dan hal ini tidak ada bedanya dengan mengusap kepala dalam berwudhu. Dikarenakan Nabi Shallallahu A’laihi Wasallam juga mengusap seluruh bagian kepala. Dan perbuatan yang Beliau Shallallahu A’laihi Wa sallam praktekkan merupakan penjelasan dari ayat-ayat yang tertera dalam Al-Quran.[12]

Mengusap Sebagian Kepala

1.     Mazhab Maliki

Imam Ibnu Abd Al-Bar (w 463 H) memaparkan dalam kitabnya Al-Kafi bahwa sebagian ulama dari kalangan malikiyah membolehkan mengusap sebagian kepala.

ومنهم من أجاز مسح بعضه

Diantara mereka ada yang membolehkan mengusap sebagian kepala.[13]

Al-Qadhi Ibnu Rusyd (w 595 H) juga memaparkan hal yang senada dengan Imam Ibnu Abdil Bar (w 463 H) bahwa ada juga kalangan malikiyah yang berpendapat wajibnya mengusap hanya sebagian kepala saja.

وذهب الشافعي وبعض أصحاب مالك وأبو حنيفة إلى أن مسح بعضه هو الفرض

Imam Syafi’i (w 204 H), sebagian kalangan maliki dan Abu Hanifah (w 150 H) berpendapat bahwa fardhunya mengusap kepala ada sebagian saja.[14]

2.     Mazhab Syafi’i

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah (w 204 H) dalam kitabnya Al-Um menyatakan bahwa :

قال الشافعي رحمه الله : قال تعالى : وامسحوا برءوسكم. و كان معقولا في الأية أن من مسح من رأسه شيئا فقد مسح برأسه, ولم تحتمل الأية إلا هذا, وهو أظهر معانيها, أو مسح الرأس كله. ودلت سنة على أن ليس على المرء مسح الرأس كله. وإذا دلت السنة على ذالك فمعنى الأية : أن من مسح شيئا من رأسه أجزأه.

وقال الشافعي : إذا مسح الرجل بأي رأسه شاء, إن كان لا شعر عليه وبأي شعر رأسه شاء بأصبع واحدة أو بعض أصبع, أو بطن كفه, أو أمر من يمسح به أجزأه ذالك. فكذالك إن مسح نزعتيه, أو إحداهما أو بعضهما أجزأه, لأنه من رأسه

adapun ayat yang memerintahkan untuk mengusap kepala dalam berwudhu, sudah ma’qul (bisa dipahami) arti dan maksudnya, yaitu dengan mengusap sesuatu bagian dari kepalanya maka sudah bisa dianggap sebagai mengusap kepala. Beliau juga menyatakan bahwa ayat dalam surat Al-Maidah tersebut tidak memiliki interpretasi (tafsiran) melainkan hanya dimaknai dengan mengusap sebagian ataupun keseluruhan kepala. Namun mengusap sebagian kepala itu mempunyai makna yang lebih jelas ketimbang dengan mengusap kepala seluruhnya. Hadits atau sunah Nabi Shallallahu A’laihi Wasallam menunjukkan bahwa wajibnya mengusap bukanlah keseluruhan kepala. Dan sunah Nabi shallallahu a’laihi wasallam tersebut merupakan penjelasan dari ayat Al Quran.

Masih menurut Imam Syafi’i (w 204 H) : sah saja jika seorang lelaki mengusap di bagian kepala manapun yang dia inginkan jika dia tidak mempunyai rambut dan juga sah saja jika dia mengusap rambut di bagian manapun yang dia inginkan dengan menggunakan satu jari, sebagian jari, telapak tangannya ataupun menyuruh orang untuk mengusapkannya. Begitu juga sah jika seorang mengusap kedua jambul di kepalanya, salah satunya atau sebagiannya dikarenakan hal itu masih dianggap sebagai bagian dari kepala.[15]

Imam Nawawi (w 676 H) dalam kitabnya Al-Majmu menyatakan :

)والواجب منه أن يمسح ما يقع عليه اسم المسح و إن قل وقال أبو العباس بن القاص أقله ثلاث شعرات كما نقول في الحق في الاحرام والمذهب أنه لا يتقدر لان الله تعالى أمر بالمسح وذلك يقع على القليل والكثير)

(الشرح) المشهور في مذهبنا الذى تظاهرت عليه نصوص الشافعي وقطع به جمهور الاصحاب في الطرق أن مسح الرأس لا يتقدر وجوبه بشئ بل يكفى فيه ما يمكن قال أصحابنا حتى لو مسح بعض شعرة واحدة أجزأه

kewajiban mengusap kepala hanya berkisar kepada gugur dan tidaknya penamaan kata mengusap Walaupun hanya sedikit. Abu Al-‘Abbas bin Al-Qas berkata : paling sedikitnya usapan yaitu mengusap 3 helai rambut sebagaimana yang kita katakan tentang mencukur di saat ihram. Namun pendapat yang masyhur di dalam mazhab adalah tidak ada batasan mengusap dikarenakan Allah Ta’ala hanya memerintahkan untuk mengusap. Perintah itu menjadi gugur jika telah dilaksanakan baik itu dengan sedikit usapan ataupun banyak.

Pendapat yang masyhur di mazhab kami yang sudah dijelaskan oleh nash-nash Imam Syafi’i (w 204 H) dan dipastikan oleh mayoritas kalangan syafi’iyah dalam berbegai jalur periwayatan bahwasannya mengusap kepala tidak ada batasan wajibnya. Cukup saja dengan mengusap bagian yang memungkinkan untuk diusap walaupun hanya dengan mengusap sebagian dari sehelai rambut, hal ini sudah dianggap sah oleh para pakar fikih dari mazhab syafi’iyah.[16]

Imam Romli (w 1096 H) dalam kitabnya Nihayatu Al-Muhtaj menyatakan bahwa yang wajib adalah mengusap kulit kepala walaupun Cuma sebagian kecil, sebagian rambut ataupun sebagian helai rambut. Dan bagian yang diusap tidak berada di luar zona batasan kepala.

( الرابع  من المَفروض ( مسمى مسح لبشرة رأسه ) وإن قل ( أو ) بعض ( شعر ) ولو بعض واحدة ( في حده ) أي الرأس

Yang ke empat dari wardhunya wudhu adalah yang dinamakan mengusap kulit kepalanya walaupun hanya sedikit atau mengusap rambut walaupun hanya sebagian helai rambut di dalam batasannya yaitu batasan kepala. [17]

3.     Mazhab Hanbali

Imam Ibnu Qudamah (w 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni memaparkan riwayat dari Imam Ahmad (w 241 H) yang menyatakan bahwa sah mengusap sebagian kepala, namun jika dimungkinkan untuk mengusap semuanya maka seyogyannya untuk melakukannya.[18]

و روي عن أحمد : يجزأ مسح بعض. قال أبو الحارث : قلت لإ حمد : فإن مسح برأس وترك بعضه؟ قال يجزئه. ثم قال ومن يمكنه أن يأتي على رأس كله.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad (w 241 H) : sah jika mengusap sebagian kepala. Abu Al-Harits berkata : aku bertanya kepada Imam Ahmad (w 241 H) “ bagaimana jika seorang mengusap kepala dan tidak mengusap sebagian lainnya? beliau berkata : sah usapan itu. kemudian beliau berkata : dan bagi siapa saja yang memungkinkan untuk mengusap seluruh kepala maka lakukanlah.

Imam Ali Bin Sulaiman Al-Mardawi )w 885 H) dalam kitabnya Al-Inshaf juga memaparkan riwayat dari Imam Ahmad (w 241 H) yang menyatakan bahwa bolehnya mengusap sebagian kepala.[19]

وقال : ذكره شيخنا . وعنه يجزئ مسح بعض الرأس من غير تحديد

Syaikh kami (Imam Ahmad) telah menyebutkan bahwasannya sah mengusap sebagian kepala tanpa adanya batasan.

4.     Mazhab Dzohiri

Ibnu Hazm (w 456 H) dalam kitabnya Al-Muhalla menyatakan bahwa yang wajib dalam mengusap kepala adalah sebagian saja. Dikarenakan dalam bahasa terdapat makna yang berbeda di antara kata mengusap dan mengusap. Adapun kata mengusap mengharuskannya untuk meratakan air dibagian anggota tubuh yang dibasuh sedangkan mengusap tidaklah diharuskan meratakan air ke seluruh bagian anggota tubuh yang diusap.[20]

ثم يمسح رأسه كيفما مسحه اجزأه وأحب الينا ان يعم رأسه بالمسح، فكيفما مسحه بيديه أو بيد واحدة أو بأصبع واحدة أجزأه. فلو مسح بعض رأسه أجزأه وإن قل، ونستحب أن يمسح رأسه ثلاثا أو مرتين وواحدة تجزئ…

وقال داود: يجزئ من ذلك ما وقع عليه اسم مسح، وكذلك بما مسح من أصبع أو أقل أو أكثر وأحب إليه العموم ثلاثا وهذا هو الصحيح، وأما الاقتصار على بعض الرأس فان الله تعالى يقول (وامسحوا برءوسكم) والمسح في اللغة التي نزل بها القرآن هو غير الغسل بلا خلاف، والغسل يقتضى الاستيعاب، والمسح لا يقتضيه

Kemudian mengusap kepalanya dengan cara apapun maka sudah dianggap sah. Namun kami lebih menyukai cara mengusap dengan meratakan usapan di kepala. begitupula sah saja mengusap kepala dengan cara apapun baik itu dengan menggunakan dua tangan, satu tangan ataupun dengan satu jari. Jika dia mengusap sebagian kepala walaupun sedikit maka sudah dianggap sah. Kami menganjurkan (mensunahkan) agar mengusap kepala tiga kali ataupun dua kali dan sekali usapan sudah dianggap sah.

Imam Daud berkata : sahnya mengusap adalah dengan gugurnya penamaan kata mengusap, begitupula dengan sesuatu yang digunakan untuk mengusap dari jari-jemarinya baik itu sedikit atau banyak dan yang paling disukainya adalah meratakan usapan sebanyak tiga kali dan inilah pendapat yang benar. Adapun batasan mengusap sebagian kepala dikarenakan firman Allah Ta’ala : dan usaplah kepala kalian. Arti al-mashu (mengusap) dalam bahasa arab berbeda dengan arti al-gaslu (membasuh) dan perbeedaan arti ini tidak ada (ahli bahasa) yang menentangnya. Adapun membasuh mempunyai arti meratakan sedangkan mengusap tidak berarti meratakan.

Mengusap 1/3 dan 2/3 kepala

1.     Mazhab maliki

Imam Ibnu Abd Al-Bar (w 463 H) dalam kitabnya Al-Kafii dan Imam Al-Qarafi (w 684 H) dalam kitabnya Adz-Dzakhira menukilkan pendapat Abul Faraj (w 331 H) dari kalangan malikiyah yang membolehkan mengusap 1/3 bagian kepala dan tidak sah jika kurang dari 1/3. Begitu pula pendapat Muhammad Bin Maslamah (w 206 H) yang membolehkan mengusap 2/3 bagian kepala. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Malik (w 179 H).[21] Di bawah ini saya sajikan teks arabnya.

ذكر أبو الفرج عن محمد بن مسلمة أنه قال: لا يجزئ ان يمسح دون ثلثه وإليه ذهب أبو الفرج [والذي حكاه عن محمد بن مسلمة وهم والله أعلم ، والمعروف لمحمد بن مسلمة ومنهم من يرويه عن مالك أنه إن أسقط من مسح رأسه ثلثه فما دون أنه يجزيه ولا يجزيه إن كان المتروك من الرأس أكثر من ثلثه في المسح] هذا قول محمد بن مسلمة فيما ذكر إسماعيل في المبسوط فلهذا قلنا: إن ماذكره أبو الفرج وهم وما ذكره إسماعيل عنه يشبه أصول مالك في استدارة الثلث في مواضع كثيرة من كتبه وأصول مذاهبه وما زاد على الثلث عنده فكثيرا يراعى ذلك ويعتبره ولا يلغيه في شيء من مذاهبه فكأنه والله أعلم أنه لا يكاد أحد يسلم من أن يفوته الشئ اليسير من شعر رأسه عند مسحه بعد اجتهاد فجعل الثلث فما دونه في حكم ذلك واجزأه عنده إذا أتى على مسح الثلثين فأكثر هذا وجه ما ذهب إليه محمد بن مسلمة وعزاه إلى مالك والله أعلم وقد يخرج قول أبي الفرج على أصل مالك والله أعلم في استدارة الثلث وقد اوضحت ذلك في كتاب التمهيد والمسح عندي ليس شأنه الاستيعاب.

2.     Mazhab Hanbali

Imam Al Mardawi (w 885 H) dalam kitabnya Al-Inshaf juga menukilkan riwayat dari Imam Ahmad (w 241 H) yang menyatakan bahwa : sah jika mengusap kebanyakan dari bagian kepala. Abu Al-Khattab (w 432 H) menafsirkan kadar banyak dan sedikitnya dalam mengusap kepala. Menurutnya kadar banyak adalah 2/3 atau lebih dan kadar sedikit adalah 1/3 atau dibawahnya. [22]

[1]. Mu’jam Al-Wasith hal 867 cet ke 4 Maktabah Syuruq Dauliyah tahun 2004 M

[2]. At-Ta’rifat karya Jurjani hal 272 cet Darul Kitab Al Arabi

[3]. Raddu Al-Muhtar A’la Durri Al-Mukhtar jilid 1 hal 67 cet Ihya At Turats

[4]. Bidayatu Al-Mujtahid Wa Nihayatu Al-Muqtashid hal 15 cet Dar Ibnu Hazm tahun 2006 M

[5]. Al Quran Surah Al-Maidah Ayat 6

[6]. Adz-Dzakhira jilid 1 hal. 259 cet. pertama Darul Gharb Al Islami tahun 1994 M. Ditahqiq oleh Dr. Muhammad Hujji. Hasyiyah Ad-Dasuki

jilid 1 hal 88 cet penerbit Darul Fikr. Kasysyafu Al-Qina’ jilid 1 hal 91 cet pertama tahun 1997 M. penerbit A’lah Al Kutub. Yang di tahqiq oleh

Muhammad Amin Ad Dinnawi. Al-Inshaf Fii Ma’rifati Ar-Rojih Minal Khilaf jilid 1 hal 209 cet pertama tahun 1997 M. Penerbit Darul Kutub

Ilmiyah, yang ditahqiq oleh Abu Abdillah Muhammad Bin Hasan As Syafii.

[7]. Al-Kafi Fii Fiqhi Ahli Al-Madinah hal 22 cet ke 2 tahun 1996 M. Penerbit Darul Kutub Ilmiyah beirut libanon.

[8]. Bidayatu Al-Mujtahid Wa Nihayatu Al-Muqtashid hal 15 cet Dar Ibnu Hazm tahun 2006 M

[9]. Adz-Dzakhira jilid 1 hal 259 cet. Pertama. penerbit Darul Gharb Al Islami tahun 1994 M. Ditahqiq oleh Dr. Muhammad Hujji.

[10]. Al-Mughni Jilid 1 Hal 175 cet ke 3 tahun 1997 M. Penerbit Dar A’lam Al Kutub Riyadh. Yang ditahqiq oleh Dr. Abdullah Bin Abdul Muhsin

At Turki dan Dr. Abdul Fatah Muhammad Al Hulwu.

[11]. Al-Inshaf Fii Ma’rifati Ar-Rojih Minal Khilaf jilid 1 hal 159-160 cet pertama tahun 1997 M Darul Kutub Ilmiyah, yang ditahqiq oleh Abu

Abdillah Muhammad Bin Hasan As Syafii.

[12]. Kasysyafu Al-Qina’ jilid 1 hal 91 cet pertama tahun 1997 M. penerbit A’lah Al Kutub. Yang ditahqiq oleh Muhammad Amin Ad-Dinnawi.

[13]. Al-Kafi Fii Fiqhi Ahli Al-Madinah hal 22 cet ke 2 tahun 1996 M. Penerbit Darul Kutub Ilmiyah beirut libanon.

[14]. Bidayatu Al-Mujtahid Wa Nihayatu Al-Muqtashid hal 15 cet Dar Ibnu Hazm tahun 2006 M

[15]. Al-Um jilid 2 hal 56-57. cet pertama tahun 2001 M. Penerbit Darul Wafa. Yang ditahqiq oleh Dr. Rif’at Fauzi Abdul Mutholib.

[16]. Al-Majmu’ Syarhu Al-Muhadzdzab jilid 1 hal 430. cet Maktabah Al Irsyad Jeddah tanpa tahun. Yang ditahqiq oleh Muhammad Najib Al

Muthi’i.

[17]. Nihayatu Al-Muhtaj Ilaa Syarhi Al-Minhaj jilid 1 hal 174. cet ke 3. Penerbit Darul Kutub Al I’lmiyah beirut.

[18]. Al-Mughni Jilid 1 Hal 175 cet ke 3 tahun 1997 M. Penerbit Dar A’lam Al Kutub Riyadh. Yang ditahqiq oleh Dr. Abdullah Bin Abdul Muhsin

At Turki dan Dr. Abdul Fatah Muhammad Al Hulwu.

[19]. Al-Inshaf Fii Ma’rifati Ar-Rojih Minal Khilaf jilid 1 hal 160 cet pertama tahun 1997 M Darul Kutub Ilmiyah, yang ditahqiq oleh Abu Abdillah

Muhammad Bin Hasan As Syafii.

[20]. Al-Muhalla jilid 2 hal 49 dan 52 Cet pertama 1349 H. Penerbit. Idarah At Thiba’ah Al Muniriyah Mesir.

[21]. Al-Kafi Fii Fiqhi Ahli Al-Madinah hal 22 cet ke 2 tahun 1996 M. Penerbit Darul Kutub Ilmiyah beirut libanon. Adz-Dzakhira jilid 1 hal 259 cet. Pertama. penerbit Darul Gharb Al Islami tahun 1994 M. Ditahqiq oleh Dr. Muhammad Hujji.

[22]. Al Inshaf Fii Ma’rifati Ar Rojih Minal Khilaf jilid 1 hal 160 cet pertama tahun 1997 M Darul Kutub Ilmiyah, yang ditahqiq oleh Abu Abdillah Muhammad Bin Hasan As Syafii.

Penetapan Awal Ramadhan, Dengan Hisab ataukah Rukyat?

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan ramadhan yang tentu saja bulan ini adalah bulan yang istimewa dan dinantikan oleh umat Islam. Di dalam bulan ini diwajibkan berpuasa sebulan penuh bagi umat Islam. Di Indonesia hampir setiap tahun ada saja perbedaan pendapat dalam menetapkan awal ramadhan. Ada kelompok yang menetapkan awal ramadhan berdasarkan rukyat hilal (bulan sabit di awal bulan) adapula kelompok yang berpedoman kepada hisab (perhitungan peredaran bulan). Namun bagaimanakah sebenarnya pendapat dan pandangan ulama mazhab dalam masalah ini? Metode manakah yang menjadi pedoman untuk menentukan awal puasa ramadhan? dalam tulisan kali ini saya akan menyajikan pendapat dari para ulama mazhab mengenai masalah ini.

1.             Mazhab Hanafi

Imam Al-Kasani (w 587 H) dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ menyatakan bahwa untuk mengetahui awal ramadhan digunakan metode rukyat hilal jika langit sedang cerah. Namun jika langitnya mendung maka disempurnakan hitungan bulan sya’ban 30 hari.

وأما الثاني وهو بيان ما يعرف به وقته فإن كانت السماء مصحية يعرف برؤية الهلال وإن كانت متغيمة يعرف بإكمال شعبان ثلاثين يوما لقول النبي صوموا لرؤيته وأَفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فأكملوا شعبانَ ثلاثين يوما ثم صوموا وكذلك إن غم على الناس هلال شوال أَكملوا عدة رمضان ثلاثين يوما

Pembahasan yang kedua adalah penjelasan mengenai metode untuk mengetahui waktunya (awal Ramadhan). Jika langit cerah maka diketahui awal ramadhan dengan rukyat hilal. Namun jika langitnya berawan atau mendung maka diketahui dengan menyempurnakan bulan sya’ban 30 hari sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : berpuasa dan berbukalah (idul fitri) ketika melihat hilal, namun jika terhalang melihat hilal (karena mendung atau berawan) maka sempurnakanlah bulan sya’ban 30 hari kemudian berpuasalah. Begitupula jika terhalang melihat hilal bulan syawal maka sempurnakanlah bulan ramadhan 30 hari.[1]

Imam Al-Kamal Ibnu Humam (w 861 H) dalam kitabnya Fathul Qadir menyatakan hal yang senada dengan Imam Al-Kasani (w 587 H). Dan juga menambahkan bahwa jika hilal dapat dilihat setelah zawal (tergelincirnya matahari saat masuk waktu dzuhur) di hari yang ke 29 maka semua ulama sepakat bahwa rukyat hilal itu sama dengan rukyat hilal di malam hari ke 30. Namun para ulama berbeda pendapat jika hilal dapat dilihat sebelum zawal pada hari ke 30. Ada yang berpendapat bahwa malam sebelumnya sudah masuk awal bulan ramadhan dan ada juga yang menyatakan bahwa malam berikutnyalah yang dinyatakan sebagai awal ramadhan.

(قوله وينبغي للناس) أي يجب عليهم وهو واجب على الكفاية ( قوله لقوله عليه الصلاة والسلام ) في الصحيحينِ عنه عليه الصلاة والسلام { صوموا لرؤيته وأَفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين يوما }

Dan kalimat “seyogyanya bagi manusia” berarti wajib bagi mereka dan kewajiban ini adalah wajib kifayah. Dan juga kalimat “dikarenakan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam” yang termaktub dalam Shahih Bukhari dan Muslim “berpuasa dan berbukalah (idul fithri) jika telah melihat hilal. Namun jika kamu sekalian terhalang untuk melihatnya (karena langit mendung atau berawan) maka sempurnakanlah bulan sya’ban menjadi 30 hari”.

نعم لو رئي في التاسعِ والعشرين بعد الزوال كان كرؤيته ليلة الثلاثين بالاتفاق ، وإنما الخلاف في رؤيته قبل الزّوال من اليومِ الثلاثين ، فعند أبي يوسف رحمه اللَّه : هو من الليلة الماضية فيجب صوم ذلك اليومِ وفطره إن كان ذلك في آخرِ رمضان .وعند أبي حنيفة ومحمد رحمهما الله : هو للمستقبلة هكذا حكى الخلاف في الإيضاح

Ya! Jika hilal dapat dilihat di hari ke 29 (bulan sya’ban) setelah zawal maka sepakat para ulama bahwa hal itu sama dengan melihat hilal di malam ke 30. Sesungguhnya perbedaan pendapat itu terletak pada dilihatnya hilal sebelum zawal pada hari ke 30. Menurut Qadhi Abu Yusuf hilal tersebut adalah hilal untuk malam sebelumnya maka wajiblah berpuasa pada hari itu dan berbuka jika hari itu adalah akhir ramadhan. Menurut Imam Abu Hanifah (w 150 H) hilal itu untuk malam berikutnya dan inilah perbedaan yang dipaparkan dalam kitab Al-Idhah.

وفي التحفة قال أبو يوسف رحمه الله : إذا كان قبل الزوال أَو بعده إلى العصر فهو لليلة الماضية ، وإن كان بعد العصر فهو للمستقبلة بلا خلاف

Dalam kitab At-Tuhfah Qadhi Abu Yusuf berkata : jika hilal dilihat sebelum zawal atau setelahnya sampai masuk waktu ashar maka hilal tersebut adalah hilal malam sebelumnya. Adapun jika hilal dilihat setelah ashar maka hilal itu untuk malam berikutnya tanpa ada khilaf.[2]

2.             Mazhab Maliki

Imam Ibnu Abd Al-Bar (w 463 H) dalam kitabnya Al-Kaafi menyatakan bahwa wajibnya puasa ramadhan adalah dengan melihat hilal. Namun jika tidak melihat hilal maka dengan menyempurnakan 30 hari di bulan sya’ban.

لا يجب صيام شهر رمضان إلا باستكمال شعبان ثلاثين يوما إن لم ير الهلال قبل ذلك فإن رئي الهلال وجب الصيام

Tidak wajib puasa pada bulan ramadhan melainkan dengan menyempurnakan bulan Sya’ban 30 hari jika tidak dapat melihat hilal. Namun jika hilal dapat dilihat maka wajiblah berpuasa.[3]

Ar-Ru’aini (w 594 H) dalam kitabnya Mawahib Al-Jalil menyatakan bahwa boleh saja menetapkan waktu sholat fardhu dengan menggunakan metode hisab. Namun tidak boleh dipakai untuk menetapkan awal ramadhan. dikarenakan penggunaan metode rukyat sudah menjadi ijma di kalangan salaf.

وقال القرافي في الفرق الثاني والمائة بين قاعدة أوقات الصلاة: يجوز إثباتها بالحساب والْآلَات وكل ما دل عليها وقاعدة رؤية الْأَهلة في الرمضانات لا يجوز إثباتها بالحساب، وفيه قولان عندنا وعند الشافعية، والمشهور في المذْهب عدم اعتبار الحساب، قال سند: إن كان الإمام يرى الحساب فأَثبت الهلال به لم يتبع لإجماع السلف على خلافه، مع أن حساب الأَهلة والخسوف والكسوف قطعي

Tentang penetapan waktu sholat dengan hisab menurut Al-Qarafi (w 684 H) : boleh saja menetapkan waktu sholat dengan menggunakan hisab, alat-alat dan setiap apa saja yang dapat menunjukkan waktu sholat. Namun tidak boleh menetapkan rukyat hilal di bulan ramadhon dengan menggunakan metode hisab. Dalam hal ini ada 2 pendapat dalam mazhab kami dan kalangan syafi’iyah namun yang masyhur dalam mazhab adalah tidak dianggapnya metode hisab (dalam penentuan rukyat hilal). Sanad berkata : jika imam (pemimpin negara) memandang hisab dan menetapkan rukyat hilal dengan hisab maka pendapatnya tidak boleh diikuti dikarenakan ijma’ para salaf yang mengingkari penetapan rukyat hilal dengan hisab.Walaupun hisab terhadap hilal, gerhana bulan dan matahari adalah sesuatu yang sudah dapat dipastikan.[4]

3.             Mazhab Syafi’i

Imam Nawawi (w 676 H) dalam kitabnya Al-Majmu’ menyatakan bahwa puasa ramadhan tidak wajib melainkan setelah melihat hilal. Maka tidak diterima pendapat orang-orang yang memakai metode hisab dalam penentuan rukyat hilal.

قال أصحابنا وغيرهم : ” لا يجب صوم رمضان إلا بدخوله ، ويعلم دخوله برؤية الهلال، فإن غم وجب استكمال شعبان ثلاثين، ثم يصومون سواء كانت السماء مصحية أو مغيمة

Para ashhab kami dan selainnya berkata : Tidak wajib puasa ramadhan melainkan dengan masuknya bulan ramadhan. Masuknya bulan ramadhan diketahui dengan melihat hilal, namun jika hilal terhalang awan maka wajib menyempurnakan bulan sya’ban (30 Hari) dan kemudian berpuasa. Baik itu ketika langit sedang cerah ataupun terhalang awan.

ومن قال بحساب المنازل فقوله مردود بقوله صلى الله عليه وسلم في الصحيحين ” إنا أمة أمية لا نحسب ولا نكتب الشهر هكذا وهكذ ” الحديث قالوا ولأن الناس لو كلفوا بذلك ضاق عليهم لأنه لا يعرف الحساب إلا أفراد من الناس في البلدان الكبار فالصواب ماقاله الجمهور وما سواه فاسد مردود

Jumhur ulama berpendapat bahwa : dan barangsiapa yang pendapatnya berpegang kepada peredaran bulan maka pendapatnya tertolak dikarenakan sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim : sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, yang tidak menghitung bulan dan menulis seperti ini dan seperti ini. Jumhur ulama berkata : jika manusia dipaksa untuk mengikuti metode hisab maka mereka akan kesulitan dikarenakan pengetahuan tentang hisab hanyalah diketahui oleh segelintir orang saja yang berada di kota-kota besar. Dan yang benar adalah pendapat dari jumhur ulama, adapun selainnya adalah pendapat yang salah.[5]

4.             Mazhab hanbali

Imam Ibnu Qudamah (w 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni menyatakan bahwa penetapan awal ramadhan adalah dengan menggunakan rukyat hilal di malam hari ke 30 bulan sya’ban. Namun jika terhalang untuk melihatnya maka disempurnakanlah bulan sya’ban 30 hari.

(وإذا مضى من شعبان تسعة وعشرون يوما، طلبوا الهلال، فإن كانت السماء مصحية لم يصوموا ذلك اليوم) وجملة ذلك أنه يستحب للناس ترائي الهلال ليلة الثلاثين من شعبان، وتطلبه ليحتاطوا بذلك لصيامهم، ويسلموا من الاختلاف. وقد روى الترمذي، عن أبي هريرة، أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: «أحصوا هلال شعبان لرمضان» . فإذا رأوه وجب عليهم الصيام إجماعا، وإن لم يروه وكانت السماء مصحية، لم يكن لهم صيام ذلك اليوم، إلا أن يوافق صوما كانوا يصومونه، مثل من عادته صوم يوم وإفطار يوم، أو صوم يوم الخميس، أو صوم آخر يوم من الشهر، وشبه ذلك إذا وافق صومه، أو من صام قبل ذلك بأيام، فلا بأس بصومه.

Mereka berusaha untuk melihat hilal Jika telah lewat 29 hari dari bulan sya’ban jika langit sedang cerah dan pada hari itu belum dimulai puasa. Secara global dalam masalah itu dianjurkan untuk saling melihat hilal di malam ke 30 dari bulan sya’ban. Usaha untuk melihat hilal adalah cara untuk menjaga puasa mereka (agar tidak salah dalam menentukan awal puasa) dan menyelamatkan dari perbedaan atau perpecahan pendapat.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “hitunglah hilal sya’ban untuk ramadhan”. jika mereka telah melihat hilal maka wajiblah bagi mereka berpuasa secara ijma’. Namun jika belum juga melihat hilal disaat langit cerah maka tidak boleh bagi mereka untuk berpuasa pada hari itu melainkan puasa tersebut bertepatan dengan puasa mereka yang saat itu sudah berpuasa sebelumnya. Seperti seorang yang biasanya berpuasa sehari dan berbuka di hari berikutnya atau yang berpuasa pada hari kamis ataupun berpuasa di hari akhir bulan. Dan seperti juga yang kebetulan berpuasa bertepatan pada hari itu atau telah berpuasa beberapa hari sebelumnya maka tidak mengapa jika dia berpuasa.[6]

5.             Mazhab Dzohiri

Ibn Hazm (w 456 H) dalam kitabnya Al-Muhalla menyatakan bahwa jika hilal telah dilihat maka wajiblah berpuasa.

أن الهلال قد رئي البارحة في آخر شعبان ففرض عليه الصوم

Sesungguhnya jika hilal telah terlihat di malam hari pada akhir sya’ban maka wajiblah berpuasa.[7]

Kesimpulannya adalah mayoritas ulama menyatakan bahwa penetapan awal ramadhan harus menggunakan metode rukyat hilal dan jika hilal tidak dapat dilihat dikarenakan terhalang oleh awan maka disempurnakanlah bulan sya’ban menjadi 30 hari. Namun ada juga yang berpendapat bahwa sangat memungkinkan rukyat hilal dengan menggunakan hisab.

Pendapat ini oleh Imam Ibnu Abd Al-Baar (w 463 H) dan Ibnu Rusyd (w 595 H) dinisbatkan kepada Muthorrif Bin Abdullah Bin Syakhir (w 87 H) seorang pembesar dari kalangan tabi’in dan Ibnu Qutaibah (w 236 H) dari kalangan Muhaddits (ahli hadits) dan juga pendapat Imam Syafi’i (w 204 H) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-‘Abbas Bin suraij (w 306 H) dari kalangan syafi’iyah.[8]

Mutharrif (w 87 H) berpendapat bahwa penggunaan hisab atau peredaran bulan dapat digunakan jika hilal tidak nampak. Seorang yang ahli hisab boleh mengamalkan untuk dirinya sendiri.[9]

Sedangkan pendapat Ibnu Suraij (w 306 H) yang diklaim berasal dari Imam Syafi’i (w 204 H) adalah boleh dan sah saja jika menggunakan metode hisab dan peredaran bulan untuk menentukan awal puasa ramadhan walaupun dia mengetahui bahwa penentuan hilal itu dengan menggunakan rukyat namun pada saat itu hilal sedang terhalang oleh awan.[10] Dia juga berpendapat bahwa sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : فَاقْدُرُوا لَهُ (tetapkanlah menjadi 30 hari) merupakan khitob pengkhususan dari Allah Ta’ala Untuk ilmu ini (hisab falaki). Begitupula sabdanya : فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ (sempurnakanlah bilangannya 30 hari) merupakan khithab secara umum.

Ibnu Abd Al-Baar (w 463 H) menolak pendapat Mutharrif (w 87 H) dan menyatakan bahwa pendapatnya tidak dapat dibenarkan. Begitupula dengan penisbatan Ibnu Suraij (w 306 H) kepada Imam Syafi’i (w 204 H). Dimana pendapat Imam Syafi’i (w 204 H) yang masyhur adalah yang selaras dengan pendapat jumhur ulama. Sedangkan untuk Ibnu Qutaibah (w 236 H) Ibnu Abd Al-Bar berkata : pendapatnya semisal ini tidak dapat dipegang.[11]

Ar-Ru’aini (w 594 H) dalam kitabnya Mawahib Al-Jalil mengomentari tentang hal ini dan menyatakan bahwa riwayat-riwayat tentang pendapat tersebut adalah riwayat yang syadz.[12]

Wallahu A’lam Bishshowab.

[1]. Badai’ Ash-Shonai’ jilid 2 hal 80 cet Daar Al-Kutub Al ‘Ilmiyah beirut.

[2]. Syarhu Fathul Qadir ‘Ala Al-Hidayah jilid 2 hal 318 cet Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah.

[3]. Al-Kafi Fi Fiqhi Ahli Al-Madinah hal 119 cet Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah.

[4]. Mawahib Al-Jalil Fii Syarhi Al-Mukhtashar Khalil jilid 2 hal 388 cet Daar Al-Fikr.

[5]. Al-Majmu’ Syarhu Al-Muhadzdzab jilid 6 hal 270.

[6]. Al-Mughni jilid 3 hal 105-106.

[7]. Al-Muhalla Bi Al-Atsar jilid 4 hal 373.

[8]. Bidayatu Al-Mujtahid Wa Nihayatu Al-Muqtashid hal 238 cet Daar Al-Hazm. ‘Umdatul Qari Syarhu Shahih Al-Bukhari jilid 10 hal  271 cet Daar Ihya At-Turats.

[9]. Al-Muqaddimat Al-Muhammidat Li Ibni Rusyd jilid 1 hal 188 cet Daar Ash-Shodir.

[10]. Bidayatu Al-Mujtahid Wa Nihayatu Al-Muqtashid hal 238 cet Daar Al-Hazm.

[11]. Fathul Bari jilid 4 hal 122 cet. Daar Ma’rifah.

[12]. Al-Mawahib Al-Jalil jilid 2 hal 388 cet Daar Al-Fikr.