Penetapan Awal Ramadhan, Dengan Hisab ataukah Rukyat?

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan ramadhan yang tentu saja bulan ini adalah bulan yang istimewa dan dinantikan oleh umat Islam. Di dalam bulan ini diwajibkan berpuasa sebulan penuh bagi umat Islam. Di Indonesia hampir setiap tahun ada saja perbedaan pendapat dalam menetapkan awal ramadhan. Ada kelompok yang menetapkan awal ramadhan berdasarkan rukyat hilal (bulan sabit di awal bulan) adapula kelompok yang berpedoman kepada hisab (perhitungan peredaran bulan). Namun bagaimanakah sebenarnya pendapat dan pandangan ulama mazhab dalam masalah ini? Metode manakah yang menjadi pedoman untuk menentukan awal puasa ramadhan? dalam tulisan kali ini saya akan menyajikan pendapat dari para ulama mazhab mengenai masalah ini.

1.             Mazhab Hanafi

Imam Al-Kasani (w 587 H) dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ menyatakan bahwa untuk mengetahui awal ramadhan digunakan metode rukyat hilal jika langit sedang cerah. Namun jika langitnya mendung maka disempurnakan hitungan bulan sya’ban 30 hari.

وأما الثاني وهو بيان ما يعرف به وقته فإن كانت السماء مصحية يعرف برؤية الهلال وإن كانت متغيمة يعرف بإكمال شعبان ثلاثين يوما لقول النبي صوموا لرؤيته وأَفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فأكملوا شعبانَ ثلاثين يوما ثم صوموا وكذلك إن غم على الناس هلال شوال أَكملوا عدة رمضان ثلاثين يوما

Pembahasan yang kedua adalah penjelasan mengenai metode untuk mengetahui waktunya (awal Ramadhan). Jika langit cerah maka diketahui awal ramadhan dengan rukyat hilal. Namun jika langitnya berawan atau mendung maka diketahui dengan menyempurnakan bulan sya’ban 30 hari sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : berpuasa dan berbukalah (idul fitri) ketika melihat hilal, namun jika terhalang melihat hilal (karena mendung atau berawan) maka sempurnakanlah bulan sya’ban 30 hari kemudian berpuasalah. Begitupula jika terhalang melihat hilal bulan syawal maka sempurnakanlah bulan ramadhan 30 hari.[1]

Imam Al-Kamal Ibnu Humam (w 861 H) dalam kitabnya Fathul Qadir menyatakan hal yang senada dengan Imam Al-Kasani (w 587 H). Dan juga menambahkan bahwa jika hilal dapat dilihat setelah zawal (tergelincirnya matahari saat masuk waktu dzuhur) di hari yang ke 29 maka semua ulama sepakat bahwa rukyat hilal itu sama dengan rukyat hilal di malam hari ke 30. Namun para ulama berbeda pendapat jika hilal dapat dilihat sebelum zawal pada hari ke 30. Ada yang berpendapat bahwa malam sebelumnya sudah masuk awal bulan ramadhan dan ada juga yang menyatakan bahwa malam berikutnyalah yang dinyatakan sebagai awal ramadhan.

(قوله وينبغي للناس) أي يجب عليهم وهو واجب على الكفاية ( قوله لقوله عليه الصلاة والسلام ) في الصحيحينِ عنه عليه الصلاة والسلام { صوموا لرؤيته وأَفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين يوما }

Dan kalimat “seyogyanya bagi manusia” berarti wajib bagi mereka dan kewajiban ini adalah wajib kifayah. Dan juga kalimat “dikarenakan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam” yang termaktub dalam Shahih Bukhari dan Muslim “berpuasa dan berbukalah (idul fithri) jika telah melihat hilal. Namun jika kamu sekalian terhalang untuk melihatnya (karena langit mendung atau berawan) maka sempurnakanlah bulan sya’ban menjadi 30 hari”.

نعم لو رئي في التاسعِ والعشرين بعد الزوال كان كرؤيته ليلة الثلاثين بالاتفاق ، وإنما الخلاف في رؤيته قبل الزّوال من اليومِ الثلاثين ، فعند أبي يوسف رحمه اللَّه : هو من الليلة الماضية فيجب صوم ذلك اليومِ وفطره إن كان ذلك في آخرِ رمضان .وعند أبي حنيفة ومحمد رحمهما الله : هو للمستقبلة هكذا حكى الخلاف في الإيضاح

Ya! Jika hilal dapat dilihat di hari ke 29 (bulan sya’ban) setelah zawal maka sepakat para ulama bahwa hal itu sama dengan melihat hilal di malam ke 30. Sesungguhnya perbedaan pendapat itu terletak pada dilihatnya hilal sebelum zawal pada hari ke 30. Menurut Qadhi Abu Yusuf hilal tersebut adalah hilal untuk malam sebelumnya maka wajiblah berpuasa pada hari itu dan berbuka jika hari itu adalah akhir ramadhan. Menurut Imam Abu Hanifah (w 150 H) hilal itu untuk malam berikutnya dan inilah perbedaan yang dipaparkan dalam kitab Al-Idhah.

وفي التحفة قال أبو يوسف رحمه الله : إذا كان قبل الزوال أَو بعده إلى العصر فهو لليلة الماضية ، وإن كان بعد العصر فهو للمستقبلة بلا خلاف

Dalam kitab At-Tuhfah Qadhi Abu Yusuf berkata : jika hilal dilihat sebelum zawal atau setelahnya sampai masuk waktu ashar maka hilal tersebut adalah hilal malam sebelumnya. Adapun jika hilal dilihat setelah ashar maka hilal itu untuk malam berikutnya tanpa ada khilaf.[2]

2.             Mazhab Maliki

Imam Ibnu Abd Al-Bar (w 463 H) dalam kitabnya Al-Kaafi menyatakan bahwa wajibnya puasa ramadhan adalah dengan melihat hilal. Namun jika tidak melihat hilal maka dengan menyempurnakan 30 hari di bulan sya’ban.

لا يجب صيام شهر رمضان إلا باستكمال شعبان ثلاثين يوما إن لم ير الهلال قبل ذلك فإن رئي الهلال وجب الصيام

Tidak wajib puasa pada bulan ramadhan melainkan dengan menyempurnakan bulan Sya’ban 30 hari jika tidak dapat melihat hilal. Namun jika hilal dapat dilihat maka wajiblah berpuasa.[3]

Ar-Ru’aini (w 594 H) dalam kitabnya Mawahib Al-Jalil menyatakan bahwa boleh saja menetapkan waktu sholat fardhu dengan menggunakan metode hisab. Namun tidak boleh dipakai untuk menetapkan awal ramadhan. dikarenakan penggunaan metode rukyat sudah menjadi ijma di kalangan salaf.

وقال القرافي في الفرق الثاني والمائة بين قاعدة أوقات الصلاة: يجوز إثباتها بالحساب والْآلَات وكل ما دل عليها وقاعدة رؤية الْأَهلة في الرمضانات لا يجوز إثباتها بالحساب، وفيه قولان عندنا وعند الشافعية، والمشهور في المذْهب عدم اعتبار الحساب، قال سند: إن كان الإمام يرى الحساب فأَثبت الهلال به لم يتبع لإجماع السلف على خلافه، مع أن حساب الأَهلة والخسوف والكسوف قطعي

Tentang penetapan waktu sholat dengan hisab menurut Al-Qarafi (w 684 H) : boleh saja menetapkan waktu sholat dengan menggunakan hisab, alat-alat dan setiap apa saja yang dapat menunjukkan waktu sholat. Namun tidak boleh menetapkan rukyat hilal di bulan ramadhon dengan menggunakan metode hisab. Dalam hal ini ada 2 pendapat dalam mazhab kami dan kalangan syafi’iyah namun yang masyhur dalam mazhab adalah tidak dianggapnya metode hisab (dalam penentuan rukyat hilal). Sanad berkata : jika imam (pemimpin negara) memandang hisab dan menetapkan rukyat hilal dengan hisab maka pendapatnya tidak boleh diikuti dikarenakan ijma’ para salaf yang mengingkari penetapan rukyat hilal dengan hisab.Walaupun hisab terhadap hilal, gerhana bulan dan matahari adalah sesuatu yang sudah dapat dipastikan.[4]

3.             Mazhab Syafi’i

Imam Nawawi (w 676 H) dalam kitabnya Al-Majmu’ menyatakan bahwa puasa ramadhan tidak wajib melainkan setelah melihat hilal. Maka tidak diterima pendapat orang-orang yang memakai metode hisab dalam penentuan rukyat hilal.

قال أصحابنا وغيرهم : ” لا يجب صوم رمضان إلا بدخوله ، ويعلم دخوله برؤية الهلال، فإن غم وجب استكمال شعبان ثلاثين، ثم يصومون سواء كانت السماء مصحية أو مغيمة

Para ashhab kami dan selainnya berkata : Tidak wajib puasa ramadhan melainkan dengan masuknya bulan ramadhan. Masuknya bulan ramadhan diketahui dengan melihat hilal, namun jika hilal terhalang awan maka wajib menyempurnakan bulan sya’ban (30 Hari) dan kemudian berpuasa. Baik itu ketika langit sedang cerah ataupun terhalang awan.

ومن قال بحساب المنازل فقوله مردود بقوله صلى الله عليه وسلم في الصحيحين ” إنا أمة أمية لا نحسب ولا نكتب الشهر هكذا وهكذ ” الحديث قالوا ولأن الناس لو كلفوا بذلك ضاق عليهم لأنه لا يعرف الحساب إلا أفراد من الناس في البلدان الكبار فالصواب ماقاله الجمهور وما سواه فاسد مردود

Jumhur ulama berpendapat bahwa : dan barangsiapa yang pendapatnya berpegang kepada peredaran bulan maka pendapatnya tertolak dikarenakan sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim : sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, yang tidak menghitung bulan dan menulis seperti ini dan seperti ini. Jumhur ulama berkata : jika manusia dipaksa untuk mengikuti metode hisab maka mereka akan kesulitan dikarenakan pengetahuan tentang hisab hanyalah diketahui oleh segelintir orang saja yang berada di kota-kota besar. Dan yang benar adalah pendapat dari jumhur ulama, adapun selainnya adalah pendapat yang salah.[5]

4.             Mazhab hanbali

Imam Ibnu Qudamah (w 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni menyatakan bahwa penetapan awal ramadhan adalah dengan menggunakan rukyat hilal di malam hari ke 30 bulan sya’ban. Namun jika terhalang untuk melihatnya maka disempurnakanlah bulan sya’ban 30 hari.

(وإذا مضى من شعبان تسعة وعشرون يوما، طلبوا الهلال، فإن كانت السماء مصحية لم يصوموا ذلك اليوم) وجملة ذلك أنه يستحب للناس ترائي الهلال ليلة الثلاثين من شعبان، وتطلبه ليحتاطوا بذلك لصيامهم، ويسلموا من الاختلاف. وقد روى الترمذي، عن أبي هريرة، أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: «أحصوا هلال شعبان لرمضان» . فإذا رأوه وجب عليهم الصيام إجماعا، وإن لم يروه وكانت السماء مصحية، لم يكن لهم صيام ذلك اليوم، إلا أن يوافق صوما كانوا يصومونه، مثل من عادته صوم يوم وإفطار يوم، أو صوم يوم الخميس، أو صوم آخر يوم من الشهر، وشبه ذلك إذا وافق صومه، أو من صام قبل ذلك بأيام، فلا بأس بصومه.

Mereka berusaha untuk melihat hilal Jika telah lewat 29 hari dari bulan sya’ban jika langit sedang cerah dan pada hari itu belum dimulai puasa. Secara global dalam masalah itu dianjurkan untuk saling melihat hilal di malam ke 30 dari bulan sya’ban. Usaha untuk melihat hilal adalah cara untuk menjaga puasa mereka (agar tidak salah dalam menentukan awal puasa) dan menyelamatkan dari perbedaan atau perpecahan pendapat.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “hitunglah hilal sya’ban untuk ramadhan”. jika mereka telah melihat hilal maka wajiblah bagi mereka berpuasa secara ijma’. Namun jika belum juga melihat hilal disaat langit cerah maka tidak boleh bagi mereka untuk berpuasa pada hari itu melainkan puasa tersebut bertepatan dengan puasa mereka yang saat itu sudah berpuasa sebelumnya. Seperti seorang yang biasanya berpuasa sehari dan berbuka di hari berikutnya atau yang berpuasa pada hari kamis ataupun berpuasa di hari akhir bulan. Dan seperti juga yang kebetulan berpuasa bertepatan pada hari itu atau telah berpuasa beberapa hari sebelumnya maka tidak mengapa jika dia berpuasa.[6]

5.             Mazhab Dzohiri

Ibn Hazm (w 456 H) dalam kitabnya Al-Muhalla menyatakan bahwa jika hilal telah dilihat maka wajiblah berpuasa.

أن الهلال قد رئي البارحة في آخر شعبان ففرض عليه الصوم

Sesungguhnya jika hilal telah terlihat di malam hari pada akhir sya’ban maka wajiblah berpuasa.[7]

Kesimpulannya adalah mayoritas ulama menyatakan bahwa penetapan awal ramadhan harus menggunakan metode rukyat hilal dan jika hilal tidak dapat dilihat dikarenakan terhalang oleh awan maka disempurnakanlah bulan sya’ban menjadi 30 hari. Namun ada juga yang berpendapat bahwa sangat memungkinkan rukyat hilal dengan menggunakan hisab.

Pendapat ini oleh Imam Ibnu Abd Al-Baar (w 463 H) dan Ibnu Rusyd (w 595 H) dinisbatkan kepada Muthorrif Bin Abdullah Bin Syakhir (w 87 H) seorang pembesar dari kalangan tabi’in dan Ibnu Qutaibah (w 236 H) dari kalangan Muhaddits (ahli hadits) dan juga pendapat Imam Syafi’i (w 204 H) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-‘Abbas Bin suraij (w 306 H) dari kalangan syafi’iyah.[8]

Mutharrif (w 87 H) berpendapat bahwa penggunaan hisab atau peredaran bulan dapat digunakan jika hilal tidak nampak. Seorang yang ahli hisab boleh mengamalkan untuk dirinya sendiri.[9]

Sedangkan pendapat Ibnu Suraij (w 306 H) yang diklaim berasal dari Imam Syafi’i (w 204 H) adalah boleh dan sah saja jika menggunakan metode hisab dan peredaran bulan untuk menentukan awal puasa ramadhan walaupun dia mengetahui bahwa penentuan hilal itu dengan menggunakan rukyat namun pada saat itu hilal sedang terhalang oleh awan.[10] Dia juga berpendapat bahwa sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : فَاقْدُرُوا لَهُ (tetapkanlah menjadi 30 hari) merupakan khitob pengkhususan dari Allah Ta’ala Untuk ilmu ini (hisab falaki). Begitupula sabdanya : فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ (sempurnakanlah bilangannya 30 hari) merupakan khithab secara umum.

Ibnu Abd Al-Baar (w 463 H) menolak pendapat Mutharrif (w 87 H) dan menyatakan bahwa pendapatnya tidak dapat dibenarkan. Begitupula dengan penisbatan Ibnu Suraij (w 306 H) kepada Imam Syafi’i (w 204 H). Dimana pendapat Imam Syafi’i (w 204 H) yang masyhur adalah yang selaras dengan pendapat jumhur ulama. Sedangkan untuk Ibnu Qutaibah (w 236 H) Ibnu Abd Al-Bar berkata : pendapatnya semisal ini tidak dapat dipegang.[11]

Ar-Ru’aini (w 594 H) dalam kitabnya Mawahib Al-Jalil mengomentari tentang hal ini dan menyatakan bahwa riwayat-riwayat tentang pendapat tersebut adalah riwayat yang syadz.[12]

Wallahu A’lam Bishshowab.

[1]. Badai’ Ash-Shonai’ jilid 2 hal 80 cet Daar Al-Kutub Al ‘Ilmiyah beirut.

[2]. Syarhu Fathul Qadir ‘Ala Al-Hidayah jilid 2 hal 318 cet Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah.

[3]. Al-Kafi Fi Fiqhi Ahli Al-Madinah hal 119 cet Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah.

[4]. Mawahib Al-Jalil Fii Syarhi Al-Mukhtashar Khalil jilid 2 hal 388 cet Daar Al-Fikr.

[5]. Al-Majmu’ Syarhu Al-Muhadzdzab jilid 6 hal 270.

[6]. Al-Mughni jilid 3 hal 105-106.

[7]. Al-Muhalla Bi Al-Atsar jilid 4 hal 373.

[8]. Bidayatu Al-Mujtahid Wa Nihayatu Al-Muqtashid hal 238 cet Daar Al-Hazm. ‘Umdatul Qari Syarhu Shahih Al-Bukhari jilid 10 hal  271 cet Daar Ihya At-Turats.

[9]. Al-Muqaddimat Al-Muhammidat Li Ibni Rusyd jilid 1 hal 188 cet Daar Ash-Shodir.

[10]. Bidayatu Al-Mujtahid Wa Nihayatu Al-Muqtashid hal 238 cet Daar Al-Hazm.

[11]. Fathul Bari jilid 4 hal 122 cet. Daar Ma’rifah.

[12]. Al-Mawahib Al-Jalil jilid 2 hal 388 cet Daar Al-Fikr.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s