Batasan Mengusap Kepala Dalam Berwudhu (bagian 1)

Definisi Al Mashu (mengusap)

Al-mashu (mengusap) secara etimologi (bahasa) berasal dari kata masaha – yamsahu – mashan, mempunyai arti yang beragam, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :

مسح الشيء المُلطخ أو الْمبتل مسحا : أمر يده عليه لإذهاب ما عليه من أثر ماء ونحوه

Mengusap sesuatu yang kotor ataupun basah. dalam artian bahwa melewatkan (menggerakkan) tangan di atas sesuatu untuk menghilangkan sesuatu yang ada di atasnya baik itu berupa bekas air ataupun sejenisnya.

ومسح على الشيء بالمَاء أو الدهن : أمر يده عليه به

Mengusap sesuatu dengan air atau minyak dalam artian melewatkan (menggerakkan) tangan dengan menggunakan air di atas sesuatu tersebut.

ومسح الله العلة عن العليل : شفاه

Allah telah sembuhkan penyakit orang yang sakit. Al-Mashu disini bermakna menyembuhkan.[1] 

إِمرار اليد الْمبتلة بالمَاء على الرأس بلا تسييل

Melewatkan tangan yang dibasahi dengan air di atas kepala tanpa mengairinya.[2]

Adapun pengertian menurut istilah tidak keluar dari makna secara bahasanya yaitu menyampaikan air ke anggota tubuh.[3]

Pandangan Ulama Tentang Mengusap kepala

Mengusap kepala saat berwudhu dihukumi sebagai bagian dari fardhu wudhu oleh para ulama dan bahkan telah mencapai derajat ijma (konsensus). Sebagaimana yang termaktub di kitab Bidayatu Al-Mujtahid karya Al-Qadhi Ibnu Rusyd (w 595 H) :

اتفق العلماء على أن مسح الرأس من فروض الوضوء، واختلفوا في القدر المجزئ منه

para ulama telah bersepakat, bahwasannya mengusap kepala saat berwudhu dikategorikan sebagai bagian dari fardhu wudhu. Namun para ulama berbeda pendapat mengenai batasan atau kadar yang dianggap sah dalam mengusap kepala.[4]

Dalil yang menjadi landasan para ulama dalam menghukumi wajibnya mengusap kepala adalah firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan sholat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan usaplah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata kakimu.[5]

Begitu juga dengan hadits yang diriwayatkan oleh Utsman Bin Affan Radhiyallahu A’nhu. ketika beliau mensifati dan mempraktekkan cara wudhu Nabi Shallallahu A’laihi Wasallam dimana di dalamnya terdapat kalimat :

ثم مسح برأسه

Kemudian Nabi mengusap Kepalanya. (H.R. Bukhori dan Muslim)

Yang dimaksud ar-ra’su (kepala) oleh para ulama adalah tempurung kepala baik itu bagian kulit dan rambutnya. Adapun rambut yang dianggap bagian dari kepala adalah rambut yang tumbuh di bagian depan kepala sampai pada bagian belakang kepala atau punggung. [6]

Batasan dan Kadar Mengusap Kepala

Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat para ulama dalam menentukan kadar dan batasan mengusap kepala. Ada yang membatasinya dengan menyatakan bahwa wajib mengusap semua kepala. Adapula yang berpendapat bahwa yang wajib hanyalah mengusap setengah kepala, sepertiga, dua pertiga, dan seperempat bagian kepala. Dibawah ini saya akan memaparkan para ulama dari mazhab mana saja yang berpendapat demikian dan apa sebab-sebab terjadinya perbedaan pendapat diantara mereka.

Mengusap Kepala Seluruhnya

1.             Mazhab Maliki

Imam Ibnu Abd Al-Bar (w 463 H) dalam kitabnya Al-Kafi menyatakan bahwa tidak sah mengusap sebagian kepala dan inilah pendapat Imam Malik (w 179 H) yang masyhur di kalangan malikiyah.

واختلف أصحاب مالك وسائر أهل المدينة في عموم مسح الرأس. فمنهم من قال : لا يجزئ مسح بعض الرأس, وهو قول مالك المشهور

Para ulama dari kalangan malikiyah dan semua ahli madinah berbeda pendapat tentang keumuman mengusap kepala. diantara mereka ada yang berpendapat bahwa tidak sah mengusap sebagian kepala dan ini juga adalah pendapat Imam Malik (w 179 H) yang masyhur.[7]

Al-Qadhi Ibnu Rusyd (w 595 H) berkata dalam kitabnya Bidayatu Al-Mujtahid : Imam Malik (w 179 H) berpendapat bahwasannya mengusap seluruh kepala merupakan kewajiban (dalam berwudhu).

وذهب مالك إلى أن الواجب مسحه كله

Imam Malik berpendapat bahwa yang wajib dalam mengusap kepala adalah keseluruhannya.[8]

Syihabuddin Ahmad Bin Idris Al-Qarafi (w 684 H) dalam kitabnya Adz-Dzakhira juga menyatakan hal yang serupa, serta menguatkan bahwa kewajiban tersebut untuk lelaki dan perempuan.

الفرض الخامس مسح جميع الرأس في الكتاب يمسح الرجل والمرأة على الرأس كله

Fardhu wudhu yang ke 5 adalah mengusap seluruh kepala Dan wajib bagi lelaki dan perempuan untuk mengusap seluruh kepalanya.[9]

2.             Mazhab Hanbali

Imam Abdullah Bin Ahmad Ibnu Qudamah (w 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni berkata :

لا خلاف في وجوب مسح الرأس وقد نص الله تعالى عليه بقوله : (وامسحوا برؤسكم). واختلف في قدر الواجب. فروي عن أحمد وجوب مسح جميعه في حق كل أحد. وهو ظاهر القول الخراقي, ومذهب مالك

Tidak ada khilaf dalam pendapat mengenai wajibnya mengusap kepala, sebagaimana yang telah dinashkan dalam Firman Allah Ta’ala : Dan Usaplah kepala kamu sekalian. namun terdapat perbedaan pendapat dalam batasan atau kadar yang wajib diusap. Diriwayatkan dari Imam Ahmad tentang wajibnya mengusap semua bagian kepala dan pendapat ini sesuai dengan dhohirnya pendapat Al-Khiraqi dan mazhab Maliki.[10]

Imam Ali Bin Sulaiman Al-Mardawi )w 885 H) dalam kitabnya Al-Inshaf berkata :

وقوله (ويجب مسح جميعه) هذا المذهب بلا ريب. وعليه جماهير الأصحاب. متقدمهم ومتأخرهم.

Kalimat yang berbunyi : “wajib mengusap seluruh kepala” adalah pendapat yang shohih dan tidak diragukan lagi dalam mazhab hanbali. Pendapat ini juga mendapat apresiasi dan dukungan dari para ulama mazhab hanbali baik itu dari kalangan pendahulu ataupun kalangan kontemporer.[11]

Imam Manshur Bin Yunus Al-Buhuty (w 1051 H) dalam kitabnya Kasysyafu Al-Qina’ menyatakan :

(ثم يمسح جميع ظاهر رأسه) من منابت الشعر المعتاد غالبا على ماتقدم في الوجه إلى القفا. لأن الله تعالى أمر بمسح الرأس وبمسح الوجه في التيمم. وهو يجب الاستيعاب فيه. فكذا هنا إذ لا فرق. ولأنه صلى الله عليه وسلم مسح جميعه وفعله وقع بيانا للأية.

Kemudian mengusap seluruh bagian yang nampak dari kepala, baik itu dari rambut yang tumbuh dan nampak di depan wajah ataupun yang tumbuh sampai di pundak. Hal ini sebagaimana perintah Allah ta’ala tentang mengusap kepala dalam berwudhu dan mengusap wajah dalam bertayammum. Dimana saat bertayammum wajib meratakan debu di semua bagian wajah dan hal ini tidak ada bedanya dengan mengusap kepala dalam berwudhu. Dikarenakan Nabi Shallallahu A’laihi Wasallam juga mengusap seluruh bagian kepala. Dan perbuatan yang Beliau Shallallahu A’laihi Wa sallam praktekkan merupakan penjelasan dari ayat-ayat yang tertera dalam Al-Quran.[12]

Mengusap Sebagian Kepala

1.     Mazhab Maliki

Imam Ibnu Abd Al-Bar (w 463 H) memaparkan dalam kitabnya Al-Kafi bahwa sebagian ulama dari kalangan malikiyah membolehkan mengusap sebagian kepala.

ومنهم من أجاز مسح بعضه

Diantara mereka ada yang membolehkan mengusap sebagian kepala.[13]

Al-Qadhi Ibnu Rusyd (w 595 H) juga memaparkan hal yang senada dengan Imam Ibnu Abdil Bar (w 463 H) bahwa ada juga kalangan malikiyah yang berpendapat wajibnya mengusap hanya sebagian kepala saja.

وذهب الشافعي وبعض أصحاب مالك وأبو حنيفة إلى أن مسح بعضه هو الفرض

Imam Syafi’i (w 204 H), sebagian kalangan maliki dan Abu Hanifah (w 150 H) berpendapat bahwa fardhunya mengusap kepala ada sebagian saja.[14]

2.     Mazhab Syafi’i

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah (w 204 H) dalam kitabnya Al-Um menyatakan bahwa :

قال الشافعي رحمه الله : قال تعالى : وامسحوا برءوسكم. و كان معقولا في الأية أن من مسح من رأسه شيئا فقد مسح برأسه, ولم تحتمل الأية إلا هذا, وهو أظهر معانيها, أو مسح الرأس كله. ودلت سنة على أن ليس على المرء مسح الرأس كله. وإذا دلت السنة على ذالك فمعنى الأية : أن من مسح شيئا من رأسه أجزأه.

وقال الشافعي : إذا مسح الرجل بأي رأسه شاء, إن كان لا شعر عليه وبأي شعر رأسه شاء بأصبع واحدة أو بعض أصبع, أو بطن كفه, أو أمر من يمسح به أجزأه ذالك. فكذالك إن مسح نزعتيه, أو إحداهما أو بعضهما أجزأه, لأنه من رأسه

adapun ayat yang memerintahkan untuk mengusap kepala dalam berwudhu, sudah ma’qul (bisa dipahami) arti dan maksudnya, yaitu dengan mengusap sesuatu bagian dari kepalanya maka sudah bisa dianggap sebagai mengusap kepala. Beliau juga menyatakan bahwa ayat dalam surat Al-Maidah tersebut tidak memiliki interpretasi (tafsiran) melainkan hanya dimaknai dengan mengusap sebagian ataupun keseluruhan kepala. Namun mengusap sebagian kepala itu mempunyai makna yang lebih jelas ketimbang dengan mengusap kepala seluruhnya. Hadits atau sunah Nabi Shallallahu A’laihi Wasallam menunjukkan bahwa wajibnya mengusap bukanlah keseluruhan kepala. Dan sunah Nabi shallallahu a’laihi wasallam tersebut merupakan penjelasan dari ayat Al Quran.

Masih menurut Imam Syafi’i (w 204 H) : sah saja jika seorang lelaki mengusap di bagian kepala manapun yang dia inginkan jika dia tidak mempunyai rambut dan juga sah saja jika dia mengusap rambut di bagian manapun yang dia inginkan dengan menggunakan satu jari, sebagian jari, telapak tangannya ataupun menyuruh orang untuk mengusapkannya. Begitu juga sah jika seorang mengusap kedua jambul di kepalanya, salah satunya atau sebagiannya dikarenakan hal itu masih dianggap sebagai bagian dari kepala.[15]

Imam Nawawi (w 676 H) dalam kitabnya Al-Majmu menyatakan :

)والواجب منه أن يمسح ما يقع عليه اسم المسح و إن قل وقال أبو العباس بن القاص أقله ثلاث شعرات كما نقول في الحق في الاحرام والمذهب أنه لا يتقدر لان الله تعالى أمر بالمسح وذلك يقع على القليل والكثير)

(الشرح) المشهور في مذهبنا الذى تظاهرت عليه نصوص الشافعي وقطع به جمهور الاصحاب في الطرق أن مسح الرأس لا يتقدر وجوبه بشئ بل يكفى فيه ما يمكن قال أصحابنا حتى لو مسح بعض شعرة واحدة أجزأه

kewajiban mengusap kepala hanya berkisar kepada gugur dan tidaknya penamaan kata mengusap Walaupun hanya sedikit. Abu Al-‘Abbas bin Al-Qas berkata : paling sedikitnya usapan yaitu mengusap 3 helai rambut sebagaimana yang kita katakan tentang mencukur di saat ihram. Namun pendapat yang masyhur di dalam mazhab adalah tidak ada batasan mengusap dikarenakan Allah Ta’ala hanya memerintahkan untuk mengusap. Perintah itu menjadi gugur jika telah dilaksanakan baik itu dengan sedikit usapan ataupun banyak.

Pendapat yang masyhur di mazhab kami yang sudah dijelaskan oleh nash-nash Imam Syafi’i (w 204 H) dan dipastikan oleh mayoritas kalangan syafi’iyah dalam berbegai jalur periwayatan bahwasannya mengusap kepala tidak ada batasan wajibnya. Cukup saja dengan mengusap bagian yang memungkinkan untuk diusap walaupun hanya dengan mengusap sebagian dari sehelai rambut, hal ini sudah dianggap sah oleh para pakar fikih dari mazhab syafi’iyah.[16]

Imam Romli (w 1096 H) dalam kitabnya Nihayatu Al-Muhtaj menyatakan bahwa yang wajib adalah mengusap kulit kepala walaupun Cuma sebagian kecil, sebagian rambut ataupun sebagian helai rambut. Dan bagian yang diusap tidak berada di luar zona batasan kepala.

( الرابع  من المَفروض ( مسمى مسح لبشرة رأسه ) وإن قل ( أو ) بعض ( شعر ) ولو بعض واحدة ( في حده ) أي الرأس

Yang ke empat dari wardhunya wudhu adalah yang dinamakan mengusap kulit kepalanya walaupun hanya sedikit atau mengusap rambut walaupun hanya sebagian helai rambut di dalam batasannya yaitu batasan kepala. [17]

3.     Mazhab Hanbali

Imam Ibnu Qudamah (w 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni memaparkan riwayat dari Imam Ahmad (w 241 H) yang menyatakan bahwa sah mengusap sebagian kepala, namun jika dimungkinkan untuk mengusap semuanya maka seyogyannya untuk melakukannya.[18]

و روي عن أحمد : يجزأ مسح بعض. قال أبو الحارث : قلت لإ حمد : فإن مسح برأس وترك بعضه؟ قال يجزئه. ثم قال ومن يمكنه أن يأتي على رأس كله.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad (w 241 H) : sah jika mengusap sebagian kepala. Abu Al-Harits berkata : aku bertanya kepada Imam Ahmad (w 241 H) “ bagaimana jika seorang mengusap kepala dan tidak mengusap sebagian lainnya? beliau berkata : sah usapan itu. kemudian beliau berkata : dan bagi siapa saja yang memungkinkan untuk mengusap seluruh kepala maka lakukanlah.

Imam Ali Bin Sulaiman Al-Mardawi )w 885 H) dalam kitabnya Al-Inshaf juga memaparkan riwayat dari Imam Ahmad (w 241 H) yang menyatakan bahwa bolehnya mengusap sebagian kepala.[19]

وقال : ذكره شيخنا . وعنه يجزئ مسح بعض الرأس من غير تحديد

Syaikh kami (Imam Ahmad) telah menyebutkan bahwasannya sah mengusap sebagian kepala tanpa adanya batasan.

4.     Mazhab Dzohiri

Ibnu Hazm (w 456 H) dalam kitabnya Al-Muhalla menyatakan bahwa yang wajib dalam mengusap kepala adalah sebagian saja. Dikarenakan dalam bahasa terdapat makna yang berbeda di antara kata mengusap dan mengusap. Adapun kata mengusap mengharuskannya untuk meratakan air dibagian anggota tubuh yang dibasuh sedangkan mengusap tidaklah diharuskan meratakan air ke seluruh bagian anggota tubuh yang diusap.[20]

ثم يمسح رأسه كيفما مسحه اجزأه وأحب الينا ان يعم رأسه بالمسح، فكيفما مسحه بيديه أو بيد واحدة أو بأصبع واحدة أجزأه. فلو مسح بعض رأسه أجزأه وإن قل، ونستحب أن يمسح رأسه ثلاثا أو مرتين وواحدة تجزئ…

وقال داود: يجزئ من ذلك ما وقع عليه اسم مسح، وكذلك بما مسح من أصبع أو أقل أو أكثر وأحب إليه العموم ثلاثا وهذا هو الصحيح، وأما الاقتصار على بعض الرأس فان الله تعالى يقول (وامسحوا برءوسكم) والمسح في اللغة التي نزل بها القرآن هو غير الغسل بلا خلاف، والغسل يقتضى الاستيعاب، والمسح لا يقتضيه

Kemudian mengusap kepalanya dengan cara apapun maka sudah dianggap sah. Namun kami lebih menyukai cara mengusap dengan meratakan usapan di kepala. begitupula sah saja mengusap kepala dengan cara apapun baik itu dengan menggunakan dua tangan, satu tangan ataupun dengan satu jari. Jika dia mengusap sebagian kepala walaupun sedikit maka sudah dianggap sah. Kami menganjurkan (mensunahkan) agar mengusap kepala tiga kali ataupun dua kali dan sekali usapan sudah dianggap sah.

Imam Daud berkata : sahnya mengusap adalah dengan gugurnya penamaan kata mengusap, begitupula dengan sesuatu yang digunakan untuk mengusap dari jari-jemarinya baik itu sedikit atau banyak dan yang paling disukainya adalah meratakan usapan sebanyak tiga kali dan inilah pendapat yang benar. Adapun batasan mengusap sebagian kepala dikarenakan firman Allah Ta’ala : dan usaplah kepala kalian. Arti al-mashu (mengusap) dalam bahasa arab berbeda dengan arti al-gaslu (membasuh) dan perbeedaan arti ini tidak ada (ahli bahasa) yang menentangnya. Adapun membasuh mempunyai arti meratakan sedangkan mengusap tidak berarti meratakan.

Mengusap 1/3 dan 2/3 kepala

1.     Mazhab maliki

Imam Ibnu Abd Al-Bar (w 463 H) dalam kitabnya Al-Kafii dan Imam Al-Qarafi (w 684 H) dalam kitabnya Adz-Dzakhira menukilkan pendapat Abul Faraj (w 331 H) dari kalangan malikiyah yang membolehkan mengusap 1/3 bagian kepala dan tidak sah jika kurang dari 1/3. Begitu pula pendapat Muhammad Bin Maslamah (w 206 H) yang membolehkan mengusap 2/3 bagian kepala. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Malik (w 179 H).[21] Di bawah ini saya sajikan teks arabnya.

ذكر أبو الفرج عن محمد بن مسلمة أنه قال: لا يجزئ ان يمسح دون ثلثه وإليه ذهب أبو الفرج [والذي حكاه عن محمد بن مسلمة وهم والله أعلم ، والمعروف لمحمد بن مسلمة ومنهم من يرويه عن مالك أنه إن أسقط من مسح رأسه ثلثه فما دون أنه يجزيه ولا يجزيه إن كان المتروك من الرأس أكثر من ثلثه في المسح] هذا قول محمد بن مسلمة فيما ذكر إسماعيل في المبسوط فلهذا قلنا: إن ماذكره أبو الفرج وهم وما ذكره إسماعيل عنه يشبه أصول مالك في استدارة الثلث في مواضع كثيرة من كتبه وأصول مذاهبه وما زاد على الثلث عنده فكثيرا يراعى ذلك ويعتبره ولا يلغيه في شيء من مذاهبه فكأنه والله أعلم أنه لا يكاد أحد يسلم من أن يفوته الشئ اليسير من شعر رأسه عند مسحه بعد اجتهاد فجعل الثلث فما دونه في حكم ذلك واجزأه عنده إذا أتى على مسح الثلثين فأكثر هذا وجه ما ذهب إليه محمد بن مسلمة وعزاه إلى مالك والله أعلم وقد يخرج قول أبي الفرج على أصل مالك والله أعلم في استدارة الثلث وقد اوضحت ذلك في كتاب التمهيد والمسح عندي ليس شأنه الاستيعاب.

2.     Mazhab Hanbali

Imam Al Mardawi (w 885 H) dalam kitabnya Al-Inshaf juga menukilkan riwayat dari Imam Ahmad (w 241 H) yang menyatakan bahwa : sah jika mengusap kebanyakan dari bagian kepala. Abu Al-Khattab (w 432 H) menafsirkan kadar banyak dan sedikitnya dalam mengusap kepala. Menurutnya kadar banyak adalah 2/3 atau lebih dan kadar sedikit adalah 1/3 atau dibawahnya. [22]

[1]. Mu’jam Al-Wasith hal 867 cet ke 4 Maktabah Syuruq Dauliyah tahun 2004 M

[2]. At-Ta’rifat karya Jurjani hal 272 cet Darul Kitab Al Arabi

[3]. Raddu Al-Muhtar A’la Durri Al-Mukhtar jilid 1 hal 67 cet Ihya At Turats

[4]. Bidayatu Al-Mujtahid Wa Nihayatu Al-Muqtashid hal 15 cet Dar Ibnu Hazm tahun 2006 M

[5]. Al Quran Surah Al-Maidah Ayat 6

[6]. Adz-Dzakhira jilid 1 hal. 259 cet. pertama Darul Gharb Al Islami tahun 1994 M. Ditahqiq oleh Dr. Muhammad Hujji. Hasyiyah Ad-Dasuki

jilid 1 hal 88 cet penerbit Darul Fikr. Kasysyafu Al-Qina’ jilid 1 hal 91 cet pertama tahun 1997 M. penerbit A’lah Al Kutub. Yang di tahqiq oleh

Muhammad Amin Ad Dinnawi. Al-Inshaf Fii Ma’rifati Ar-Rojih Minal Khilaf jilid 1 hal 209 cet pertama tahun 1997 M. Penerbit Darul Kutub

Ilmiyah, yang ditahqiq oleh Abu Abdillah Muhammad Bin Hasan As Syafii.

[7]. Al-Kafi Fii Fiqhi Ahli Al-Madinah hal 22 cet ke 2 tahun 1996 M. Penerbit Darul Kutub Ilmiyah beirut libanon.

[8]. Bidayatu Al-Mujtahid Wa Nihayatu Al-Muqtashid hal 15 cet Dar Ibnu Hazm tahun 2006 M

[9]. Adz-Dzakhira jilid 1 hal 259 cet. Pertama. penerbit Darul Gharb Al Islami tahun 1994 M. Ditahqiq oleh Dr. Muhammad Hujji.

[10]. Al-Mughni Jilid 1 Hal 175 cet ke 3 tahun 1997 M. Penerbit Dar A’lam Al Kutub Riyadh. Yang ditahqiq oleh Dr. Abdullah Bin Abdul Muhsin

At Turki dan Dr. Abdul Fatah Muhammad Al Hulwu.

[11]. Al-Inshaf Fii Ma’rifati Ar-Rojih Minal Khilaf jilid 1 hal 159-160 cet pertama tahun 1997 M Darul Kutub Ilmiyah, yang ditahqiq oleh Abu

Abdillah Muhammad Bin Hasan As Syafii.

[12]. Kasysyafu Al-Qina’ jilid 1 hal 91 cet pertama tahun 1997 M. penerbit A’lah Al Kutub. Yang ditahqiq oleh Muhammad Amin Ad-Dinnawi.

[13]. Al-Kafi Fii Fiqhi Ahli Al-Madinah hal 22 cet ke 2 tahun 1996 M. Penerbit Darul Kutub Ilmiyah beirut libanon.

[14]. Bidayatu Al-Mujtahid Wa Nihayatu Al-Muqtashid hal 15 cet Dar Ibnu Hazm tahun 2006 M

[15]. Al-Um jilid 2 hal 56-57. cet pertama tahun 2001 M. Penerbit Darul Wafa. Yang ditahqiq oleh Dr. Rif’at Fauzi Abdul Mutholib.

[16]. Al-Majmu’ Syarhu Al-Muhadzdzab jilid 1 hal 430. cet Maktabah Al Irsyad Jeddah tanpa tahun. Yang ditahqiq oleh Muhammad Najib Al

Muthi’i.

[17]. Nihayatu Al-Muhtaj Ilaa Syarhi Al-Minhaj jilid 1 hal 174. cet ke 3. Penerbit Darul Kutub Al I’lmiyah beirut.

[18]. Al-Mughni Jilid 1 Hal 175 cet ke 3 tahun 1997 M. Penerbit Dar A’lam Al Kutub Riyadh. Yang ditahqiq oleh Dr. Abdullah Bin Abdul Muhsin

At Turki dan Dr. Abdul Fatah Muhammad Al Hulwu.

[19]. Al-Inshaf Fii Ma’rifati Ar-Rojih Minal Khilaf jilid 1 hal 160 cet pertama tahun 1997 M Darul Kutub Ilmiyah, yang ditahqiq oleh Abu Abdillah

Muhammad Bin Hasan As Syafii.

[20]. Al-Muhalla jilid 2 hal 49 dan 52 Cet pertama 1349 H. Penerbit. Idarah At Thiba’ah Al Muniriyah Mesir.

[21]. Al-Kafi Fii Fiqhi Ahli Al-Madinah hal 22 cet ke 2 tahun 1996 M. Penerbit Darul Kutub Ilmiyah beirut libanon. Adz-Dzakhira jilid 1 hal 259 cet. Pertama. penerbit Darul Gharb Al Islami tahun 1994 M. Ditahqiq oleh Dr. Muhammad Hujji.

[22]. Al Inshaf Fii Ma’rifati Ar Rojih Minal Khilaf jilid 1 hal 160 cet pertama tahun 1997 M Darul Kutub Ilmiyah, yang ditahqiq oleh Abu Abdillah Muhammad Bin Hasan As Syafii.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s