Menghina Rasulullah, Kafirkah ?

Beberapa hari lalu ada teman mengirimi pesan di group whatsapp. Pesan itu berisikan kalimat yang menunjukkan kebahagiannnya atas terjadinya tragedi serangan yang menewaskan 12 orang terhadap majalah satir di Paris, Prancis, Charlie Hebdo, pada Rabu (7/1) lalu. Para pelaku pembunuhan digadang – gadang layaknya para pahlawan. Hal senada juga dapat kita lihat di beberapa situs-situs pemberitaan yang menisbatkan dirinya sebagai media Islam. mereka memakai pendalilan bahwa menghina Rasulullah shollallahu a’laihi wa sallam adalah penghinaan terhadap Allah Ta’ala. Dan hukuman bagi para penghina Rasulullah S.A.W adalah hukuman mati. Saya di buatnya penasaran dengan statement ini. Sehingga membuat saya membuka buku-buku untuk mencari-cari Bagaimanakah sikap dan pendapat para Ulama tentang orang yang menghina Rasulullah S.A.W ? dalam tulisan sederhana ini saya akan menuangkan sedikit informasi yang saya dapati tentang hukum bagi para penghina Rasulullah S.A.W. dalam perspektif Islam.

Dalam masalah ini para ulama membagi hukum tentang seorang yang menghina Nabi S.A.W berdasarkan statusnya dalam beragama dan situasi serta kondisinya ketika mengucapkan penghinaan tersebut. Baik pelaku sebagai seorang muslim, kafir dzimmi ataupun dalam keadaan mabuk dan dipaksa dengan ancaman. Penghinaan pun juga di bagi menjadi 2 yaitu penghinaan secara shorih atau jelas dan penghinaan dengan sindiran.

Sabban atau syatman adalah bahasa arab yang berarti penghinaan. Ulama mendefinisikan apa yang di maksud dengan sabban yaitu perkataan atau ucapan yang bermaksud untuk meremehkan dan merendahkan martabatnya, serta akal manusia memahami ucapan tersebut sebagai penghinaan walaupun aqidah atau keyakinan mereka berbeda-beda mengenai ucapan tersebut seperti pelaknatan dan pencemoohan.[1] Dalam artian bahwa terkadang orang-orang mengumpat dan menjelek-jelekkan Tuhan atau ajaran-ajaran yang berbeda dengan ajarannnya dan meyakini bahwa ucapan dia adalah sebuah kebenaran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.[2]

Hal-hal yang dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap Rasulullah S.A.W adalah semua hal yang di tujukan kepada Rasulullah S.A.W baik berupa aib atau kekurangan yang terdapat dalam dirinya, nasabnya, agamanya, perangainya, kehormatannya, ataupun melaknat Rasulullah S.A.W, mencemooh, mencari-cari kesalahannya, menuduh dan menfitnah kepadanya.[3]

Hukum seorang Muslim menghina Nabi

Para ulama berpendapat bahwa seorang muslim yang menghina Rasulullah S.A.W dihukumi telah murtad dan menjadi kafir.[4] Bahkan syekh Ibnu Taymiyah (w 728 H) menguatkan pendapat ini dengan mengatakan bahwa para ulama sepakat jika yang menghina itu adalah orang muslim maka dia menjadi kafir dan dibunuh tanpa ada khilaf (perbedaan).[5] Adapun para ulama berbeda pendapat tentang meminta dan menyuruh orang yang menghina Rasulullah S.A.W untuk bertaubat dan begitu pula tentang taubatnya di terima atau tidak dan apakah taubatnya tersebut menggugurkan sanksi dan hukuman terhadapnya.

Kalangan mazhab hanafiyah[6] dan hanabilah[7] berpendapat bahwa orang yang menghina Nabi S.A.W dinyatakan telah murtad dan diminta untuk bertobat. Jika dia bertaubat maka taubatnya di terima. Berbeda dengan keduanya mazhab syafiiyah sebagaimana yang dinukilkan oleh Imam As Subki (w 771 H) berpendapat bahwa orang yang menghina Nabi S.A.W di hukumi sebagai seorang yang murtad dan bahkan lebih dari pada itu. mereka berhujjah bahwasannya penghina tersebut telah menjadi kafir dan kemudian menjadi murtad serta telah terkumpul 2 alasan yang mewajibkan untuk membunuhnya yang pertama adalah kekafiran dan yang ke dua ada adalah kemurtadan atau keluar dari Islam.[8] Adapun kalangan malikiyah berpendapat bahwa orang yang menghina nabi dinyatakan kafir dan tidak diminta untuk bertaubat kecuali dia seorang yang sebelumnya adalah seorang kafir dan bertaubat dengan memeluk agama Islam.[9]

Adapun letak dan asal perbedaan para ulama dalam menyikapi hal tersebut sebagaimana di sebutkan oleh Al Qadhi I’yad (w 544 H) adalah perbedaan tentang di terimanya atau tidak taubatnya seorang yang murtad serta gugurnya sanksi terhadapnya. Kelompok ulama yang berpendapat bahwa pelaku tidak diminta untuk bertaubat dan langsung di eksekusi mati berpendapat bahwa penghinaan terhadap Nabi S.A.W berkaitan dengan hak adami (manusia) dan sanksi bagi penghinanya adalah sesuatu yang tidak gugur dikarenakan pertaubatannya sebagaimana sanksi terhadap kejahatan zina, mencuri, membunuh dan lain sebagainya. Kelompok ulama ini lebih menitik beratkan penghinaan tersebut kepada hal-hal yang dianggap sebagai perbuatan kriminal atau kejahatan dan bukan kepada kekafirannya. Sedangkan kelompok ulama yang lainnya berpendapat bahwa kemurtadannya sama sebagaimana kemurtadan yang lain dan karena itu taubatnya di terima dan gugur sanksinya.[10]

Hukum Seorang Kafir Dzimmi Menghina Nabi

Dalam pembahasan ini terdapat beragam pendapat dari para ulama mengenai hukum seorang kafir dzimmi ketika menghina Nabi S.A.W. kalangan hanafiyah berpendapat bahwa seorang kafir dzimmi yang menghina Nabi S.A.W tidaklah mencabut perjanjian antara dia dan kaum muslimin. Dan si kafir dzimmi tersebut tidaklah mendapat sanksi eksekusi mati. Namun tetap diberi peringatan dan diajarkan agar menjadi orang yang beradab. Bagi kalangan hanafiyah kesyirikannya lebih besar daripada penghinaannya terhadap Nabi S.A.W dan tercabutnya perjanjian dengannya hanya berkisar kepada mau dan tidaknya dia menerima dirinya dikenai zijyah (pajak untuk keamanannya) dan bukan kepada penghinaan terhadap Nabi ataupun dengan tidak nya dai menunaikan jizyah. [11]Mereka memakai dalil dari hadits Nabi S.A.W sebagai berikut :

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ رَهْطًا مِنْ الْيَهُودِ دَخَلُوا عَلَيْهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالُوا : السَّامُ عَلَيْكَ , فَقَالَ وَعَلَيْكُمْ , قَالَتْ : فَفَهِمْتُهَا وَقُلْت : عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ , فَقَالَ صلى الله عليه وسلم مَهْلا : يَا عَائِشَةُ فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ , قَالَتْ : فَقُلْت يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا ؟ قَالَ صلى الله عليه وسلم : قَدْ قُلْت وَعَلَيْكُمْ

Artinya : Dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu a’nha bahwasanya sekelompok yahudi mendatangi Rasulullah S.A.W seraya berkata : kebinasaan teruntuk dirimu. Maka Rasulullah S.A.W pun membalasnya dengan mengatakan : begitupula kepada kalian. Lalu Sayyidah Aisyah R.A. berkata : Aku memahami apa yang mereka katakan, Lalu aku (Aisyah) katakan : senantiasa kematian (kehancuran) dan laknat teruntuk kalian. Namun Rasulullah S.A.W pun bersabda : berlemah lembutlah wahai aisyah, sesungguhnya Allah menyukai perangai lemah lembut disetiap perkara. Maka sayyidah aisyahpun berkata : apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan? Maka Rasulullah S.A.W bersabda : aku telah katakan : begitupula atas kalian (kematian).[12]

Dari hadits ini kita dapat memahami bahwa kata-kata tersebut adalah bentuk penghinaan kepada Rasulullah S.A.W. karena itulah dengan kecerdasan Sayyidah Aisyah R.A. langsung mengingkari ucapan mereka dengan membalas ucapannya berikut melaknat mereka. Namun Rasulullah S.A.W malah menyuruhnya untuk berlemah lembut dan Bukan malah membalasnya dengan laknatan ataupun hal-hal yang semisalnya.

Kalangan malikiyah berpendapat bahwa seorang dzimmi menghina Nabi S.A.W baik itu secara terang-terangan atau sindiran dan mensifati Nabi S.A.W dari aspek yang bukan berada dalam zona kekafiran mereka, maka tidak ada perbedaan dalam mengeksekusi mati kecuali jika dia memeluk Islam maka batal hukuman dan sanksi kepadanya. Mereka mengambil dalil dari Firman Allah Ta’ala

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ

Artinya: Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti. [13]

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِين

Artinya : Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.[14]

Pembunuhan terhadap terhadap kaab bin asyrof oleh Muhammad bin Maslamah pun turut dijadikan dalil oleh kalangan malikiyah. [15]

Adapun kalangan syafiiyah berpendapat : jika di dalam persyaratan perjanjian kafir dzimmi tersebut ada pasal tentang larangan menghina Nabi S.A.W maka perjanjian tersebut gugur dan diserahkan kepada Imam (pemimpin) agar memilih sanksi dan hukuman yang pantas baginya, baik itu dieksekusi mati, dijadikan budak dan hartanya dijadikan fai (harta rampasan tanpa adanya pertempuran), memberikan pengampunan atau dengan meminta tebusan atas pelanggarannya jika dia tidak meminta untuk memperbaharui perjanjiannya.[16]

Imam Ahmad Bin Hanbal (w 241) memberikan pernyataan bahwa setiap orang yang menghina nabi baik itu muslim ataupun kafir maka wajib dibunuh dan tidak diminta untuk bertaubat.[17]

Hukum Menghina Nabi Dengan Sindiran

Para ahli fiqih dari kalangan hanafiyah, malikiyah, syafiiyah dan salah satu pendapat dari kalangan hanabilah menyatakan bahwa Menghina Nabi S.A.W dengan sindiran sama dengan menghina Nabi S.A.W secara terang-terangan.[18] Namun ada juga pendapat yang bertentangan dengan jumhur ulama yang menyatakan bahwa sindiran tidak sama dengan penghinaan secara terang-terangan.[19]

[1] . ash shorim al maslul a’la syatmi ar rasul hal 556

[2] . Al An’am ayat 108

[3] . as saif al maslul hal 79. Asy syamil 2/171

[4] . al fatawa al bazaziyah 6/321-322 cet darul fikr . Al Jamal a’lal minhaj 5/130 cet darul fikr. Tuhfatul muhtaj bii syarhil minhaj 9/87 cet ihya at turats. Al mughni lil Ibni Qudamah 9/28 cet maktabah al qohirah. Raddul muhtar a’la durri al mukhtar 4/232 cet darul fikr. as-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa hal 567 cet. Darul fikr yang ditahqiq oleh Dr. Abdus salam al bukari. Fatawa As Subki 2/573

[5] . ash shorim al maslul a’la syatmi ar rasul hal 3 cet Al Harasu al Wathoni As Su’udi

[6] . Raddul muhtar a’la durri al mukhtar 4/233 cet darul fikr

[7] . al hidayah lil kaludzani hal 202. ash shorim al maslul a’la syatmi ar rasul hal 53

[8] . as saif al maslul hal 2. Manar al sabiil 2/409

[9] . hasyiyah ad dasuki 4/309 cet darul fikr

[10] . as-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa hal 567-560 cet. Darul fikr yang ditahqiq oleh Dr. Abdus salam al bukari. al fatawa al bazaziyah 6/321-322 cet darul fikr.

[11] . Syarhu Fathu Al Qadir A’la Al Hidayah 4/381 cet. Al Amiriyah. as-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa hal 572 cet. Darul fikr yang ditahqiq oleh Dr. Abdus salam al bukari. Raddul muhtar a’la durri al mukhtar 4/233 cet darul fikr

[12] . Shohih Muslim hadits nomer 5784 cet darul jail beirut

[13] . Q.S At Taubah Ayat 12

[14] . Q.S Al Anfal Ayat 38

[15] . as-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa hal 572 cet. Darul fikr yang ditahqiq oleh Dr. Abdus salam al bukari. `syarhu Az Zarqoni A’la Mukhtashor Kholil 3/147 cet. Darul Fikr. Syarhu Mukhtashor Kholil Lil Khorosyi 3/149 cet. Dar Shodir. HR. Al-Bukhari no. 4037. Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 1801

[16] . Hasyiyah Jamal a’la syarhi Al Minhaj 5/227 cet. Darul Fikr . Asna Al Matholib Syarhu Radhi At Tholib 4/223 cet. Darul Kitab Al Islami.

[17] . ash shorim al maslul a’la syatmi ar-rasul hal 527 cet. Dar Ibnu Hazm

[18] . Syarhu Al Mawahib Al Laduniyah 5/315. Syarhu Manhu Al Jalil A’la Mukhtashor Kholil 4/476-478 cet. Dar Shorim. Asna Al Matholib Syarhu Radhi At Tholib 4/122 cet. Darul Kitab Al Islami . syarhu muntahal iradat 3/386. Cet. Darul fikr. Al Inshof Lil Mardawi 10/333 cet. Ihya At Turats. Ia’natu At Tholibin 4/139 cet. Mushtofa Al Halbi. Hasyiyah Ad Dasuki A’la Syarhi Al Kabir 4/309 cet. Darul Fikr

[19] . Tabshirotul Ahkam li Ibni Farhun 2/286 cet. Darul Ma’rifah

Iklan

2 thoughts on “Menghina Rasulullah, Kafirkah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s