Arsip Bulanan: Juli 2015

Berpuasa ataukah membatalkannya yang Lebih Utama Bagi Seorang Musafir Di Bulan Ramadhan

Di bulan ramadhan kita sering disuguhkan dengan berita tentang fenomena pulang kampung atau yang biasa disebut dengan mudik. Di saat mudik seseorang terkadang menempuh jarak yang jauh, hal ini terkadang membuatnya lemas dan letih dikarenakan beban dalam perjalanan. Dalam kondisi ini ulama sepakat membolehkannya untuk berbuka atau membatalkan puasanya jika perjalanannya telah mencapai jarak yang dibolehkan untuk mengqashar shalat. Namun timbul sebuah pertanyaan, apakah berbuka baginya lebih utama ataukah berpuasa?

Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat dan terbagi menjadi 3 kelompok. Kelompok yang pertama berpendapat bahwa yang lebih utama bagi seorang musafir ketika safar adalah berpuasa jika hal itu tidak membahayakan dirinya, pendapat ini berasal dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah. Kelompok kedua mempunyai pendapat yang sebaliknya yaitu berbuka lebih utama daripada berpuasa pendapat ini berasal dari kalangan Hanabilah. Sedangkan kelompok yang ketiga berpendapat bahwa wajib berbuka jika dalam perjalanan yang sudah mencapai jarak mengqashar shalat dan batal puasanya jika ditetap memaksakan diri untuk berpuasa, pendapat ini berasal dari kalangan Azh-Zhahiriyah. Untuk lebih jelasnya marilah kita langsung menyelami pendapat-pendapat dari para ulama masing-masing mazhab di dalam kitab-kitabnya.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Dalam mazhab ini puasa lebih afdhal bagi seorang musafir jika hal itu tidak membahayakannya.

 

Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menuliskan sebagai berikut :

ثم الصوم في السفر أفضل من الإفطار عندنا إذا لم يجهده الصوم و لم يضعفه

Kemudian menurut kami berpuasa disaat safar (berpergian) lebih utama dibandingkan dengan berbuka jika berpuasa tidak menyusahkannya dan membuatnya menjadi lemah.[1]

Al-Marghinani (w. 593 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi menuliskan sebagai berikut :

(وَإن كان مسافرا لا يستضر بالصومِ فصومه أفضل , وإن أفطر جاز) لأن السفر لا يرى عن المشقة فجعل نفسه عذرا

Jika seorang musafir berpuasa dan puasanya tidak membahayakan baginya maka berpuasa lebih utama untuknya. Namun boleh saja jika dia berbuka dikarenakan dalam safar tidak akan terlepas dari kesusahan maka dijadikan safar sebagai udzur yang tersendiri bagi dirinya.[2]

Az-Zaila’i (w. 743 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq menuliskan sebagai berikut :

وللمسافر وصومه أحب إن لم يضره

Dan bagi seorang musafir puasanya lebih disukai jika tidak membahayakannya.[3]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Dalam mazhab Malikiyah seorang musafir yang kuat untuk berpuasa maka lebih utama baginya berpuasa. Namun jika dia ingin berbuka maka dibolehkan baginya. Ada juga riwayat dari Imam Malik yang tidak menentukan mana yang lebih utama dan bebas memilih yang mana yang diinginkan seorang musafir.

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan sebagai berikut :

فإن صام في السفر أجزأه والصوم عندنا أفضل فيه من الفطر لمن قدر عليه

Jika (seorang musafir) berpuasa di perjalanan maka sah puasanya. Dalam pandangan kami berpuasa lebih utama daripada berbuka bagi seorang musair jika dia mampu untuk melakukannya.[4]

Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut :

الصوم في السفرأفضل لقوله تعالى وأن تصوموا خير لكم وروي عن مالك التخيير,واستحب ابن الماجشون وابن حنبل الإفطار لقوله في أبي داوود ليس من البر الصيام في السفر

Lebih utama berpuasa di dalam perjalanan Dikarenakan firman Allah Ta’ala : dan berpuasa lebih baik bagimu. (Q.S. Al-Baqoroh 184). diriwayatkan Dari Imam Malik yang berpendapat bebas memilih diantara keduanya (tidak ada pengutamaan terhadap salah satu dari keduanya). Ibnu majisun (dari kalangan malikiyah) dan Imam Ahmad Bin Hanbal mensunahkan berbuka puasa (bagi musafir) dikarenakan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : berpuasa disaat safar tidaklah termasuk perbuatan yang baik. H.R. Abu Dawud.[5]

3. Mazhab Asy-Syafi’i

Dalam Mazhab ini, seorang musafir yang perjalanannya bukan ditujukan untuk bermaksiat maka lebih utama baginya berbuka jika ditakutkan berpuasa dapat mendatangkan bahaya baginya. Namun jika dia mampu untuk berpuasa dan tidak membahayakan baginya maka berpuasa lebih utama baginya.

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menuliskan sebagai berikut :

فإن كان سفره فوق مسافة القصر وليس معصية فله الفطر في رمضان بالإجماع مع نص الكتاب والسنة قال الشافعي والأصحاب: له الصوم وله الفطر (وأما) أفضلهما فقال الشافعي والأصحاب: إن تضرر بالصوم فالفطر افضل والا فالصوم افضل

Jika jarak perjalanannya diatas atau melebihi jarak yang dibolehkan untuk melakukan qashar (shalat) dan bukan untuk bermaksiat maka dia mempunyai hak untuk berbuka di bulan Ramadhan sesuai dengan ijma’, Al-Kitab dan As-Sunnah. Imam Syafi’i dan para pemuka mazhab syafi’i berkata : baginya hak untuk berpuasa dan berbuka adapun yang lebih utama baginya adalah berbuka jika puasanya dapat membahayakan dirinya namun jika tidak membahayakan maka berpuasa lebih utama daripada berbuka.[6]

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) yang juga ulama mazhab Asy-syafi’iyah di dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib menuliskan sebagai berikut.

الصوم للمسافر أفضل) من فطره

Berpuasa bagi seorang musafir lebih utama daripada membatalkannya.[7]

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitab Tuhfatu Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

أنه إن تضرر بالصوم فالفطر أفضل وإلا فالصوم أفضل

Bahwasannya jika dengan berpuasa dapat membahayakan dirinya (musafir) maka lebih utama baginya untuk membatalkan puasanya. Namun jika tidak membahayakannya maka berpuasa lebih utama baginya.[8]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Dalam mazhab Hanabilah berbuka lebih utama daripada berpuasa walaupun dalam perjalannya tidak ditemukan kesusahan dan beban yang memberatkan si musafir.

 

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut :

فصل: والأفضل عند إمامنا، – رحمه الله -، الفطر في السفر، وهو مذهب ابن عمر، وابن عباس، وسعيد بن المسيب، والشعبي، والأوزاعي، وإسحاق

Dan yang paling afdhal menurut Imam kita Rahimahullah adalah berbuka puasa disaat safar dan ini juga pendapat Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Sa’id Bin Al-Musaiyib, Asy-Sya’bi, Al-Auza’i dan Ishaq.[9]

Ibnu Taimiyah (w. 728 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Majmu’ Fatawa menuliskan sebagai berikut :

أما المسافر فيفطر باتفاق المسلمين وإن لم يكن عليه مشقة والفطر له أفضل. وإن صام جاز عند أكثر العلماء. ومنهم من يقول لا يجزئه

Adapun seorang musafir boleh membatalkan puasanya sebagaimana kesepakatan kaum muslimin walaupun tidak terdapat kesusahan dalam safar dan berbuka atau membatalkan puasa lebih utama baginya. Namun jika dia berpuasa maka puasanya sah menurut mayoritas ulama. Ada juga ulama yang berpendapat tidak sah puasanya.[10]

Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih minal Khilaf menuliskan sebagai berikut :

قوله (والمسافر يستحب له الفطر) ، وهذا المذهب. وعليه الأصحاب، ونص عليه، وهو من المفردات سواء وجد مشقة أم لا، وفيه وجه: أن الصوم أفضل

seorang musafir disunahkan baginya untuk berbuka dan ini pendapat dalam mazhab, begipula dengan ashab Imam Ahmad dan juga telah dinashkan. Sama saja jika dia menemukan kepayahan dalam safar ataupun tidak. Namun ada juga pendapat yang lain yang menyatakan bahwa puasa lebih utama.[11]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Pendapat dari mazhab Azh-Zhahiriyah ini agak unik dan berbeda dari yang lainnya. disaat para ulama berbicara tentang afdhal dan tidaknya berbuka ataupun berpuasa, mazhab Azh-Zhahiriyah malah menutup kemungkinan berbicara tentang keafdhalan dalam berbuka ataupun berpuasa. Baginya berbuka wajib bagi seorang musafir. Namun jika dia memaksakan untuk tetap berpuasa maka puasanya batal dan wajib mengqadhanya.

 

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar menuliskan sebagai berikut :

مسألة: ومن سافر في رمضان سفر طاعة أو [سفر] معصية، أو لا طاعة ولا معصية – ففرض عليه الفطر إذا تجاوز ميلا، أو بلغه، أو إزاءه، وقد بطل صومه حينئذ لا قبل ذلك، ويقضي بعد ذلك في أيام أخر

Siapa saja yang berpergian di bulan Ramadhan baik itu berpergiannya dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala ataupun untuk bermaksiat kepada-Nya ataupun tidak untuk keduanya. Maka wajib baginya untuk berbuka puasa jika perjalannya telah sampai satu mil atau lebih dan telah batal puasanya ketika itu dan bukan sebelumnya (dia berpergian namun belum mencapai satu mil). Dia harus mengqadhanya di hari yang lain.[12]

Wallahu’alam.

[1] Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 2 hal 96.

[2] Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi , jilid 1 hal 126.

[3] Az-Zaila’i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal 333.

[4] Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah, hal 121 cet Daar Kutub ‘Ilmiyah Beirut.

[5] Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal 512 cet. Daar Al-Gharb Al-Islami.

[6] An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdab, jilid 6 hal 265 cet. Maktabah Al-Irsyad Jeddah.

[7] Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarh Raudhu At-Thalib, jilid 1 hal 423.

[8] Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatu Al-Muhtaj Fii Syarhi Al-Minhaj, jilid 3 hal 430.

[9] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 3 hal 158.

[10] Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, jilid 25 hal 216.

[11] Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih min Al-Khilaf, jilid 3 hal 287.

[12] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 4 hal 384.

Ukuran Memberi Makan Dalam Kafarah dan Bolehkah Menggantinya Dengan Uang?

Dalam permasalahan ini para ulama berbeda pendapat dan terbagi menjadi 3 pendapat. pendapat yang pertama menyatakan bahwa ukuran kafarah memberi makan adalah satu mud atau ¼ sho’ (sekitar 544 gram atau 0,6875 liter) serta tidak boleh digantikan dengan uang. Para ulama yang berpendapat seperti ini berasal dari mazhab Maliki, Syafi’i, Hanbali. Sedangkan pendapat yang lainnya adalah 2 mud atau ½ sho’ dan boleh diganti dengan uang. Pendapat ini berasal dari mazhab Hanafi. Mazhab Zhahiri memiliki pendapat sendiri dengan tidak memberi batasan dan takaran dalam memberi makan. yang penting menurutnya makanan tersebut harus mengeyangkan.[1] Untuk lebih jelasnya saya akan paparkan di bawah ini pendapat-pendapat para ulama dari masing-masing mazhab.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

As-Sarakhsi (w. 483 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Al-Mabsuth menuliskan sebagai berikut :

الإطعام عندنا يقدر بنصف صاعٍ لكل مسكين

Menurut kami ukuran memberi makan kepada setiap orang miskin adalah setengah sho’.[2]

وإن أعطى قيمة الطعام يجوز

Boleh jika membayar kafarah dengan memberikan uang sesuai dengan harga makanan.[3]

Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menuliskan sebagai berikut :

فالمقدار في التمليك هو نصف صاع من حنطة أو صاع من شعير أو صاع من تمر

Adapun takarannya adalah setengah sho’ gandum, satu sho’ Sya’ir (dari jenis gandum) atau satu sho’ kurma .

وإنما جوازه باعتبار القيمة فتعتبر قيمته كالدراهمِ والدنانير وهذا عند أصحابنا

Menurut ashab kami, mengganti makanan dengan yang lainnya itu boleh jika dilihat dari aspek nilai atau harga. Maka yang dianggap adalah nilainya, seperti dirham dan dinar.[4]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan sebagai berikut :

والإطعام ستون مدا لستين مسكينا بمد النبي عليه الصلاة والسلام وهذا أقل ما يجزئه من الإطعام وان أطعم مدا ونصفا أو مدين لكل مسكين فحسن

Dan memberi makan sejumlah 60 mud untuk 60 orang miskin dengan takaran yang sama dengan mudnya nabi muhammad saw. Ini adalah takaran paling sedikit dari memberi makan. Jika memberi makan 1,5 atau 2 mud bagi setiap orang miskin maka itu lebih baik.[5]

Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut :

النوع الثالث إطعام ستين مسكينا لكل مسكين مد بمده – صلى الله عليه وسلم

Jenis yang ketiga yaitu memberi makan 60 orang miskin, bagian untuk setiap orang miskin adalah 1 mud dengan mudnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.[6]

3. Mazhab Asy-Syafi’i

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menuliskan sebagai berikut :

إذا كفر بالإطعام فهو إطعام ستين مسكينا كل مسكين مد سواء البر والزبيب والتمر وغيرها

Jika kafarat dengan cara memberi makan, maka hendaklah memberi makan untuk 60 orang miskin, masing-masing menerima 1 mud, baik dari jenis gandum, kismis, kurma, ataupun selainnya.[7]

ولا يجزئ الدقيق ولا السويق ولا الحب المعيب ولا القيمة

Tidak sah memberikan makanan dengan tepung gandum, tepung dan biji-bijian yang rusak dan nilai (uang).[8]

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitab Mughni Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

ويصرف للستين المذكورين ( ستين مدا ) لكل واحد مد

Dan di bagikan kepada 60 orang yang disebutkan sebanyak 60 mud satu dan setiap orang menerima satu mud.[9]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut :

لكل مسكين مد من بر، أو نصف صاع من تمر أو شعير

Setiap orang miskin mendapatkan 1 mud gandum dari jenis burr atau setengah sho’ (2 mud) kurma atau sya’ir (dari jenis gandum).[10]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar menuliskan sebagai berikut :

ومن كان فرضه الإطعام فإنه لا بد له من أن يطعمهم شبعهم، من أي شيء أطعمهم وان اختلف، مثل أن يطعم بعضهم خبزا، وبعضهم تمرا، وبعضهم ثريدا، وبعضهم زبيبا، ونحو ذلك، ويجزئ في ذلك مد بمد النبي صلى الله علي وسلم

Dan seorang yang wajib baginya untuk memberi makan maka harus memberi orang miskin makan sampai kenyang, dari jenis apapun makannya dan berbeda-beda ketika memberinya. Seperti memberi makan sebagian dari mereka dengan kurma, sebagian yang lainnya diberi makan bubur dan yang lainnya diberi makan kismis ataupun semisalnya. sah saja jika memberi makan dengan takaran 1 mud Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam..[11]

ولا يجوز تحديد إطعامٍ دون إطعامٍ بغير نص ولا إجماع…..قال أبو محمد: وهذا تحكم وشرع لم يوجبه نص، ولا إجماع، ولا قياس، ولا قول صاحب!

Dan tidak boleh membatasi takaran dalam memberi makan tanpa ada keterangan dari nash (qur’an dan Sunnah) ataupun ijma’…. berkata Abu Muhammad (Ibnu Hazm) “hal ini (pembatasan takaran memberi makan) adalah penetapan hukum dan syariat yang tidak diwajibkan oleh nash, ijma’, qiyas dan qaul para sahabat”.[12]

Wallahu’alam.

[1]. Abdul Karim Zaidan, Al-Mufashshal Fii Ahkami Al-Mar’a Wa Al-Baiti Al-Muslimin Fii Syari’ati Al-Islamiyah, jilid 2 hal 82-84 cet.pertama Muassisah Ar-Risalah.

[2] As-Sarakhsi, Al-Mabstuh, jilid 3 hal. 161.

[3] As-Sarakhsi, Al-Mabstuh, jilid 8 hal. 267.

[4] Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 5 hal. 101 cet. Maktabah Al-‘Ilmiyah.

[5] Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah, hal. 124 cet. Daar Kutub Al-‘Ilmiyah.

[6] Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1 hal. 170.

[7] An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdab, jilid 6 hal. 345

[8] An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdab, jilid 6 hal. 372

[9] Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 3 , hal. 366 cet. Daar Al-Fikr

[10] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 3 hal. 141.

[11] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 6 hal. 201

[12] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 6 hal. 202

Hukum Makan dan Minum Dengan Sengaja Di Bulan Puasa, Apakah Wajib Kafarat?

Dalam masalah ini ulama terbagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama berpendapat wajib baginya untuk melakukan qadha dan kafarat, kelompok kedua berpendapat wajib baginya qadha namun tidak wajib baginya kafarat sedangkan kelompok yang ketiga berpendapat bahwa tidak ada kewajiban baginya membayar kafarat dan qadha. Kelompok yang pertama berasal dari kalangan Hanafiyah dan Malikiyah, kelompok yang kedua berasal dari kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah sedangkan kelompok yang ketiga berasal dari kalangan Azh-Zhahiriyah. Untuk lebih jelasnya marilah kita langsung saja ke kitab-kitab yang mu’tamad dari masing-masing mazhab.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Dalam mazhab Hanafi seorang yang wajib berpuasa namun dengan sengaja dia makan dan minum di siang hari maka wajib baginya untuk mengqadha puasanya dan kafarat sebagaimana kafarat zhihar. Namun jika ia memakan batu, debu dan semisalnya maka wajib baginya mengqadha puasa dan tidak wajib membayar kafarat. Dikarenakan dalam mazhab ini disyaratkan bahwa makanan dan minuman tersebut haruslah berupa sesuatu yang memiliki manfaat bagi tubuh baik itu sebagai asupan gizi ataupun pengobatan.

Al-Qadduri (w. 428 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Mukhtashar Al-Qadduri menuliskan sebagai berikut :

و من جامع عامدا في أحد السبيلين أو أكل أو شرب ما يتغذى به أو يتداوى به فعليه القضاء و الكفارة مثل كفارة الظهار.

siapa saja yang berjima di salah satu dari kedua 2 kemaluan (qubul atau dubur) secara sengaja ataupun makan dan minum untuk mengambil asupan gizi darinya ataupun untuk pengobatan maka wajib baginya untuk mengqadha dan membayar kafarat seperti kafarat zhihar.[1]

Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menuliskan sebagai berikut :

ولوأكل أو شرب ما يصلح به البدن إما على وجه التغذى أو التداوى متعمدا فعليه القضاء والكفارة عندنا

Menurut kami Jika seorang dengan sengaja makan dan minum sesuatu yang bermanfaat bagi badan, baik manfaatnya untuk asupan gizi ataupun untuk berobat maka wajib baginya mengqadha puasa dan membayar kafarat.[2]

ولوأكل ما لا يتغذى به ولا يتداوى كالحصاة والنواة والتراب وغيرها فعليه القضاء ولا كفارة عليه عند عامة العلماء

Jika seorang makan sesuatu yang tidak bisa dijadikan sebagai asupan gizi dan tidak pula untuk pengobatan seperti batu kerikil, batu, debu dan selainnya maka wajib baginya mengqadha puasa dan tidak dikenai kafarat menurut mayoritas ulama.[3]

و الأكل و الشرب إفساد لصوم رمضان متعمدا من غير عذر ولا سفر فكان إيجاب الكفارة هناك إيجابا ههنا دلالة.

Makan dan minum itu membatalkan puasa ramadhan apabila dilakukan dengan sengaja tanpa udzur ataupun safar. Maka dapat dipahami bahwa dilalah (petunjuk) pewajiban kafarat (dalam kasus jima) sama dengan pewajiban kafarat dalam kasus makan dan minum ini .[4]

Al-Marghinani (w. 593 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Al-Hidayah Syarhu Al-Bidayah menuliskan sebagai berikut :

ولو أكل أو شرب ما يتغذى به أو ما يداوى به فعليه القضاء والكفارة

Jika seseorang makan dan minum untuk mendapatkan asupan gizi ataupun untuk pengobatan maka wajib baginya mengqadha puasa dan membayar kafarat.[5]

أن الكفارة لا تجب إلا بالفطر صورة ومعنى ففي الأكل الفطر صورة هو الابتلاع والمعنى كونه مما يصلح به البدن من الغذاء أو دواء , فلا تجب في ابتلاعِ نحو الحصاة لوجود الصورة فقط , ولا في نحوِ الاحتقان لوجود المعنى فقط

Kafarat tidak wajib melainkan dengan Fithr (sesuatu yang membatalkan puasa) secara shurah (gambaran) dan maknanya. Dalam masalah makan, gambaran batalnya puasa adalah ketika sebuah benda terlelan masuk ke dalam perut sedangkan secara makna dari fithr adalah sesuatu yang masuk ke dalam tubuh dan bermanfaat baginya, baik sebagai asupan gizi ataupun sebagai obat. Maka tidak wajib jika menelan semisal batu kerikil dikarekan perbuatan itu hanya berupa gambaran fithr saja. begitupula dengan suntik dikarenakan dalam hal itu hanya terdapat makna fithr saja.[6]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Dalam mazhab Maliki tidak jauh berbeda dengan mazhab Hanafi yang mewajibkan qadha dan membayar kafarat kepada seorang yang sengaja membatalkan puasanya tanpa udzur dengan makan dan minum.

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan sebagai berikut :

ومن أكل أو شرب أو جامع عامدا ذاكرا لصومه فإن كان صومه تطوعا فعليه القضاء وكذلك كل صوم واجب غير رمضان لا كفارة على المفطر فيه عامدا وإنما فيه الإثم والمعصية. وإن كان ذلك في رمضان فعليه الكفارة مع القضاء

Dan seorang yang makan, minum ataupun berjima dengan sengaja serta dia sadar akan dirinya yang sedang berpuasa maka wajib baginya mengqadha puasanya jika puasa itu adalah puasa sunah, begitu pula dengan puasa yang wajib selain puasa ramadhan dan Tidak dikenai kafarat baginya namun pembatalan puasa tersebut dianggap sebagai perbuatan dosa dan maksiat. Jika hal itu (makan, minum dan jima dengan sengaja) terjadi di bulan Ramadhan maka wajib baginya membayar kafarat dan qadha.[7]

Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut :

وفي التلقين الكفارة كفارتان صغرى لتأخير القضاء عن زمنه وكبرى وهي لا تجب إلا لرمضان بتعمد إفطاره على وجه الهتك من غير عذر من جماع أو أكل أو غيرهما

Kafarat ada 2 : Pertama yaitu kafarat shughra yang disebabkan mengakhirkan qadha dari waktunya. Kedua yaitu kafarat kubra, kafarat yang wajib dibayarkan jika seseorang membatalkan puasa Ramadhan dengan sengaja tanpa ada udzur dan hal itu dianggap sebagai perbuatan yang menodai kesucian bulan Ramadhan, pembatalannya bisa saja karena jima, makan atau selainnya.[8]

3. Mazhab Asy-Syafi’i

Dalam mazhab Syafi’i seorang yang berbuka puasa di siang hari dengan sengaja dan tanpa udzur maka wajib baginya untuk mengqadha saja tanpa kafarat.

 

Imam Asy-Syafi’i (w. 204 H) di dalam kitabnya Al-Um menuliskan sebagai berikut :

ولا تجب الكفارة في فطر في غير جماع ولا طعام ولا شراب ولا غيره

Membatalkan puasa tidak wajib membayar kaffarat kecuali dengan berjima’. membatalkan puasa dengan minum, makan dan selainnya tidak wajib membayar kaffarat.[9]

Imam An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menuliskan sebagai berikut :

قال أصحابنا إذا أفطر الصائم في نهار رمضان بغير الجماع من غيرعذر عامدا مختارا عالما بالتحريم بأن أكل أو شرب أو استعط أو باشر فيما دون الفرج فأنزل أو استمني فأنزل أثم ووجب عليه القضاء وإمساك بقية النهار ولا يلزمه الكفارة العظمي وهى عتق رقبة

Berkata ashhab kami : jika seorang yang berpuasa berbuka di siang hari bulan ramadhon dengan melakukan sesuatu selain jima’ tanpa udzur dalam keadaan sengaja, tanpa paksaan dan mengetahui bahwa makan, minum, memasukkan air ke dalam hidung, menyentuh tubuh wanita selain kemaluannya (tidak sampai penetrasi) dan keluar mani, onani sehingga keluar mani maka berdosa dan wajib baginya mengqadha dan menahan semua yang membatalkan puasa di sisa waktu siang harinya sampai terbenamnya matahari dan tidak wajib baginya kafarat udzma yaitu memerdekakan seorang budak.[10]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Dalam mazhab Hanbali seorang yang berbuka puasa di siang hari dengan sengaja dan tanpa udzur maka wajib baginya untuk mengqadha saja tanpa dikenai kafarat.

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut :

ومن أكل أو شرب أو احتجم أو استعط أو أدخل إلى جوفه شيئا من أي موضع كان أو قبل فأمنى أو أمذى أو كرر النظر فأنزل أي ذلك فعل عامدا وهو ذاكر لصومه فعليه القضاء بلا كفارة إذا كان صوما واجبا

Seseorang yang makan, minum, berbekam, memasukan air ke hidung, memasukkan sesuatu ke perut melalui tempat masuk manapun, mencium wanita lalu keluar mani atau madzi, melihat wanita berulang kali lalu keluar mani dan melakukan semua hal tersebut dengan sengaja dan sadar sedang berpuasa maka wajib baginya mengqadha tanpa kafarat jika puasa itu adalah puasa wajib.[11]

Al-Buhuti (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Kasysyafu Al-Qina menuliskan sebagai berikut :

ولا تجب الكفارة بغير الجماع كأكل وشرب ونحوهما في صيامِ رمضان أداء ; لأنه لم يرد به نص وغير الجماع

Tidak wajib membayar kafarat selain membatalkan puasa dengan jima. Makan dan minum atau sepertinya di bulan ramadhan tidak wajib membayar kafarat dikarenakan selain jima tidak ada nash yang menjelaskan tentang kafarat.[12]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Dalam mazhab Zhahiriyah membatalkan puasa dengan makan dan minum di bulan ramadhan tidaklah diwajibkan mengqadha dan membayara kafarat dikarenakan hanya 5 orang yang diwajibkan untuk mengqadha dan selainnya tidak diwajibkan. 5 orang tersebut adalah wanita haid, nifas, seorang yang sakit, seorang musafir dan orang yang sengaja membuat dirinya muntah.

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar menuliskan sebagai berikut :

ولا قضاء إلا على خمسة فقط: وهم الحائض والنفساء، فانهما يقضيان أيام الحيض والنفاس، لا خلاف في ذلك من أحد، والمريض، والمسافر سفرا تقصر فيه الصلاة، لقول الله تعالى (شهر رمضان الذى أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان فمن شهد منكم الشهر فليصمه ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر) والمتقئ عمدا، بالخبر الذى ذكرنا قبل

Tidak ada kewajiban qadha melainkan untuk kelima orang saja dan mereka adalah : wanita yang haid dan nifas, keduanya mengqadha hari-hari yang mereka terkena haid dan nifas dan tidak ada seorangpun yang berbeda pendapat dalam masalah ini. Wajib qadha juga bagi seorang yang sakit dan musafir yang safar atau perjalanannya menempuh jarak yang dibolehkannya mengqashar shalat sebagaimana firman Allah Ta’ala : (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al-Baqarah: 185).

Orang yang muntah dengan disengaja sebagaimana hadits yang telah kami sebutkan sebelumnya[13]

ولا كفارة على من تعمد فطرا في رمضان بما لم يبح له

Tidak wajib kafarat terhadap siapa yang sengaja membatalkan puasa dengan apa-apa yang tidak boleh dilakukan.[14]

Adapun sebab dan letak perbedaannya adalah bolehkah mengqiyaskan seorang yang membatalkan puasa dengan makan dan minum kepada seorang yang membatalkan puasa dengan jima’.

Kelompok ulama yang berpendapat bahwa keduanya itu sama dan menyatu dalam ilatnya yaitu berupa perbuatan yang menodai bulan suci ramadhan maka hukum keduanya tidak bisa dipisahkan dan wajib bagi keduanya untuk membayar kafarat. kelompok ulama ini juga memakai dalil dari Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

أن رجلا أفطر في رمضان فأمره عليه الصلاة والسلام أن يعتق رقبة

Seorang lelaki membatalkan puasa di siang hari bulan ramadhan lantas Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam menyuruhnya untuk memerdekakan seorang budak. (H.R. Muslim)[15]

Sedangkan kelompok ulama yang lain melihat bahwa tidak ada nash dan ijma ulama yang menyatakan bahwa membatalkan puasa dengan makan dan minum diwajibkan untuk membayar kafarat dan juga tidak bisa diqiyaskan kepada berjima’ disiang hari.[16]

Wallahu’alam.

[1]. Al-Qaduri, Al-Mukhtashar Al-Qaduri, hal. 63. Cet. Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah.

[2]. Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 2 hal. 98 Cet. Ke 2 Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah Beirut 1986 M.

[3]. Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 2 hal. 99 Cet. Ke 2 Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah Beirut 1986 M.

[4] Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 2 hal. 98 Cet. Ke 2 Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah Beirut Tahun 1986 M.

[5] Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarhu Al-Bidayah Al-Mubtadi, jilid 1 hal. 124.

[6]. Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 2 hal. 109 cet. Ihya At-Turats.

[7] Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah, hal. 124 cet. Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah

[8] Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 517 Cet Pertama Daar Al-Gharb Al-Islami, Tahun 1994 M

[9]. Asy-Syafi’i, Al-Um, jilid 2 hal. 252 cet pertama Daar Al-Wafa, Tahun 2001 M.

[10]. An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdab, jilid 6 hal. 358 cet. Maktabah Al-Irsyad Jeddah yang ditahqiq oleh Muhammad Najib Al-Muthi’i.

[11] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 4 hal. 349 cet. Daar ‘Alam Al-Kutub.

[12] Al-Buhuti, Kasysyafu Al-Qina’, jilid 2 hal. 327 cet. Daar Al-fikr

[13]. Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 6 hal. 185.

[14] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 6 hal. 185.

[15]. Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 2 hal. 99 Cet. Ke 2 Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah Beirut Tahun 1986 M. Az-Zaila’i, Tabyinu Al-Haqaiq Wa Hasyiyah Asy-Syibli, jilid 1 hal. 327-328 cet. Daar Al-Kitab Al-Islami. Al-Kamal Ibnu Al-Hamam, Fathu Al-Qadir Syarhu Al-Hidayah, jilid 2 hal 264 cet. Ihya At-Turats.

[16]. Hasyiyata Al-Qalyubi Wa Umairah ‘Ala Syahi Al-Mahalli, jilid 2 hal 70 cet. ‘Isya Halbi. Ibnu Qudamah, Al Mughni yang dicetak dengan kitab Syarhu Al-Kabir, jilid 3 hal 64-65 cet Daar Al-Kitab Al-‘Arabi. Al-Buhuti, Kasysyafu Al-Qinna’, jilid 2 hal 327. Cet. Daar Al-Fikr.

Apa Saja Kafarah Membatalkan Puasa Dengan Sengaja Berjima di Bulan Ramadhan? Apakah Berurutan Atau Boleh Memilih Salah Satu?

Kafarah merupakan denda yang harus dibayarkan oleh orang yang melakukan pelanggaran dalam ketentuan agama. Secara umum, kafarah bukan hanya dijatuhkan kepada orang yang melanggar ketentuan puasa Ramadhan saja, tetapi juga ada kafarah karena pelanggaran yang lain seperti melanggar sumpah, menghilangkan nyawa orang, melanggar ketentuan manasik haji dan menzhihar istri. Dalam tulisan ini penulis hanya akan menfokuskan untuk membahas tentang kafarah orang yang melanggar ketentuan puasa ramadhan.

Para ulama sepakat bahwa orang yang berjima di siang hari bulan ramadhan dengan sengaja maka wajib baginya membayar kafarah. Sedangkan mereka berbeda dalam mengomentari tentang seorang yang membatalkan puasa dengan makan dan minum secara sengaja. Ada yang mewajibkan membayar kafarah adapula yang tidak mewajibkan. lalu muncul pertanyaan, apa saja kafarah membatalkan puasa di siang hari bulan ramadhan? Apakah sudah ditentukan untuk melaksanakannya secara berurutan ataukah boleh memilih salah satu?

Bentuk Kafarah

Mengenai jenis dan bentuk kafarah ini tidak disebutkan di dalam Al-Quran. Namun secara gamblang disebutkan dalam hadits-hadist Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diantaranya sebagai berikut :

جاء رجل إلى النبي فقال: هلكت يا رسول للَّه قال : وَمَا أهلكك ؟ قال : وقعت على امرأتي في رمضان، فقال: هل تجد ما تعتق رقبة ؟ قال: لا. قال: فهل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين؟ قال: لا. قال: فهل تجد ما تطعم ستين مسكينا؟ قال: لا, ثم جلس, فأتي النبي بعرق فيه تمر. فقال: تصدق بهذا , فقال: أعلى أفقر منا؟ فما بين لابتيها أهل بيت أحوج إليه منا, فضحك النبي حتى بدت أنيابه، ثم قال: اذهب فأطعمه أهلك.

Ada seorang lelaki yang mendatangi Nabi  lalu berkata, “Celaka aku wahai Rasulullah,” beliau bertanya, “Apa yang membuatmu celaka?” dia menjawab, “Saya melakukan jima’ dengan istri saya dalam bulan ramadhan.” Maka beliau bersabda, “Apakah kamu bisa membebaskan seorang budak?” dia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kamu sanggup berpuasa dua bulan berturut-turut?” dia menjawab, “Tidak.” Beliau kembali bertanya, “Apakah kamu bisa memberi makan 60 orang miskin?” dia menjawab, “Tidak.” Kemudian orang itu duduk lalu Nabi  datang dengan membawa sekeranjang besar korma lalu bersabda, “Bersedekahlah dengan ini.” Dia menjawab, “Apakah kepada orang yang lebih miskin daripada kami? Tidak ada satu keluarga pun di antara dua dinding kampung itu yang lebih membutuhkan makanan ini daripada kami.” Maka Nabi tertawa hingga nampak gigi taring beliau. Kemudian beliau bersabda, “Pergilah lalu beri makan keluargamu dengan ini.” (H.R. Al-Bukhari)

Jadi bisa disimpulkan bahwa bentuk kafarah merusak puasa di bulan ramadhan adalah memerdekakan seorang budak, berpuasa berturut-turut selama 2 bulan dan memberi makan 60 orang miskin.

Apakah harus berurutan ataukah boleh memilih?

Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat ada yang berpendapat bahwa membayar kafarah dalam masalah ini dilakukan secara berurutan sesuai dengan hadits di atas. Para ulama yang berpendapat seperti ini adalah jumhur ulama dari mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, Zhahiriyah dan mayoritas kalangan Hanabilah. Sedangkan kalangan mazhab Malikiyah dan juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad (w 241 H) berpendapat bahwa boleh saja memilih diantara ketiganya. Untuk lebih lengkapnya mari kita lihat ulasan dari para ulama masing-masing mazhab.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Dalam mazhab ini membayar kafarah telah ditentukan, tidak boleh memilih dan disyaratkan berurutan. Jika tidak mampu memerdekakan seorang budak maka baginya berpuasa 2 bulan berturut-turut. Dan jika tidak juga mampu berpuasa 2 bulan maka baginya untuk memberikan 60 orang miskin.

Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menuliskan sebagai berikut :

وأما بيان كيفية وجوب هذه الأنواع فلوجوبها كيفيتان : إحداهما أن بعضها واجب على التعيينِ مطلقا , وبعضها على التخيير مطلقا وبعضها على التخيير في حال والتعيين في حال . ( أما ) الأَول فكفارة القتل والظهار والإفطار ; لأن الواجب في كفارة القتل التحرير على التعيين

Adapun penjelasan tentang tatacara yang wajib dalam pelaksanaan macam-macam kafarah ini ada 2 cara. Salah satu caranya adalah wajib menentukan secara mutlak dan sebagian lainnya boleh memilih secara mutlak. Sedangkan cara yang lainnya adalah boleh memilih dan menentukan sesuai kondisi masing-masing.

Adapun kafarah yang mengikuti cara yang pertama adalah kafarah menghilangkan nyawa, dhihar dan merusak puasa di siang hari. Karena ketentuan yang wajib dalam kafarah menghilangkan nyawa adalah memerdekakan budak[1]

Ibnu Abdin (w. 1252 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar menuliskan sebagai berikut :

( قوله : ككفارة المظاهر ) مرتبط بقوله وكفر أي مثلها في الترتيب فيعتق أولا فإن لم يجد صام شهرين متتابعين فإن لم يستطع أطعم ستين مسكينا

Perkataannya : seperti kafarah dhihar terikat dengan perkataan yang sebelumnya ( tentang kafarah merusak puasa di siang hari) yaitu keterikatan dalam melaksanakan kafarah ataupun kesamaan dalam urutannya. Yang pertama adalah Memerdekakan seorang budak, namun jika tidak mampu maka wajib berpuasa 2 bulan berturut-turut dan jika tidak mampu juga maka wajib memberi makan 60 orang miskin.[2]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Dalam mazhab ini membayar kafarah boleh saja memilih salah satu diantara ketiganya walaupun mampu melaksanakan yang lainnya.

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan sebagai berikut :

والكفارة في ذلك عتق رقبة أو صيام شهرين متتابعين أو إطعام ستين مسكينا أي هذه الثلاثة فعل أجزأه واستحب مالك الإطعام في ذلك

Kafarah itu adalah memerdekakan seorang budak atau berpuasa 2 bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin. ketiga ini jika di kerjakan (salah satunya) maka sah pelaksanaan kafarahnya. Pada kafarah itu Imam Malik mensunahkan memberi makan 60 orang miskin.[3]

Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut :

وقال مالك هي على التخيير لأن الحديث رواه أبو هريرة بصيغة أو وهي للتخيير وقياسا على كفارة اليمين

Imam Malik (w 179 H) berpendapat bahwa kafarah tidak harus berurutan atau boleh memilih salah satu diantara ketiganya. Dikarenakan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dengan shighoh أو yang memberi makna boleh memilih dan pendapat ini juga menggunakan qiyas terhadap kafarah yamin.[4]

3. Mazhab Asy-Syafi’i

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnya Raudhatu At-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiyyin menuliskan sebagai berikut :

أن هذه الكفارة مرتبة ككفارة الظهار فيجب عتق رقبة فإن لم يجد فصيام شهرين متتابعين فإن لم يستطع فإطعام ستين مسكينا

sesungguhnya kafarah ini berurutan sebagaimana kafarah dhihar. Maka wajib memerdekakan seorang budak, jika tidak mampu maka wajib berpuasa 2 bulan berturut-turut dan jika tidak sanggup juga maka wajib memberi makan 60 orang miskin.[5]

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitab Mughni Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

(أي الكفارة المذكورة مرتبة فيجب أولا ( عتق رقبة ) مؤمنة ( فإن لم يجد ) ( فصيام شهرين متتابعين , فإن لم يستطع ) صومهما ( فإطعام ستين مسكينا )

Yaitu kafarah yang disebutkan harus berurutan. Maka yang pertama adalah wajib memerdekakan seorang budak wanita yang beriman, jika tidak sanggup maka wajib berpuasa 2 bulan berturut—urut, jika tidak mampu maka wajib memberi makan 60 orang miskin.[6]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Dalam mazhab hanabilah tidak berbeda dengan mazhab syafi’iyah. Untuk lebih jelasnya penulis akan paparkan di bawah ini.

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut :

أن كفارة الوطء في رمضان ككفارة الظهار في الترتيب , يلزمه العتق إن أمكنه , فإن عجز عنه انتقل إلى الصيام , فإن عجز انتقل إلى إطعامِ ستين مسكينا……. وعن أحمد رواية أخرى , أَنها على التخيير بين العتق والصيام والإطعام , وبأيها كفر أجزأه .

Kafarah berjima di bulan ramadhan harus berurutan seperti kafarah dhihar. Wajib baginya untuk memerdekakan budak jika di mampu, namun jika dia tidak mampu maka berpindah kepada berpuasa dan jika tidak mampu maka berpindah kepada memberi makan 60 orang miskin…. ada juga riwayat dari Imam Ahmad yang menyatakan bahwa boleh memilih diantara memerdekakan budak, berpuasa atau memberi makan dan sah jika dikerjakan salah satunya.[7]

Al-Buhuti (w. 1051 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Kasysyafu Al-Qina’ menuliskan sebagai berikut :

( والكفارة على الترتيب فيجب عتق رقبة ) إن وجدها… و ( لا ) يجزئه الصوم ( إن قدر ) على العتق

Kafarah harus berurutan maka wajib untuk memerdekakan budak jika dia menemukannya… dan tidak sah puasanya jika dia mampu untuk memerdekakan budak.[8]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar menuliskan sebagai berikut :

هي كما ذكرنا في رواية جمهور أصحاب الزهري: من عتق رقبة لا يجزئه غيرها ما دام يقدر عليها, فإن لم يقدر عليها لزِمه صوم شهرين متتابعين, فإن لم يقدر عليها لزمه حينئذ إطعام ستين مسكينا

Kafarah berjima di bulan puasa sebagaimana yang kami sebutkan tentang riwayat mayoritas ashhab Az-Zuhri yaitu memerdekakan seorang budak. Tidak sah Jika dia membayar kafarah dengan selain memerdekakan budak disaat dia mampu memerdekakannya. Namun jika tidak mampu maka wajib baginya puasa 2 bulan berturut-turut, jika tidak mampu juga maka wajib ketika itu memberi makan 60 orang miskin.[9]

Wallahu’alam.

[1] Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 5 hal. 95 cet. Al-Maktabah Al-‘Ilmiyah.

[2] Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 2 hal. 109 cet. Ihya At-Turats.

[3] Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah, hal. 124 cet Daar Kutub Al-‘Ilmiyah.

[4] Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 526

[5] An-Nawawi, Raudhatu At-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiyyin, jilid 2 hal. 379

[6] Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1, hal. 444 cet. Daar Al-Fikr

[7] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 3 hal. 140 cet. Maktabah Al-Qahirah

[8] Al-Buhuti, Kasysyafu Al-Qina, jilid 2 hal. 327 cet. Daar Al-Fikr

[9] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 6 hal. 197