Apa Saja Kafarah Membatalkan Puasa Dengan Sengaja Berjima di Bulan Ramadhan? Apakah Berurutan Atau Boleh Memilih Salah Satu?

Kafarah merupakan denda yang harus dibayarkan oleh orang yang melakukan pelanggaran dalam ketentuan agama. Secara umum, kafarah bukan hanya dijatuhkan kepada orang yang melanggar ketentuan puasa Ramadhan saja, tetapi juga ada kafarah karena pelanggaran yang lain seperti melanggar sumpah, menghilangkan nyawa orang, melanggar ketentuan manasik haji dan menzhihar istri. Dalam tulisan ini penulis hanya akan menfokuskan untuk membahas tentang kafarah orang yang melanggar ketentuan puasa ramadhan.

Para ulama sepakat bahwa orang yang berjima di siang hari bulan ramadhan dengan sengaja maka wajib baginya membayar kafarah. Sedangkan mereka berbeda dalam mengomentari tentang seorang yang membatalkan puasa dengan makan dan minum secara sengaja. Ada yang mewajibkan membayar kafarah adapula yang tidak mewajibkan. lalu muncul pertanyaan, apa saja kafarah membatalkan puasa di siang hari bulan ramadhan? Apakah sudah ditentukan untuk melaksanakannya secara berurutan ataukah boleh memilih salah satu?

Bentuk Kafarah

Mengenai jenis dan bentuk kafarah ini tidak disebutkan di dalam Al-Quran. Namun secara gamblang disebutkan dalam hadits-hadist Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diantaranya sebagai berikut :

جاء رجل إلى النبي فقال: هلكت يا رسول للَّه قال : وَمَا أهلكك ؟ قال : وقعت على امرأتي في رمضان، فقال: هل تجد ما تعتق رقبة ؟ قال: لا. قال: فهل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين؟ قال: لا. قال: فهل تجد ما تطعم ستين مسكينا؟ قال: لا, ثم جلس, فأتي النبي بعرق فيه تمر. فقال: تصدق بهذا , فقال: أعلى أفقر منا؟ فما بين لابتيها أهل بيت أحوج إليه منا, فضحك النبي حتى بدت أنيابه، ثم قال: اذهب فأطعمه أهلك.

Ada seorang lelaki yang mendatangi Nabi  lalu berkata, “Celaka aku wahai Rasulullah,” beliau bertanya, “Apa yang membuatmu celaka?” dia menjawab, “Saya melakukan jima’ dengan istri saya dalam bulan ramadhan.” Maka beliau bersabda, “Apakah kamu bisa membebaskan seorang budak?” dia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kamu sanggup berpuasa dua bulan berturut-turut?” dia menjawab, “Tidak.” Beliau kembali bertanya, “Apakah kamu bisa memberi makan 60 orang miskin?” dia menjawab, “Tidak.” Kemudian orang itu duduk lalu Nabi  datang dengan membawa sekeranjang besar korma lalu bersabda, “Bersedekahlah dengan ini.” Dia menjawab, “Apakah kepada orang yang lebih miskin daripada kami? Tidak ada satu keluarga pun di antara dua dinding kampung itu yang lebih membutuhkan makanan ini daripada kami.” Maka Nabi tertawa hingga nampak gigi taring beliau. Kemudian beliau bersabda, “Pergilah lalu beri makan keluargamu dengan ini.” (H.R. Al-Bukhari)

Jadi bisa disimpulkan bahwa bentuk kafarah merusak puasa di bulan ramadhan adalah memerdekakan seorang budak, berpuasa berturut-turut selama 2 bulan dan memberi makan 60 orang miskin.

Apakah harus berurutan ataukah boleh memilih?

Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat ada yang berpendapat bahwa membayar kafarah dalam masalah ini dilakukan secara berurutan sesuai dengan hadits di atas. Para ulama yang berpendapat seperti ini adalah jumhur ulama dari mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, Zhahiriyah dan mayoritas kalangan Hanabilah. Sedangkan kalangan mazhab Malikiyah dan juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad (w 241 H) berpendapat bahwa boleh saja memilih diantara ketiganya. Untuk lebih lengkapnya mari kita lihat ulasan dari para ulama masing-masing mazhab.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Dalam mazhab ini membayar kafarah telah ditentukan, tidak boleh memilih dan disyaratkan berurutan. Jika tidak mampu memerdekakan seorang budak maka baginya berpuasa 2 bulan berturut-turut. Dan jika tidak juga mampu berpuasa 2 bulan maka baginya untuk memberikan 60 orang miskin.

Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menuliskan sebagai berikut :

وأما بيان كيفية وجوب هذه الأنواع فلوجوبها كيفيتان : إحداهما أن بعضها واجب على التعيينِ مطلقا , وبعضها على التخيير مطلقا وبعضها على التخيير في حال والتعيين في حال . ( أما ) الأَول فكفارة القتل والظهار والإفطار ; لأن الواجب في كفارة القتل التحرير على التعيين

Adapun penjelasan tentang tatacara yang wajib dalam pelaksanaan macam-macam kafarah ini ada 2 cara. Salah satu caranya adalah wajib menentukan secara mutlak dan sebagian lainnya boleh memilih secara mutlak. Sedangkan cara yang lainnya adalah boleh memilih dan menentukan sesuai kondisi masing-masing.

Adapun kafarah yang mengikuti cara yang pertama adalah kafarah menghilangkan nyawa, dhihar dan merusak puasa di siang hari. Karena ketentuan yang wajib dalam kafarah menghilangkan nyawa adalah memerdekakan budak[1]

Ibnu Abdin (w. 1252 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar menuliskan sebagai berikut :

( قوله : ككفارة المظاهر ) مرتبط بقوله وكفر أي مثلها في الترتيب فيعتق أولا فإن لم يجد صام شهرين متتابعين فإن لم يستطع أطعم ستين مسكينا

Perkataannya : seperti kafarah dhihar terikat dengan perkataan yang sebelumnya ( tentang kafarah merusak puasa di siang hari) yaitu keterikatan dalam melaksanakan kafarah ataupun kesamaan dalam urutannya. Yang pertama adalah Memerdekakan seorang budak, namun jika tidak mampu maka wajib berpuasa 2 bulan berturut-turut dan jika tidak mampu juga maka wajib memberi makan 60 orang miskin.[2]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Dalam mazhab ini membayar kafarah boleh saja memilih salah satu diantara ketiganya walaupun mampu melaksanakan yang lainnya.

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan sebagai berikut :

والكفارة في ذلك عتق رقبة أو صيام شهرين متتابعين أو إطعام ستين مسكينا أي هذه الثلاثة فعل أجزأه واستحب مالك الإطعام في ذلك

Kafarah itu adalah memerdekakan seorang budak atau berpuasa 2 bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin. ketiga ini jika di kerjakan (salah satunya) maka sah pelaksanaan kafarahnya. Pada kafarah itu Imam Malik mensunahkan memberi makan 60 orang miskin.[3]

Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut :

وقال مالك هي على التخيير لأن الحديث رواه أبو هريرة بصيغة أو وهي للتخيير وقياسا على كفارة اليمين

Imam Malik (w 179 H) berpendapat bahwa kafarah tidak harus berurutan atau boleh memilih salah satu diantara ketiganya. Dikarenakan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dengan shighoh أو yang memberi makna boleh memilih dan pendapat ini juga menggunakan qiyas terhadap kafarah yamin.[4]

3. Mazhab Asy-Syafi’i

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnya Raudhatu At-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiyyin menuliskan sebagai berikut :

أن هذه الكفارة مرتبة ككفارة الظهار فيجب عتق رقبة فإن لم يجد فصيام شهرين متتابعين فإن لم يستطع فإطعام ستين مسكينا

sesungguhnya kafarah ini berurutan sebagaimana kafarah dhihar. Maka wajib memerdekakan seorang budak, jika tidak mampu maka wajib berpuasa 2 bulan berturut-turut dan jika tidak sanggup juga maka wajib memberi makan 60 orang miskin.[5]

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitab Mughni Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

(أي الكفارة المذكورة مرتبة فيجب أولا ( عتق رقبة ) مؤمنة ( فإن لم يجد ) ( فصيام شهرين متتابعين , فإن لم يستطع ) صومهما ( فإطعام ستين مسكينا )

Yaitu kafarah yang disebutkan harus berurutan. Maka yang pertama adalah wajib memerdekakan seorang budak wanita yang beriman, jika tidak sanggup maka wajib berpuasa 2 bulan berturut—urut, jika tidak mampu maka wajib memberi makan 60 orang miskin.[6]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Dalam mazhab hanabilah tidak berbeda dengan mazhab syafi’iyah. Untuk lebih jelasnya penulis akan paparkan di bawah ini.

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut :

أن كفارة الوطء في رمضان ككفارة الظهار في الترتيب , يلزمه العتق إن أمكنه , فإن عجز عنه انتقل إلى الصيام , فإن عجز انتقل إلى إطعامِ ستين مسكينا……. وعن أحمد رواية أخرى , أَنها على التخيير بين العتق والصيام والإطعام , وبأيها كفر أجزأه .

Kafarah berjima di bulan ramadhan harus berurutan seperti kafarah dhihar. Wajib baginya untuk memerdekakan budak jika di mampu, namun jika dia tidak mampu maka berpindah kepada berpuasa dan jika tidak mampu maka berpindah kepada memberi makan 60 orang miskin…. ada juga riwayat dari Imam Ahmad yang menyatakan bahwa boleh memilih diantara memerdekakan budak, berpuasa atau memberi makan dan sah jika dikerjakan salah satunya.[7]

Al-Buhuti (w. 1051 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Kasysyafu Al-Qina’ menuliskan sebagai berikut :

( والكفارة على الترتيب فيجب عتق رقبة ) إن وجدها… و ( لا ) يجزئه الصوم ( إن قدر ) على العتق

Kafarah harus berurutan maka wajib untuk memerdekakan budak jika dia menemukannya… dan tidak sah puasanya jika dia mampu untuk memerdekakan budak.[8]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar menuliskan sebagai berikut :

هي كما ذكرنا في رواية جمهور أصحاب الزهري: من عتق رقبة لا يجزئه غيرها ما دام يقدر عليها, فإن لم يقدر عليها لزِمه صوم شهرين متتابعين, فإن لم يقدر عليها لزمه حينئذ إطعام ستين مسكينا

Kafarah berjima di bulan puasa sebagaimana yang kami sebutkan tentang riwayat mayoritas ashhab Az-Zuhri yaitu memerdekakan seorang budak. Tidak sah Jika dia membayar kafarah dengan selain memerdekakan budak disaat dia mampu memerdekakannya. Namun jika tidak mampu maka wajib baginya puasa 2 bulan berturut-turut, jika tidak mampu juga maka wajib ketika itu memberi makan 60 orang miskin.[9]

Wallahu’alam.

[1] Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 5 hal. 95 cet. Al-Maktabah Al-‘Ilmiyah.

[2] Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 2 hal. 109 cet. Ihya At-Turats.

[3] Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah, hal. 124 cet Daar Kutub Al-‘Ilmiyah.

[4] Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 526

[5] An-Nawawi, Raudhatu At-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiyyin, jilid 2 hal. 379

[6] Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1, hal. 444 cet. Daar Al-Fikr

[7] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 3 hal. 140 cet. Maktabah Al-Qahirah

[8] Al-Buhuti, Kasysyafu Al-Qina, jilid 2 hal. 327 cet. Daar Al-Fikr

[9] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 6 hal. 197

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s