Hukum Makan dan Minum Dengan Sengaja Di Bulan Puasa, Apakah Wajib Kafarat?

Dalam masalah ini ulama terbagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama berpendapat wajib baginya untuk melakukan qadha dan kafarat, kelompok kedua berpendapat wajib baginya qadha namun tidak wajib baginya kafarat sedangkan kelompok yang ketiga berpendapat bahwa tidak ada kewajiban baginya membayar kafarat dan qadha. Kelompok yang pertama berasal dari kalangan Hanafiyah dan Malikiyah, kelompok yang kedua berasal dari kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah sedangkan kelompok yang ketiga berasal dari kalangan Azh-Zhahiriyah. Untuk lebih jelasnya marilah kita langsung saja ke kitab-kitab yang mu’tamad dari masing-masing mazhab.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Dalam mazhab Hanafi seorang yang wajib berpuasa namun dengan sengaja dia makan dan minum di siang hari maka wajib baginya untuk mengqadha puasanya dan kafarat sebagaimana kafarat zhihar. Namun jika ia memakan batu, debu dan semisalnya maka wajib baginya mengqadha puasa dan tidak wajib membayar kafarat. Dikarenakan dalam mazhab ini disyaratkan bahwa makanan dan minuman tersebut haruslah berupa sesuatu yang memiliki manfaat bagi tubuh baik itu sebagai asupan gizi ataupun pengobatan.

Al-Qadduri (w. 428 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Mukhtashar Al-Qadduri menuliskan sebagai berikut :

و من جامع عامدا في أحد السبيلين أو أكل أو شرب ما يتغذى به أو يتداوى به فعليه القضاء و الكفارة مثل كفارة الظهار.

siapa saja yang berjima di salah satu dari kedua 2 kemaluan (qubul atau dubur) secara sengaja ataupun makan dan minum untuk mengambil asupan gizi darinya ataupun untuk pengobatan maka wajib baginya untuk mengqadha dan membayar kafarat seperti kafarat zhihar.[1]

Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menuliskan sebagai berikut :

ولوأكل أو شرب ما يصلح به البدن إما على وجه التغذى أو التداوى متعمدا فعليه القضاء والكفارة عندنا

Menurut kami Jika seorang dengan sengaja makan dan minum sesuatu yang bermanfaat bagi badan, baik manfaatnya untuk asupan gizi ataupun untuk berobat maka wajib baginya mengqadha puasa dan membayar kafarat.[2]

ولوأكل ما لا يتغذى به ولا يتداوى كالحصاة والنواة والتراب وغيرها فعليه القضاء ولا كفارة عليه عند عامة العلماء

Jika seorang makan sesuatu yang tidak bisa dijadikan sebagai asupan gizi dan tidak pula untuk pengobatan seperti batu kerikil, batu, debu dan selainnya maka wajib baginya mengqadha puasa dan tidak dikenai kafarat menurut mayoritas ulama.[3]

و الأكل و الشرب إفساد لصوم رمضان متعمدا من غير عذر ولا سفر فكان إيجاب الكفارة هناك إيجابا ههنا دلالة.

Makan dan minum itu membatalkan puasa ramadhan apabila dilakukan dengan sengaja tanpa udzur ataupun safar. Maka dapat dipahami bahwa dilalah (petunjuk) pewajiban kafarat (dalam kasus jima) sama dengan pewajiban kafarat dalam kasus makan dan minum ini .[4]

Al-Marghinani (w. 593 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Al-Hidayah Syarhu Al-Bidayah menuliskan sebagai berikut :

ولو أكل أو شرب ما يتغذى به أو ما يداوى به فعليه القضاء والكفارة

Jika seseorang makan dan minum untuk mendapatkan asupan gizi ataupun untuk pengobatan maka wajib baginya mengqadha puasa dan membayar kafarat.[5]

أن الكفارة لا تجب إلا بالفطر صورة ومعنى ففي الأكل الفطر صورة هو الابتلاع والمعنى كونه مما يصلح به البدن من الغذاء أو دواء , فلا تجب في ابتلاعِ نحو الحصاة لوجود الصورة فقط , ولا في نحوِ الاحتقان لوجود المعنى فقط

Kafarat tidak wajib melainkan dengan Fithr (sesuatu yang membatalkan puasa) secara shurah (gambaran) dan maknanya. Dalam masalah makan, gambaran batalnya puasa adalah ketika sebuah benda terlelan masuk ke dalam perut sedangkan secara makna dari fithr adalah sesuatu yang masuk ke dalam tubuh dan bermanfaat baginya, baik sebagai asupan gizi ataupun sebagai obat. Maka tidak wajib jika menelan semisal batu kerikil dikarekan perbuatan itu hanya berupa gambaran fithr saja. begitupula dengan suntik dikarenakan dalam hal itu hanya terdapat makna fithr saja.[6]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Dalam mazhab Maliki tidak jauh berbeda dengan mazhab Hanafi yang mewajibkan qadha dan membayar kafarat kepada seorang yang sengaja membatalkan puasanya tanpa udzur dengan makan dan minum.

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan sebagai berikut :

ومن أكل أو شرب أو جامع عامدا ذاكرا لصومه فإن كان صومه تطوعا فعليه القضاء وكذلك كل صوم واجب غير رمضان لا كفارة على المفطر فيه عامدا وإنما فيه الإثم والمعصية. وإن كان ذلك في رمضان فعليه الكفارة مع القضاء

Dan seorang yang makan, minum ataupun berjima dengan sengaja serta dia sadar akan dirinya yang sedang berpuasa maka wajib baginya mengqadha puasanya jika puasa itu adalah puasa sunah, begitu pula dengan puasa yang wajib selain puasa ramadhan dan Tidak dikenai kafarat baginya namun pembatalan puasa tersebut dianggap sebagai perbuatan dosa dan maksiat. Jika hal itu (makan, minum dan jima dengan sengaja) terjadi di bulan Ramadhan maka wajib baginya membayar kafarat dan qadha.[7]

Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut :

وفي التلقين الكفارة كفارتان صغرى لتأخير القضاء عن زمنه وكبرى وهي لا تجب إلا لرمضان بتعمد إفطاره على وجه الهتك من غير عذر من جماع أو أكل أو غيرهما

Kafarat ada 2 : Pertama yaitu kafarat shughra yang disebabkan mengakhirkan qadha dari waktunya. Kedua yaitu kafarat kubra, kafarat yang wajib dibayarkan jika seseorang membatalkan puasa Ramadhan dengan sengaja tanpa ada udzur dan hal itu dianggap sebagai perbuatan yang menodai kesucian bulan Ramadhan, pembatalannya bisa saja karena jima, makan atau selainnya.[8]

3. Mazhab Asy-Syafi’i

Dalam mazhab Syafi’i seorang yang berbuka puasa di siang hari dengan sengaja dan tanpa udzur maka wajib baginya untuk mengqadha saja tanpa kafarat.

 

Imam Asy-Syafi’i (w. 204 H) di dalam kitabnya Al-Um menuliskan sebagai berikut :

ولا تجب الكفارة في فطر في غير جماع ولا طعام ولا شراب ولا غيره

Membatalkan puasa tidak wajib membayar kaffarat kecuali dengan berjima’. membatalkan puasa dengan minum, makan dan selainnya tidak wajib membayar kaffarat.[9]

Imam An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menuliskan sebagai berikut :

قال أصحابنا إذا أفطر الصائم في نهار رمضان بغير الجماع من غيرعذر عامدا مختارا عالما بالتحريم بأن أكل أو شرب أو استعط أو باشر فيما دون الفرج فأنزل أو استمني فأنزل أثم ووجب عليه القضاء وإمساك بقية النهار ولا يلزمه الكفارة العظمي وهى عتق رقبة

Berkata ashhab kami : jika seorang yang berpuasa berbuka di siang hari bulan ramadhon dengan melakukan sesuatu selain jima’ tanpa udzur dalam keadaan sengaja, tanpa paksaan dan mengetahui bahwa makan, minum, memasukkan air ke dalam hidung, menyentuh tubuh wanita selain kemaluannya (tidak sampai penetrasi) dan keluar mani, onani sehingga keluar mani maka berdosa dan wajib baginya mengqadha dan menahan semua yang membatalkan puasa di sisa waktu siang harinya sampai terbenamnya matahari dan tidak wajib baginya kafarat udzma yaitu memerdekakan seorang budak.[10]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Dalam mazhab Hanbali seorang yang berbuka puasa di siang hari dengan sengaja dan tanpa udzur maka wajib baginya untuk mengqadha saja tanpa dikenai kafarat.

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut :

ومن أكل أو شرب أو احتجم أو استعط أو أدخل إلى جوفه شيئا من أي موضع كان أو قبل فأمنى أو أمذى أو كرر النظر فأنزل أي ذلك فعل عامدا وهو ذاكر لصومه فعليه القضاء بلا كفارة إذا كان صوما واجبا

Seseorang yang makan, minum, berbekam, memasukan air ke hidung, memasukkan sesuatu ke perut melalui tempat masuk manapun, mencium wanita lalu keluar mani atau madzi, melihat wanita berulang kali lalu keluar mani dan melakukan semua hal tersebut dengan sengaja dan sadar sedang berpuasa maka wajib baginya mengqadha tanpa kafarat jika puasa itu adalah puasa wajib.[11]

Al-Buhuti (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Kasysyafu Al-Qina menuliskan sebagai berikut :

ولا تجب الكفارة بغير الجماع كأكل وشرب ونحوهما في صيامِ رمضان أداء ; لأنه لم يرد به نص وغير الجماع

Tidak wajib membayar kafarat selain membatalkan puasa dengan jima. Makan dan minum atau sepertinya di bulan ramadhan tidak wajib membayar kafarat dikarenakan selain jima tidak ada nash yang menjelaskan tentang kafarat.[12]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Dalam mazhab Zhahiriyah membatalkan puasa dengan makan dan minum di bulan ramadhan tidaklah diwajibkan mengqadha dan membayara kafarat dikarenakan hanya 5 orang yang diwajibkan untuk mengqadha dan selainnya tidak diwajibkan. 5 orang tersebut adalah wanita haid, nifas, seorang yang sakit, seorang musafir dan orang yang sengaja membuat dirinya muntah.

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar menuliskan sebagai berikut :

ولا قضاء إلا على خمسة فقط: وهم الحائض والنفساء، فانهما يقضيان أيام الحيض والنفاس، لا خلاف في ذلك من أحد، والمريض، والمسافر سفرا تقصر فيه الصلاة، لقول الله تعالى (شهر رمضان الذى أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان فمن شهد منكم الشهر فليصمه ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر) والمتقئ عمدا، بالخبر الذى ذكرنا قبل

Tidak ada kewajiban qadha melainkan untuk kelima orang saja dan mereka adalah : wanita yang haid dan nifas, keduanya mengqadha hari-hari yang mereka terkena haid dan nifas dan tidak ada seorangpun yang berbeda pendapat dalam masalah ini. Wajib qadha juga bagi seorang yang sakit dan musafir yang safar atau perjalanannya menempuh jarak yang dibolehkannya mengqashar shalat sebagaimana firman Allah Ta’ala : (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al-Baqarah: 185).

Orang yang muntah dengan disengaja sebagaimana hadits yang telah kami sebutkan sebelumnya[13]

ولا كفارة على من تعمد فطرا في رمضان بما لم يبح له

Tidak wajib kafarat terhadap siapa yang sengaja membatalkan puasa dengan apa-apa yang tidak boleh dilakukan.[14]

Adapun sebab dan letak perbedaannya adalah bolehkah mengqiyaskan seorang yang membatalkan puasa dengan makan dan minum kepada seorang yang membatalkan puasa dengan jima’.

Kelompok ulama yang berpendapat bahwa keduanya itu sama dan menyatu dalam ilatnya yaitu berupa perbuatan yang menodai bulan suci ramadhan maka hukum keduanya tidak bisa dipisahkan dan wajib bagi keduanya untuk membayar kafarat. kelompok ulama ini juga memakai dalil dari Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

أن رجلا أفطر في رمضان فأمره عليه الصلاة والسلام أن يعتق رقبة

Seorang lelaki membatalkan puasa di siang hari bulan ramadhan lantas Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam menyuruhnya untuk memerdekakan seorang budak. (H.R. Muslim)[15]

Sedangkan kelompok ulama yang lain melihat bahwa tidak ada nash dan ijma ulama yang menyatakan bahwa membatalkan puasa dengan makan dan minum diwajibkan untuk membayar kafarat dan juga tidak bisa diqiyaskan kepada berjima’ disiang hari.[16]

Wallahu’alam.

[1]. Al-Qaduri, Al-Mukhtashar Al-Qaduri, hal. 63. Cet. Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah.

[2]. Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 2 hal. 98 Cet. Ke 2 Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah Beirut 1986 M.

[3]. Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 2 hal. 99 Cet. Ke 2 Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah Beirut 1986 M.

[4] Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 2 hal. 98 Cet. Ke 2 Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah Beirut Tahun 1986 M.

[5] Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarhu Al-Bidayah Al-Mubtadi, jilid 1 hal. 124.

[6]. Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 2 hal. 109 cet. Ihya At-Turats.

[7] Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah, hal. 124 cet. Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah

[8] Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 517 Cet Pertama Daar Al-Gharb Al-Islami, Tahun 1994 M

[9]. Asy-Syafi’i, Al-Um, jilid 2 hal. 252 cet pertama Daar Al-Wafa, Tahun 2001 M.

[10]. An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdab, jilid 6 hal. 358 cet. Maktabah Al-Irsyad Jeddah yang ditahqiq oleh Muhammad Najib Al-Muthi’i.

[11] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 4 hal. 349 cet. Daar ‘Alam Al-Kutub.

[12] Al-Buhuti, Kasysyafu Al-Qina’, jilid 2 hal. 327 cet. Daar Al-fikr

[13]. Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 6 hal. 185.

[14] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 6 hal. 185.

[15]. Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 2 hal. 99 Cet. Ke 2 Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah Beirut Tahun 1986 M. Az-Zaila’i, Tabyinu Al-Haqaiq Wa Hasyiyah Asy-Syibli, jilid 1 hal. 327-328 cet. Daar Al-Kitab Al-Islami. Al-Kamal Ibnu Al-Hamam, Fathu Al-Qadir Syarhu Al-Hidayah, jilid 2 hal 264 cet. Ihya At-Turats.

[16]. Hasyiyata Al-Qalyubi Wa Umairah ‘Ala Syahi Al-Mahalli, jilid 2 hal 70 cet. ‘Isya Halbi. Ibnu Qudamah, Al Mughni yang dicetak dengan kitab Syarhu Al-Kabir, jilid 3 hal 64-65 cet Daar Al-Kitab Al-‘Arabi. Al-Buhuti, Kasysyafu Al-Qinna’, jilid 2 hal 327. Cet. Daar Al-Fikr.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s