Berpuasa ataukah membatalkannya yang Lebih Utama Bagi Seorang Musafir Di Bulan Ramadhan

Di bulan ramadhan kita sering disuguhkan dengan berita tentang fenomena pulang kampung atau yang biasa disebut dengan mudik. Di saat mudik seseorang terkadang menempuh jarak yang jauh, hal ini terkadang membuatnya lemas dan letih dikarenakan beban dalam perjalanan. Dalam kondisi ini ulama sepakat membolehkannya untuk berbuka atau membatalkan puasanya jika perjalanannya telah mencapai jarak yang dibolehkan untuk mengqashar shalat. Namun timbul sebuah pertanyaan, apakah berbuka baginya lebih utama ataukah berpuasa?

Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat dan terbagi menjadi 3 kelompok. Kelompok yang pertama berpendapat bahwa yang lebih utama bagi seorang musafir ketika safar adalah berpuasa jika hal itu tidak membahayakan dirinya, pendapat ini berasal dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah. Kelompok kedua mempunyai pendapat yang sebaliknya yaitu berbuka lebih utama daripada berpuasa pendapat ini berasal dari kalangan Hanabilah. Sedangkan kelompok yang ketiga berpendapat bahwa wajib berbuka jika dalam perjalanan yang sudah mencapai jarak mengqashar shalat dan batal puasanya jika ditetap memaksakan diri untuk berpuasa, pendapat ini berasal dari kalangan Azh-Zhahiriyah. Untuk lebih jelasnya marilah kita langsung menyelami pendapat-pendapat dari para ulama masing-masing mazhab di dalam kitab-kitabnya.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Dalam mazhab ini puasa lebih afdhal bagi seorang musafir jika hal itu tidak membahayakannya.

 

Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menuliskan sebagai berikut :

ثم الصوم في السفر أفضل من الإفطار عندنا إذا لم يجهده الصوم و لم يضعفه

Kemudian menurut kami berpuasa disaat safar (berpergian) lebih utama dibandingkan dengan berbuka jika berpuasa tidak menyusahkannya dan membuatnya menjadi lemah.[1]

Al-Marghinani (w. 593 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi menuliskan sebagai berikut :

(وَإن كان مسافرا لا يستضر بالصومِ فصومه أفضل , وإن أفطر جاز) لأن السفر لا يرى عن المشقة فجعل نفسه عذرا

Jika seorang musafir berpuasa dan puasanya tidak membahayakan baginya maka berpuasa lebih utama untuknya. Namun boleh saja jika dia berbuka dikarenakan dalam safar tidak akan terlepas dari kesusahan maka dijadikan safar sebagai udzur yang tersendiri bagi dirinya.[2]

Az-Zaila’i (w. 743 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq menuliskan sebagai berikut :

وللمسافر وصومه أحب إن لم يضره

Dan bagi seorang musafir puasanya lebih disukai jika tidak membahayakannya.[3]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Dalam mazhab Malikiyah seorang musafir yang kuat untuk berpuasa maka lebih utama baginya berpuasa. Namun jika dia ingin berbuka maka dibolehkan baginya. Ada juga riwayat dari Imam Malik yang tidak menentukan mana yang lebih utama dan bebas memilih yang mana yang diinginkan seorang musafir.

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan sebagai berikut :

فإن صام في السفر أجزأه والصوم عندنا أفضل فيه من الفطر لمن قدر عليه

Jika (seorang musafir) berpuasa di perjalanan maka sah puasanya. Dalam pandangan kami berpuasa lebih utama daripada berbuka bagi seorang musair jika dia mampu untuk melakukannya.[4]

Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut :

الصوم في السفرأفضل لقوله تعالى وأن تصوموا خير لكم وروي عن مالك التخيير,واستحب ابن الماجشون وابن حنبل الإفطار لقوله في أبي داوود ليس من البر الصيام في السفر

Lebih utama berpuasa di dalam perjalanan Dikarenakan firman Allah Ta’ala : dan berpuasa lebih baik bagimu. (Q.S. Al-Baqoroh 184). diriwayatkan Dari Imam Malik yang berpendapat bebas memilih diantara keduanya (tidak ada pengutamaan terhadap salah satu dari keduanya). Ibnu majisun (dari kalangan malikiyah) dan Imam Ahmad Bin Hanbal mensunahkan berbuka puasa (bagi musafir) dikarenakan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : berpuasa disaat safar tidaklah termasuk perbuatan yang baik. H.R. Abu Dawud.[5]

3. Mazhab Asy-Syafi’i

Dalam Mazhab ini, seorang musafir yang perjalanannya bukan ditujukan untuk bermaksiat maka lebih utama baginya berbuka jika ditakutkan berpuasa dapat mendatangkan bahaya baginya. Namun jika dia mampu untuk berpuasa dan tidak membahayakan baginya maka berpuasa lebih utama baginya.

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menuliskan sebagai berikut :

فإن كان سفره فوق مسافة القصر وليس معصية فله الفطر في رمضان بالإجماع مع نص الكتاب والسنة قال الشافعي والأصحاب: له الصوم وله الفطر (وأما) أفضلهما فقال الشافعي والأصحاب: إن تضرر بالصوم فالفطر افضل والا فالصوم افضل

Jika jarak perjalanannya diatas atau melebihi jarak yang dibolehkan untuk melakukan qashar (shalat) dan bukan untuk bermaksiat maka dia mempunyai hak untuk berbuka di bulan Ramadhan sesuai dengan ijma’, Al-Kitab dan As-Sunnah. Imam Syafi’i dan para pemuka mazhab syafi’i berkata : baginya hak untuk berpuasa dan berbuka adapun yang lebih utama baginya adalah berbuka jika puasanya dapat membahayakan dirinya namun jika tidak membahayakan maka berpuasa lebih utama daripada berbuka.[6]

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) yang juga ulama mazhab Asy-syafi’iyah di dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib menuliskan sebagai berikut.

الصوم للمسافر أفضل) من فطره

Berpuasa bagi seorang musafir lebih utama daripada membatalkannya.[7]

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitab Tuhfatu Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

أنه إن تضرر بالصوم فالفطر أفضل وإلا فالصوم أفضل

Bahwasannya jika dengan berpuasa dapat membahayakan dirinya (musafir) maka lebih utama baginya untuk membatalkan puasanya. Namun jika tidak membahayakannya maka berpuasa lebih utama baginya.[8]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Dalam mazhab Hanabilah berbuka lebih utama daripada berpuasa walaupun dalam perjalannya tidak ditemukan kesusahan dan beban yang memberatkan si musafir.

 

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut :

فصل: والأفضل عند إمامنا، – رحمه الله -، الفطر في السفر، وهو مذهب ابن عمر، وابن عباس، وسعيد بن المسيب، والشعبي، والأوزاعي، وإسحاق

Dan yang paling afdhal menurut Imam kita Rahimahullah adalah berbuka puasa disaat safar dan ini juga pendapat Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Sa’id Bin Al-Musaiyib, Asy-Sya’bi, Al-Auza’i dan Ishaq.[9]

Ibnu Taimiyah (w. 728 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Majmu’ Fatawa menuliskan sebagai berikut :

أما المسافر فيفطر باتفاق المسلمين وإن لم يكن عليه مشقة والفطر له أفضل. وإن صام جاز عند أكثر العلماء. ومنهم من يقول لا يجزئه

Adapun seorang musafir boleh membatalkan puasanya sebagaimana kesepakatan kaum muslimin walaupun tidak terdapat kesusahan dalam safar dan berbuka atau membatalkan puasa lebih utama baginya. Namun jika dia berpuasa maka puasanya sah menurut mayoritas ulama. Ada juga ulama yang berpendapat tidak sah puasanya.[10]

Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih minal Khilaf menuliskan sebagai berikut :

قوله (والمسافر يستحب له الفطر) ، وهذا المذهب. وعليه الأصحاب، ونص عليه، وهو من المفردات سواء وجد مشقة أم لا، وفيه وجه: أن الصوم أفضل

seorang musafir disunahkan baginya untuk berbuka dan ini pendapat dalam mazhab, begipula dengan ashab Imam Ahmad dan juga telah dinashkan. Sama saja jika dia menemukan kepayahan dalam safar ataupun tidak. Namun ada juga pendapat yang lain yang menyatakan bahwa puasa lebih utama.[11]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Pendapat dari mazhab Azh-Zhahiriyah ini agak unik dan berbeda dari yang lainnya. disaat para ulama berbicara tentang afdhal dan tidaknya berbuka ataupun berpuasa, mazhab Azh-Zhahiriyah malah menutup kemungkinan berbicara tentang keafdhalan dalam berbuka ataupun berpuasa. Baginya berbuka wajib bagi seorang musafir. Namun jika dia memaksakan untuk tetap berpuasa maka puasanya batal dan wajib mengqadhanya.

 

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar menuliskan sebagai berikut :

مسألة: ومن سافر في رمضان سفر طاعة أو [سفر] معصية، أو لا طاعة ولا معصية – ففرض عليه الفطر إذا تجاوز ميلا، أو بلغه، أو إزاءه، وقد بطل صومه حينئذ لا قبل ذلك، ويقضي بعد ذلك في أيام أخر

Siapa saja yang berpergian di bulan Ramadhan baik itu berpergiannya dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala ataupun untuk bermaksiat kepada-Nya ataupun tidak untuk keduanya. Maka wajib baginya untuk berbuka puasa jika perjalannya telah sampai satu mil atau lebih dan telah batal puasanya ketika itu dan bukan sebelumnya (dia berpergian namun belum mencapai satu mil). Dia harus mengqadhanya di hari yang lain.[12]

Wallahu’alam.

[1] Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 2 hal 96.

[2] Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi , jilid 1 hal 126.

[3] Az-Zaila’i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal 333.

[4] Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah, hal 121 cet Daar Kutub ‘Ilmiyah Beirut.

[5] Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal 512 cet. Daar Al-Gharb Al-Islami.

[6] An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdab, jilid 6 hal 265 cet. Maktabah Al-Irsyad Jeddah.

[7] Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarh Raudhu At-Thalib, jilid 1 hal 423.

[8] Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatu Al-Muhtaj Fii Syarhi Al-Minhaj, jilid 3 hal 430.

[9] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 3 hal 158.

[10] Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, jilid 25 hal 216.

[11] Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih min Al-Khilaf, jilid 3 hal 287.

[12] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 4 hal 384.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s