Arsip Bulanan: September 2015

Ahlul Halli Wal A’qdi Serta Korelasinya Dengan Istilah Legislatif

Di zaman modern ini kekuasaan sebuah negara diserahkan kepada 3 badan lembaga negara yang berdiri sendiri. 3 lembaga itu adalah legislatif, eksekutif dan yudikatif. Pemikiran tentang pemisahan kekuasaan dipengaruhi oleh teori John Locke (1632-1704) seorang filosof Inggris yang pada tahun 1690 menerbitkan buku “Two Treties on Civil Government”. Dalam bukunya itu John Locke mengemukakan adanya tiga macam kekuasaan di dalam Negara yang harus diserahkan kepada badan yang masing-masing berdiri sendiri, yaitu kekuasaan legislatif (membuat Undang-Undang), kekuasaan eksekutif (melaksanakan Undang-Undang atau yang merupakan fungsi pemerintahan) dan kekuasaan federatif (keamanan dan hubungan luar negeri).

Dalam kesempatan ini saya akan berbicara tentang salah satu lembaga negara dari ketiga lembaga tersebut yaitu lembaga legislatif.

Pesta demokrasi rakyat Indonesia dalam memilih wakil rakyat telah berakhir. Dan memunculkan figur-figur yang akan duduk di lembaga legislatif dalam 5 tahun ke depan. umat Islam di Indonesia tentunya menginginkan hasil yang terbaik bagi bangsanya. Namun muncul dalam benak kita apakah ada sebuah istilah ataupun esensi ajaran Islam yang memiliki korelasi dengan istilah legislatif di zaman modern ini? dimana lembaga ini didefinisikan sebagai badan deliberatif (sebuah organisasi yang secara bersama membuat keputusan setelah memaparkan argumen baik itu dengan debat atau diskusi) pemerintah dengan kuasa memproduksi hukum.

Legislatif dikenal dengan beberapa nama, yaitu parlemen, kongres, dan asembli nasional. Dalam sistem Parlemen, legislatif adalah badan tertinggi dan menunjuk eksekutif (presiden atau perdana menteri) ataupun memakzulkannya. Dalam sistem Presidentil, legislatif adalah cabang pemerintahan yang sama, dan bebas dari eksekutif dan memiliki nilai tambah dalam memproduksi dan menetapkan hukum, legislatif biasanya juga memiliki kuasa untuk menaikkan pajak dan menerapkan budget dan pengeluaran uang lainnya. Legislatif juga kadangkala menulis perjanjian dan memutuskan perang. Orang-orang yang berada di parlemen adalah mereka yang dianggap sebagai tokoh ataupun pemimpin di daerah masing-masing. Merekalah orang-orang yang menjadi wakil bagi konstituen atau masyarakat daerah mereka berasal.

Sebagian orang Islam menolak istilah lembaga legislatif ini dengan alasan bahwa hukum sudah ada dan diinterpretasikan oleh fuqaha kemudian dieksekusi oleh para amir atau sulthan. Ada juga yang menolak karena istilah ini tidak ada dalam Islam dan orang baratlah yang memulai memakai istilah ini.

Sebenarnya jika kita mau menelaah lebih jauh tentang ajaran Islam maka kita dapat menemukan sebuah istilah yang diberikan para fuqaha (ahli fiqih) Islam, dimana istilah ini memiliki esensi atau hakikat yang tak jauh berbeda dengan esensi legislatif di zaman modern saat ini. istilah itu adalah Ahlul Halli wal A’qdi.

Istilah tersebut dapat kita temukan di dalam karya-karya para ulama Islam, seperti di dalam kitab Ahkamu AsSulthaniyah baik itu karya Imam Al-Mawardi (w 450 H) atau Qadhi Abu Ya’la Al-Farra (w 458 H) ,Ghiyatsu AlUmam karya Imam Al-Haramain (w 478 H), As-Siyasah Asy-Syar’iyah karya Ibnu Taimiyah (w 728 H) Asna AlMathalib karya Syekh Zakariya Al-Anshari (w 926 H), Hasyiyah AlQalyubi karya Imam Ahmad Al-Qalyubi (w 1069 H) dan masih banyak lagi kitab-kitab dari para ulama yang membahas masalah ini.

Pengertian Ahlul Halli Wal A’qdi

Secara etimologi atau pengertian secara bahasa Istilah Ahlul Halli Wal A’qdi terdiri dari tiga kalimat, yaitu:

  1. Ahlu yang berarti orang yang berhak (yang memiliki).
  2. Halli yang berarti, melepaskan, menyesuaikan, memecahkan.
  3. ‘Aqdi yang berarti mengikat, mengadakan transaksi, membentuk.[1]

Dari arti bahasa ini kita dapat mengetahui bahwa Ahlul Halli Wal ‘Aqdi berarti “orang yang berwenang melepaskan dan mengikat”. Disebut “mengikat” karena keputusannya mengikat orang-orang yang mengangkat ahlul halli; dan disebut “melepaskan” karena mereka yang duduk disitu bisa melepaskan dan tidak memilih orang-orang tertentu yang tidak disepakati

Para Fuqaha mendefinisikan Ahlu Halli wa Al-A’qdi sebagai seseorang yang memiliki kekuasaan dan ketokohan baik itu dari kalangan ulama ataupun dari kalangan pemimpin masyarakat.[2] Adapun Abul ‘Ala Al-Maududi menafsirkannya sebagai lembaga penengah dan pemberi fatwa.[3] Ahlul Halli Wal ‘Aqdi juga bisa disebut dengan Ahlul Ikhtiyar ataupun Ahlu Asy-Syura.[4]

Perbedaan antara zaman dahulu dan modern terletak pada proses pemilihan, dimana Pada zaman dahulu tidak diadakannya pemilihan sebagaimana zaman modern. Saat ini seorang yang ingin menjadi anggota parlemen diharuskan mengikuti pemilihan anggota parlemen. Dahulu jika ingin mengetahui bahwa mereka adalah perwakilan ataupun tokoh dari masyarakat bisa dilihat dari bagaimana masyarakat menerima ucapannya, seperti basyir bin said, seorang pemimpin dari kalangan anshar dan bukan termasuk seorang yang berkompetensi dalam mengeluarkan fatwa namun dialah orang dari kalangan anshar yang pertama kali membaiat Sayyidina Abu Bakr Shiddiq R.A seketika itu kaum khajraj pun tunduk dan patuh pada keputusannya untuk mengangkat Sayyidina Abu Bakr R. A. menjadi khalifah. Ahlul Halli Wal ‘Aqdi bisa juga diangkat dan ditentukan oleh khalifah sebagaimana yang terjadi sebelum wafatnya Sayyidina Umar Bin Khattab R.A, disaat itu beliau menentukan 6 orang yang menjadi Ahlul Halli Wal ‘Aqdi. Dari ke enam orang tersebut mereka memilih salah satu diantara mereka untuk dijadikan khalifah berikutnya setelah wafatnya Sayyidina Umar Bin Khattab R.A

Para ulama perpendapat bahwa Ahlul Halli Wal A’qdi memiliki wewenang untuk menggangkat Imam (pemimpin Negara), mencari penggantinya jika Imam sedang tidak berada di wilayahnya dan ketidakberadaannya akan membawa mudharat bagi kaum muslimin sehingga mengharuskan para Ahlul Halli Wal ‘Aqdi membaiat seseorang untuk menggantikannya sementara tanpa menjadikan orang tersebut sebagai khalifah atau pemimpin negara dikarenakan statusnya hanya sebagai pengganti sementara, bisa juga memakzulkan pemimpin negara jika melihat adanya sesuatu penyebab yang mengharuskan pemimpin Negara itu untuk dimakzulkan.[5]

Abul A’la Al-Maududi dalam bukunya sistem politik Islam menyebutkan beberapa fungsi Ahlu Halli Wal ‘Aqdi atau lembaga legislatif dalam suatu negara Islam diantaranya :

  1. jika terdapat pedoman-pedoman yang jelas dari Allah Ta’ala dan Rasulullah S.A.W, meskipun legislatif tidak dapat mengubah atau menggantinya, maka hanya legislatiflah yang berkompeten untuk menegakkannya dalam susunan dan bentuk pasal per pasal dengan menggunakan definisi-definisi yang relevan beserta rincian-rinciannya, menciptakan peraturan-peraturan dan undang-undang.
  2. jika pedoman-pedoman Al-Quran dan As-Sunnah mempunyai kemungkinan interpretasi lebih dari satu, maka legislatiflah yang berhak memutuskan penafsiran mana yang harus ditempatkan dalam kitab-kitab undang-undang dasar (sebuah Negara). untuk tujuan ini maka tidak ada tawar-menawar lagi bahwa lembaga legislatif harus beranggotakan orang-orang yang terpelajar yang memiliki kemampuan dan kapasitas untuk menafsirkan perintah-perintah Al-Quran dan dalam memberikan berbagai keputusan tidak akan melepaskan diri dari jiwa dan isi syariah. Pada dasarnya harus diakui bahwa untuk tujuan perundang-undangan, suatu lembaga legislatif harus memiliki kewenangan untuk memberikan fatwa mengenai penafsiran mana yang harus di pilih dan untuk menegakkan penafsiran mana yang harus di pilihnya sebagai hukum, kecuali bahwa penafsiran itu hanya ada satu dan bukan merupakan pelanggaran atau penyimpangan semu dari hukum.
  3. jika tidak ada isyarat yang jelas dalam Al Qur’an dan As Sunnah, fungsi lembaga legislatif ini adalah menegakkan hukum-hukum yang berkaitan dengan selalu menjaga jiwa hukum Islam. Jika sudah ada hukum-hukum dalam bidang yang sama dan telah tercantum dalam kitab-kitab fiqih, maka dia bertugas untuk menganut salah satu diantaranya.
  4. jika dalam masalah apapun Al-Quran dan As-Sunnah tidak memberikan pedoman yang sifatnya dasar sekalipun, atau masalah ini tidak ada dalam konvensi Al-Khulafau Ar-Rasyidin, maka kita harus mengartikan bahwa Tuhan telah membiarkan kita bebas melakukan legislasi mengenai masalah ini menurut apa yang terbaik.[6]

Sifat-Sifat Yang Harus Dimiliki Seorang Ahlu Halli Wal ‘Aqdi

  1. Al-‘Adalah : yaitu sifat adil sebagaimana yang ditentukan dan disyaratkan dalam Syahadat (persaksian di pengadilan), baliq, Aqil, tiada kefasikan dalam dirinya dan menjaga harkat dan martabatnya.
  2. Mempunyai kapabilitas dan kapasitas keilmuan yang mumpuni, dimana dia dapat mengetahui serta menyeleksi siapa saja yang pantas untuk dijadikan sebagai seorang pemimpin negara.
  3. Mempunyai wawasan dan hikmah yang dengan keduanya bisa membuatnya bijak dalam memilih pemimpin yang terbaik untuk kamu mukminin.[7]
  4. Termasuk seorang yang dianggap sebagai tokoh yang perkataannya didengar oleh masyarakat.[8]
  5. Memiliki jiwa yang ikhlas dan senang menasehati kaum muslimin.[9]

Wallahu’alam.

[1]. Lihat lisanul ‘Arab maadah أهل. Tajul ‘Arus maadah حلل.

[2]. Asna Al-Mathalib Syarhu Raudh At-Thalib jilid 4 hal 109 cet Darul Kitab Al-Islami. Hasyiyah Qalyubi Wa ‘Umairah ‘Ala Syarhi Al-Mahalli jilid 4 hal 173 cet. ‘Isa Al-Halbi.

[3]. Sistem Politik Islam hal 245 cet pertama tahun 1990 penerbit Mizan.

[4]. Ahkamu As-Sulthaniyah karya Al-Mawardi hal 8 cet Darul Kutub Al-‘Ilmiyah. Ahkamu As-Sulthaniyah karya Abu Y’ala Al-Farra hal 23 cet Darul Kutub Al-‘Ilmiyah.

[5]. Ahkamu As-Sulthaniyah karya Al-Mawardi hal 11 cet Darul Kutub Al-‘Ilmiyah. Ahkamu As-Sulthaniyah karya Abu Y’ala Al-Farra hal 10 cet Darul Kutub Al-‘Ilmiyah. Asna Al-Mathalib Syarhu Raudh At-Thalib jilid 4 hal 110 cet Darul Kitab Al-Islami.

[6]. Sistem Politik Islam hal 24-247 cet pertama tahun 1990 penerbit Mizan.

[7]. Ahkamu As-Sulthaniyah karya Al-Mawardi hal 6 cet Darul Kutub Al-‘Ilmiyah. Ahkamu As-Sulthaniyah karya Abu Y’ala Al-Farra hal 2-3 cet Darul Kutub Al-‘Ilmiyah. Asna Al-Mathalib Syarhu Raudh At-Thalib jilid 4 hal 109 cet Darul Kitab Al-Islami. Hasyiyah Qalyubi Wa ‘Umairah ‘Ala Syarhi Al-Mahalli jilid 4 hal 173 cet. ‘Isa Al-Halbi.

[8] Al-Muntaqi Min Minhaji Al-‘Itidal hal 51.

[9].Hujjatullah Al-Balighah karya Ad-Dahlawi hal 738 cet Daul Kutub Al-Haditsah.

Hukum Mengusap Kepala 3 Kali Disaat Berwudhu

Para pakar fikih sepakat bahwasannya wajibnya membasuh anggota wudhu hanya satu kali. Adapun basuhan yang kedua dan ketiga dianggap sunah. Pendapat ini berdasarkan perintah berwudhu dalam Al Quran yang dimaknai dengan hanya sekali basuhan. Sedangkan sunah membasuh 3 kali pada anggota wudhu didapati dari hadits nabi shallallahu ‘alaihi wasalam diantaranya hadits berikut ini.

عن حمران مولى عثمان بن عفان أنه رأى عثمان بن عفان دعا بوضوء فأفرغ على يديه من إنائه فغسلهما ثلاث مرات ثم أدخل يمينه في الوضوء ثم تمضمض واستنشق واستنثر ثم غسل وجهه ثلاثا ويديه إلى المرفقين ثلاثا ثم مسح برأسه ثم غسل كل رجل ثلاثا ثم قال رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتوضأ نحو وضوئي هذا وقال من توضأ نحو وضوئي هذا ثم صلى ركعتين لا يحدث فيهما نفسه غفر الله له ما تقدم من ذنبه

Humran pembantu Utsman menceritakan bahwa Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu pernah meminta air wudhu untuk digunakan berwudhu. Maka dituangkan air wudhu itu diatas kedua tangannya lalu dibasuhnya 3 kali, kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam air lalu berkumur-kumur diiringi memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya dari hidung, membasuh mukanya 3 kali lalu membasuh kedua tangannya sampai siku 3 kali, mengusap kepala, membasuh kaki kanan dan kiri sampai mata kaki 3 kali. Lantas Utsman RadhiyAllahu ‘anhu berkata “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian dia shalat dua rakaat dengan khusyuk (tidak memikirkan urusan dunia dan yang tidak punya kaitan dengan shalat), maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (H.R Bukhari dan Muslim)

Namun para ulama berbeda pendapat dalam mengusap kepala 3 kali. Apakah dianggap sebagai sunah ataukah tidak? Apakah memiliki keutamaan ataukah tidak? Berikut ini akan saya paparkan pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Pendapat dari mazhab Hanafiyah yaitu memakruhkan membasuh kepala tiga kali. Namun ada juga riwayat dari Al-Hasan yang menyebutkan bahwa Imam Abu Hanifah (w 150 H) pernah mengusap kepala 3 kali dengan air yang sama disaat berwudhu.

Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menuliskan sebagai berikut :

ومنها أن يمسح رأسه مرة واحدة والتثليث مكروه وهذا عندنا .وقال الشافعي السنة هي التثليث وروى الحسن عن أبي حنيفة أنه يمسح ثلاث مرات بماء واحد

Dan termasuk dari syarat rukun berwudhu yaitu mengusap kepala sekali saja. Mengusap kepala sebanyak tiga kali adalah perbuatan makruh menurut pandangan kami. Imam Syafi’i (w 204 H) berpendapat bahwa mengusap kepala tiga kali sunah. Al Hasan meriwayatkan bahwasannya Imam Abu Hanifah (w 150 H) pernah mengusap kepala tiga kali dengan air yang sama.[1]

Ibnul Humam (w. 681 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Fathul Qadir menuliskan sebagai berikut :

 قوله وتكرار الغسل إلى الثلاث ) قيد به لإِفادة أنه لا يسن التكرار في المسح

Pernyataan yang menyatakan (sunahnya) mengulang basuhan sebanyak tiga kali mempunyai arti tentang keterikatan antara basuhan dan jumlah bilangan tiga kali yang bermakna tidak sunahkan mengulang dalam mengusap.[2]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Dalam mazhab ini mengusap kepala tiga kali tidak mengapa namun tidak juga memiliki keutamaan.

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan sebagai berikut :

ولا فضيلة عند مالك في مسحه ثلاثا كما أنه لا يمسح عنده في التيمم الوجه واليدين إلا مرة واحدة وكذلك على الخفين ولا فضل عنده في تكرار المسح في ذلك

Menurut Imam Malik (w 179 H) tidak ada keutamaan dalam mengusap kepala 3 kali sebagaimana mengusap wajah dan tangan disaat bertayammun yang hanya diusap sekali saja. Begitupula dengan mengusap khuf yang tidak ada keutamaan dalam mengulang usapan tersebut.[3]

Ad-Dasuqi (w 1230 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Hasyiyah Ad-Dasuqi menuliskan sebagai berikut :

أن تكرار المسح كالأذنين ( لكالأذنين ) والرأس ليس بفضيلة وهو كذلك لأن المسح مبني على التخفيف والتكرار ينافيه

Bahwasannya mengusap ulang telinga dan kepala tidak ada fadhilahnya. dikarenakan mengusap asalnya terbangun untuk meringankan (orang yang berwudhu) dan mengulang usapan akan meniadakan keringanan yang diberikan.[4]

3. Mazhab Asy-Syafi’i

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menuliskan sebagai berikut :

في تكرار مسح الرأس مذهبنا المشهور الذى نص عليه الشافعي رضي الله عنه في كتبه وقطع به جماهير الاصحاب أنه يستحب مسح الرأس ثلاثا كما يستحب تطهير باقي الاعضاء ثلاثا

Pendapat dari mazhab kami yang masyhur dalam permasalahan mengulang usapan di kepala sebagaimana yang telah dinashkan oleh Imam Syafi’i (w 150 H) dalam kitab-kitabnya dan juga telah memastikan (menguatkan) mayoritas pakar fikih kalangan syafi’iyah bahwasannya disunahkan mengusap kepala sebanyak 3 kali usapan sebagaimana sunahnya dalam mensucikan anggota-anggota wudhu yang lain sebanyak tiga kali (basuhan).[5]

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitab Mughni Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

ومن سننه (تثليث الغسل والمسح)

Dan termasuk sunahnya (wudhu) yaitu membasuh dan mengusap sebanyak tiga kali.[6]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut :

فصل : ولا يسن تكرار مسح الرأس في الصحيح من المذهب

Pendapat yang shahih dalam mazhab yaitu Tidak disunahkan mengulangi usapan di kepala.[7]

Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih minal Khilaf menuliskan sebagai berikut :

قوله ولا يستحب تكراره هذا المذهب وعليه الجمهور قال الشارح هذا الصحيح من المذهب.

Dan tidak disunahkan mengulanginya (usapan di kepala). Inilah pendapat dari mazhab (hanbali) dan juga mayoritas para pakar fikih. Pendapat inilah yang benar dalam mazhab hanbali.[8]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar menuliskan sebagai berikut :

فلو مسح بعض رأسه أجزأه وان قل، ونستحب أن يمسح رأسه ثلاثا أو مرتين وواحدة تجزئ

Sah jika mengusap sebagian kepala walaupun sedikit. Dan kami mensunahkan mengusap kepala sebanyak tiga atau dua kali. namun sah jika hanya mengusap sekali saja.[9]

Wallahu’alam.

[1] Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 1 hal 22 cet. Darul Hadits.

[2] Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal 27 cet. Ihya At-Turats.

[3] Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah, hal 21 cet Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah.

[4] Ad-Dasuqi, Hasyiyah Ad-Dasuqi, jilid 1 hal 101-102 cet. Daar Al-Fikr.

[5] An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdab, jilid 1 hal 432 cet. Daar Al-Fikr.

[6] Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 hal 102 cet. Daar Al-Ma’rifah Beirut.

[7] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal 141 cet. Al-Kitab Al-‘Arabi.

[8] Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih min Al-Khilaf, jilid 1 hal 163.

[9] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal 295.

SELINTAS PANDANG TENTANG HUKUM AIR MUSTA’MAL

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat mengenai definisi dari air musta’mal begitupula mengenai hukumnya. Secara global atau garis besar penggunaan air musta’mal dibagi menjadi 3 pendapat. Ada yang membolehkan bersuci dengannya dan tidak membedakan antara air must’amal dengan air muthlak, pendapat ini dinisbatkan kepada mazhab Azh-Zhahiriyah,Abu Tsaur (w 240 H) dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad (w 241 H), ada juga yang tidak membolehkan bersuci dengannya dan pendapat ini dinisbatkan kepada mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah dan riwayat yang masyhur dari Imam Ahmad (w 241 H). Pendapat yang ketiga yaitu memakruhkannya serta tidak boleh bertayammum jika masih ada air musta’mal namun jika berwudhu dengan menggunakannya dianggap sah wudhunya, pendapat ini dinisbatkan kepada mazhab Maliki. Namun Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyah punya pendapat yang lain yaitu air must’amal dihukumi najis dan pendapat ini diklaimnya berasal dari Imam Abu Hanifah (w 150 H), hanya saja pendapat ini dinyatakan sebagai pendapat yang syadz.[1]

Hadits yang membicarakan tentang air musta’mal :

أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن يتوضأ الرجل بفضل طهوري المرأة أو قال بسؤرها؛ قال ابو عيسى هذا حديث حسن

Artinya : Rasulullah SAW melarang laki-laki berwudhu dengan bekas air yang dipakai bersuci perempuan dan Abu Isa (Imam Turmidzi) mengatakan Hadits ini hasan (H.R. At-Turmidzi)

Berikut ini akan saya paparkan penjelasan-penjelasannya langsung dari kitab-kitab yang mu’tamad dalam mazhab masing-masing.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Air musta`mal dalam mazhab Hanafi adalah air yang telah digunakan untuk mengangkat hadats (wudhu` untuk shalat atau mandi wajib) atau untuk qurbah (wudhu dan mandi Sunah).
Yang menjadi musta`mal adalah air yang membasahi tubuh saja dan bukan air yang tersisa di dalam wadah. Air itu langsung memiliki hukum musta`mal saat dia menetes dari tubuh sebagai sisa wudhu` atau mandi. Sedangkan air yang di dalam wadah tidak menjadi musta`mal. Bagi mereka, air musta`mal ini hukumnya suci tapi tidak bisa mensucikan. Artinya air itu suci tidak najis, tapi tidak bisa digunakan lagi untuk wudhu` atau mandi janabah.

Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menuliskan sebagai berikut :

أما على قول محمد ; فلأنَه أقيم به قربة إذا توضأ لأداء الصلاة لأن الماء إنما يصير مستعملا بقصد التقرب عنده وقد ثبت بالأَحاديث أَن الْوضوء سبب لإزالة الآثام عن المتوضئ للصلاة , فينتقل ذلك إلى الماء

Pendapat Imam Muhammad Bin Hasan (w 189 H) mengenai air musta’mal adalah : air yang digunakan untuk kegiatan qurbah (ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala) seperti berwudhu untuk menunaikan sholat. Sesungguhnya air akan menjadi musta’mal dikarenakan niat dan tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hadits-hadits Nabi Shallahu a’laihi wasallam telah menguatkan hal ini dan menyatakan bahwa berwudhu untuk menunaikan sholat bisa menyebabkan hilangnya dosa-dosa seorang yang berwudhu. Dosa-dosa tersebut berpindah ke air yang dipakai untuk berwudhu.

وأما على قول زفر ; فلأنه قام به معنى مانع من جواز الصلاة وهو الحدث ; لأن الماء عنده إنما يصير مستعملا بإزالة الحدث

Pendapat dari Imam Zufar (w 158 H) mengenai air musta’mal adalah : air yang digunakan untuk menghilangkan sesuatu yang mencegah seseorang untuk menunaikan sholat yaitu hadats dalam artian air akan dikatakan sebagai air musta’mal jika air tersebut telah digunakan untuk menghilangkan hadats.

فقد ذكر في ظاهر الرواية أنه لا يجوز التوضؤ به ولم يذكر أنه طاهر أم نجس ؟ وروى محمد عن أبي حنيفة أنه طاهر غير طهور… وروى أبو يوسف والحسن بن زياد عنه أنه نجس…. وقال زفر إن كان المستعمل متوضأ ( متوضئا ) فالماء المستعمل طاهر وطهور وإن كان محدثا فهو طاهر غير طهور

Telah disebutkan dalam zhahir riwayat bahwasannya air musta’mal tidak boleh dipakai berwudhu namun tidak disebutkan apakah dia suci ataukah najis. Muhammad bin Hasan (w 189 H) meriwayatkan pendapat Imam abu hanifah yang menyatakan bahwa air musta’mal itu suci namun tidak mensucikan… Qadhi Abu Yusuf (w 181 H) dan Al Hasan bin Ziyad Juga meriwayatkan darinya (Imam Abu Hanifah) bahwasannya air musta’mal itu najis…

Imam Zufar (w 158 H) berkata : jika air must’amal bekas dipakai berwudhu oleh seorang yang masih mempunyai wudhu sebelumnya, maka air musta’mal itu dihukumi suci dan mensucikan. Namun jika air musta’mal bekas dipakai oleh seorang yang berhadats maka air tersebut dihukumi suci tapi tidak bisa mensucikan.[2]

Ibnul Humam (w. 681 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Fathul Qadir menuliskan sebagai berikut :

قال أبو حنيفة وأبو يوسف : إذا أزيل به حدث أو تقرب به.. ومتى يصير مستعملا الصحيح أنه كما زايل العضو

Air musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk menghilangkan hadats atau untuk kegiatan qurbah. Dan kapankah air (muthlak) menjadi air musta’mal ? (pendapat) yang shohih adalah jika air tersebut telah terpisah dari anggota tubuh.[3]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Adapun mazhab Maliki mendefinisikan air musta`mal sebagai air yang telah digunakan untuk mengangkat hadats baik digunakan untuk berwudhu` ataupun mandi. Dan tidak dibedakan apakah wudhu` atau mandi itu wajib atau sunnah. Juga air yang telah digunakan untuk menghilangkan khabats (barang najis).

أن الماء إذا استعمل في رفع حدث أو في إزالة حكم خبث

Sesungguhnya air musta’mal adalah yang yang sudah digunakan untuk mengangkat hadats atau menghilangkan khabats (najis).[4]

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan sebagai berikut :

والماء المستعمل طاهر إذا كانت أعضاء المتوضئ به طاهرة إلا أن مالكا وجماعة من الفقهاء الجلة كانوا يكرهون الوضوء به وقال مالك [رحمه الله] لا خير فيه ولا أحب لأحد أن يتوضأ به فإن فعل وصلى لم أر عليه إعادة الصلاة

Dan air musta’mal itu suci jika bagian tubuh orang yang berwudhu dalam keadaan suci ketika menggunakan air (muthlak) tersebut. Namun Imam Malik (w 179 H) dan semua ahli fiqih memakruhkan menggunakan air musta’mal untuk berwudhu. Imam Malik (w 179 H) berkata : air musta’mal tidaklah baik (untuk digunakan bersuci) dan aku tidak menyukai jika seseorang berwudhu dengan menggunakannya, namun jika seseorang berwudhu dengan menggunakannya, aku tidak melihat adanya kewajiban baginya untuk mengulang shalat.[5]

Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut :

القسم الثالث الماء الذي لا يطهر ولا ينجس وهو ما تغير أحد أوصافه بطاهر غير لازم له…. فرعان : الأول الماء المستعمل في الحدث إذا لم يكن على الأعضاء نجاسة ولا وسخ قال مالك رحمه الله في الكتاب لا يتوضأ بماء توضئ به مرة قال ابن القاسم إن لم يجد غيره توضأ

Bagian ketiga : air yang tidak mensucikan dan juga tidak najis yaitu air yang berubah salah satu sifat-sifatnya dengan tercampur oleh sesuatu yang suci…. Air yang tidak bisa mensucikan dan tidak najis ada 2 yang pertama : air yang digunakan untuk menghilangkan hadats jika tidak ada najis ataupun kotoran yang menempel di anggota tubuh (yang dibasuh). Imam Malik (w 179 H) berpendapat bahwa tidak boleh berwudhu dengan air yang sudah dipakai berwudhu sebelumnya. Namum Ibnu Qosim (w 191 H) berkata : jika tidak menemukan air selain air musta’mal maka tidak mengapa berwudhu dengannya.[6]

3. Mazhab Asy-Syafi’i

Dalam mazhab Syafi’i air musta’mal diartikan sebagai air yang sedikit (kurang dari 2 qulah) dan digunakan untuk kegiatan yang wajib dalam bersuci seperti pada basuhan pertama. Atau juga air yang dipakai untuk menghilangkan najis di badan dan di baju. Adapun jika air tersebut dipakai untuk kegiatan bersuci yang sunah seperti basuhan yang ke 2 atau ke 3 kalinya dihukumi bukan sebagai air musta’mal menurut qaul jadidnya Imam Syafi’i (w 204 H).

Asy-Syirazi (w. 476 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnya Al-Muhadzdzab menuliskan sebagai berikut :

الماء المستعمل ضربان : مستعمل في طهارة الحدث، ومستعمل في طهارة النجس.

Air musta’mal ada 2 jenis : Air yang digunakan untuk bersuci dari hadats dan air yang dipakai untuk mensucikan najis.[7]

فأما المستعمل في طهارة الحدث فينظر فيه، فإن استعمل في رفع حدث فهو طاهر لأنه ماء طاهر لاقى محلاً طاهراً فكان طاهراً، كما لو غسل به ثوب طاهر. وهل تجوز به الطهارة أم لا ؟ فيه طريقان: من أصحابنا من قال: فيه قولان المنصوص أنه لا يجوز لأنه زال عنه إطلاق اسم الماء فصار كما لو تغير بالزعفران، وروي عنه أنه قال: يجوز الوضوء به لأنه استعمال لم يغير صفة الماء فلم يمنع الوضوء به كما لو غسل به ثوب طاهر. ومن أصحابنا من لم يثبت هذه الرواية.

Air musta’mal yang bekas digunakan untuk bersuci dari hadats maka perlu diteliti dulu, jika air tersebut bekas digunakan untuk menghilangkan hadats maka air itu suci, dikarenakan air tersebut bertemu dengan tempat yang suci. Sebagaimana jika memakainya untuk mencuci baju yang suci (tidak ada najis).

Namun apakah lantas air tersebut bisa dipakai untuk bersuci? Dalam hal ini ada 2 cara. Ashab kami (Syafi’iyah) berkata : di dalam permasalahan ini ada 2 pendapat yang telah dinashkan. Pendapat yang pertama yaitu tidak boleh menggunakan air musta’mal untuk bersuci dikarenakan telah hilang kemuthlakan dalam penamaannya (tidak disebut lagi sebagai air muthlak) sama halnya dengan air muthlak yang bercampur dengan minyak za’faran (suci namun tidak mensucikan). Pendapat yang kedua yang diriwayatkan juga oleh ashab kami adalah boleh berwudhu dengan air musta’mal dikarenakan perubahannya tidak mengubah sifat air tersebut, maka tidak mengapa berwudhu dengannya sebagaimana air yang dipakai untuk menyuci baju. Namun riwayat ini tidak dipakai oleh para Ash-hab kami.

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitab Mughni Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

و الماء القليل ( المستعمل في فرض الطهارة ) عن حدث كالغسلة الأولى فيه ( قيل : ونفلها ) كالغسلة الثانية والثالثة , والغسل المسنون والوضوء المجدد طاهر (غير طهور في الجديد)…. وَالأَصَحُّ أَنَّ الْمُسْتَعْمَلَ فِي نَفْلِ الطَّهَارَةِ عَلَى الْجَدِيدِ طَهُورٌ لانْتِفَاءِ الْعِلَّةِ

Air musta’mal adalah air yang sedikit dan telah digunakan untuk (kegiatan) yang wajib dalam bersuci dari hadats seperti basuhan yang pertama, namun ada juga pendapat yang menyatakan bahwa air yang digunakan untuk basuhan yang ke 2 dan ke 3, mandi yang disunahkan serta tajdidul (memperbaharui) wudhu dianggap sebagai air suci namun tidak bisa mensucikan menurut qaul jadid. Namun menurut pendapat qaul jadid yang paling shahih adalah air musta’mal itu suci mensucikan jika air (muthlak) tersebut telah digunakan untuk kegiatan yang sunah dalam bersuci. Hal itu dikarenakan sudah hilangnya ilat atau sebab (yang membuatnya dinyatakan sebagai air musta’mal).[8]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Di dalam mazhab ini ada 2 riwayat dari Imam Ahmad. yang pertama menyatakan bolehnya bersuci dengan air musta’mal sedangkan riwayat yang lainnya menyatakan air musta’mal tidak bisa dipakai untuk bersuci dan riwayat inilah yang masyhur di kalangan Hanabilah.

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Kafi Fii Fiqhi Ibni Hanbal menuliskan sebagai berikut :

فأن استعمل في رفع الحدث فهو طاهر لأن النبي صلى الله عليه وسلم : [ صب على جابر من وضوئه ] رواه البخاري ولأنه لم يصبه نجاسة فكان طاهرا كالذي تبرد به وهل تزول طهوريته به ؟فيه روايتان :أشهرهما : زوالها لأنه زال عنه إطلاق اسم الماء أشبه المتغير بالزعفران. والثانية : لا تزول لأنه استعمال لم يغير الماء أشبه التبرد به وإن استعمل في طهارة مستحبة كالتجديد وغسل الجمعة والغسلة الثانية والثالثة فهو باق على إطلاقه لأنه لم يرفع حدثا ولم يزل نجسا . وعنه أنه غير مطهر لأنه مستعمل في طهارة شرعية أشبه المستعمل في رفع الحدث

Jika air sudah digunakan untuk mengangkat hadats maka air tersebut masih suci namun tidak mensucikan dikarenakan Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam pernah menuangkan bekas wudhu kepada Jabir radhiyallahu ‘anhu (H.R Bukhari). Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mungkin menuangkan air jika air tersebut najis. Maka dari itulah air tersebut dianggap suci dan bisa digunakan untuk mendinginkan (badan ataupun yang lainnya). namun apakah air itu masih bisa digunakan untuk bersuci?

Disini ada 2 riwayat dan yang paling masyhur adalah tidak bisa dipakai untuk bersuci dikarenakan sudah tidak bisa dinamai dengan air mutlak sebagaimana air yang berubah dikarenakan bercampur dengan minyak za’faran.

Riwayat kedua mengatakan : air musta’mal masih bisa dipakai bersuci, dikarenakan hanya dipakai untuk sesuatu yang tidak merubahnya seperti dipakai untuk mendinginkan (badan). Dan jika dipakai untuk kegiatan bersuci yang dianggap sunah seperti memperbaharui wudhu, mandi jumat, basuhan yang ke 2 dan ke 3 kalinya (dalam berwudhu) maka air itu tetap dianggap sebagai air mutlak. Dikarenakan dia tidak dipakai untuk mensucikan hadats ataupun menghilangkan najis.

Dan juga ada pendapat dari Imam Ahmad yang menyatakan bahwa air tersebut tidak bisa mensucikan dikarenakan telah digunakan dalam bersuci yang telah disyariatkan sehingga memiliki keserupaan dalam mengangkat hadats.[9]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Dalam mazhab ini air musta’mal didefinisikan sebagai air bekas berwudhu ataupun bekas mandi janabah dan bisa digunakan untuk bersuci walaupun ada air muthlak.

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar menuliskan sebagai berikut :

والوضوء بالماء المستعمل جائز وكذلك الغسل به للجنابة وسواء وجد ماء آخر غيره أو لم يوجد وهو الماء الذي توضأ به بعينه لفريضة أو نافلة أو اغتسل به بعينه لجنابة أو غيرها وسواء كان المتوضىء به رجلا أو امرأة

Dan berwudhu dengan air musta’mal dibolehkan begitupula dengan mandi junub. Baik ditemukan ada air selainnya (air muthlak) ataupun tidak ditemukan. Air musta’mal adalah air yang sudah digunakan untuk berwudhu baik itu untuk digunakan untuk fardhu wudhu ataupun sunah wudhu begitupula jika telah digunakan untuk mandi janabah. Sama saja jika yang berwudhu itu laki-laki ataupun perempuan.[10]

Wallahu’alam.

[1] Ibnu Rusyd, Bidayatu Al-Mujtahid Wa Nihayatu Al-Muqtashid, hal 28-29 cet Maktabah Asy-Syuruq Ad-Dauliyah .Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 1 hal 66-67 cet. Maktabah Al-‘Ilmiyah.

[2]. Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 1 hal 66-67 cet. Maktabah Al-‘Ilmiyah.

[3] Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal. 89-90 cet Daar Al-Fikr.

[4]. Ad-Dasuki, Hasyiyah Ad-Dasuki ‘Ala Asy-Syarhi Al-Kabir, jilid 1 hal 41 cet Daar Al-Fikr.

[5] Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah, hal 16 cet Daar Al Kutub Al ‘Ilmiyah beirut.

[6] Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1 hal 174 cet Daar Al-Gharb Al-Islami.

[7] Asy-Syirazi, Al-Muhadzdab, jilid 1 hal. 8 cet. Isa Al-Halbi.

[8] Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 , hal. 21 cet. Daar Al-Fikri.

[9] Ibnu Qudamah, Al-Kafii Fii Fiqhi Ibni Al-Hanbal jilid 1 hal 9-10 cet Hijr. Begitu pula di kitabnya Al-Mughni, jilid 1 hal 21 cet. Al-Kitab Al-‘Arabi.

[10] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 183-184 cet. Idarah At-Thiba’ah Al-Muniriyah Mesir.