SELINTAS PANDANG TENTANG HUKUM AIR MUSTA’MAL

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat mengenai definisi dari air musta’mal begitupula mengenai hukumnya. Secara global atau garis besar penggunaan air musta’mal dibagi menjadi 3 pendapat. Ada yang membolehkan bersuci dengannya dan tidak membedakan antara air must’amal dengan air muthlak, pendapat ini dinisbatkan kepada mazhab Azh-Zhahiriyah,Abu Tsaur (w 240 H) dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad (w 241 H), ada juga yang tidak membolehkan bersuci dengannya dan pendapat ini dinisbatkan kepada mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah dan riwayat yang masyhur dari Imam Ahmad (w 241 H). Pendapat yang ketiga yaitu memakruhkannya serta tidak boleh bertayammum jika masih ada air musta’mal namun jika berwudhu dengan menggunakannya dianggap sah wudhunya, pendapat ini dinisbatkan kepada mazhab Maliki. Namun Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyah punya pendapat yang lain yaitu air must’amal dihukumi najis dan pendapat ini diklaimnya berasal dari Imam Abu Hanifah (w 150 H), hanya saja pendapat ini dinyatakan sebagai pendapat yang syadz.[1]

Hadits yang membicarakan tentang air musta’mal :

أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن يتوضأ الرجل بفضل طهوري المرأة أو قال بسؤرها؛ قال ابو عيسى هذا حديث حسن

Artinya : Rasulullah SAW melarang laki-laki berwudhu dengan bekas air yang dipakai bersuci perempuan dan Abu Isa (Imam Turmidzi) mengatakan Hadits ini hasan (H.R. At-Turmidzi)

Berikut ini akan saya paparkan penjelasan-penjelasannya langsung dari kitab-kitab yang mu’tamad dalam mazhab masing-masing.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Air musta`mal dalam mazhab Hanafi adalah air yang telah digunakan untuk mengangkat hadats (wudhu` untuk shalat atau mandi wajib) atau untuk qurbah (wudhu dan mandi Sunah).
Yang menjadi musta`mal adalah air yang membasahi tubuh saja dan bukan air yang tersisa di dalam wadah. Air itu langsung memiliki hukum musta`mal saat dia menetes dari tubuh sebagai sisa wudhu` atau mandi. Sedangkan air yang di dalam wadah tidak menjadi musta`mal. Bagi mereka, air musta`mal ini hukumnya suci tapi tidak bisa mensucikan. Artinya air itu suci tidak najis, tapi tidak bisa digunakan lagi untuk wudhu` atau mandi janabah.

Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menuliskan sebagai berikut :

أما على قول محمد ; فلأنَه أقيم به قربة إذا توضأ لأداء الصلاة لأن الماء إنما يصير مستعملا بقصد التقرب عنده وقد ثبت بالأَحاديث أَن الْوضوء سبب لإزالة الآثام عن المتوضئ للصلاة , فينتقل ذلك إلى الماء

Pendapat Imam Muhammad Bin Hasan (w 189 H) mengenai air musta’mal adalah : air yang digunakan untuk kegiatan qurbah (ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala) seperti berwudhu untuk menunaikan sholat. Sesungguhnya air akan menjadi musta’mal dikarenakan niat dan tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hadits-hadits Nabi Shallahu a’laihi wasallam telah menguatkan hal ini dan menyatakan bahwa berwudhu untuk menunaikan sholat bisa menyebabkan hilangnya dosa-dosa seorang yang berwudhu. Dosa-dosa tersebut berpindah ke air yang dipakai untuk berwudhu.

وأما على قول زفر ; فلأنه قام به معنى مانع من جواز الصلاة وهو الحدث ; لأن الماء عنده إنما يصير مستعملا بإزالة الحدث

Pendapat dari Imam Zufar (w 158 H) mengenai air musta’mal adalah : air yang digunakan untuk menghilangkan sesuatu yang mencegah seseorang untuk menunaikan sholat yaitu hadats dalam artian air akan dikatakan sebagai air musta’mal jika air tersebut telah digunakan untuk menghilangkan hadats.

فقد ذكر في ظاهر الرواية أنه لا يجوز التوضؤ به ولم يذكر أنه طاهر أم نجس ؟ وروى محمد عن أبي حنيفة أنه طاهر غير طهور… وروى أبو يوسف والحسن بن زياد عنه أنه نجس…. وقال زفر إن كان المستعمل متوضأ ( متوضئا ) فالماء المستعمل طاهر وطهور وإن كان محدثا فهو طاهر غير طهور

Telah disebutkan dalam zhahir riwayat bahwasannya air musta’mal tidak boleh dipakai berwudhu namun tidak disebutkan apakah dia suci ataukah najis. Muhammad bin Hasan (w 189 H) meriwayatkan pendapat Imam abu hanifah yang menyatakan bahwa air musta’mal itu suci namun tidak mensucikan… Qadhi Abu Yusuf (w 181 H) dan Al Hasan bin Ziyad Juga meriwayatkan darinya (Imam Abu Hanifah) bahwasannya air musta’mal itu najis…

Imam Zufar (w 158 H) berkata : jika air must’amal bekas dipakai berwudhu oleh seorang yang masih mempunyai wudhu sebelumnya, maka air musta’mal itu dihukumi suci dan mensucikan. Namun jika air musta’mal bekas dipakai oleh seorang yang berhadats maka air tersebut dihukumi suci tapi tidak bisa mensucikan.[2]

Ibnul Humam (w. 681 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Fathul Qadir menuliskan sebagai berikut :

قال أبو حنيفة وأبو يوسف : إذا أزيل به حدث أو تقرب به.. ومتى يصير مستعملا الصحيح أنه كما زايل العضو

Air musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk menghilangkan hadats atau untuk kegiatan qurbah. Dan kapankah air (muthlak) menjadi air musta’mal ? (pendapat) yang shohih adalah jika air tersebut telah terpisah dari anggota tubuh.[3]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Adapun mazhab Maliki mendefinisikan air musta`mal sebagai air yang telah digunakan untuk mengangkat hadats baik digunakan untuk berwudhu` ataupun mandi. Dan tidak dibedakan apakah wudhu` atau mandi itu wajib atau sunnah. Juga air yang telah digunakan untuk menghilangkan khabats (barang najis).

أن الماء إذا استعمل في رفع حدث أو في إزالة حكم خبث

Sesungguhnya air musta’mal adalah yang yang sudah digunakan untuk mengangkat hadats atau menghilangkan khabats (najis).[4]

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan sebagai berikut :

والماء المستعمل طاهر إذا كانت أعضاء المتوضئ به طاهرة إلا أن مالكا وجماعة من الفقهاء الجلة كانوا يكرهون الوضوء به وقال مالك [رحمه الله] لا خير فيه ولا أحب لأحد أن يتوضأ به فإن فعل وصلى لم أر عليه إعادة الصلاة

Dan air musta’mal itu suci jika bagian tubuh orang yang berwudhu dalam keadaan suci ketika menggunakan air (muthlak) tersebut. Namun Imam Malik (w 179 H) dan semua ahli fiqih memakruhkan menggunakan air musta’mal untuk berwudhu. Imam Malik (w 179 H) berkata : air musta’mal tidaklah baik (untuk digunakan bersuci) dan aku tidak menyukai jika seseorang berwudhu dengan menggunakannya, namun jika seseorang berwudhu dengan menggunakannya, aku tidak melihat adanya kewajiban baginya untuk mengulang shalat.[5]

Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut :

القسم الثالث الماء الذي لا يطهر ولا ينجس وهو ما تغير أحد أوصافه بطاهر غير لازم له…. فرعان : الأول الماء المستعمل في الحدث إذا لم يكن على الأعضاء نجاسة ولا وسخ قال مالك رحمه الله في الكتاب لا يتوضأ بماء توضئ به مرة قال ابن القاسم إن لم يجد غيره توضأ

Bagian ketiga : air yang tidak mensucikan dan juga tidak najis yaitu air yang berubah salah satu sifat-sifatnya dengan tercampur oleh sesuatu yang suci…. Air yang tidak bisa mensucikan dan tidak najis ada 2 yang pertama : air yang digunakan untuk menghilangkan hadats jika tidak ada najis ataupun kotoran yang menempel di anggota tubuh (yang dibasuh). Imam Malik (w 179 H) berpendapat bahwa tidak boleh berwudhu dengan air yang sudah dipakai berwudhu sebelumnya. Namum Ibnu Qosim (w 191 H) berkata : jika tidak menemukan air selain air musta’mal maka tidak mengapa berwudhu dengannya.[6]

3. Mazhab Asy-Syafi’i

Dalam mazhab Syafi’i air musta’mal diartikan sebagai air yang sedikit (kurang dari 2 qulah) dan digunakan untuk kegiatan yang wajib dalam bersuci seperti pada basuhan pertama. Atau juga air yang dipakai untuk menghilangkan najis di badan dan di baju. Adapun jika air tersebut dipakai untuk kegiatan bersuci yang sunah seperti basuhan yang ke 2 atau ke 3 kalinya dihukumi bukan sebagai air musta’mal menurut qaul jadidnya Imam Syafi’i (w 204 H).

Asy-Syirazi (w. 476 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnya Al-Muhadzdzab menuliskan sebagai berikut :

الماء المستعمل ضربان : مستعمل في طهارة الحدث، ومستعمل في طهارة النجس.

Air musta’mal ada 2 jenis : Air yang digunakan untuk bersuci dari hadats dan air yang dipakai untuk mensucikan najis.[7]

فأما المستعمل في طهارة الحدث فينظر فيه، فإن استعمل في رفع حدث فهو طاهر لأنه ماء طاهر لاقى محلاً طاهراً فكان طاهراً، كما لو غسل به ثوب طاهر. وهل تجوز به الطهارة أم لا ؟ فيه طريقان: من أصحابنا من قال: فيه قولان المنصوص أنه لا يجوز لأنه زال عنه إطلاق اسم الماء فصار كما لو تغير بالزعفران، وروي عنه أنه قال: يجوز الوضوء به لأنه استعمال لم يغير صفة الماء فلم يمنع الوضوء به كما لو غسل به ثوب طاهر. ومن أصحابنا من لم يثبت هذه الرواية.

Air musta’mal yang bekas digunakan untuk bersuci dari hadats maka perlu diteliti dulu, jika air tersebut bekas digunakan untuk menghilangkan hadats maka air itu suci, dikarenakan air tersebut bertemu dengan tempat yang suci. Sebagaimana jika memakainya untuk mencuci baju yang suci (tidak ada najis).

Namun apakah lantas air tersebut bisa dipakai untuk bersuci? Dalam hal ini ada 2 cara. Ashab kami (Syafi’iyah) berkata : di dalam permasalahan ini ada 2 pendapat yang telah dinashkan. Pendapat yang pertama yaitu tidak boleh menggunakan air musta’mal untuk bersuci dikarenakan telah hilang kemuthlakan dalam penamaannya (tidak disebut lagi sebagai air muthlak) sama halnya dengan air muthlak yang bercampur dengan minyak za’faran (suci namun tidak mensucikan). Pendapat yang kedua yang diriwayatkan juga oleh ashab kami adalah boleh berwudhu dengan air musta’mal dikarenakan perubahannya tidak mengubah sifat air tersebut, maka tidak mengapa berwudhu dengannya sebagaimana air yang dipakai untuk menyuci baju. Namun riwayat ini tidak dipakai oleh para Ash-hab kami.

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitab Mughni Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

و الماء القليل ( المستعمل في فرض الطهارة ) عن حدث كالغسلة الأولى فيه ( قيل : ونفلها ) كالغسلة الثانية والثالثة , والغسل المسنون والوضوء المجدد طاهر (غير طهور في الجديد)…. وَالأَصَحُّ أَنَّ الْمُسْتَعْمَلَ فِي نَفْلِ الطَّهَارَةِ عَلَى الْجَدِيدِ طَهُورٌ لانْتِفَاءِ الْعِلَّةِ

Air musta’mal adalah air yang sedikit dan telah digunakan untuk (kegiatan) yang wajib dalam bersuci dari hadats seperti basuhan yang pertama, namun ada juga pendapat yang menyatakan bahwa air yang digunakan untuk basuhan yang ke 2 dan ke 3, mandi yang disunahkan serta tajdidul (memperbaharui) wudhu dianggap sebagai air suci namun tidak bisa mensucikan menurut qaul jadid. Namun menurut pendapat qaul jadid yang paling shahih adalah air musta’mal itu suci mensucikan jika air (muthlak) tersebut telah digunakan untuk kegiatan yang sunah dalam bersuci. Hal itu dikarenakan sudah hilangnya ilat atau sebab (yang membuatnya dinyatakan sebagai air musta’mal).[8]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Di dalam mazhab ini ada 2 riwayat dari Imam Ahmad. yang pertama menyatakan bolehnya bersuci dengan air musta’mal sedangkan riwayat yang lainnya menyatakan air musta’mal tidak bisa dipakai untuk bersuci dan riwayat inilah yang masyhur di kalangan Hanabilah.

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Kafi Fii Fiqhi Ibni Hanbal menuliskan sebagai berikut :

فأن استعمل في رفع الحدث فهو طاهر لأن النبي صلى الله عليه وسلم : [ صب على جابر من وضوئه ] رواه البخاري ولأنه لم يصبه نجاسة فكان طاهرا كالذي تبرد به وهل تزول طهوريته به ؟فيه روايتان :أشهرهما : زوالها لأنه زال عنه إطلاق اسم الماء أشبه المتغير بالزعفران. والثانية : لا تزول لأنه استعمال لم يغير الماء أشبه التبرد به وإن استعمل في طهارة مستحبة كالتجديد وغسل الجمعة والغسلة الثانية والثالثة فهو باق على إطلاقه لأنه لم يرفع حدثا ولم يزل نجسا . وعنه أنه غير مطهر لأنه مستعمل في طهارة شرعية أشبه المستعمل في رفع الحدث

Jika air sudah digunakan untuk mengangkat hadats maka air tersebut masih suci namun tidak mensucikan dikarenakan Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam pernah menuangkan bekas wudhu kepada Jabir radhiyallahu ‘anhu (H.R Bukhari). Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mungkin menuangkan air jika air tersebut najis. Maka dari itulah air tersebut dianggap suci dan bisa digunakan untuk mendinginkan (badan ataupun yang lainnya). namun apakah air itu masih bisa digunakan untuk bersuci?

Disini ada 2 riwayat dan yang paling masyhur adalah tidak bisa dipakai untuk bersuci dikarenakan sudah tidak bisa dinamai dengan air mutlak sebagaimana air yang berubah dikarenakan bercampur dengan minyak za’faran.

Riwayat kedua mengatakan : air musta’mal masih bisa dipakai bersuci, dikarenakan hanya dipakai untuk sesuatu yang tidak merubahnya seperti dipakai untuk mendinginkan (badan). Dan jika dipakai untuk kegiatan bersuci yang dianggap sunah seperti memperbaharui wudhu, mandi jumat, basuhan yang ke 2 dan ke 3 kalinya (dalam berwudhu) maka air itu tetap dianggap sebagai air mutlak. Dikarenakan dia tidak dipakai untuk mensucikan hadats ataupun menghilangkan najis.

Dan juga ada pendapat dari Imam Ahmad yang menyatakan bahwa air tersebut tidak bisa mensucikan dikarenakan telah digunakan dalam bersuci yang telah disyariatkan sehingga memiliki keserupaan dalam mengangkat hadats.[9]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Dalam mazhab ini air musta’mal didefinisikan sebagai air bekas berwudhu ataupun bekas mandi janabah dan bisa digunakan untuk bersuci walaupun ada air muthlak.

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar menuliskan sebagai berikut :

والوضوء بالماء المستعمل جائز وكذلك الغسل به للجنابة وسواء وجد ماء آخر غيره أو لم يوجد وهو الماء الذي توضأ به بعينه لفريضة أو نافلة أو اغتسل به بعينه لجنابة أو غيرها وسواء كان المتوضىء به رجلا أو امرأة

Dan berwudhu dengan air musta’mal dibolehkan begitupula dengan mandi junub. Baik ditemukan ada air selainnya (air muthlak) ataupun tidak ditemukan. Air musta’mal adalah air yang sudah digunakan untuk berwudhu baik itu untuk digunakan untuk fardhu wudhu ataupun sunah wudhu begitupula jika telah digunakan untuk mandi janabah. Sama saja jika yang berwudhu itu laki-laki ataupun perempuan.[10]

Wallahu’alam.

[1] Ibnu Rusyd, Bidayatu Al-Mujtahid Wa Nihayatu Al-Muqtashid, hal 28-29 cet Maktabah Asy-Syuruq Ad-Dauliyah .Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 1 hal 66-67 cet. Maktabah Al-‘Ilmiyah.

[2]. Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 1 hal 66-67 cet. Maktabah Al-‘Ilmiyah.

[3] Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal. 89-90 cet Daar Al-Fikr.

[4]. Ad-Dasuki, Hasyiyah Ad-Dasuki ‘Ala Asy-Syarhi Al-Kabir, jilid 1 hal 41 cet Daar Al-Fikr.

[5] Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah, hal 16 cet Daar Al Kutub Al ‘Ilmiyah beirut.

[6] Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1 hal 174 cet Daar Al-Gharb Al-Islami.

[7] Asy-Syirazi, Al-Muhadzdab, jilid 1 hal. 8 cet. Isa Al-Halbi.

[8] Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 , hal. 21 cet. Daar Al-Fikri.

[9] Ibnu Qudamah, Al-Kafii Fii Fiqhi Ibni Al-Hanbal jilid 1 hal 9-10 cet Hijr. Begitu pula di kitabnya Al-Mughni, jilid 1 hal 21 cet. Al-Kitab Al-‘Arabi.

[10] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 183-184 cet. Idarah At-Thiba’ah Al-Muniriyah Mesir.

Iklan

One thought on “SELINTAS PANDANG TENTANG HUKUM AIR MUSTA’MAL

  1. Ping balik: Bolehkah Bersuci Dengan Air Musta’mal? | Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Jakarta Selatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s