Arsip Bulanan: Oktober 2015

Bolehkah Seorang Wanita Haid Membaca Al-Quran?

Bolehkah Seorang Wanita Haid Membaca Al-Quran?

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat apakah wanita yang sedang haid boleh membaca Al Qur`an ataukah tidak. Namun secara garis besar ada dua pendapat yaitu pendapat yang mengharamkan dan pendapat yang membolehkan. pendapat yang mengharamkan Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, yaitu mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali. Dalilnya, hadits Ibnu Umar RA bahwa Nabi SAW bersabda,”Janganlah wanita haid dan orang junub membaca sesuatu dari Al Qur`an”. (H.R Tirmidzi no 131; Ibnu Majah no 596). Sedangkan pendapat yang membolehkan Ini adalah pendapat dari mazhab Maliki dan Zhahiri. Menurut mereka hadits Ibnu Umar RA di atas yang dijadikan dalil pengharaman oleh jumhur ulama, dinilai sebagai hadits dhaif (lemah). Untuk lebih jelasnya marilah kita telusuri pendapat mereka ini di kitab-kitab mu’tamad dalam masing-masing mazhab.

Pendapat Yang Mengharamkan

  1. Mazhab Hanafi

Dalam mazhab ini wanita yang haid dilarang membaca Al-Quran walaupun hanya sebagian dari potongan satu ayat yang sekiranya merupakan susunan kalimat yang difahami manusia. Namun tidak mengapa jika hanya membaca mufradatnya (kosa kata) saja dan juga tidak mengapa jika membacanya dengan niat berdzikir, memuji Allah Ta’ala tanpa meniatkan untuk membaca Al-Quran, kebolehan ini hanya berlaku jika ayat-ayat tersebut bernuansa doa tetapi jika ayatnya secara jelas tidak mengandung unsur doa maka haram membacanya seperti surah Al-Masad.

Dalam mazhab ini juga dibolehkan membaca Al-Quran dalam keadaan haid bagi seorang pengajar Al-Quran dengan syarat dia haruslah mengeja kata perkata. Dimakruhkan membaca ayat-ayat Al-Quran yang telah dinasakh (dihapus) bacaannya. Adapun doa qunut, dzikir-dzikir dan doa-doa lainnya tidak diharamkan membacanya. Berikut ini teks dalam kitab-kitab mazhab Hanafi.

As-Sarakhsi (483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Hanafi menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

وليس للحائض مس المصحف ولا دخول المسجد ولا قراءة آية تامة من القرآن

“seseorang yang sedang haid tidak diperbolehkan memegang mushaf, memasuki masjid dan membaca satu ayat Al-Qur’an dengan sempurna“.[1]

Imam Al-Kasani (587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Hanafi menuliskan dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ sebagai berikut :

وَأما حكم الحيض والنفاس فمنع جواز الصلاة، والصوم، وقراءة القرآن، ومس المُصحف إلا بغلاف، ودخول المسجد، والطواف بالبيت

“Adapun hukum wanita haid dan nifas maka tidak diperbolehkan shalat, puasa, membaca al-Qur’an, memegang mushaf tanpa sampul, masuk masjid, dan thawaf di baitullah”.[2]

Ibnu Abdin (1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Hanafi menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

( قوله وقراءة قرآن) أي ولو دون آية من المركبات لا المفردات ; لأنه جوز للحائض المعلمة تعليمه كلمة كلمة كما قدمناه وكالقرآن التوراة والإنجيل والزبور كما قدمه المصنف ( قوله بقصده ) فلو قرأت الفاتحة على وجه الدعاء أو شيئا من الآيات التي فيها معنى الدعاء ولم ترد القراءة لا بأس به كما قدمناه عن العيون لأبي الليث وأن مفهومه أن ما ليس فيه معنى الدعاء كسورة أبي لهب لا يؤثر فيه قصد غير القرآنية

maksud kalimat (tidak boleh) “membaca Al-Quran” adalah tidak bolehnya membaca di bawah satu ayat dalam bentuk susunan kalimat dan bukan kosa katanya, dikarenakan boleh bagi seorang pengajar Al-Quran mengajarkan kata perkata yang terdapat dalam Al-Quran sebagaimana yang telah kami paparkan sebelumnya. Taurat, Injil dan Zabur juga sama seperti Al-Quran yang tidak boleh dibaca bagi wanita haid seperti yang telah dijelaskan oleh pengarang kitab (Durru Al-Mukhtar).

Maksud kalimat “dengan meniatkannya” yaitu jika membaca Al-Fatihah ataupun ayat-ayat lainnya yang mempunyai makna doa di dalamnya serta dengan meniatkannya sebagai doa saja tanpa meniatkan membaca Al-Quran maka hal itu dibolehkan. Namun niat tersebut (yaitu niat berdzikir dan berdoa tanpa niat membaca Al-Quran) tidak akan berpengaruh jika dalam ayat itu tidak tekandung makna doa dan membaca ayat tersebut diharamkan seperti ayat-ayat dalam surah Abi Lahab.[3]

  1. Mazhab Syafi’i

Dalam mazhab ini seorang wanita haid diharamkan membaca Al-Quran walaupun hanya sebagian ayat, baik itu menggabungkan niat berdzikir dan membaca Al-Quran ataupun hanya untuk membaca Al-Quran saja. hal ini ditujukan agar manusia lebih menghormati dan mengagungkan Al-Quran. Namun boleh membaca ayat Al-Quran yang bernuansa dzikir dan doa dengan syarat tidak meniatkan untuk membaca Al-Quran.

Boleh juga membaca Al-Quran di Dalam hati dengan tanpa menggerakkan bibir ataupun menggerakkan bibir dengan syarat dirinya tidak bisa mendengar bacaannya. Boleh juga membaca ayat-ayat Al-Quran yang telah di nasakh tulisannya. Berikut ini teks dalam kitab-kitab mazhab Syaifi’iyah

Imam An-Nawawi (676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Syafi’i menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

في مذاهب العلماء في قراءة الحائض القرآن . قد ذكرنا أن مذهبنا المشهور : تحريمها

Pendapat para ulama mazhab tentang hukum seorang wanita haid membaca Al-Quran. Sebagaimana yang telah kami sebutkan sesuai dengan pendapat yang masyhur di mazhab kami adalah haram baginya membaca Al-Quran.[4]

وأما خوف النسيان فنادر , فإن مدة الحيض غالبا ستة أيام أو سبعة , ولا ينسى غالبا في هذا القدر ; ولأن خوف النسيان ينتفي بإمرار القرآن على القلب , والله أعلم

Adapun kekhawatiran (seorang wanita haid) akan lupanya hapalan Al-Quran maka hal itu sangat jarang terjadi dikarenakan waktu haid biasanya 6 atau 7 hari dan dalam rentang waktu ini biasanya seorang tidak akan lupa hapalannya. Kekhawatiran akan lupanya hapalan bisa ditanggulangi dengan membacanya dalam hati. Wallahu ‘Alam. [5]

Al-Khatib Asy-Syirbini (977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Syafi’i menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

و ثانيهما : ( القرآن ) لمسلم أي ويحرم بالجنابة القرآن باللفظ وبالإشارة من الأخرس . كما قال القاضي ِي فتاويه فإنها منزلة منزلة النطق هنا , ولو بعض آية كحرف للإخلال بالتعظيم , سواء أقصد مع ذلك غيرها أم لا , ولحديث الترمذي وغيره)لا يقرأ الجنب ولا الحائض شيئا من القرآن(

Yang kedua adalah haram bagi seorang muslim membaca Al-Quran dalam keadaan junub dengan melafadzkannya begitu juga dengan isyarat bagi seorang yang bisu, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Qadhi Husein dalam fatwa-fatwanya : dalam masalah ini memberikan isyarat sama kedudukannya dengan melafadzkannya. Tidak boleh membaca setengah ayat seperti satu huruf dalam Al-Quran karena hal itu bisa menjatuhkan kehormatan Al-Quran. Sama saja jika dia menggabungkan niat membaca dengan niat selainnya (berdzikir) ataupun tidak, sebagaimana yang tertera dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan yang lainnya “ haram bagi seorang junub dan seorang wanita haid membaca Al-Quran”.

والحائض والنفساء في ذلك كالجنب , وسيأتي حكمهما في باب الحيضِ , ولمن به حدث أكبر إجراء القرآن علَى قلبه , ونظر في المصحف , وقراءة ما نسخت تلاوته , وتحريك لسانه وهمسه بحيث لا يسمع نفسه ; لأَنَها لَيست بقراءة قرآن

Wanita yang sedang haid dan nifas sama saja dengan seorang yang junub dan hukum tentang keduanya akan dibahas nanti di bab haid. Siapa saja yang sedang dalam hadats besar maka boleh membaca Al-Quran dalam hati, melihat mushaf, membaca ayat-ayat Al-Quran yang sudah dinasakh tulisannya, menggerakkan bibir serta berkomat-kamit dan suaranya tidak terdengar oleh dirinya sendiri karena hal ini tidaklah dianggap sebagai membaca (dalam literatur bahasa arab). [6]

  1. Mazhab Hanbali

Dalam mazhab ini wanita yang sedang haid diharamkan membaca Al-Quran baik itu satu ayat atau lebih. Namun jika membaca kalimat yang merupakan potongan dari satu ayat maka tidaklah mengapa selama ayat tersebut tidak panjang, begitu pula mengulang-ulanginya karena membaca sebagian kalimat dari satu ayat tidaklah menunjukkan kemu’jizatannya.

Boleh membaca ayat-ayat Al-Quran dengan cara mengejanya kata perkata, bertafakkur dengan ayat Al-Quran, menggerakkan kedua bibirnya namun huruf-huruf yang keluar darinya tidak jelas terdengar dan juga membaca sebagian ayat berturut-turut ataupun membaca beberapa ayat namun diselingi dengan diam yang lama.

Boleh juga membaca sebuah kalimat yang mempunyai makna yang sama dengan Al-Quran namun tidak meniatkan membaca Al-Quran seperti membaca basmalah, hamdalah, istirja (innalillahi wa inna ilaihi rajiu’n) dan membaca doa ketika menaiki kendaraan. Jika ada yang membacakan baginya Al-Quran dan dia diam untuk mendengarkan maka tidak mengapa hal itu karena tidak dianggap sebagai membaca.

Boleh juga membaca ayat-ayat yang bernuansa dzikir ataupun membaca Al-Quran jika takut hilangnya hapalan bahkan wajib menurut Ibnu Taymiyah (w 728 H). Berikut ini teks dalam kitab-kitab mazhab Hanbali.

Imam Ibnu Qudamah (w 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Hanbali menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

و لا يقرأ القرآن جنب ولا حائض ولا نفساء

ويحرم عليهم قراءة آية فأما بعض آية فإن كان مما لا يتميز به القرآن من غيره كالتسمية والحمد لله وسائر الذكر فإن لم يقصد به القرآن فلا بأس فإنه لا خلاف في أن لهم ذكر الله تعالى

Seorang yang junub, wanita yang dalam masa haid dan nifas tidak dibolehkan membaca Al-Quran……haram bagi mereka ( seorang junub, wanita haid dan nifas) membaca satu ayat Al-Quran, namun boleh membaca sebagian potongan dari satu ayat jika tidak bisa membedakan antara Al-Quran dengan selainnya seperti membaca basmalah, hamdalah dan semua dzikir dengan syarat tidak meniatkan membaca Al-Quran, karena kebolehan berdzikir kepada Allah Ta’ala tidak ada khilaf di dalamnya.[7]

Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Hanbali di dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih minal Khilaf menuliskan sebagai berikut :

قَوْلُهُ ( وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ ) . تُمْنَعُ الْحَائِضُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ مُطْلَقًا عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ . وَعَلَيْهِ جَمَاهِيرُ الأَصْحَابِ , وَقَطَعَ بِهِ كَثِيرٌ مِنْهُمْ . وَقِيلَ : لا تُمْنَعُ مِنْه

Wanita yang haid dilarang muthlak membaca Al-Quran menurut pendapat yang shahih dalam mazhab dan begipula sesuai dengan pendapat jumhur ulama mazhab hanabilah yang mereka ini memastikan kebenaran pendapat ini. Namun ada juga pendapat minor yang tidak melarang wanita haid membaca Al-Quran.[8]

Al-Buhuty (w. 1051 H) salah satu ulama mazhab Hanbali di dalam kitabnya Kasysyafu Al-Qinna’ menuliskan sebagai berikut :

وَحَرُمَ عَلَيْهِ ( قِرَاءَةُ آيَةٍ فَصَاعِدًا )

Haram baginya (orang yang wajib mandi untuk menghilangkan hadats besar seperti seorang yang junub, haid dan nifas) membaca satu ayat atau lebih.

وَاخْتَارَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ أَنَّهُ يُبَاحُ لِلْحَائِضِ أَنْ تَقْرَأَهُ إذَا خَافَتْ نِسْيَانَهُ , بَلْ يَجِبُ ; لأَنَّ مَا لا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إلا بِهِ وَاجِبٌ , وَ ( لا ) يَحْرُمُ عَلَيْهِ قِرَاءَةُ ( بَعْضِ آيَةٍ ; ) ; لأَنَّهُ لا إعْجَازَ فِيهِ الْمُنَقَّحُ , مَا لَمْ تَكُنْ طَوِيلَةً ( وَلَوْ كَرَّرَهُ ) أَيْ : الْبَعْضَ ( مَا لَمْ يَتَحَيَّلْ عَلَى قِرَاءَةٍ تَحْرُمُ عَلَيْهِ ) كَقِرَاءَةِ آيَةٍ فَأَكْثَرَ , لِمَا يَأْتِي أَنَّ الْحِيَلَ غَيْرُ جَائِزَةٍ فِي شَيْءٍ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا

Syeikh Taqiyuddin (Ibnu Taymiyah) membolehkan wanita haid membaca Al-Quran jika khawatir hapalannya akan lupa bahkan hal itu menjadi wajib dikarenakan tidaklah sempurna sebuah kewajiban melainkan dengan mendatangkannya maka hukumnya menjadi wajib.

Tidak haram baginya membaca sebagian potongan dalam satu ayat karena jika ditinjau tidaklah ada yang menunjukkan kemukjizatan Al-Quran dan juga selama ayat tersebut tidak panjang. Boleh baginya mengulang-ulang sebagian potongan dalam satu ayat selama tidak menggunakan tipu muslihat yang digunakan untuk bacaan Al-Quran yang diharamkan untuknya seperti membaca satu ayat penuh atau lebih dari itu. sebagaimana yang telah diketahui bahwa tipu muslihat itu tidak dibolehkan menggunakannya untuk urusan dunia.

( وَلَهُ ) أَيْ : الْجُنُبِ وَنَحْوِهِ ( تَهَجِّيهِ ) أَيْ : الْقُرْآنِ ; لأَنَّهُ لَيْسَ بِقِرَاءَةٍ لَهُ فَتَبْطُلُ بِهِ الصَّلاةُ لِخُرُوجِهِ عَنْ نَظْمِهِ وَإِعْجَازِهِ , ذَكَرَهُ فِي الْفُصُولِ , وَلَهُ التَّفَكُّرُ فِيهِ وَتَحْرِيكُ شَفَتَيْهِ بِهِ مَا لَمْ يُبَيِّنْ الْحُرُوفَ وَقِرَاءَةُ أَبْعَاضِ آيَةٍ مُتَوَالِيَةٍ , أَوْ آيَاتٍ سَكَتَ بَيْنَهَا سُكُوتًا طَوِيلا , قَالَهُ فِي الْمُبْدِعِ .

Boleh bagi seorang yang junub atau semisalnya mengeja Al-Quran karena hal itu tidak dinamakan sebagai membaca dan mengeja Al-Quran dalam shalat akan membatalkan shalatnya disebabkan ejaan sudah tidak lagi sebagai ayat yang tersusun rapi dan tidak terdapat kemukjizatan di dalamnya. Boleh baginya untuk bertafakkur dengan Al-Quran, menggerakkan kedua bibirnya dalam membaca Al-Quran selama huruf yang keluar darinya tidak jelas terdengar, membaca sebagian potongan ayat secara berturut-turut ataupun membaca beberapa ayat yang diantara ayat-ayat tersebut terpisah oleh diam yang lama.

( وَ ) لَهُ ( الذِّكْرُ ) أَيْ : أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى , لِمَا رَوَى مُسْلِمٌ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : { كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ }

Boleh baginya berdzikir kepada Allah Ta’ala sebagaimana Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Sayyidah ‘Aisyah R.A. bahwa Nabi S.A.W selalu berdzikir di setiap waktunya.

( وَلَهُ قَوْلُ مَا وَافَقَ قُرْآنًا وَلَمْ يَقْصِدْهُ كَالْبَسْمَلَةِ وَقَوْلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ , وَكَآيَةِ الاسْتِرْجَاعِ ) { إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ } وَهِيَ بَعْضُ آيَةٍ لا آيَةٌ . ( وَ ) كَآيَةِ ( الرُّكُوبِ ) { سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ } وَكَذَا آيَةُ النُّزُولِ : { وَقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلا مُبَارَكًا } . ( وَلَهُ أَنْ يَنْظُرَ فِي الْمُصْحَفِ مِنْ غَيْرِ تِلاوَةٍ وَ ) أَنْ ( يُقْرَأَ عَلَيْهِ وَهُوَ سَاكِتٌ ) ; لأَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ لا يُنْسَبُ إلَى الْقِرَاءَةِ قَالَهُ أَبُو الْمَعَالِي

Boleh baginya membaca kalimat yang sama dengan ayat Al-Quran namun tidak meniatkannya untuk membaca Al-Quran seperti membaca basmalah, hamdalah, ayat istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi raji’un) karena dia hanya potongan ayat dan tidak dihitung sebagai satu ayat, ayat yang dipakai untuk berdoa ketika menaiki kendaraan

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Ataupun ketika turun dari kendaraan

وَقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلا مُبَارَكًا

Boleh juga baginya melihat mushaf tanpa membacanya atau dibacakan untuknya dan dia hanya diam mendengarkannya. Hal ini tidak disebut sebagai membaca sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Al-Ma’ali.[9]

Pendapat Yang membolehkan

  1. Mazhab Maliki

Dalam mazhab ini wanita yang sedang dalam masa haid dibolehkan membaca Al-Quran secara muthlak, baik dia dalam keadaan junub ataupun tidak, khawatir lupa akan hapalannya ataupun tidak. Namun jika telah selesai masa haidnya maka haram baginya untuk membaca Al-Quran sampai dia mensucikan diri dengan mandi janabah dan pendapat inilah yang mu’tamad dalam mazhab maliki ditengah adanya pendapat lemah yang membolehkannya untuk membaca Al-Quran dengan Syarat tidak dalam keadaan junub sebelum masa haidnya datang. Berikut ini text arab dalam kitab-kitab mazhabnya.

Imam Al-Qarafi (684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Maliki menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

وأما جواز القراءة فلما يروى عن عائشة رضي الله عنها أنها كانت تقرأ القرآن وهي حائض والظاهر اطلاعه عليه السلام وأما المنع فقياسا على الجنب والفرق للأول من وجهين أن الجنابة مكتسبة وزمانها لا يطول بخلاف الحيض

Adapun yang membolehkan wanita haid membaca Al-Qur’an adalah riwayat dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwasannya Ia pernah membaca Al-Qur’an dalam keadaan haid, dan hal itu terjadi dengan sepengetahuan Rasulullah S.A.W. Adapun larangan Membaca Al-qur’an ini diqiyaskan kepada hukumnya orang junub. Dan perbedaan dari keduanya ada 2 segi yaitu: kalau junub terjadi karena kehendak yang melakukan dan hal iniberbeda dengan wanita haid, masa junub tidaklah selama masa haid.[10]

Ad-Dasuki (w 1230 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Maliki menuliskan dalam kitabnya Hasyiyah Ad-Dasuki sebagai berikut :

وَكَذَا لا تُمْنَعُ الْقِرَاءَةَ بَعْدَ انْقِطَاعِهِ ( قَوْلُهُ : إلا أَنْ تَكُونَ مُتَلَبِّسَةً بِجَنَابَةٍ قَبْلَهُ فَلا يَجُوزُ ) حَاصِلُ كَلامِهِ أَنَّ الْمَرْأَةَ إذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا جَازَ لَهَا الْقِرَاءَةُ إنْ لَمْ تَكُنْ جُنُبًا قَبْلَ الْحَيْضِ فَإِنْ كَانَتْ جُنُبًا قَبْلَهُ فَلا يَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ وَقَدْ تَبِعَ الشَّارِحُ فِي ذَلِكَ عبق وَجَعَلَهُ الْمَذْهَبَ وَهُوَ ضَعِيفٌ وَالْمُعْتَمَدُ مَا قَالَهُ عَبْدُ الْحَقِّ وَهُوَ أَنَّ الْحَائِضَ إذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا لا تَقْرَأُ حَتَّى تَغْتَسِلَ جُنُبًا كَانَتْ أَوْ لا إلا أَنْ تَخَافَ النِّسْيَانَ كَمَا أَنَّ الْمُعْتَمَدَ أَنَّهُ يَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ حَالَ اسْتِرْسَالِ الدَّمِ عَلَيْهَا كَانَتْ جُنُبًا أَمْ لا خَافَتْ النِّسْيَانَ أَمْ لا كَمَا صَدَّرَ بِهِ ابْنُ رُشْدٍ فِي الْمُقَدِّمَاتِ وَصَوَّبَهُ

Begitupula tidak mengapa membaca Al-Quran setelah selesainya masa haid kecuali jika dia junub sebelum datang masa haid maka diharamkan membaca Al-Quran. Pendapat inilah yang diikuti pensyarah (kitab Asy-Syarhu Al-Kabir) dan dijadikan pendapat dalam mazhab namun sayangnya pendapat ini lemah. Pendapat yang mu’tamad adalah seperti apa yang dikatakan oleh Abdul Haq yaitu : wanita yang telah selesai masa haidnya tidak boleh membaca Al-Quran hingga dia mensucikan diri dengan mandi janabah, baik itu sebelumnya dia junub ataupun tidak, namun dibolehkan baginya jika dia takut akan lupa hapalannya.

Pendapat yang mu’tamad dalam mazhab ini adalah bolehnya wanita haid membaca Al-Quran baik itu ketika masa-masa keluarnya darah haid serta sebelumnya dia sedang junub ataupun tidak, adanya kekhawatiran lupa hapalannya ataupun tidak. Sebagaimana yang telah dipaparkan dan dibenarkan oleh Ibnu Rusyd Al-Jaddu (w 520 H) di dalam kitabnya Al-Muqaddimat.[11]

  1. Mazhab Zhahiri

Mazhab Zhahiri memiliki pendapat yang hampir sama dengan pendapat mazhab Maliki dan sangat berbeda dengan Jumhur ulama. Ibnu hazm perpendapat bahwa wanita haid boleh membaca Al-Quran secara muthlak. Karena menurutnya membaca al-Quran adalah perbuatan baik dan berpahala dan bagi siapa yang berkeyakinan bahwa membacanya dalam keadaan tidak suci tidak diperbolehkan maka harus berdasarkan dalil. Adapun ayat Al-Quran yang merupakan dalil larangan wanita haid membaca Al-Quran yang berbunyi : {لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ} [الواقعة: 79] “Tidaklah menyentuhnya (al-Quran) kecuali orang-orang yang suci” (Q.S. Al-Waqi’ah : 79) Menurut Ibnu Hazm (W 456 H) Q.S. Al-Waqiah : 79 di atas ini adalah khabar (berita) dan bukan larangan.

Ibnu Hazm (456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Zhahiri menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

وقراءة القرآن والسّجود فيه ومسّ المصحف وذكر اللّه تعالى جائز، كلّ ذلك بوضوء وبغير وضوء وللجنب والحائض. برهان ذلك أنّ قراءة القرآن والسّجود فيه ومسّ المصحف وذكر اللّه تعالى أفعال خير مندوب إليها مأجور فاعلها، فمن ادّعى المنع فيها في بعض الأحوال كلّف أن يأتي بالبرهان.

Membaca Al-Qur’an, sujud, menyentuh mushaf, dzikir, itu semua boleh (bagi wanita haid). Semua halitu boleh dilakukan dengan atau tanpa wudhu’, dilakukan oleh wanita haid maupun orang junub. Alasannya adalah bahwa membaca al-Quran, sujud, menyentuh mushaf dan dzikir adalah perbuatan yang baik, hukumnya sunnah, dan berpahala bagi yang melakukannya. Barang siapa yang melarang wanita haid untuk melakukan itu semua, maka harus disertai alasan.[12]

Sebab Terjadinya Perbedaan Pendapat

Sebab terjadinya perbedaan pendapat dikarenakan adanya 2 hadits yang bertentangan serta penilaian status hadits yang melarang wanita haid membaca Al-Quran ada yang menilai hadits itu shahih dan layak dijadikan hujjah, sedangkan sebagian ulama mendhaifkan hadits tersebut dan tidak menjadikannya sebagai hujjah, untuk lebih jelasnya marilah kita simak penjelasan dari para ulama dibawah ini.

Hujjah Ulama Yang membolehkan Wanita Haid membaca Al-Quran

Sebagaimana yang telah saya ulas sebelumnya tetang hadits Rasulullah S.A.W yang melarang wanita haid dan seorang junub membaca Al-Quran, hadits ini dikatakan sebagai hadits lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah sebagaimana yang dipaparkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni (w 620 H) dan Imam Syaukani (w 1250 H) dalam kitabnya Nailul Authar bahwa sebagian ulama seperti Imam Bukhari (w 256 H) dan Imam Baihaqi (w 458 H) mendhaifkan hadits Ibnu Umar tersebut. Karena dalam sanadnya ada perawi bernama Isma’il bin ‘Ayyasy yang riwayat-riwayat haditsnya dari ulama Hijaz dinilai lemah, dan hadits Ibnu Umar ini adalah salah satunya.[13]

Ada juga Hadits yang diriwayatkan dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib R.A, bahwasanya, “Tidaklah menghalangi beliau (Nabi S.A.W) sesuatu dari Al Qur`an selain junub.” (H.R Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa`i, Ibnu Majah, hadits shahih). Hadits ini dikomentari oleh Ibnu Hazm (w 456 H) dalam kitabnya Al-Muhalla Bil Atsar “hadits ini tidaklah menunjukkan sebuah larangan karena hal itu merupakan perbuatan Rasulullah S.A.W tanpa ada penekanan wajib ataupun tidak, Rasulullah S.A.W pun tidak menjelaskan bahwa beliau tidak membaca Al-Quran itu dikarenakan sedang junub, beliaupun juga tidak pernah berpuasa 1 bulan penuh selain bulan Ramadhan namun apakah haram berpuasa sebulan penuh di selain bulan Ramadhan?, beliau bertahajjud tidak pernah lebih dari 13 raka’at lantas apakah haram jika seseorang shalat tahajjud lebih dari 13 raka’at?, beliau juga tidak pernah makan diatas meja lantas apakah haram makan diatas meja?, beliau juga tidak pernah makan sambil bersandar lantas apakah haram jika seseorang makan sambil bersandar? Dan hal-hal seperti ini banyak sekali lalu Apa yang akan mereka katakan terhadap hal-hal ini? Dapatkah mereka mengharamkannya?”[14]

Kelompok yang berpendapat bolehnya wanita haid membaca Al-Quran juga berdalil dengan apa yang dilakukan Sayyidah ‘Aisyah ketika haid yaitu membaca Al-Quran dan Rasulullah S.A.W mengetahui hal itu tanpa melarangnya.[15]

Hujjah Ulama Yang Mengharamkan Wanita Haid Membaca Al-Quran

Sebagian ulama seperti Imam Bukhari dan Imam Baihaqi menilai hadits Ibnu Umar yang mengharamkan wanita haid membaca Al-Quran itu dhaif sehingga para ulama berpendapat wanita haid boleh membaca Al-Quran. Sedang sebagian ulama lainnya seperti Imam Al-Mundziri (w 656 H) dan Imam Syaukani (w 1250 H) tidak menilainya sebagai hadits dhaif, tapi hadits hasan, sehingga mengharamkan wanita haid membaca Al Qur`an.

Jadi hadits Ibnu Umar R.A di atas lebih tepat dihukumi sebagai hadits hasan, bukan hadits dhaif. Karena Isma’il bin ‘Ayyasy sebenarnya adalah periwayat hadits yang tsiqah, yakni memiliki sifat ‘adalah (bukan fasik) dan dhabith (kuat hapalan), sehingga haditsnya layak dijadikan hujjah. Imam Al Mundziri (w 656 H) berkata,“Hadits Ibnu Umar ini adalah hadits hasan. Isma’il bin ‘Ayyasy memang telah diperbincangkan oleh para ulama, namun sejumlah imam telah memujinya [menganggapnya tsiqah].”[16]

Imam Syaukani (w 1250 H) dalam kitabnya As-Sailul Jarar berkata,“Penilaian lemah terhadap Ismail bin ‘Ayyasy tertolak, karena haditsnya diriwayatkan juga melalui jalan periwayatan lainnya, dan dia (Ismail bin ‘Ayyasy) juga tidak dapat dinilai cacat yang mengakibatkan haditsnya tidak layak menjadi hujjah.[17]

Keharaman wanita haid membaca Al-Quran dapat juga didasarkan pada hadits lain, yaitu hadits dari Ali bin Abi Thalib RA di atas yang statusnya shahih, dimana di dalam hadits ini mengharamkan orang junub membaca Al Quran. Setelah menyebutkan hadits tersebut, Imam Ibnu Qudamah berkata,”Jika telah terbukti hal ini (keharaman membaca Al-Quran) bagi orang junub, maka keharamannya bagi wanita haid lebih utama, karena hadatsnya wanita haid lebih kuat… sehingga hukum untuk orang junub sama dengan hukum untuk wanita haid.[18]

Adapun Hadits yang menyebutkan bahwa Sayyidah ‘Aisyah membaca Al-Quran ketika haid dan Rasulullah S.A.W mengetahuinya tanpa melarangnya, menurut Imam Nawawi (w 676 H) apa yang dilakukan oleh Sayyidah ‘Aisyah tidak bisa dijadikan hujjah karena para shahabat sendiri berbeda pendapat dengannya dan tidak melakukan hal itu. Jika terjadi perbedaan pendapat terjadi diantara para shahabat maka kita akan memakai qiyas dengan mengqiyaskan wanita haid dengan seorang yang junub.[19]

Wallahu A’lam Bishshawab.

[1]. As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 3, hal 195

[2]. Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ , jilid 1, hal 44

[3]. Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 1, hal 195 cet Ihyau At-Turats.

[4]. An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 2, hal 357 cet Darul Fikr.

[5]. An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 2, hal 357 cet Darul Fikr.

[6]. Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1, hal 119 cet Darul Ma’rifah.

[7]. Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1, hal 165 cet. Darul Fikr.

[8]. Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih min Al-Khilaf, jilid 1 hal 347 cet Darul Ihya’u At-Turats Al-A’rabi.

[9]. Al-Buhuty, Kasysyafu Al-Qinna’, jilid 1 hal 147 cet Darul Fikr.

[10]. Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1, hal 379.

[11]. Ad-Dasuki, Hasyiyah Ad-Dasuki ‘Ala Asy-Syarhi Al-Kabir, jilid 1, hal 174 cet Darul Fikr.

[12]. Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1, hal 78 dan 81 cet Darul Fikr.

[13]. Asy-Syaukani, Nailul Authar, jilid 1 hal 284. Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1, hal 165 cet. Darul Fikr.

[14]. Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1, hal 78 cet Darul Fikr.

[15]. Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1, hal 379.

[16]. Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, jilid 1, hal 220-221.

[17]. Asy-Syaukani, As-Sailul Jarar, hlm. 68

[18]. Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1, hal 165 cet. Darul Fikr.

[19]. An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 2, hal 357 cet Darul Fikr.