Bolehkah Berpegang Kepada Ilmu Falak (astronomi) Dalam Menentukan Awal Bulan Ramadhan dan 1 Syawal?

Dalam masalah ini memang ulama berbeda pendapat. Sebelumnya saya pernah menulis tentang penentuan awal bulan ramadhan ataupun syawal yang mayoritas para ulama berpegang kepada hilal dan sangat sedikit yang berpegang pada ilmu falak atau hisab. Untuk lebih jelasnya liat di footnote.[1] Namun hal yang menarik saya temukan di kitabnya syekh Ali Jum’ah, beliau lebih mendukung pendapat yang menyatakan bahwa awal ramadhan ataupun awal bulan-bulan hijriyah ditentukan oleh ilmu falak lebih kuat dibandingkan oleh rukyat hilal. Dibawah ini saya akan mengutip tulisan beliau di dalam kitabnya al-Bayanul Qawim Li at-Tashhih Ba’dhi al-Mafahim yang tentunya tidak semuanya. Jika para pembaca ingin lebih jelas maka silahkan merujuk ke kitabnya langsung.

Syekh Ali Jum’ah dalam  kitabnya al-Bayanul Qawim Li at-Tashhih Ba’dhi al-Mafahim menyatakan bahwa Islam tidak bertentangan dengan pengetahuan (sains) dan tidak menjadi penghalang ditengah jalan kemajuan. Islm mendorong untuk belajar dan mengaktifkan fikiran dan penelitian terhadap alam semesta dan menyimpulkan tentang konsep-konsep dan teori-teori alam semesta yang berguna bagi manusia.

Ilmu falak atau astronomi termasuk ilmu yang dianjurkan dan didorong oelh al-Quran agar diketahui dan dipelajari, untuk meneliti fenomena-fenomena semesta dan mengetahui rahasia-rahasianya.  Orang-orang Islam telah menganal ilmu falak dan berhasil menguasai ilmu tersebut dengan penguasaan yang sempurna dan memfungsikannya untuk kepentingan agama. Maka, mereka pun melakukan perhitungan waktu fajar, syuruq (terbitnya matahari), waktu zhuhur, ashar, magrib dan isya’. Sang muadzin pun bisa melakukan adzan dengan hanya mellihat lembaran-lembaran yang bertuliskan waktu-waktu shalat sebegai penerapan terhadap perhitungan ilmu falak. Kaum muslimin mewariskan pola petunjuk waktu shalat dengan meletakkan sebilah kayu diatas tanah dan memperhatikan bayangannya. Memang kadangkala masih membutuhkan teknik ini pada kondisi tidak adanya jam atau ketika tidak dapat memastikan waktu-waktu shalat.

Oleh karena itu, syariat datang dengan sesuatu yang mudah dan tersedia bagai semua makhluk, karena ia merupakan agama dunia dan agama Tuhan semesta alam. Hal Ini tidak berarti bahwa menentukan waktu-waktu shalat dan puasa dengan perhitungan-perhitungan falak atau ilmu astronomi  menyalahi manhaj (metode) Nabi S.A.W.

Sebuah fenomenan yang aneh ketika kita tidak menjumpai adanya perselisihan dalam menetapkan waktu shalat dengan metode ilmu falak. Namun justru perselisihan yang tajam terjadi ketika menetapkan waktu puasa, meskipun shalat lebih penting daripada puasa karena dilakukan setiap hari.

Adapun persoalan yang secara khusus berkaitan dengan puasa, memang rukyat hilal dengan mata adalah prinsip dasar dalam menetapkan awal bulan-bulan hijriyah, dan ramadhan termasuk di dalamnya. sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Q.S al-Baqarah ayat 185 :

Dan barangsiapa diantara kamu yang menyaksikan bulan (ramadhan) maka hendaklah ia berpuasa.

Rasulullah S.A.W bersabda :

Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah (awal Syawal) dengan melihatnya.

Tidak diragukan lagi bahwa hilal (bulan sabit) merupakan fenomena alam yang tetap. Tidak ada perbedaan pendapat seputar mungkinnya dilihat dengan mata telanjang apabila sudah terpenuhi syarat-syaratnya, apalagi jika dilihat dengan menggunakan sarana teknologi yang akurat yang telah sempurnah ijma terhadapnya.

Hilal sekarang sudah mudah diketahui oleh para pakar astronomi, karena kemunculan hilal merupakan hakikat atau kebenaran ilmiah yang diyakini secara ijma (konsensus) dikalangan para pakar ilmu falak dan hisab. Ia bukanlah perkara zhanny (bersifat presumtif/ perkiraaan) lagi.

Imam As-Subki (w 756 H) pernah ditanya tentang seorang yang bersaksi melihat hilal, namun dia hanya sendirian saja dalam kesaaksiannya, sedangkan secara perhitungan falak justru mendustakan kesaksiannya. Dia menjawab dengan penjelasan yang panjang dan bagian yang penting digarisbawahi sebagai data pendukung adalah perkataannya.

وههنا صورة أخرى وهو أن يدل الحساب على عدم إمكان رؤيته ويدرك ذلك بمقدمات قطعية ويكون في غاية القرب من الشمس ففي هذه الحالة لا يمكن فرض رؤيتنا له حسا لأنه يستحيل فلو أخبرنا به مخبر واحد أو أكثر ممن يحتمل خبره الكذب أو الغلط فالذي يتجه قبول هذا الخبر وحمله على الكذب أو الغلط ولو شهد به شاهدان لم تقبل شهادتهما لأن الحساب قطعي والشهادة والخبر ظنيان والظن لا يعارض القطع فضلا عن أن يقدم عليه والبينة شرطها أن يكون ما شهدت به ممكنا حسا وعقلا وشرعا فإذا فرض دلالة الحساب قطعا على عدم الإمكان استحال القبول شرعا لاستحالة المشهود به والشرع لا يأتي بالمستحيلات

Disini ada bentuk lain, yaitu perhitungan falak menunjukkan ketidakmungkinan melihatnya. Hal itu didapatkan dari premis-premis positif dan pasti. Keadaaan hilal ketika itu sedang dekat dengan matahari, sehingga dalam kondisi ini tidak mungkin secara asumsi dasar melihatnya dengan indra penglihatan karena hal itu adalah sebuah kemustahilan. Pada bentuk ini apabila satu orang pemberi kabar atau lebih dari orang-orang yang kabar darinya mengandung bohong atau keliru dalam menyampaikan kepada kita tentang hal itu (melihat hilal). Maka pendapat yang kuat dan beralasan adalah tidak menerima kabar ini dan menyatakannya sebagai sebuah kebohongan atau kekeliruan. Seandainya jika 2 orang bersaksi melihatnya maka tidak diterima kesaksian keduanya, karena perhitungan falak bersifat qath’i (positif / pasti) sedangkan kesaksian dan kabar hanya bersifat zhanni (presumtif/ dugaan). Sesuatu yang zhanni tidak dapat menyanggah sesuatu yang pasti apalagi mengeleminasinya. Pembuktian persaksian mempunyai syarat yaitu sebuah perkara yang dipersaksikan merupakan sesuatu yang dapat diterima secara indrawi, akal dan syariat.

Oleh karena itu apabila dalam perhitungan falak yang menetapkan secara definitif atau pasti bahwa persaksian tersebut tidak mungkin maka mustahil diterima secara syariat karena kemustahilan perkara yang disaksikan itu, dan syariat tidak datang dengan perkara-perkara yang mustahil.[2]

Oleh karena itu, kami (syekh Ali jum’ah) berpendapat bahwa yang lebih utama adalah berpegang kepada perhitungan-perhitungan falak. Karena proses-prosesnya mengikuti bidang-bidang ilmu eksperimental yang bersifat qath’i atau pasti sehingga berpegang kepadanya akan memberikan kepastian sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Adapun penglihatan kesaksian dengan mata telanjang penuh dengan resiko dugaan karena mengandung potensi adanya faktor-faktor penghalang yang merintangi proses melihat hilal dengan penglihatan mata sehingga diutamakan berpegang kepada perhitungan-perhitungan falak pada saat bertentangan.[3]

Wallahu a’lam bishshawab.

[1]. https://wordpress.com/stats/insights/faisalamaradja.wordpress.com

[2]. Imam As-Subki. Fatawa as-Subki, juz 1 hal 209 Cet. Darul Ma’arif.

[3]. Syekh Ali Jum’ah, al-Bayanul Qawim Li at-Tashhih Ba’dhi al-Mafahim hal 127-129

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s