Arsip Bulanan: Agustus 2016

Apakah Najis Kencing Bayi Laki-Laki Dan Bagaimana Cara Mensucikannya?

Para ulama sepakat tentang kenajisan air kencing manusia dan juga kenajisan air kencing bayi, baik itu lelaki ataupun perempuan yang sudah mencapai umur 2 tahun dan sudah diberi makanan tambahan selain ASI. Mereka juga mewajibkan untuk mensucikan benda-benda yang terkena air kencing manusia sebagaimana hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam

استنزهوا من البول ؛ فإن عامة عذاب القبر منه

Sucikanlah (diri kalian) dari air kencing. Sesungguhnya kebanyakan dari adzab kubur berasal darinya. H.R. Daruquthni.

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ ، فَزَجَرَهُ النَّاسُ ، فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ

Seorang arab badui masuk ke dalam masjid lantas kencing di salah satu sisi masjid, lalu para sahabat menghardiknya. Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang tindakan para sahabat tersebut. Ketika orang tadi telah menyelesaikan kencingnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lantas memerintahkan kepada para sahabatnya untuk mengambil air seember dan kemudian menyiramnya. H.R. Imam Bukhori dan Muslim

Namun para ulama berbeda pendapat tentang cara mensucikan kencing bayi laki-laki dan perempuan jika belum diberikan makanan dan nutrisi selain ASI. Ada yang menyatakan kenajisannya secara muthlaq seperti air kencing orang dewasa dan wajib menghilangkannya dengan mencucinya, ada pula yang menyatakan bahwa hanya air kencing bayi perempuan saja yang najisnya wajib disucikan dengan mencucinya, sedangkan najisnya kencing bayi laki-laki dibersihkan dengan dipercikan air saja kepada bagian yang terkena air kencingnya. Berikut ini akan saya paparkan pendapat para ulama dalam masing-masing mazhab mengenai masalah ini.

Mazhab Hanafi

  1. Al-Kasani (w 587 H) dalam kitabnya badai’ shanai’ mengatakan bahwa kencing bayi laki-laki dan perempuan najis sebagaimana air kencing orang dewasa dan wajib dicuci jika terkena baju.

فإن كان مما يمكن عصره كالثياب فإن كانت النجاسة مرئية فطهارته بالغسل والعصر إلى أن تزول العين وإن كانت غير مرئية فطهارته بالغسل ثلاثا والعصر في كل مرة  لأن الماء لا يستخرج الكثير إلا بواسطة العصر ولا يتم الغسل بدونه وروي عن محمد أنه يكتفي بالعصر في المرة الأخيرة ويستوي الجواب عندنا بين بول الصبي والصبية

Jika memungkinkan untuk diperas seperti baju dan najisnya dapat dilihat maka cara mensucikannya adalah dengan mencuci dan memerasnya sampai hilangnya dzat yang najis. Namun jika najisnya tidak terlihat maka cara menyucikannya adalah dengan mencuci sebanyak tiga kali dan diperas sekali saja dikarenakan tidak bisa mengeluarkan air yang banyak (dari baju) melainkan dengan diperas Dan juga tidak sempurna memeras tanpa mencuci.

Diriwayatkan dari Muhammad bahwasannya cukup dengan sekali perasan diakhir. Dalam pandangan kami inilah jawaban yang sesuai dengan (kenajisan dan cara mensucikan) kencing bayi laki-laki dan perempuan.[1]

  1. Al-Kamal Ibnu Humam (w 861 H) dalam kitabnya fathul qadir menyatakan bahwa kencingnya bayi laki-laki yang masih menyusu dihukumi najis.

فقال في الصبي ارتضع ثم قاء فأصاب ثياب الأم إن زاد على الدرهم منع قال وروى الحسن عن أبي حنيفة أنه لا يمنع ما لم يفحش لأنه لم يتغير من كل وجه فكان نجاسته دون نجاسة البول

Jika seorang bayi menyusui kemudian memuntahkannya dan mengenai baju ibunya yang banyaknya muntah melebihi satu koin dirham maka baju tersebut dilarang (memakainya ketika shalat dikarenakan kenajisannya). Al-Hasan meriwayatkan dari Imam Abu Hanifah (w 150 H) bahwasannya tidak terlarang (baju yang terkena muntahan bayi dipakai untuk shalat) jika tidak terlalu parah (tidak banyak sekali muntah bayi) dikarenakan muntah itu tidak mengubah dari semua aspek (kenajisan). Adapun kenajisannya berbeda dengan kenajisan kencing (bayi).[2]

Mazhab Maliki

  1. Al Qarafi (w 684 H) dalam kitabnya adz-dzakhira menyatakan bahwa kencing bayi laki-laki yang masih menyusui hukumnya najis namun dima’fu jika sedikit dan tidak banyak.

الصورة السابعة قال ثوب المرضع يعفى عن بول الصبي فيه مالم يتفاحش

Gambaran yang ke tujuh : baju orang yang menyusui bayi dima’fu jika terkena kencing bayi laki-laki selama tidak banyak.[3]

  1. Syekh Ahmad Bin Muhammad ash-Shawi (w 1241 H) dalam kitabnya hasyiyah ash-shawi menyatakan bahwa air kencing bayi najis namun dima’fu jika terkena ke baju ataupun badan yang menyusuinya dengan syarat yang menyusui benar-benar berusaha menghindari air kencingnya ketika keluar.

ويعفى عن ثوب المرضعة أو جسدها يصيبه بول أو غائط من الطفل سواء كانت أما أو غيرها , إذَا كانت تجتهد في درء النجاسة عنها حال نزولها , بخلاف المفرطة

Dan dima’fu jika baju dan badan yang menyusui terkena air kencing ataupun kotoran buang hajar dari bayi, baik itu yang terkena adalah ibunya ataupun selainnya. Jika dia benar-benar berusaha untuk tidak terkena najis ketika keluarnya air kencing bayi itu. Namun hukumnya tetap najis bagi yang meremehkannya (tidak berusaha mengindari air kencing).

غاية الأمر أنه يندب لها غسله إن تفاحش

Adapun tujuan perintah disini adalah sunah baginya (yang menyusui) untuk mencucinya jika air kencingnya banyak.[4]

Mazhab Syafi’i

  1. Imam an-Nawawi (w 676 H) dalam kitabnya al-majmu’ menyatakan bahwa kencing bayi laki-laki yang belum makan makanan selain ASI adalah najis dan cara menghilangkannya adalah dengan memercikkan air. Sedangkan kencing bayi perempuan dihilangkan najisnya dengan dicuci.

وأما بول الصبي الذي لم يطعم فنجس عندنا وعند العلماء كافة وحكى العبدري وصاحب البيان عن داود أنه قال هو طاهر دليلنا عموم الأحاديث والقياس على الكبير وثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم نضح ثوبه من بول الصبي وأمر بالنضح منه فلو لم يكن نجسا لم ينضح.

Adapun air kencingnya bayi laki-laki yang belum memakan makanan (selain Asi) maka dihukumi najis menurut pendapat kami dan juga semua ulama. al-‘Abdari dan pengarang kitab al-Bayan menceritakan tentang pendapat Imam Daud (w 270 H) yang menyatakan bahwa kencing bayi itu suci.

Dalil kami (Imam Nawawi) didapati dari keumumuman hadits dan qiyas kepada orang dewasa. Dan juga telah dikuatkan pendapat ini dengan hadits Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam bahwasannya beliau memercikkan air ke bajunya yang terkena air kencing bayi laki-laki (untuk menghilangkan najisnya) dan mememerintahkan untuk memercikkan air saja. Jika saja tidak najis maka air tidak akan dipercikkan.[5]

في بول الصبي والصبية اللذين لم يأكلا غير اللبن من الطعام للتغذي ثلاثة أوجه الصحيح أنه يجب غسل بول الجارية ويجزئ النضح في بول الصبي والثاني يكفي النضح فيهما حكاه الخراسانيون والثالث يجب الغسل فيهما حكاه المتولي وهذان الوجهان ضعيفان والمذهب الْأول وبه قطع المصنف والجمهور

Ada 3 pendapar mengenai Air kencing bayi laki-laki dan perempuan yang keduanya belum memakan makanan untuk mendapatkan gizi selain dari ASI. Dan pendapat yang paling shahih adalah wajib mencuci benda yang terkena air kencing bayi perempuan. Sedangkan untuk bayi laki-laki maka cukup dengan hanya memercikkan air saja. Adapun pendapat yang ke 2 adalah cukup dengan memercikkan air kepada keduanya, pendapat inilah yang dipaparkan oleh para ulama dari Khurasan. Pendapat yang ke 3 adalah wajib mencuci keduanya sebagaimana yang dipaparkan oleh al-Mutawalli. Kedua pendapat ini lemah dan pendapat yang pertama adalah pendapat mazhab syafi’i. Pendapat ini juga yang dipegang oleh pengarang kitab ini dan mayoritas ulama.[6]

  1. Imam asy-Syarbini (w 977 H) dalam kitabnya mughni al-muhtaj menyatakan bahwa air kencing bayi laki-laki dianggap sebagai najis mukhaffafah (najis ringan) dan cukup menghilangkannya dengan memercikan air. Namun hukumnya berbeda untuk bayi perempuan dan khuntsa (banci). Cara menghilangkan najis keduanya adalah dengan mencucinya.

فِي الْقِسْمِ الثَّانِي مِنْ النَّجَاسَةِ وَهِيَ الْمُخَفَّفَةُ فَقَالَ : ( وَمَا تَنَجَّسَ ) مِنْ جَامِدٍ ( بِبَوْلِ صَبِيٍّ لَمْ يَطْعَمْ ) بِفَتْحِ الْيَاءِ : أَيْ يَتَنَاوَلُ قَبْلَ مُضِيِّ حَوْلَيْنِ ( غَيْرَ لَبَنٍ ) لِلتَّغَذِّي ( نُضِحَ)

Bagian kedua dari najis mukhaffafah yaitu : sesuatu benda mati yang terkena najis air kencing bayi laki-laki yang belum diberikan makanan untuk memenuhi gizinya selain air susu ibunya dan belum mencapai umur 2 tahun lebih, maka (mensucikannya cukup dengan) dipercikan air saja.

بِخِلافِ الصَّبِيَّةِ وَالْخُنْثَى لا بُدَّ فِي بَوْلِهِمَا مِنْ الْغَسْلِ عَلَى الأَصْلِ

Hukum yang berbeda jika menyangkut kencing bayi perempuan dan banci, maka diharuskan mencucinya.[7]

Mazhab Hanbali

  1. Imam Ibnu Qudamah (w 620 H) dalam kitabnya al-Mughni menyatakan bahwa air kencing bayi laki-laki yang belum makan dan minum selain ASI dihilangkan najisnya dengan hanya memercikan air saja. Adapun untuk bayi perempuan maka wajib mencucinya.

أن بول الغلام الذي لم يطعم الطعام يجزئ فيه الرش

air kencing anak bayi laki-laki yang belum memakan makanan selain air susu ibunya, maka cukup (menghilangkannya) dengan memercikkan air saja.

وبول الجارية يغسل وإن لم تطعم

Dan air kencing bayi perempuan (dihilangkan najisnya) dengan mencucinya walaupun dia belum makan selain air susu ibunya.[8]

  1. Al Buhuty (w 1051 H) dalam kitabnya Syarhu Muntaha al-Iradat menyatakan hal yang sama dengan Imam Ibnu Qudamah (w 620 H). Beliau juga memaparkan memaparkan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penguat pendapatnya.

( وَيُجْزِي فِي بَوْلِ غُلامٍ ) وَمِثْلُهُ قَيْئُهُ ( لَمْ يَأْكُلْ طَعَامًا لِشَهْوَةٍ نَضْحُهُ , وَهُوَ غَمْرُهُ بِمَاءٍ ) وَإِنْ لَمْ يَقْطُرْ مِنْهُ شَيْءٌ . وَلا يَحْتَاجُ إلَى مَرْسٍ وَعَصْرٍ . لِحَدِيثِ أُمِّ قَيْسِ بِنْتِ مُحْصِنٍ ” أَنَّهَا { أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ لَمْ يَأْكُلْ الطَّعَامَ إلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَجْلَسَهُ فِي حِجْرِهِ , فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ , فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ , وَلَمْ يَغْسِلْهُ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . وَلِقَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم : { إنَّمَا يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الأُنْثَى , وَيُنْضَحُ مِنْ بَوْلِ الذَّكَرِ } رَوَاهُ أَبُو دَاوُد عَنْ لُبَابَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ . وَعُلِمَ مِنْهُ أَنَّهُ يُغْسَلُ مِنْ الْغَائِطِ مُطْلَقًا وَبَوْلِ الأُنْثَى وَالْخُنْثَى وَبَوْلِ صَبِيٍّ أَكَلَ الطَّعَامَ لِشَهْوَةٍ . فَإِنْ كَانَ لِغَيْرِ شَهْوَةٍ نُضِحَ . لأَنَّهُ قَدْ يَلْعَقُ الْعَسَلَ سَاعَةَ يُولَدُ . وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَنَّكَ بِالتَّمْرِ

Air kencing bayi laki-laki yang belum memakan makanan dengan keinginannya sendiri maka cukup mengambil air dan memercikinya atau memenuhinya dengan air (ditempat yang terkena air kencing) walapun tidak menetes air tersebut, Sama halnya dengan mensucikan muntahnya. Tidak perlu merendam (seperti baju yang terkena kencing) dan memerasnya sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Binti Muhshin bahwasannya dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan membawa anak bayi laki-laki yang belum memakan makanan kecuali ASI. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendudukkannya di pangkuannya. Kemudian bayi itu mengencingi pakaian beliau. Lalu beliau meminta air dan memercikannya tanpa mencucinya. H.R. Bukhori dan Muslim.

Begitupula dengan sabda Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : (cara menghilangkan) air kencing bayi perempuan adalah dengan mencuci sedangkan air kencing bayi laki-laki cukuplah dengan hanya memercikinya dengan air. H.R Abu Dawud dari Lubabah Binti Al Harits.

Maka dari hadits ini dapat diketahui bahwa wajibnya mencuci najis yang keluar dari 2 lubang secara mutlak. Begitupula dengan kencing bayi perempuan, banci dan bayi laki-laki yang sudah memakan makanan dengan keinginannya sendiri. Adapun jika bayi itu memakan makanan bukan karena keinginannya sendiri maka cukup dengan memercikinya dengan air. Dikerenakan terkadang anak bayi menjilati madu ketika baru dilahirkan dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mentahniknya dengan kurma.[9]

Dalam masalah ini perbedaan pendapat yang terjadi bukan terletak pada najis tidaknya air kencing bayi laki-laki yang hanya mendapatkan gizi dari ASI karena semua sepakat tentang kenajisannya, namun perbedaannya terletak pada cara mensucikan najisnya. Begitupula terdapat perbedaan dalam tingkatan kenajisan ada yang berpendapat bahwa kencing bayi laki-laki termasuk najis yang ringan sebagaimana mazhab Syafii dan adapula yang menyatakan bahwa kenajisannya sama dengan kenajisan kencing orang dewasa.

مَسْأَلَةٌ: وَتَطْهِيرُ بَوْلِ الذَّكَرِ – أَيِّ ذَكَرٍ كَانَ فِي أَيِّ شَيْءٍ كَانَ – فَبِأَنْ يَرُشَّ الْمَاءَ عَلَيْهِ رَشًّا يُزِيلُ أَثَرَهُ، وَبَوْلُ الْأُنْثَى يُغْسَلُ، فَإِنْ كَانَ الْبَوْلُ فِي الْأَرْضِ – أَيُّ بَوْلٍ كَانَ – فَبِأَنْ يَصُبَّ الْمَاءَ عَلَيْهِ صَبًّا يُزِيلُ أَثَرَهُ فَقَطْ.

Cara mensucikan bekas kencing laki-laki, siapapun dia dan dimanapun tempat yang terkena yang terkena kencing, cukup dengan memercikan air sekali percikan. Sedangkan cara mensucikan bekas kencing perempuan adalah dengan dicuci. Namun jika kencingnya jatuh ke tanah maka harus menyiramkan air diatasnya sehingga hilang bekas najisnya.[10]

Wallahu A’lam Bishowab.

 

[1]. Badai’ Shonai’ jilid 1 hal 88

[2]. Syarhu Fathul Qodir ‘Ala Al Hidayah jilid 1 hal 140 cet.  Al Amiriyah.

[3]. Adz  Dzakhiro jilid 1 hal 199.

[4]. Hasyiyah Ash Showi ‘Ala Syarhi Ash-Shogir jilid 1 hal 73 cet. Daar Al Ma’arif.

[5]. Al Majmu’ Syarhu Al Muhadzdzab jilid 2 hal 548.

[6]. Al Majmu’ Syarhu Al Muhadzdzab jilid 2 hal 549.

[7]. Mughni  Al-Muhtaj Syarhu Minhaju  Ath-Tholibin jilid 1 hal 84 cet Daar Al-Fikr.

[8]. Al Mughni jilid 2 hal 68.

[9]. Syarhu Muntaha Al Iradat jilid 1 hal 98-99 cet. Daar Al Fikr.

[10]. al-Muhalla Bil Atsar jilid 1 hal 113. Daar Al Fikr.