Imam an-Nawawi dan Komentar Para Ulama Mengenai Sosok Pribadinya

Beberapa hari lalu saya mendapatkan kiriman dari whatsapp di dalamnya tertulis bahwa Imam an-Nawawi (w 676 H) rujuk dari pemahamannya sebagai seorang asya’ri dan menyatakan bahwa beliau bukanlah seorang Imam. Menurut tulisan itu seorang akan layak diberi gelar imam jika dia dapat dijadikan sebagai rujukan dalam semua sisi kehidupan. Baik itu dari segi akidahnya, perbuatan dan perkataanya. Imam an-Nawawi dituduh dalam tulisan itu sebagai seorang yang bermasalah dan cacat dalam akidahnya terutama karena dia adalah seorang asya’ri. Saya pun terkejut membaca tulisan itu, Dalam hati saya berkata “Alangkah beraninya orang itu menyatakan bahwa Imam an-Nawawi (w 676 H) bukanlah seorang Imam hanya dikarenakan beliau seorang Asy’ari”.

Setelah membaca tulisan tersebut sayapun tergerak untuk menuliskan tulisan sederhana tentang sosok Imam an-Nawawi (w 676 H) dalam kacamata para ulama. Dalam tulisan yang sederhana ini saya lebih memfokuskan untuk membahas tentang pendapat yang menyatakan bahwa imam an-Nawawi (w 676 H) bukanlah seorang imam ketimbang pembahasan tentang beliau sebagai seorang penganut asy’ari. Untuk lebih jelasnya mari kita berselancar ke kitab-kitab para ulama dahulu dan melihat komentar-komentar mereka tentang Imam an-Nawawi rahimahullah (w 676 H).

  1. Saya akan memulainya dengan komentar dari murid beliau yang terkenal yaitu Imam Ibnu al-Athar (w 724 H)

: قال الإمام ابن العطار رحمه الله :

 الإمام النووي شيخي وقدوتي إلى الله تعالى, ذو التصانيف المفيدة، صاحب الأخلاق الرضيَّة، والمحاسن السنيَّة، العالم الرَّبَّاني المتَّفق على علمه وإمامته وجلالته وزهده وورعه وعبادته وصيانته في أقواله وأفعاله وحالاته، له الكرامات الطافحة، والمكرمات الواضحة.

Al-Imam an-Nawawi beliau adalah guruku dan panutanku untuk mencapai kepada Allah Ta’ala. Beliau mempunyai karya-karya tulis yang sangat bermanfaat, mempunyai akhlak yang mulia dan perangai yang agung, seorang alim yang ahli ibadah dan yang disepakati (oleh para ulama) atas keilmuannya, keimamannya, kemuliannya, kezuhudannnya, kewara’annya, ibadahnya dan juga penjangaannya dalam ucapan-ucapannya, perbuatan-perbuatannya dan juga tingkah lakunya. Beliau mempunyai karamah yang banyak dan kemuliannya itu terlihat dengan jelas. [1]

  1. Komentar Imam adz-Dzahabi (w 748 H)

 قال الإمام الذهبي رحمه الله :

 النواوي الشيخ الإمام القدوة الحافظ الزاهد العابد الفقيه المجتهد الرباني شيخ الإسلام أحسبه

An-Nawawi beliau adalah gurunya para imam, suri tauladan, al-Hafidz (seorang yang punya hapalan 100 ribu hadits lengkap dengan sanadnya), seorang yang zuhud, ahli ibadah, ahli fiqih, seorang mujtahid rabbani, Syaikhul Islam itulah yang aku tahu tentangnya.[2]

  1. Komentar dari Imam Tajuddin as-Subki (w 771 H)

: قال الإمام تاج الدين السبكي رحمه الله

النووي الشيخ الإمام العلامة محيي الدين أبو زكريا شيخ الإسلام أستاذ المتأخرين وحجة الله على اللاحقين والداعي إلى سبيل السالفين.

 An-nawawi adalah seorang syaikhul imam (gurunya para imam), seorang yang alim, yang menghidupkan agama, Abu Zakariya, Syaikhul Islam, gurunya para ulama mutaakhirin, hujjatullah bagi orang-orang yang setelahnya, seorang pendakwah yang menuntun manusia untuk mengikuti jejak para salaf.[3]

  1. Komentar dari Imam Ibnu Katsir (w 774 H)

: قال الإمام ابن كثير رحمه الله :

 الشيخ الإمام العلامة محيي الدين أبو زكريا الحزامي النووي الحافظ الفقيه الشافعي النبيل، محرر المذهب ومهذبه وضابطه ومرتبه، أحد العباد والعلماء الزهاد.

Gurunya para Imam, seorang ulama, yang menghidupkan agama Abu Zakariya al-Hazami an-Nawawi, al-Hafidz, seorang ahli fiqih yang cerdas dari mazhab Syafi’i, yang menganalisa, mengoreksi, menguatkan dan menorganisirkan mazhab Syafi’i. Seorang ahli ibadah dan ulama yang zuhud.[4]

  1. Komentar dari Imam as-Suyuti (w 911 H)

قال الإمام السيوطي رحمه الله

النووي الإمام الفقيه الحافظ الأوحد القدوة شيخ الإسلام علم الأولياء محيى الدين أبو زكريا يحيى بن شرف بن مري الحزامي الحوراني الشافعي

An-Nawawi adalah seorang Imam, ahli fiqih, al-Hafidz, tiada duanya dalam hal keteladanan, syaikhul Islam, bendera (simbol) para wali Allah, yang menghidupkan agama……[5]

setelah kita membaca komentar-komentar dari para imam dan ulama-ulama diatas masihkah kita meragukan keimamahan Imam an-Nawawi (w 676 H)?. Sungguh orang yang meragukan keimamannya adalah orang-orang yang mungkin saja kurang piknik atau kurang menelaah kitab-kitab para ulama atau bahkan lebih parah lagi jika mereka iri dan dengki kepada beliau yang seorang asy’ari.

[1]. A’lauddin Ibnu ath-Thar. Tuhfatu at-Thalibin Fii Tarjamatil Imam Muhyiddin.  Jilid 1 hal 40.

[2]. Adz-Dzahabi. Siyarul ‘Alam an-Nubala. Jilid 26 hal 360.

[3]. As-Subki. Tahabaqat asy-Sayfi’iyah al-Kubro. Jilid 8 hal 395.

[4]. Ibnu Katsir. Tabaqat asy-Syafi’iyin. Jilid 1 hal 910.

[5]. Jalaluddin as-Suyuti. Thabaqat al-Huffadz. Jilid 1 hal 513.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s