Arsip Bulanan: Februari 2017

Selintas Pandang tentang Spionase Dalam Pandangan Islam

Setiap negara yang ingin mempertahankan integritas dan eksistensinya diharuskan memiliki intelijen yang kuat, baik itu intelijen positif maupun  negatif. Intelijen dalam artian sebagai kegiatan rahasia yang ditujukan untuk memahami ataupun mengubah apa yang terjadi di dalam dan luar negeri. Dwight D Eisenhower menyebutnya sebagai “sesuatu keniscayaan yang tidak menyenangkan namun sangat penting”.[1] Sebuah bangsa yang ingin memproyeksikan kekuatannya di luar batas wilayahnya harus memandang melampaui cakrawala untuk mengetahui apa yang akan datang, sebuah bangsa harus mampu mengantisipasi kejutan. Tanpa sebuah dinas intelijen yang kuat, cerdas dan tajam maka presiden dan para jendral akan sama-sama buta dan lumpuh.

Semakin kuatnya sebuah dinas intelijen negara akan berbanding lurus dengan semakin kuat pula negara itu. Kita bisa lihat Amerika Serikat sebagai negara super power dengan badan dinas intelijennya yang kuat seperti CIA, FBI, NIA dan lain-lain. Begitu pula dengan badan dinas intelijen  Rusia seperti SVR. Salah satu pekerjaan intelijen adalah memata-matai lawan atau musuh yang biasa disebut  spionase. Secara teknis, istilah spionase mempunyai arti yaitu mengumpulkan informasi rahasia dari pihak lawan yang akan digunakan untuk kepentingan pihak pengumpul yang melibatkan penetrasi aktif ke lokasi dimana data sensitif disimpan. Namun demikian, istilah spionase pada praktiknya digunakan untuk menyebut kegiatan intelijen secara luas. Supaya dapat berjalan sukses, spionase membutuhkan individu yang memiliki kemampuan khusus dan bahkan diharuskan untuk menguasai multi disiplin ilmu. Spionase bisa dilakukan kapanpun dan dimana pun, baik dalam keadaan damai ataupun perang, di dalam negara sendiri ataupun di negara musuh.

Ketiadaan mata-mata ataupun agen rahasia di dalam peperangan termasuk salah satu faktor yang dapat menimbulkan kegagalan. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Master Sun Tzu (w 250 SM) dalam adagiumnya (pepatah) yang termaktub di buku the lost art of war “ketahuilah musuhmu, dengan mengetahuinya sudah separuh dari kemenangan”. Masih dalam buku yang sama Master Sun Tzu (w 250 SM) juga menjelaskan tentang 5 aspek yang kegagalan dalam sebuah peperangan yaitu ; Merintangi perintah, tidak mengetahui cara, tidak patuh pada perintah, tidak menggunakan agen rahasia dan tidak mendapatkan dukungan pengikut”. Thomas Cleary mengomentari pendapat ini dengan menyatakan bahwa : tujuan penggunaan agen rahasia untuk mengumpulkan informasi yang vital dan menyebarkan kekeliruan informasi yang sangat berbahaya. Kerahasiaan dilibatkan dalam pengumpulan informasi karena pengetahuan merupakan kekuatan dan karena hal itu selalu dijaga. Kerahasiaan digunakan dalam menyebarkan informasi yang salah untuk menjaga pengaruh ilusi.[2]

Kita sebagai umat Islam tentunya akan bertanya-tanya apakah dalam Islam hal seperti ini mendapat tempat dalam pembahasan para ulama? Jika iya, seperti apakah pendapat mereka? apakah pernah terjadi kegiatan spionase dalam sejarah pertama kali Islam muncul ? Siapakah kepala dinas intelijen negara Islam Madinah pada zaman Rasulullah? Untuk lebih jelasnya mari kita bahas satu per satu.

Definisi Spionase Menurut Para Ulama

Dalam bahasa arab spionase atau memata-matai diartikan dengan kata التجسس (at-tajassus) atau التحسس (at-tahassus). Secara etimologi atau bahasa attajassus dimaknai sebagai proses pencaharian kabar berita dan penyelidikannya, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa attajassus adalah menyelidiki ataupun mencari-cari sebuah perkara yang tersembunyi dan kebanyakan kegiatan ini diidentikkan dengan kejelekan dan kejahatan, dimana si jasus (mata-mata) ini dinamakan shohibu sirri Asysyar (yang mengetahui rahasia kejelekan). Sedangkan at-tahassus dimaknai dengan sesuatu yang didapati manusia dengan mempergunakan sebagian Inderanya dan biasanya digunakan untuk kebaikan. Adapun Kata Namus dimaknai sebagai shohibu sirri al-khair (yang mengetahui rahasia kebaikan). [3]

At-Tajassus Menurut Istilah

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna dari kata at-tajassus secara istilah dan sependek pencaharian saya tidak ada definisi pasti mengenai hal ini. Imam al-Alusi (w 1270 H) dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa makna at-tajassus dalam Surat al-Hujarat Ayat 12 “yang di maksud dengan وَلاَ تَجَسَّسُواْ  adalah tidak boleh mencari-cari aurat (aib) seorang Muslim dan membongkar aib yang telah Allah tutup dan jaga”.[4] Imam al-Qurthubi (w 671 H) dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa : At-tajassus adalah mencari sesuatu yang tersembunyi dari dirimu.[5]

Adapun jasus (mata-mata) di dalam kitab Fathu al-Bari dan Nailu al-Awthar diartikan sebagai mata, dikarenakan pekerjaannya menggunakan mata atau juga dikarenakan banyaknya dia menggunakan mata sebagai pengamatannya sampai-sampai semua badannya itu seakan-akan menjadi mata.[6]

Setidaknya kita sudah mengetahui sedikit tentang arti dan definisi attajassus dan Jasus di mana keduanya diartikan sebagai kegiatan memata-matai atau spionase dan agen mata-mata.

Hukum Kegiatan Spionase Dalam Islam

Dalam kegiatan spionase para ulama membaginya menjadi 2 yaitu spionase yang disyariatkan dan yang tidak disyariatkan. Sedangkan hukum kegiatan Spionase dalam Islam dibagi menjadi 3 bagian yaitu : haram, wajib dan mubah. Spionase terhadap orang Islam pada asalnya adalah perkara yang diharamkan sebagaimana yang tertera di dalam ayat 12 Surat al-Hujarat, keharamannya dikarenakan kegiatan itu digunakan untuk mencari-cari aib orang-orang Islam lalu menyebarkannya. Begitu pula hadits tentang larangan mencari-cari aib orang Islam dan menyebarkannya sebagaimana yang tertera di dalam tafsir al-Kasyaf karya az-Zamakhsyari (w 538 H). [7]

Kegiatan Spionase bisa menjadi wajib sebagaimana yang dinukilkan dari Ibnu Majisun (w  212 H) bahwasannya dia berkata : aku berpendapat (bahwa bolehnya memata-matai) para pencuri dan penyamun jika (kita) ingin menyelidiki tempat persembunyian mereka dalam rangka membantu untuk memerangi dan memusnahkan mereka dari bumi.[8] menyelidiki dan melacak keberadaan mereka tidak dapat kita lakukan melainkan dengan memata-matai mereka dan menyelidiki info-info tentang mereka.

Kegiatan spionase dibolehkan jika dalam keadaan berperang antara kaum muslimin dengan kaum kuffar ataupun negara Islam dengan negara kuffar. Hal ini ditujukan untuk mengetahui kabar-kabar dan informasi mengenai pasukan kaum Kuffar, baik itu dari segi jumlah pasukannya, perlengkapan dan persenjatannya, dimana letak kamp kosentrasi ataupun tempat mereka berada dan informasi-informasi yang dibutuhkan guna memenangkan peperangan.

Rasulullah S.A.W menurut Muhammad Rakan Ad-Damagi dalam risalah magisternya (tesis) yang berjudul at-Tajassus Wa Ahkamuhu Fii asy-Syariati al-Islamiyah, “tidaklah beliau memasuki gelanggang peperangan melainkan setelah mengetahui keadaan musuh, tentaranya, tempat perkemahannya dan situasi bumi tempat mereka berpijak”.[9]

Bersambung

 

[1]. Membongkar Kegagalan CIA, Tim Weiner. Hal xix. penerbit PT Gramedia Pustaka Utama 2008

[2] . The Lost Art Of War Sun Tzu II hal 52-53, yang diterjemahkan dan dikomentari oleh Thomas Cleary. Cet PT elex Media Kompotindo Jakarta.

[3]. At-Tahdzib al-Lughah Jilid 9 hal 448, Lisan al-Arab jilid 7 hal 337,  Dairatu al-Ma’arif al-Mishriyah jilid 3 hal 230, Taj al-‘Arus jilid 4 hal 119, Tafsir al-Kasyaf  3/568. Tafsir al-Qurthubi jilid 16 hal 333. Tafsir an-Nasafi jilid 4 hal 173

[4]. Tafsir al-Alusi jilid 26 hal 157 cet. Darul Ihya At Turats, Beirut Libanon

[5]. Tafsir Al-Qurthubi jilid 12 hal 333 cet. Daar al-Kutub, Kairo Mesir, Tahun 1387 H / 1967 M

[6]. Nail al-Authar  Syarhu Muntaqi al-Akhbar karya Imam Asy-Syaukani jilid 8 hal 10. Cet Mushtafa Al-Baabii Al- Halbi, Mesir. Fathu al-Bari Syarhu Shahih al-Bukhari karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani  jilid 2 hal 140  cet Musthofa al-Baabii al-Halbi, Mesir Tahun 1959 M.

[7]. Haqaiq at-Tanzil Wa ‘Uyunu al-Aqawil yang masyhur dengan sebutan Tafsir Al-Kasyaf jilid 3 hal 568.

[8]. Tabshirat al-Ahkam jilid 2 hal 171. Cet Daar al-Kutub Ilmiyah

[9]. At-Tajassus Wa Ahkamuhu Fii asy-Syariati al-Islamiyah hal 55 cet Daar as-Salam

Iklan