Arsip Bulanan: Agustus 2017

Standar Ganda Barat Dalam Prinsip Kebebasan Berpendapat

Kebebasan merupakan nilai kemanusiaan yang paling mendasar dan dipuja oleh semua manusia. Berkat kebebasan, ideologi berkembang pesat dan potensi yang dimiliki manusia berkembang. Oleh karena itu, berbagai intelektual dan ilmuwan ramai memberikan pandangannya terkait kebebasan. Dewasa ini, Barat mengklaim sebagai pembela kebebasan sehingga Para pemimpin pemerintah Barat dan cendikiawan mereka meyakini kebebasan sosial dan individu haruslah diterapkan dalam Negara-negara mereka.

Kebebasan berpendapat adalah salah satu dari kebebasan yang mereka anut. Kebebasan berpendapat dipandang oleh barat sebagai hak asasi manusia yang tidak boleh direnggut oleh siapapun.  Maka ketika umat Islam bereaksi keras atas pemuatan karikatur Nabi Muhammad S.A.W yang berupa sebuah hinaan kepadanya disalah satu Koran di Swedia. Di dalam salah satu gambar karikatur tersebut Nabi Muhammad S.A.W digambarkan sebagai seorang yang bersurban yang dipenuhi dengan bom, Seolah mengambarkan bahwa Beliau S.A.W mengajarkan ajaran terorisme.

Reaksi umat Islam ini dibalas oleh media-media negara barat seperti Jerman dengan mereproduksi karikatur-karikatur yang berkesan mencemooh tindakan dan reaksi umat Islam yang mereka pandang sebagai komunitas terbelakang lagi fanatik. Beberapa dekade sebelumnya, tepatnya tahun 1989, Salman Rusdi penulis novel The Satanic Verses (ayat-ayat setan) yang menggambarkan Al-Qur’an sebagai  ayat-ayat setan dan istri-istri Nabi S.A.W sebagai pelacur, mendorong Imam Khomeini mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi si penulis muslim keturunan India itu. Media-media barat lagi-lagi membela mati-matian Salman Rusdhi dengan jargonnya yaitu freedom of expression atau kebebasan mengeluarkan pendapat. Artinya, kebebasan berpendapat boleh mengungkapkan apapun yang diinginkan dan ini merupakan hak asasi manusia yang tidak dapat diganggu gugat.

Sikap barat  ini akan kita lihat terbalik 180 derajat ketika kita menilik kembali peristiwa disaat Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad memberi pernyataan tentang holocaust yang dianggapnya sebagai sebuah mitos belaka. Holocaust berarti penghancuran terhadap sebuah kehidupan secara masssal khususnya melakukannya dengan pembakaran. Secara teknis kata ini indentik dengan peristiwa pembantaian massal dan keji terhadap kaum Yahudi oleh NAZI  Jerman yang ketika itu berada dibawah pimpinan Adolf Hitler.

Pernyataan Ahmadinejad tentang holocaust adalah sebuah mitos disambung dengan penghapusan rezim Zionis Israel dari peta dunia membuat media-media barat dan pemimpin-pemimpinnya berang dan bereraksi sangat emosional. Presiden AS George W Bush langsung menyamakan Ahmadinejad dengan Hitler yang merupakan seorang penjahat yang tak bermoral. Berbeda dengan Bush, Perdana Menteri Tony Blair merespon pernyataan Ahmadinejad dengan memintanya untuk datang ke Eropa dan melihat sendiri jejak-jejak sejarah holocaust. Seolah-olah sejarah tentangnya begitu rumit dan hanya bisa dipahami dengan melihat sendiri peninggalan-peningggalan fisik sejarahnya.

Kenapa Ahmadinejad harus dikecam ketika ia mempertanyakan tentang kebenaran holocaust? Bukankah itu haknya untuk mengeluarkan pendapatnya? bukan hanya dia seorang diri yang mempertanyakan kebenaran peristiwa holocaust  Sebagaimana yang disebutkan oleh Smith al-Hadar dalam kata pengantarnya dalam buku The Holocaust Industry karya Norman G Finkelstein. Manfred Rouder, Fred Loucher, Frederick Toben, dan Bruno Gelins adalah segelintir nama yang mempertanyakan kebenaran holocaust meskipun mereka dikemudian hari terkena hukuman. Rouder dikenai hukuman 10 tahun penjara, Loucher  seorang ahli gas diberhentikan dari pekerjaannya, Toben warga Negara Australia asal Jerman dilarang kembali ke Jerman, Gelins yang merupakan anggota Uni Eropa pernah menyarankan agar para ahli sejarah dibolehkan mengemukakan pendapatnya tentang ruang-ruang gas rezim NAZI kini ia berada di penjara.

Inilah standar ganda barat dalam memaknai kebebasan berpendapat, kebebasan itu akan terkekang jika dia dihadapkan dengan peristiwa holocaust yang oleh barat sendiri sudah dianggap sebagai sesuatu yang lebih sakral dan bahkan lebih suci dari agama Kristen ataupun Yesus sebab di barat orang bisa menghina Tuhan dan agama tanpa harus takut akan resiko dan sanksi apapun. Namun ketika menolak holocaust bisa dipandang sebagai sikap amoral dan anti semit Yang patut mendapatkan hukuman dan ganjaran. Seperti kasus Germar Rodef ahli kimia asal Jerman yang harus mengakhiri hidupnya karena menulis buku “Dissection Holocaust” (pembedahan holocaust). Prof. Robert Fridson harus diadili pada juli 2006 karena melakukan wawancara dengan stasiun tv Iran mengenai Holocauts yang berlawanan dengan pendapat mainstream di Barat.

Iklan